Love Destiny

Love Destiny
PIHAK KETIGA YANG SAMAR



Setelah malam penuh ketegangan tersebut berakhir, pagi harinya satu persatu anggota keluarga Lincoln mulai kembali ke kediaman mereka masing – masing dengan wajah lebih tegang dibandingkan sebelumnya, pada saat mereka datang.


Semua kekacauan yang terjadi dan berakhir dengan dihukumnya Scot sekeluarga membuat semua orang mulai merasa was – was dan lebih berhati – hati lagi dalam bertindak.


Terutama orang – orang yang merasa telah menyalahgunakan nama besar keluarga mereka untuk sesuatu hal yang buruk.


Mereka tampaknya harus mulai membenahi semua hal yang telah terjadi agar tidak dianggap sebagai pengkhianat dan mencoreng nama baik keluarga selama Elisabeth dan Arnold masih memegang kendali utama dalam keluarga Lincoln.


Melihat betapa kejinya hukuman yang telah diterima oleh Scot beserta keluarganya setelah pengkhianatan yang mereka lakukan terbongkar, membuat semua orang diam – diam bergidik ngeri, membayangkan bagaimana jika hal tersebut menimpah diri mereka.


Hukuman yang diberikan oleh Elisabeth dan Arnold kepada Scot beserta keluarganya terbilang paling sadis dan kejam jika dibandingkan dengan para pengkhianat yang selama ini pernah mereka eksekusi.


Hal ini dilakukannya agar seluruh anggota yang lainnya paham dan jelas bahwa menghianati keluarga Lincoln, mati adalah hukuman paling mudah bagi mereka.


Namun, hidup segan matipun tidak adalah hukuman yang dirasa paling layak bagi para penghianat yang dengan sengaja ingin menjatuhkan dan mengambil keuntungan dari keluarga Lincoln dengan cara yang kotor.


Untuk sementara waktu Arnold bisa sedikit tenang karena musuh yang selama ini terus melancarkan aksinya guna mencelakai istri dan semua orang yang disayanginya sudah menjalani hukuman sesuai dengan kejahatan yang telah diperbuatnya.


Meski begitu, Arnold juga tidak bisa lengah dan hilang waspada karena masih ada Enrico yang terlihat masih sangat terobsesi untuk bisa mendapatkan istrinya.


Untuk mematahkan ambisi sepupunya itu, Arnoldpun mengirimkan ancaman kepada Charles agar secepat mungkin untuk membawa cucu semata wayangnya itu keluar dari negeri ini jika tidak ingin hal buruk menimpanya.


Mendapatkan peringatan keras seperti itu membuat Charles geram. Namun mengingat keluarga Gunawan bukanlah tandingan keluarga Lincoln, maka untuk sementara waktu dirinya hanya bisa mengalah.


Apalagi kali ini, pengkhianatan yang dilakukan oleh Scot beserta keluarganya melibatkan cucu semata wayangnya, Enrico.


Tentu saja hal itu membuat Charles harus bertindak cepat untuk menyelamatkan nyawa sang cucu dari kekejian Arnold.


Tidak ingin sampai cucu semata wayangnya celaka karena sudah menjadi target Elisabeth dan Arnold atas kolaborasi Enrico bersama Casandra untuk mencelakai Crystal.


Charles yang merasa kecewa,  segera mengirim Enrico keluar negeri untuk mengurus perusahaan yang ada di sana sekaligus guna menyelamatkan nyawa cucunya itu dari amukan Arnold hingga kondisi yang ada benar – benar stabil kembali.


Meski pada awalnya menolak untuk pergi, Enrico yang terbukti bersalah akhirnya hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa – apa saat mengetahui hukuman yang diterima oleh Scot beserta keluarganya.


Untuk menyelamatkan nyawanya, dia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan sang kakek untuk menetap di luar negeri sementara waktu.


Tampaknya, usahanya kali ini benar – benar gagal. Bukan hanya tidak mendapatkan gadis idaman hatinya, Enrico juga untuk kesekian kalinya kembali mengecewakan sang kakek.


Kekalahannya kali ini membuat Enrico setidaknya harus berhenti sejenak untuk memuaskan hasrat dalam dirinya dan ambisinya untuk mengalahkan Arnold, untuk sementara waktu.


Hingga dirinya bisa yakin dan memiliki sesuatu yang cukup untuk dapat dijadikan batu pijakan dan alasan bagi sang kakek untuk memulangkan dirinya kembali kenegeri ini.


Dengan langkah enggan, Enrico mulai memasuki pesawat yang akan membawanya ke belahan bumi yang berada dibalik tempatnya tinggal sekarang.


