Love Destiny

Love Destiny
PENJELASAN



Berbicara dengan Arnold memang membutuhkan energy yang lebih. Crystalpun berusaha untuk lebih tenang dan sabar  dalam menjelaskan semuanya, agar keinginannya untuk kembali berkuliah terwujud.


Untung tadi Crystal menghabiskan semua makanan yang tersaji diatas meja, jika tidak, mungkin dia akan pingsan kehabisan energy dalam menghadapi manusia robot ini.


Crystal hanya bisa menghembuskan nafas kasar saat melihat kembali wajah laki – laki yang ada dihadapannya itu.  Wajah datar tanpa ekspresi yang sering membuat orang  geram, seperti dirinya malam ini.


Sebenarnya Crystal paham dengan kata “menjadi milikku ” yang diucapkan tunangannya itu. Hanya saja dia ingin memperjelas semuanya, bukan hanya menjadi sebuah benda atau property yang dimiliki oleh pria itu, tapi sesuatu yang lebih dalam maknanya.


Disini, Crystal hanya ingin menjelaskan bahwa dirinya itu bukan benda, tapi manusia yang memiliki perasaan. tapi, karena percakapan sudah mencapai pada titik ini, maka Crystal tidak mungkin untuk melanjutkannya. Karena hal itu akan semakin membuat emosinya meningkat.


Waktu terasa berjalan sangat pelan, cukup lama mereka terdiam tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun.Semua orang tampak larut pada pemikiran masing – masing.


“ Tidak….aku tidak ingin berakhir seperti ini…”, batin Crystal gelisah.


Diapun mulai memutar otak untuk memberikan penjelasan yang mampu diterima oleh tunangannya itu. Sesuatu hal yang tentunya bisa menguntungkan baginya hingga akhirnya Arnold menyetujui permintaannya.


“ Ini adalah kesempatanku…aku tidak boleh membuangnya begitu saja…”, batin Crystal optimis.


Crystal yang ingin menyelesaikan semuanya saat ini juga akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan memutar, menuju tempat Arnold berada.


Arnold masih tetap tak bersuara, bahkan wajahnya terlihat acuh saat Crystal berjalan mendekat kearahnya dan mencondongkan badan kearah Arnold.


“ Apa kamu sangat yakin ingin aku menjadi milikmu…”, tanya Crystal sambil mendekatkan wajahnya kedepan, hingga jarak wajah diantara keduanya sangatlah tipis.


Perlahan namun pasti, Crystal terus mendekatkan wajahnya kearah wajah Arnold, hingga nafas hangat keduanya terasa diwajah.


Bibir Crystal perlahan mulai menyentuh bibir Arnold yang dingin dan mengecupnya dengan lembut. Tindakan implusif Crystal membuat jantung Arnold berdetak sangat cepat.


“ sangat manis…”, batin Arnold  bahagia dengan tindakan implusif dari tunangannya itu.


" Dan...lezat....", batinnya lagi.


Saat dirinya larut dalam kenikmatan yang baru saja didapatkannya, Arnold harus menelan kekecewaan saat bibir manis tersebut perlahan menjauh darinya.


“ Hanya begitu saja…”, ucap Arnold merasa tidak puas.


Crystal terbatuk mendengar ucapan yang keluar dari bibir tunangannya itu. Diapun kemudian mendorong tubuh Arnold, saat laki – laki itu mencoba mencium bibirnya kembali.


“ Dasar mesum….”, guman Crystal sambil berjalan menuju kembali kearah tempat duduknya.


“ itu tadi hanya  kalimat pembuka…intinya adalah, mari kita lakukan semuanya secara perlahan…”, ucap Crystal berusaha menjelaskan keinginannya.


“  kita lakukan perlahan dan bertahap…biarkan aku belajar mencintaimu tanpa ada paksaan…”, ucapnya dengan suara  selembut mungkin.


Melihat Arnold hanya terdiam, Crystal kembali memutar otaknya, memikirkan kata – kata yang bagus. Sebuah kata yang bisa medeskripsikan semua keinginan yang ada dalam dirinya.


“  Manusia tercipta dengan keinginanya yang besar untuk hidup bahagia dan mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya, serta keinginan untuk dipercaya. Jika kamu sudah bisa memberikan rasa itu terhadapku, maka itu akan membuatku merasa nyaman. Saat aku nyaman berada digenggamanmu, aku tidak akan lagi memberontak dan pergi dari sisimu, selamanya. Seperti pasir dalam genggaman yang kuungkapkan tadi..... ”, ucap Crystal berusaha untuk menjelaskan semuanya.


