
Hoekkk….
Hoekkk….
Hoekkk….
Untuk kesekian kalinya semua makanan yang masuk kedalam perut Crystal kembali dimuntahkan. Dia terus saya mengeluarkan semua isi dalam perutnya hingga habis tak bersisa.
Melihat kondisi sang majikan yang cukup memprihatinkan tersebut tentu saja membuat semua pelayan yang berada di dapur merasa sangat cemas.
Apalagi saat melihat wajah Crystal yang terlihat sangat pucat dengan tubuh bergetar membuat semua orang langsung berkeringat dingin.
Mereka sangat takut terjadi hal yang tidak diinginkan hingga dapat memicu amarah tuan mudanya yang sangat protektiv terhadap sang istri semenjak hamil.
“ Apa kita sebaiknya lapor sama tuan muda saja ?...”, ucap salah satu pelayan memberi saran.
Mereka sangat takut terjadi apa – apa dengan nyonya muda mereka, mengingat sejak pagi semua makanan yang masuk kedalam tubuh Crystal kembali dikeluarkan.
Mendengar bisik – bisik dan raut wajah penuh ketegangan yang terlihat jelas diwajah para pelayannya, Crystal yang tidak ingin membuat semua orang khawatir berusaha untuk kuat.
“ Tidak perlu menghubungi Arnold…aku sudah tidak apa – apa…”, ucap Crystal sambil berusaha untuk duduk dengan wajah pucat.
Tidak ingin berdebat dengan nyonyanya, para pelayanpun hanya bisa menghela nafas panjang dan mulai merawat sang nyonya yang terlihat sangat lemas dengan wajah pucat tersebut.
“ Apa nyonya ingin sesuatu ?...”, tanya seorang pelayan dengan sopan.
“ Tolong ambilkan aku air hangat…”, pinta Crystal sambil menghapus keringat diwajahnya.
Dengan sigap, pelayan tersebut segera mengambilkan air putih hangat untuk sang majikan. Sementara yang lainnya berusaha untuk memijat tubuh Crystal dan mengambilkan kotak obat untuk mengambil minyak kayu putih agar tubuh majikannya tersebut tetap hangat.
Setelah membaluri perutnya dengan minyak kayu putih dan menghirupnya, rasa mual yang tadi cukup kuat berangsur – angsur mulai berkurang.
Setelah gejolak dalam perutnya reda, Crystalpun perlahan mulai meminum air hangat yang ada dalam genggamannya secara perlahan.
Setelah tenaga dalam tubuhnya terasa mulai ada, Crystalpun segera beranjak pergi menuju kamarnya untuk beristirahat dibantu salah satu pelayan yang menuntun tubuh lemahnya.
Belum juga lima langkah dirinya meninggalkan meja makan, tiba – tiba tubuh Crystal ambruk. Untung saja ada pelayan yang siaga disampingnya hingga tubuhnya tidak sampai jatuh menyentuh lantai.
“ Nyonya !!!…”, teriak semua pelayan berbarengan dengan wajah cemas.
Melihat hal itu, salah satu pelayan segera berlari untuk memanggil bodyguard yang berjaga di depan sedangkan yang lainnya sibuk membantu temannya untuk mengangkat tubuh Crystal ke sofa terdekat.
“ Cepat hubungi tuan dan dokter Robert sekarang juga !!!...”, teriak salah satu pelayan begitu salah satu bodyguard masuk kedalam rumah.
Arnold yang baru saja selesai meeting langsung bergegas meninggalkan ruang meeting dengan wajah panik begitu mendengar kabar jika istrinya jatuh pingsan.
Melihat tuan mudanya lari terbirit – birit, Emilypun segera ikut berlari membutuntuti Arnold yang langsung naik kedalam lift menuju parkiran.
“ Pulang sekarang !!!…”, perintahnya dengan wajah cemas.
Emilypun segera melarikan mobil yang dikendarainya bersama Arnold dengan kecepatan tinggi. Melihat wajah tuan mudanya yang terlihat sangat tegang dia yakin jika telah terjadi sesuatu hal yang buruk dirumah.
Selama perjalanan Arnold terus saja meruntuki dirinya karena dianggap telah lalai menjaga sang istri hingga menyebabkannya jatuh pingsan seperti itu.
Sebenarnya Arnold hari ini ingin menemani Crystal dirumah karena melihat kondisi sang istri yang sangat lemah dan pucat.
Namun Crystal tetap memaksanya untuk berangkat kerja mengingat banyaknya urusan penting yang harus suaminya itu bereskan dikantor. Tidak ingin berdebat dengan sang istri, Arnoldpun dengan berat hati pergi kekantor.
Begitu sampai dirumah, Arnold segera berlari menuju kamarnya dengan wajah cemas. Dia segera menghampiri Crystal yang terbaring lemas diatas ranjang dengan mata yang masih tertutup bersama dokter Robert yang sibuk memasang infus dipergelangan tangan Crystal.
