
Setelah mendengar hasil observasi dari dokter Philip jika kemungkinan Arnold bisa sembuh dari penyakit insomnia akut yang selama ini dideritanya membuat Elisabeth bahagia.
FLASH BACK ON
" Bagaimana hasilnya?...", tanya Elisabeth cemas.
" Setelah saya melakukan observasi secara mendalam, Crystal memang membawa perubahan yang cukup signifikan terhadap tuan muda. Baik itu untuk masalah gangguan tidurnya maupun dalam mempengaruhi suasana hatinya. Saya sangat berharap, nona Crystal bisa membuka simpul yang ada dihati tuan muda, sehingga semua hal nantinya bisa berjalan dengan lancar. Namun.....", dokter Philip sedikit ragu untuk meneruskan ucapannya.
" Namun apa ?!!!...", Elisabeth tak sabar menunggu kelanjutan penjelasan dokter Philip yang dirasa masih ada sesuatu yang disembunyikannya.
" Sepertinya...nona Crystal berada di sisi tuan muda karena terpaksa....", dokter Philip menjelaskannya dengan sangat hati - hati agar tidak membuat wanita tua itu marah.
" Maksudmu, mereka hanya berakting didepanku !!!!...", ucap Elisabeth dengan nada tinggi.
" Bu...bukan seperti itu nyonya....", ucap dokter Philip ketakutan.
" Lalu !!!...jelaskan semuanya padaku !!!...jangan ada yang ditutup - tutupi !!!....", perintah Elisabeth marah.
Dokter Philip pun mulai menjelaskan semuanya, mulai dari awal bagaimana pertunangan itu terjadi sampai dengan perilaku Arnold yang mengurung Crystal dalam kediamannya dan menyembunyikan hubungan mereka dari publik.
Dalam perjalanan hubungan yang dipaksa tersebut, tentunya semuanya tidak bisa berjalan dengan lancar. Apalagi dengan temperamen Arnold yang buruk dan sifatnya yang sangat tertutup tentunya hal tersebut sangat berpengaruh terhadap hubungan yang sedang berjalan.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh dokter Philip selama ini, sepertinya Arnold memiliki perasaan yang sangat dalam terhadap Crystal, namun tidak dengan gadis itu.
Hal ini bisa menjadi berita baik sekaligus buruk. Baik, jika Crystal menerima perasan Arnold dan berada disisinya selamanya.
Akan menjadi hal yang buruk jika gadis itu meninggalkan tuan mudanya. Bahkan dokter Philips memprediksi jika sampai hal itu terjadi, maka Arnold mungkin sudah tak bisa ditolong lagi.
Semua ketakutan dan kemungkinan paling buruk dia sampaikan kepada Elisabeth agar perempuan tua itu bisa membantunya mengurai benang kusut yang ada.
" Arnold sangat tertutup dan sikapnya sangat mudah berubah. Hal itu pasti sering membuat Crystal frustasi...", guman Elisabeth sambil menghela nafas panjang.
" Benar nyonya. Anda tahu dengan jelas bagaimana sifat tuan muda....saya takutnya suatu saat nona Crystal tidak tahan dan meninggalkannya...jika hal itu terjadi, maka dampaknya akan sangat buruk bagi tuan muda...", ucap dokter Philip menjelaskan.
Elisabeth mencerna setiap kata yang diucapkan oleh dokter Philip tersebut cukup lama sebelum akhirnya dia mulai bersuara.
" Kamu tetap awasi kondisi cucuku dari jauh. Jangan datang jika tidak dipanggil. Dan laporkan setiap ada temuan, meski hal itu sangat kecil....", ucap Elisabeth pelan.
" Baik nyonya...", ucap dokter Philip sebelum pamit undur diri.
FLASH BACK OFFF
Itulah percakapan yang dilakukan Elisabeth dengan psikolog cucunya dua hari yang lalu. Dan selama waktu tersebut, wanita tua itu terus berpikir jalan apa yang harus cepat dia ambil sebelum terlambat.
