Love Destiny

Love Destiny
SIAPA DIA ?



Crystal masih terlihat sibuk diruang kerjanya padahal siang ini dia ada tiga mata kuliah yang harus dihadirinya.


Namun pekerjaan yang ada di mejanya belum juga kelar, ditambah lagi ada Gerald disini hingga dia merasa harus waspada.


Karena tampaknya mantan kekasihnya itu beberapakali terlihat memaksa masuk kedalam ruangannya,  namun berhasil Andrew cegah dengan berbagai macam alasan yang membuat Gerald akhirnya pergi.


“ Apapun yang terjadi, jangan biarkan Gerald masuk kedalam ruanganku, ada atau tidak ada diriku…”, ucap Crystal tegas.


“ Siap miss…”, ucap Andrew dengan sikap hormat.


Melihat tingkah konyol Andrew, Crystal hanya bisa geleng – geleng kepala sambil membereskan beberapa berkas yang ada diatas mejanya.


Setelah menyerahkan beberapa tugas yang harus diselesaikan oleh Andrew hari ini, Crystal langsung menghubungi Lea agar terus memantau pergerakan Gerald dan Santoso, jika ada hal yang mencurigakan Crystal meminta kepada Lea agar segera menghubunginya.


Crystal melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, untung jalan raya masih belum terlalu macet jadi dia bisa sampai di kampus bintang tepat waktu.


Sebelum turun, Crystal sejenak melihat ponselnya dan membalas beberapa pesan, salah satunya dari Arnold yang menanyakan tentang keberadaannya.


“ Aku sudah dikampus bintang…mungkin nanti malam aku akan pulang terlambat karena setelah selesai kelas aku harus meeting dengan professor Stevanus dan tim…”, jawab Crystal dalam pesannya.


“ Ok…”, jawab Arnold singkat.


Setelah memasukkan ponselnya kedalam saku, Crystal segera melangkah keluar dari dalam mobil menuju keruang jurusan arsitektur.


Hari ini dia berencana untuk mengumpulkan beberapa tugas perkuliahannya yang sempat terbengkalai akibat kepergiannya ke pulau berlian.


Dengan santai Crystal mulai menaiki anak tangga hingga tiba diruang jurusan arsitektur yang terletak di lantai tiga fakultas teknik.


Setelah mengetuk pintu, Crystal segera masuk dan menyerahkan tugasnya ke assisten dosen yang kebetulan berada disana.


Selanjutnya dia melangkahkan kakinya menuju lantai empat dimana kelas seni arsitektur akan diselenggarakan.


Setibanya di dalam ruangan, Crystal melihat kelas masih kosong, hanya ada lima orang mahasiswa yang ada disana.


Namun Crystal memutuskan untuk berdiam diri didalam kelas yang akan dimulai lima menit lagi itu  dengan mengambil posisi duduk  ujung paling belakang agar apa yang sedang dikerjakannya tidak menganggu yang lainnya.


Crystal yang sibuk dengan ponselnya tidak sadar jika kelas sudah penuh dan dosen sudah berdiri didepan ruangan.


“ Baiklah…kita lanjutkan pelajaran minggu kemarin tentang perbedaan seni arsitektur di benua Eropa dan Asia…”, ucap dosen tersebut sambil menyalakan proyektor yang ada dibelakang tubuhnya dan mulai menjelaskan.


Mendengar suara yang tidak asing tersebut membuat Crystal kemudian mengangkat kepalanya dan menatap dosen yang sedang menjelaskan di depan.


“ Kenapa suaranya mirip dengan Mr.X…tapi tak mungkin itu dia kan…”, batin Crystal sambil mengeleng – gelengkan kepalanya.


Crystal terusa saja mengamati dosen tersebut dengan intens. Setelah merasa bahwa penampilan dosen yang ada didepannya itu jauh berbeda dengan siluet bayangan Mr.X yang tadi pagi dilihatnya waktu sedang melakukan panggilan video dengan Gerald, hatinya mulai sedikit tenang.


Diapun kembali fokus dan mulai membalas pesan dari Andrew dan Alvin yang terus masuk kedalam ponselnya. Sebelum pulang dari pulau berlian, Crystal sudah mengistruksikan Alvin agar mulai bergerak secara diam – diam.


Dan hari ini Alvin memberikan laporan yang cukup memuaskan bagi Crystal. Setelah semua data terkumpul, perlahan dia akan mendepak satu persatu tikus – tikus tersebut dari posisinya dan membuat mereka meninggalkan zona nyaman yang ditempatinya selama ini.


Setelah pekerjaannya selesai, Crystal kembali fokus pada penjelasan dosen yang ada di depan ruang kelas.


Karena masih penasaran pada sosok lelaki tampan yang sedang menjelaskan materi perkuliahan didepan, Crystal segera mengambil dan langsung memakai kacamata bening yang diberikan Lea kepadanya.


