
Pagi hari ini langit terlihat sangat cerah berwarna biru dan aroma rumput serta tanah yang basah terkena embun pagi terasa sangat segar diudara.
Beberapa jenis burung bertengger di dahan, berkicau dengan suara merdu bersaut – sautan sebelum mengepakkan kedua sayapnya dan terbang jauh ke atas langit.
Wajah Crystalpun sekarang sudah terlihat lebih cerah daripada semalam yang terlihat seperti mayat hidup, sangat pucat dan dingin.
Perlahan gadis itu mulai membuka kedua matanya, Crystal bangun dalam kondisi linglung, tubuhnya terasa sangat lemas dan kepalanya masih sedikit sakit.
Saat berbalik, Crystal melihat Arnold duduk ditepi ranjang sambil membawa beberapa dokumen ditangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih berada dalam pelukanmya.
Sedikit tertegun, Crystal dengan cepat dia melepaskan tangan Arnold. Dia ingin berbicara tapi tenggorokannya terasa sangat kering dan sakit membuat Crystal akhirnya meringis menahan sakit.
“ Kamu sudah bangun ?...”, tanya Arnold sambil meletakkan punggung tangannya didahi Crystal.
“ Sudah dingin ternyata…”, batin Arnold lega.
“ Jangan bergerak dulu…”, ucap Arnold lembut.
Arnoldpun segera melatakkan dokumen yang dibawanya ke atas nakas dan membantu Crystal untuk duduk sambil membenahi bantal dibelakang tubuh Crystal agar gadis tersebut bisa bersandar dengan nyaman.
Selanjtnya, Arnold segera menuang air putih kedalam gelas dan memberikannya kepada Crystal. Gadis itu meminum air yang diberikan oleh Arnold untuknya secara perlahan hingga air dalam gelas tersebut habis.
“ Apa yang terjadi denganku ?...”, tanya Crystal sedikit linglung.
Seingatnya, semalam dirinya sedang curhat dengan Adoff diruang tamu. Tapi kenapa sekarang dirinya sudah berada diatas ranjang bersama Arnold.
“ Kamu demam…”, jawab Arnold datar.
“ Apa kau tak merasakannya ?...”, tanyanya lagi dengan nada dingin.
Jujur saja semalam Arnold sangat ketakutan saat melihat bibir Crystal yang sudah membiru dengan wajah sangat pucat seperti mayat hidup.
Gadis yang biasanya selalu ceria dan aktif tersebut terlihat sangat lemas tak berdaya terbaring di lantai membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa sangat sedih.
Wajah Crystal yang sangat pucat dengan denyut nadi yang sangat lemah membuat Arnold takut jika gadisnya itu akan meninggalkan dirinya malam itu, dihadapannya seperti sang mama dulu.
Malam itu untuk pertama kalinya Arnold melihat dan mendapati Crystal dalam kondisi sakit tak berdaya seperti semalam.
Crystal yang baru saja terbangun dari demam tinggi yang menyerangnya semalam terlihat sedikit linglung dan merasa tidak nyaman ditubuhnya, terutama kepalanya.
Diapun memegangi kepalanya sambil meringis menahan rasa sakit dan tanpa sadar tangan kanannya mencengkeram erat lengan kiri Arnold dengan kuat.
Setelah sakit tersebut sedikit berkurang, Crystalpun segera menarik selimut menutupi tubuhnya saat merasakan suhu ruangan yang tiba – tiba menjadi sangat dingin.
Melihat gadisnya sangat lemas, tanpa mengatakan apapun, Arnold segera menekan bel yang ada diatas nakas untuk memanggil pelayan.
Tak lama kemudian, ada seseorang mengetuk pintu kamar. Setelah diperbolehkan masuk, pelayan tersebut membuka pintu dan berjalan menuju ranjang dengan semangkuk bubur nasi putih yang masih panas.
Masih dengan posisi menunduk, pelayan tersebut segera undur diri setelah meletakkan bubur tersebut diatas nakas.
“ Makanlah…”, perintah Arnold lembut.
Crystal melirik sekilas bubur nasi berwarna putih polos dan hambar tersebut tanpa minat. Namun dia tidak bisa berbuat apapun saat bubur tersebut sudah berada didepan mulutnya.
Dengan wajah cemberut, Crystal memakan bubur putih polos tersebut dengan bibir sedikit mengerucut membuat Arnold merasa gemas ingin ********** saat ini juga.
Namun melihat gadisnya yang masih sangat lemah, dia berusaha untuk menahan hasratnya saat kembali melihat bibir tersebut mengerucut.
“ Makanlah dengan patuh…”, ucap Arnold memperingatkan.