“ Bagaimana jika pasir tersebut terkena air, bukankah  dia juga akan lenyap tanpa bekas…”, tanya Arnold dengan samar.


“ Itu tidak akan terjadi, aku tidak akan membiarkan air masuk disaat pasir itu sudah berada ditanganmu…aku yakin, kamu akan memberikan tempat perlinduangan agar air tersebut tidak melenyapkannya…”, ucap Crystal sedikit panik saat mendengar statement Arnold.


Untuk beberapa saat, keheningan kembali menyelimuti keduanya. Jantung Crystal berdetak sangat kencang, was – was dengan apa yang akan keluar dari mulut tunangannya itu.


Arnold terlihat sedikit berpikir dengan dahi berkerut. Hingga satu kata yang keluar dari mulutnya membuat hati Crystal berbunga – bunga.


“ Baiklah…”, ucap Arnold singkat.


“ Kamu setuju ?...jadi bulan ini aku sudah bisa kembali kuliah…”, teriak Crystal dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.


“ Kalau begitu aku akan segera menyiapkan berkas – berkas yang akan aku bawa kekampus besok…”, ucapnya gembira.


Crystal meninggalkan kamar Arnold sambil bersenandung riang. Saat ini hatinya begitu bahagia karena tunangannya tersebut akhirnya memberikan sedikit kebebasan kepadanya.


Melihat tunangannya begitu gembira karena menjauh darinya membuat  wajah Arnold menjadi suram. Dia menyesal dengan keputusan yang baru saja dibuatnya.


Tapi, saat jari – jarinya menyentuh sisa – sisa ciuman lembut Crystal dibibirnya, kegelapan dalam matanya berangsur – angsur mulai mereda.


“ Crystal…”


“ aku mempercayaimu kali ini…”


“ Ini juga kesempatan terakhirmu…”


“ Jika kau mengkhianatiku…”


“ Maka…”


“ aku tak segan untuk mengurungmu kembali…”, gumannya sambil memejamkan mata.


Sementara itu didalam kamar Crystal, wanita itu mulai sibuk mempersiapkan semua berkas yang akan digunakannya untuk daftar ulang besok.


“ Ini bagaikan mimpi…”, guman Crystal masih tak percaya dengan keberuntungan yang didapatkannya.


Kemudian ponselnya bordering beberapakali. Saat melihat nama Adisty tertera dilayar ponsel, senyum diwajah Crystal hilang seketika.


“ Hallo…”, ucapnya jutek.


“ Crystal !!!...”


“ kemana saja kamu…”


“ Kenapa semua pesanku tidak kamu balas…”


“ kenapa kamu menolak Gerald…”


“ Kamu tahu…”


“ betapa kerasnya aku membujuk Gerald agar mau mendatangimu…”, ucap Adisty berapi – api.


“ Ceritanya panjang….kita bicarakan semuanya besok dikampus….ok…”, ucapku memutus ucapan Adisty.


“ Apa…bagaimana bisa Arnold mengijinkanmu pergi kekampus…”, tanya Adisty terkejut.


Banyak pertanyaan yang ada dikepala Adisty saat ini, bagaimana mungkin Arnold mengijinkan Crystal keluar setelah dia mengetahui perselingkuhan sahabatnya itu dengan kakak iparnya.


“ Ya…aku akan pergi kekampus besok…”, ucap Crystal santai.


“ Apa….”


“ Kamu beneran akan kekampus besok….”


“ Bagaimana mungkin….”


“ Apa Arnold melepaskanmu begitu saja setelah dia melihat Gerald menemuimu ditaman semalam…”, tanya Adisty dengan cemas.


“ Bagaimana kamu tahu kalau Arnold melihatku bertemu dengan Gerald ditaman semalam ? bukankah kamu juga tahu kalau semalam Arnold ada janji makan malam dengan klien penting …”, ucap Crystal dengan nada menyelidik.


“ Ak…aku  hanya menebaknya…. Kalau begitu, sampai bertemu besok…”, ucap Adisty panik dan langsung menutup telepon sepihak.


“ Skakmat !!!...”, guman Crystal tersenyum lebar.


“ Baiklah, jika kau ingin bermain – main denganku…”, guman Crystal dengan smirk devilnya.