Dalam kacamata tersebut sudah ada layar perekam yang bisa merekam semua kejadian yang kita lihat tanpa menimbulkan kecurigaan karena bentuknya yang sangat sederhana.


Rencananya, sepulang nanti dia akan membahas hal tersebut dengan Lea, untuk mencari kesamaan antara dosen tersebut dengan Mr.X dari hasil rekaman yang didapatkannya pagi ini.


Crystal yang sama sekali tidak mengetahui informasi apapun tentang dosen baru tersebut segera menggeser posisi duduknya kesamping dan bertanya pada gadis yang duduk disebelahnya.


“ Kamu tidak tahu…Mr. Chou mengalami kecelakaan minggu kemarin dan digantikan oleh Mr. Alexander hingga kondisi Mr. Chou pulih seperti sedia kala…”, bisik mahasiswi itu.


“ Bisa kau lihat…kelas seni arsitektur sekarang sangat penuh. Mereka semua adalah pengemar Mr. Alexander…”, bisiknya lagi.


Crystalpun segera mengedarkan pandangannya menyapu ruang kelas. Bisa dipastikan semua tempat duduk dalam kelas tersebut telah penuh dan rata – rata yang menempati tempat duduk tersebut adalah mahasiswi dengan yang terlihat menatap dosen tampan tersebut tanpa berkedip.


Seketika Crystal ingat jika kelas seni arsitektur selama ini tidak pernah sepadat sekarang. Kelas yang cukup membosankan tersebut paling banyak dihadiri oleh mahasiswa yang mengisi seperempat dari ruangan itu.


Mereka yang datang rata – rata hanya untuk menggugurkan tanggung jawab mereka dalam mata kuliah 3 sks tersebut.


Tapi sekarang, tampaknya mata kuliah ini akan menjadi mata kuliah wajib bagi mahasiswi yang sangat terpesona oleh ketampanan Mr. Alexander.


Tiba – tiba mata Crystal bertatapan dengan mata hitam Alexander membuat keduanya terdiam selama beberapa detik hingga suara berisik tiga mahasiswi yang ada didepannya mengalihkan atensinya.


“ Oh my god !!!...apa kamu tidak lihat tadi !!!..Mr. Alexander menatapku….”, ucap mahasiswi yang ada didepanku kegirangan.


Beberapakali aku lihat Alexander tertangkap basah sedang melirikku, namun aku berusaha acuh. Entah kenapa aku merasa kalau dosen tersebut mengawasiku sejak tadi.


ALEXANDER POV


Ini adalah minggu kedua aku mengajar di kampus bintang. Namun seseorang yang aku cari tak kunjung juga terlihat.


Jika tidak mengingat akan misiku, aku sangat malas berada dikampus ini. Mengurusi para mahasiswi yang tiada henti mengangguku.


“ Pagi prof…”


“ Wah…anda sangat tampan hari ini…”


“ apa siang ini anda ada waktu untuk makan siang brersama…”


“ Ini ada hadiah buat anda…”


“ Prof…aku sangat mengagumimu…”


“ Prof…apa aku bisa minta nomor kontak dan media social anda…”


“ saya sangat mengidolakan anda prof…”


Dan masih banyak lagi hal menganggu lainnya. Belum lagi paket makan siang, camilan, coklat, bunga dan lain sebagainya yang memenuhi ruangan tempat kerjaku.


Aku hanya bisa menyunggingkan senyum termanisku saat semua itu terjadi. Tanpa mengatakan sepatah katapun dan segera berlalu.


Pagi ini aku sangat antusias waktu mendapatkan kabar jika Crystal, gadis yang aku cari akan mengikuti mata kuliah yang aku ajarkan, seni arsitektur


Siang ini, seperti biasa aku mulai masuk kedalam kelas yang sudah penuh sesak dan fokus kepada proyektor yang ada dihadapanku sebagai media untuk menjelaskan mata kuliah yang sedang aku ajarkan..


Sesekali, kuedarkan pandanganku menyapu seluruh ruangan, namun hasilnya nihil. Rasa kecewa mulai hinggap dalam hatiku.


Hingga dipertengahan kuliah, tiba – tiba aku menatap bola mata biru yang teduh dibalik kacamata bening yang dipakainya.


Gadis cantik itu ternyata duduk dipojok belakang sambil sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya. Mata kami bertatapan untuk sekian detik sebelum Crystal mengalihkan pandangannya kearah lain.


Hal itu tentu saja membuatku merasa kehilangan. Beberapa kali aku mencoba melirik kearahnya yang terlihat mulai fokus mendengarkan penjelasanku di depan.


Saat kuliah berakhir, aku ingin mendekatinya, namun sosoknya hilang begitu cepat dalam kerumunan gadis yang datang menghampiriku.


“ Mungkin belum saatnya…”, batinku mendesah pelan.