" Pernikahan !!!...ya...kurasa itu solusi yang paling tepat...", guman Elisabeth gembira.
Pemikiran Elisabeth tersebut bukanlah tanpa sebab, melihat langsung kedekatan antara Arnold dan Crystal selama mereka berada didalam kediaman utama membuatnya berpikir untuk mempercepat acara sakral tersebut.
" Apalagi mereka sudah bertunangan, jadi kenapa harus diundur....", begitulah pemikiran Elisabeth hingga wanita tua itu memutuskan untuk menghubungi Mark Lincoln, papa kandung Arnold.
Elisabeth ingin Mark dan Patricia (mama tiri Arnold, mama kandung Mike dan Willian) agar segera mengadakan acara pernikahan buat cucu kesayangannya itu.
Melihat sifat keras Arnold, Mark juga tak berani mengambil keputusan apapun sebelum membicarakan semuanya dengan sang putra.
Apalagi, Mark sudah cukup lama tidak bertemu dan bicara langsung dengan Arnold. Jadi saat ini dia tidak bisa memberikan jawaban terhadap permintaan sang mama.
“ Kamu tahukan bagaimana anakmu itu !!!...jika bukan kita yang bergerak, siapa lagi ?...”, Elisabeth terus saja mendesak Mark.
“ Sabar ma…mama juga tahukan bagaimana sifat Arnold. Kita tak akan bisa melakukan apapun jika dia tidak mau…”, ucap Mark sedikit frustasi karena seharian ini Elisabeth terus saja mengganggunya dengan permasalahan ini.
“ Mike dan William juga, kapan mereka mau nikah ?...untuk William aku masih bisa maklum jika dia masih belum bisa move on setelah ditinggal mati tunangannya. Sedangkan Mike...bukankah dia sering mengencani wanita, Apa dari semua wanita yang dikencaninya tidak ada yang pantas jadi istrinya ?!!!.... ”, Elisabeth terus saja mengomel karena ketiga cucu cowoknya sudah berumur tapi belum ada satupun yang menikah.
Padahal secara wajah, ketiganya adalah lelaki tampan, mapan, dan kaya. Membuat Elisabeth geram dengan kelakuan semua cucunya itu.
Dan hal itu dia lampiaskan kepada Mark yang dianggap tidak becus sebagai orang tua. Tidak ingin terus diganggu sang mama akhirnya papa Arnold tersebut menjanjikan dalam minggu ini akan mengajak anaknya itu makan malam bersama tunangannya di rumah.
Mendengar hal tersebut, tentunya Elisabeth sedikit lega karena keingginannya untuk segera menimang cicit akan segera terwujud.
Sementara itu, di pulau berlian Lea terlihat sibuk mengotak – atik laptop yang ada di hadapannya sedangkan Crystal sibuk menghubungi Arnold.
“ Malam sayang…lagi ngapain ?...”, tanya Crystal basa – basi.
“ hmmm....Mungkin aku akan sedikit lama disini…karena permasalahan yang ada, ternyata tidak sesederhana yang kupikir…”, ucap Crystal menjelaskan.
“ Berapa lama ?...”, tanya Arnold dingin.
“ Mungkin…semingguan…”, jawab Crystal sedikit ragu.
“ Hmmm…”, Arnold hanya berdehem.
Selanjutnya, keduanya hanya terdiam tanpa ada yang memulai percakapan. Melihat Crystal terdiam cukup lama, akhirnya Arnold berinisiatif untuk berbicara.
“ Apa ada pertanyaan lain?...”, tanya Arnold datar.
“ Apa Adoff ada dirumah ?...”, tanya Crystal semangat.
“ Ya…Adoff ada dirumah ”, ucap Arnold sambil melirik kepada Emily.
Seketika tubuh Emily membeku mendapatkan lirikan dari bosnya. Bagaimana bosnya itu bisa berkata Adoff ada dirumah sedangkan Emily saja sampai saat ini belum melihat serigala putih sejak peristiwa berdarah seminggu kemarin.