Mendengar hal itu seketika Crystal menarik bibirnya dan berusaha menelan bubur tersebut dengan segenap hati.
“ Kenapa ?...”, Arnold bertanya khawatir melihat wajah Crystal tiba – tiba saja menjadi pucat dan keringat dingin membanjiri tubuhnya.
Crystal menggelengkan kepalanya sambil menahan bubur yang masih berada dalam mulutnya agar tidak keluar sekarang.
Sambil tertatih dia berjalan dengan dipapah oleh Arnold menuju kamar mandi dan langsung memuntahkan seluruh isinya di wastafel.
Hoek ….hoek….
Crystal terus saja mengeluarkan semua makanan yang ada dalam perutnya membuat Arnold sangat panik.
Sambil memegangi Crystal, Arnold merogoh ponsel yang ada disakunya dan menghubungi Emily agar segera membawa dokter Robert ke kamar.
Untungnya dokter Robert dan asistennya belum pulang dan masih bersitirahat didalam kamar setelah semalaman bergantian berjaga untuk mengecek kondisi Crystal tiap satu jam sekali.
Dokter Robert yang baru saja tertidur sedikit linglung saat dibangunkan dengan paksa. Dia duduk sebentar diatas ranjang sambil mengumpulkan nyawanya.
Begitu juga asistennya yang mengerutu tak senang karena tidurnya terganggu setelah semalam suntuk dia bergadang.
Setelah nyawanya sudah penuh, dokter Robert segera naik ke kamar Crystal bersama Emily. Saat masuk keduanya melihat Arnold baru saja merebahkan tubuh Crystal yang terlihat sangat lemas diatas ranjang dan mendekatinya.
“ Kenapa ?...”, tanya dokter Robert cemas melihat tubuh munggil tersebut terkulai tak berdaya.
“ Dia muntah…”, ucap Arnold sambil mengusap keringat didahi Crystal dengan lembut.
Setelah memeriksa kondisi Crystal, dokter Robert kembali menancapkan infuse di pergelangan tangan Crystal. Untung saja jarum infuse tersebut belum dia lepaskan sehingga dia tidak perlu untuk menancapkan jarum infuse yang baru.
“ Apa ada yang terasa sakit ?...”, tanya dokter Robert sambil menatap Crystal dengan raut cemas.
“ Hanya pusing dan mual…”, ucap Crystal lemah.
Melihat kondisi Crystal yang terlihat sangat buruk dokter Robert tidak punya pilihan lain untuk membawa Crystal kerumah sakit jika sampai siang kondisinya masih belum membaik.
Mendengar akan dibawa kerumah sakit Crystal spontan langsung menggelengkan kepalanya berulang kali dengan nafas tersenggal.
“ Aku tidak mau kerumah sakit…”, Crystal menatap Arnold dengan nanar.
Melihat gadisnya seperti itu entah kenapa hati Arnold merasa sangat sakit. Hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya membuat lelaki itu menatap tajam kearah dokter Robert.
“ Tidak perlu kerumah sakit !!!….rawat disini !!!…”, perintah Arnold tegas.
Mendengar ucapan tunangannya itu Crystal seketika tersenyum bahagia. Dia sama sekali tak menyangka jika Arnold akan sebegitu perhatiannya pada dirinya.
“ Tidurlah….”, perintah Arnold sambil mengelus kepala Crystal dengan lembut.
Dokter Robert dan Emilypun saling berpandangan dan tanpa kata keduanya segera meninggalkan kamar Crystal dengan perasaan campur aduk.
“ Sebaiknya anda turuti saja keinginan tuan muda jika tak ingin mendapat masalah…”, ucap Emily memperingatkan.
“ Tentu saja. Aku hanya masih belum percaya jika gadis tersebut mampu merubah Arnold hingga menjadi seperti itu…”, ucap dokter Robert sambil menarik nafas panjang.
“ Kurasa kamu juga tahu kan apa dampakanya…jika gadis itu meninggalkannya, maka dia akan hancur….”, ucap dokter Robert cemas.
Meski Arnold terlihat sangat dingin dan keras diluar, namun hati lelaki itu sangatlah lembut. Dan saat ada yang membuka hatinya, maka kelembutan tersebut akan muncul mengalahkan bagian keras diluaran.
Karena terlalu lembut itulah maka jiwanya mudah hancur, jika seseorang yang membuka pintu tersebut meninggalkannya.
Emily sangat tahu akan hal itu melebihi siapapun, namun dirinya masih sangat yakin jika Crystal sudah mulai bisa menerima tuan mudanya.
Dan Emily sangat berharap gadis itu tidak kembali goyah dan membuat ulah sehingga menyebabkan kehancuran bagi Arnold.