“ Bagaimana kondisinya dok ?...”, tanya Arnold cemas.
“ Untuk sementara waktu, nyonya harus bedrest sampai kondisi tubuhnya benar – benar pulih...”, ucap dokter Robert menjelaskan.
Arnold menatap nanar saat melihat jarum infuse kembali menancap dipergelangan tangan istrinya. Ini sudah kesekian kalinya dalam satu bulan Crystal terpaksa harus dinfus karena tubuhnya sama sekali tidak bisa menerima makanan.
Apapun makanan yang sudah masuk kedalam perutnya, hanya dalam hitungan detik langsung dimuntahkan kembali olehnya.
Karena khawatir ibu dan bayi yang ada dalam kandungan kekurangan nutrisi dan dehidrasi maka terpaksa Crystal harus diinfus agar asupan nutrisi dalam tubuhnya tetap terjaga.
“ Apa tidak ada solusi lain untuk hal ini dok ?..”, tanya Arnold dengan wajah sedih.
“ Untuk sementara waktu, hanya ini yang bisa kita lakukan. Jika kondisinya semakin memburuk, maka terpaksa nyonya harus dilarikan ke rumah sakit agar mendapat penanganan yang tepat dari dokter kandungan…”, ucap dokter Robert memberikan penjelasan.
Arnold duduk disamping ranjang sambil menggenggam telapak tangan Crystal dengan kedua tangannya dengan sorot mata penuh kesedihan.
“ Nak…yang pintar ya…jangan buat mamamu susah dan kesakitan seperti ini…”, ucap Arnold sambil mengelus perut sang istri dengan mata nanar.
Semua orang hanya bisa menatap sang majikan dengan wajah sedih. Bahkan ada diantara mereka yang sampai meneteskan air mata.
Ini baru pertama kalinya mereka melihat tuan muda mereka yang kejam seperti iblis memasang wajah penuh kesedihan dengan mata berkaca – kaca.
Dokter Robert hanya bisa menepuk bahu Arnold pelan sebelum beranjak pergi untuk menguatkannya. Dia sangat paham bagaimana perasaan lelaki tersebut saat ini.
Arnold sangat mencintai sang istri, tentu sangat wajar jika lelaki tersebut sangat sedih melihat kondisi sang istri lemah tak berdaya seperti itu.
Para pelayan segera meninggalkan kamar begitu Arnold memberikan instruksi agar mereka meninggalkannya bersama sang istri sendirian didalam kamar.
“ Andaikan bisa…maka aku akan dengan senang hati menggantikanmu untuk merasakan semua ini…”, guman Arnold dengan wajah sendu.
Tak terasa air mata Arnold menetes membasahi pipinya. Dia menangis terseduh – seduh sambil menggenggam erat jemari tangan sang istri.
Crystal yang baru saja membukan mata dan mendapati suaminya menangis ikut terharu. Dengan satu tangannya yang tertancap jarum infuse, dia mengusap lembut rambut suaminya yang masih tertunduk menangis sambil menciumi punggung telapak tangannya.
Merasakan ada seseorang yang mengelus kepalanya, Arnoldpun segera mendongak dan melihat istrinya sudah sadar dan memandangnya sambil menangis.
“ Kamu sudah sadar ?...apa ada yang sakit ?...”, tanya Arnold sambil mengusap air mata yang menetes dipipi sang istri dengan lembut.
Crystal hanya menggeleng sambil berusaha tersenyum agar suaminya tidak semakin cemas. Diapun mengangkat tangannya dan mengusap air mata yang menetes di pipi suaminya dengan penuh cinta.
“ Aku tidak apa – apa…jangan menangis lagi…”, ucap Crystal lemah.
Arnolpun langsung menampilkan senyum termanis diwajahnya agar sang istri tidak merasa sedih dengan keadaannya saat ini yang sangat dia yakini cukup berantakan.
“ Maaf, sudah membuatmu seperti ini…”, ucap Arnold sambil memeluk Crystal dengan erat.
“ Jangan berkata seperti itu. ini adalah anugerah dari Tuhan yang harus kita syukuri karena Tuhan masih mempercayai kita untuk menjadi orang tua. Masih banyak perempuan diluar sana yang ingin merasakan hal yang aku rasakan saat ini. Rasa bahagia menjadi seorang ibu, meski penuh pengorbanan seperti ini…”, ucap Crystal bijaksana.
“ Terimakasih sayang…terimakasih…”, ucap Arnold sambil mengecup kening Crystal dengan penuh kasih sayang.
Mereka berduapun tersenyum penuh kebahagiaan sambil mengelus perut Crystal yang berisi buah cinta keduanya yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang disana.