“ Kalau begitu, aku akan segera menyelesaikan semua pekerjaan yang ada disini secepatnya. Aku tidak sabar ingin segera pulang supaya bisa bermain dengan Adoff…”, ucap Crystal penuh semangat.
Mendengar kata “pulang ” dari mulut Crystal, membuat Arnold diam – diam tersenyum dalam hati.
“ Cepat istirahat !!!…”, perintah Arnold datar, berusaha untuk menutupi suasana hatinya yang mulai menghangat setelah mendengar kata pulang dari Crystal..
“ hmmm….apa aku bisa minta kirimin foto Adoff . Kalau bisa yang lagi bersama denganmu, buat obat kangen… ”, ucap Crystal ngegombal.
“ besok aku kirim…”, ucap Arnold singkat.
“ Terimakasih sayang…kalau begitu, aku istirahat dulu ya....jangan lupa untuk selalu rindukan aku.....mmmmuachhh….”, ucap Crystal sebelum menutup teleponnya.
Mendengar hal itu, tentu saja Arnold sangat bahagia. Sekarang, perasaan lelah dan penat yang dirasakan hari ini langsung menghilang begitu Crystal menghubunginya.
“ Besok bawa Adoff kemari !!!...”, perintah Arnold tajam.
“ Ta….tapi tuan…”, Emily menjawab dengan gugup.
“ Tidak ada alasan !!!..”, ucap Arnold penuh peringatan.
“ Besok, fotoku bersama Adoff harus sudah terkirim ke Crystal….”, ucapnya sebelum melangkah pergi.
Wajah Emily seketika pucat pasi dengan keringat dingin yang mengalir deras di tubuhnya. Bagaimana caranya dalam semalam dia bisa membawa Adoff pulang kerumah.
Mengingat jika sudah berada dalam hutan, serigala tersebut tidak jelas rimbanya. Membuat Emily harus bekerja ekstra keras malam ini.
“ Tidak heran tuan menginginkan Adoff berada dirumah besok, ternyata semua itu demi menyenangkan nona Crystal. Meskipun sangat sulit kuakui, ternyata cinta memang bisa membuat orang menjadi bodoh seperti ini…semoga saja Vreyan tidak tahu hal ini, jika dia tahu aku tidak sanggup membayangkan apa yang akan diperbuatnya nanti….”, batin Emily frustasi.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Emilypun segera bergerak cepat menuju kedalam hutan yang sangat gelap.
Semalaman Emily mengelilingi hutan, namun serigala putih tersebut sama sekali tak menampakkan batang hidunganya.
Hingga matahari sudah muncul dan berada diatas kepalanya, Adoff belum juga diketemukan. Sedangkan sang bos terus saja menghubunginya dan mengingatkan bahwa foto tersebut harus dikirimkan hari ini juga.
Emily yang frustasi mencari keberadaan Adoff akhirnya mempunyai ide untuk mengabung foto sang bos dan Adoff menjadi satu melalui aplikasi editing foto.
“ Kenapa aku nggak kepikiran hal ini sejak semalam…”, batin Emily gembira
Diapun segera mengotak – atik foto tersebut diponselnya. Dalam hitungan menit, foto Arnold bersama Adoff sudah jadi.
Foto tersebut segera dikirimkannya ke Arnold agar bisa segera diteruskan ke Crystal. Meski tidak terlalu senang dengan hasil kerja Emily, namun Arnold tidak punya pilihan lain selain mengirim foto tersebut ke tunangannya.
Tringg….
Crystal segera membuka ponselnya dan melihat foto yang dikirim oleh Arnold dengan senyum lebar.
“ Jadi kangen…sepertinya,lusa aku sudah bisa balik..”, begitulah pesan singkat Crystal setelah melihat hasil foto yang dikirim oleh Arnold untuknya.
Meski editan dalam foto tersebut terlihat sedikit kasar, namun Crystal cukup mengapresiasi perjuangan tunangannya itu untuk menyenangkannya.