
Satu Minggu berlalu kini Rafael bersama dengan saudara dan para sahabatnya terlihat sedang duduk di sebuah cafe, semua orang memperhatikan sikap Rafael yang terlihat sedikit diam.
"Kamu kenapa El?" Tanya Kenzo, membuat El menoleh.
"Gak kok aku gapapa." Jawab nya.
"Ada yang sedang kamu fikirkan?" Tanya Kyra, Devika mengangguk menyetujui pertanyaan Kyra.
"Gak ada." Jawab El, tidak lama setelah itu terlihat Samuel yang tiba-tiba muncul dan duduk disamping Devika.
"Elah yang sopan apa gak lihat ini pasukan jomblo semua." Ucap Nathia membuat Kenzo tertawa.
"CK, Mon maap mblo." Ledek Samuel, kini lelaki itu menatap Rafael.
"Cih, tumben kamu kesini." Kekeh Kenzo.
"Jelas lah kesini, takut Devika salah alamat lagi." Menatap Rafael, sementara El hanya tertawa kecil.
"Bawa balik Sam biar gak salah alamat." Ucap El, Samuel mendengus.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Devika kepada Samuel.
"Boleh." Jawab Sam, lelaki itu selalu mengikuti keinginan Devika.
"Kita duluan ya." Ucap Devika, gadis itu menepuk pundak El pelan.
"Hmmmmm, hati-hati." Jawab El.
Di tempat lain seorang gadis tengah melamun namun tiba-tiba seseorang menarik tangan nya, ia menoleh dan menatap orang yang menarik tangan nya.
"Kamu kenapa pergi dari rumah, kamu sengaja mau bikin kami susah!" Ucap orang itu, yang tak lain adalah bibi Felly.
"Cih, kalian mencariku karena kalian takut tidak ada yang membiayai kalian." Ucap Felly.
"Jaga ucapan kamu anak pungut!" Teriak nya membuat Felly tercengang.
"Ap_apa?" Tanya Felly.
"Ti_tidak kembali lah kerumah jangan menguji kesabaran ku." Ujar nya kembali meraih tangan Felly, namun dengan cepat Felly menghempaskan tangan sang bibi.
"Untuk apa aku kembali jika kalian hanya menjadikan aku ATM berjalan." Telak nya.
"Cih, kau memang tidak tahu diri harusnya kau bersyukur karena kami mau merawatmu. Jika tidak kau sudah meninggal sejak lama." Ujar nya.
"Aku tidak peduli, lebih baik aku meninggal daripada aku hidup bersama kalian." Ucap Felly, membuat bibi nya geram dan mengangkat tangan nya berniat menamp*r Felly.
Namun seseorang menghentikan gerakan nya, Rafael yang tiba-tiba datang ke tempat kerja Felly memegang tangan bibi Felly.
"Jangan berani-berani kau menyentuh nya." Ucap El.
"K_kau." Lirih Felly terkejut.
"Cih, siapa kau berani-berani nya kau ikut campur." Teriak bibi Felly.
"Tidak penting siapa aku, yang terpenting aku tidak suka ada orang yang melukainya." Ucap Rafael.
Bibi Felly menatap penampilan Rafael yang sangat jelas menunjukkan jika lelaki itu bukan berasal dari kalangan biasa, dari jam dan sepatu, bahkan pakaian yang digunakan El sudah menjelaskan jika El adalah orang kaya.
"Siapa dia Felly, jangan bilang jika kamu menju*l diri selama ini." Tuduh sang bibi, membuat Felly terdiam tidak percaya.
"CK, bukan kah kau tidak pernah peduli dengan pekerjaan ku. Yang kau pedulikan hanya uang uang dan uang." Tegas Felly, ia sudah lelah dengan semua ini.
"Harusnya aku biarkan saja kau terbun*h, harusnya aku tidak menyetujui keinginan kakak ku untuk menyelamatkan mu." Ucap sang bibi, lalu pergi begitu saja.
Fellye menatap nanar kepergian bibi nya, kata-kata bibi nya hari ini benar-benar menyakiti hati Felly.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya El, namun Felly tetap diam.
"Hello, apa kau baik-baik saja?" Tanya El lagi, ia sedikit khawatir dengan keadaan Felly.
"Hmmmmm, aku baik-baik saja pergilah." Jawab Felly, gadis itu melanjutkan pekerjaannya nya.
Rafael menatap Felly dengan wajah mendung nya, baru kali ini Rafael benar-benar di diamkan oleh seorang wanita.
Rafael bukan tipe orang yang bisa sabar tindakan nya bisa seperti sang Daddy yang tidak sabaran jika menyangkut mommy nya, El masuk kedalam toko itu dan membuat beberapa karyawan terpesona dengan ketampanan Rafael.
"Felly, saya mencari Felly." Ucap nya, membuat beberapa karyawan tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
"Se_sebentar saya panggilkan dulu tuan." Jawab nya, El mengangguk.
Tidak lama Felly pun muncul dan menatap El dengan wajah datar, Rafael tersenyum tipis melihat Felly.
"Ikut saya." Ucap El menarik tangan Felly.
"Eh, aku masi kerja." Pekik Felly.
"Saya tidak peduli." Ucap El, karena bos Felly sudah mengenal mommy El karena Dena sudah menjadi pelanggan terbaik toko itu.
"Lepasin kamu gak bisa seenaknya tarik saya." Teriak Felly, namun El malah memasukan Felly kedalam mobilnya.
Felly mendengus kesal kenapa setiap orang kaya selalu seenaknya, Felly sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Kini Rafael melajukan mobilnya namun ia sedikit melirik Felly yang sejak tadi diam, El tersenyum mengejek.
"Gak cape itu bibir manyun Mulu." Ledek nya, Felly pun menoleh.
"Besok-besok mangap deh ga manyun." Jawab nya, El tertawa kecil.
"Yang tadi siapa?" Tanya El.
"Bibi aku, kita mau kemana." Jawab nya lalu bertanya kepada Rafael.
"Kemana saja yang penting kamu gak manyun lagi." Ucap El membuat Felly mengernyit.
"Yaelah bilang aeee kangen gitu." Ucap Felly balik menggoda, dan berhasil membuat El salah tingkah.
"Kheemmmm, gak mana ada kangen." Jawab nya.
"Terus ngapain tuh tiba-tiba nongol di toko, mana udah kaya pangeran nolongin ubi jalar lagi." Kekeh nya, Rafael tertawa.
"Upik abu." Ujar nya, Felly mengangkat bahu.
Rafael tertawa setiap kali Felly mengeluarkan jurus nya, satu hal yang membuat El suka Felly tidak pernah membahas mengenai harta dan kedudukan.
Kebanyakan wanita yang menyukai El karena mereka melihat kekayaan dan dari mana El berasal, namun hanya Felly yang menganggap El sama seperti manusia yang lain nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
A**: Maaf baru up beberapa hari kemarin badan aku kurang enak, dan baru kali ini aku bisa up 😊
N: Pantes ngilang gitu aja oy 😂
A: Istirahat bentar Uun soalnya tiap gue ke dokter, si dokter selalu bilang jangan banyak fikiran 😌
N: Tau aee dokter kalo Lo banyak beban hallu 😂
A: Lo Uun kalo ngomong suka bener 😂
N: Sehati kita 🤣
A: Mana ada 😌
N: 🤣🤣🤣*