Setelah berada diatas pesawat, Enricopun segera duduk dikursinya sambil menerawang jauh kedepan,  dengan berbagai macam pikiran yang memenuhi kepalanya.


Berbagai macam rencana mulai dia susun serapi mungkin, tentang apa saja hal yang harus dilakukan selama dirinya diasingkan ke negera asing tersebut.


“ Tunggu saja !!!..Saat ada kesempatan, aku akan kembali dan merebutnya !!!...”, guman Enrico penuh penekanan.


Diapun segera menutup mata dengan rahang mengeras menahan semua kekecewaan yang ada dalam hatinya pada saat pesawat terbang meninggalkan negara dan orang yang dicintainya untuk sementara waktu.


Sementara itu dikediamannya, Arnold saat ini merasa sangat lega karena satu persatu permasalahan besar yang membayangi hubungannya dengan sang istri sudah bisa dihilangkan.


Saat permasalahan besar sudah teratasi, masalah kecil yang mengganggu keharmonisan hubungannya dengan Crystal kembali muncul.


Adoff, itu adalah masalah kecil yang tampaknya tak mudah untuk bisa Arnold hilangkan. Orang ketiga yang samar, karena dia hanya seekor binatang yang bagi semua orang tak layak untuk dia cemburui.


Selain karena perjanjian sebelum pernikahan yang telah disepakatinya bersama Crystal membuat keberadaan binatang buas itu tak mampu dia usik, meski hanya setitik.


Dan sekarang, anaknya yang masih dalam kandungan juga menginginkan binatang buas tersebut. Membuat Arnold merasa kalah telak sebelum berperang.


Dia hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar setiap kali melihat pemandangan intim antara istrinya dengan serigala peliharaannya itu.


Seperti malam ini, diatas ranjang Crystal terlihat sedang duduk membaca sebuah buku dengan satu tangan yang terlihat sedang membelai lembut Adoff yang tidur dipangkuan sang istri dengan nyenyaknya.


Membuat darah dalam diri Arnold kembali mendidih, dengan  kedua tangan terkepal dia berusaha untuk menekan amarah yang hampir saja meledak dalam dirinya.


“ Sabar…ini adalah ujian…”, guman Arnold berusaha meredam amarah yang mulai menguasai dirinya.


Dengan gontai, diapun berjalan menuju kearah dapur untuk membuatkan susu hangat bagi sang istri. Sebuah rutinitas rutin yang dikerjakannya setiap pagi dan malam hari, karena Crystal hanya mau minum susu jika dibuat sendiri oleh Arnold.


Membuat laki – laki yang selama ini tidak pernah menginjak dapur tersebut akhirnya mulai belajar untuk menyiapkan apa saja yang diperlukan sang istri agar kesehatan ibu dan janin yang ada dalam kandungan terpenuhi.


Setelah susu hangat tersebut siap, Arnoldpun segera membawanya naik menuju kedalam kamar. Sambil tersenyum, dengan sabar dia membantu Crystal untuk menghabiskan susu hangat tersebut  sambil beberapakali melirik tajam kearah Adoff yang terlihat sangat menikmati tidur dipangkuan sang istri.


Setelah segelas susu yang dibawanya telah habis, Arnoldpun segera menyandarkan kepalanya kepundak Crystal sambil memeluk sang istri dari arah samping.


“ Nak…kenapa kamu juga lebih menyayanginya daripada papamu ini…”, Arnold merajuk sambil mengelus perut Crystal yang masih rata karena usia kandungannya yang masih muda.


Crystal yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng – nggelengkan kepalanya masih tak paham kenapa Arnold begitu cemburu buta kepada Adoff.


Sedangkan Adoff, melihat majikannya merenggek seperti itu tetap acuh, hanya mengganti posisi kepalanya  menghadap keperut gadis itu tanpa dosa.


“ Sayang…apakah tiap malam dia harus tidur seranjang dengan kita ?...bukankah dia bisa tidur dikandangnya sendiri…”, Arnold kembali merengek.


“ tidak..dia akan tetap disini bersama kita…”, ucap Crystal tegas.


Jika istrinya sudah berkata dengan intonasi nada seperti itu, Arnoldpun hanya bisa terdiam sambil menelan kekecewaan yang tiba – tiba muncul dalam hatinya.


Dia tidak ingin membuat ibu hamil yang semakin sensitive itu marah. Karena jika Crystal sampai marah, bukan tidak mungkin jika nanti dialah yang harus tidur di luar, bukan Adoff.