Love Destiny

Love Destiny
Epson 320



Satu bulan berlalu kini Devika sudah kembali ke rumah nya, ia masih memikirkan bagaimana nasib Felly. Dimana Felly sebenarnya tuhan, kenapa kau menyembunyikan Felly dengan begitu rapi sampai kami yang mencari tidak bisa menemukan gadis itu.


Apakah sebegitu sayang nya kepada Felly sampai tidak ingin Felly terus menerus mendapatkan kesedihan, tapi sebelum kecelakaan itu Felly sudah cukup terlihat bahagia dengan orang tua dan sahabat nya.


"Devika." Panggil Chika, Devika yang sedang duduk di balkon kamarnya pun menoleh menatap sang mami.


"Ada apa?" Tanya Devika.


"Apa yang sedang kamu fikirkan, sejak pulang dari rumah sakit kamu terlalu banyak melamun sayang." Ucap Chika, Devika menunduk dan tersenyum getir.


"Aku memikirkan tentang Felly mom, aku merasa belum menjadi sahabat yang baik untuk Felly." Ucap Devika, Chika terdiam ia ingin mendengarkan keluhan putrinya.


"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?" Tanya Chika.


"Selama ini Felly selalu membantu dan menolong Devika dalam keadaan bahaya, bahkan pertemuan pertama Devika dengan Felly itu karena Devika akan di rampok. Lalu belum lama ini Felly harus hilang karena ingin menyelamatkan Devika." Ujar nya, Chika ikut bingung harus bagaimana.


Ia tahu jika Devika salah karena tidak berhati-hati dalam mengendarai mobilnya, namun Chika juga yakin ini bukan keinginan Devika mengalami hal seperti ini.


Di kediaman Dena terlihat seorang lelaki yang benar-benar berubah banyak, Rafael lelaki itu menjadi lebih banyak diam.


Bukan hanya itu Rafael juga menjadi lebih suka berdiam diri di dalam kamar, ada apa dengan putranya apakah Rafael sudah benar-benar jatuh hati kepada Felly.


"El." Panggil Dena, Rafael menoleh menatap sang mommy yang masuk kedalam kamar nya.


"Hmmmmm." Sahut Rafael.


"Kamu masih memikirkan Felly?" Tanya Dena, El terdiam ia bingung harus menjawab apa.


"Tidak mom." Jawab nya mencoba berbohong.


"Jangan berbohong kepada mommy, mom tahu kamu sedang tidak baik-baik saja El." Ucap Dena, Rafael tersenyum tipis.


"Apa aku salah jika merasa khawatir kepada Felly?" Tanya El, Dena tersenyum dan mengelus kepala Rafael.


"Kamu tidak salah El, mom senang karena akhirnya ada wanita yang berhasil membuat kamu khawatir." Ucap Dena, mencoba menghibur putranya.


"Apakah harus dengan cara aku kehilangan nya mom? Ini sungguh berat aku tidak bisa menerima ini." Ucap Rafael.


"Dengarlah El setiap kehidupan pasti ada ujian nya, tidak beda seperti saat kamu sekolah. Tapi kamu juga harus yakin pasti ada kebahagiaan setelah kesedihan." Ucap Dena, Rafael bungkam karena yang di katakan oleh Dena semuanya benar.


"Mom, kemana lagi aku harus mencari Felly." Lirih Rafael.


"Percayalah Felly akan baik-baik saja selama belum ada kabar yang tidak baik." Ucap Dena, El mengangguk ia akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari keberadaan Felly.


...


Di tempat lain tepatnya di tempat seorang wanita yang menjadi penyebab kecelakaan Felly dan Devika, kini wanita itu sedang duduk di apartemen mewah nya.


"Si*l kenapa harus Felly, kenapa tidak Devika saja." Geram nya.


"Aku harus bagaimana jika orang tua Felly tahu jika aku dalang dari semua ini." Tambah nya lagi.


Saat sedang sibuk dengan fikirannya masing-masing tiba-tiba bel apartemen nya berbunyi, dengan cepat ia membuka pintu apartemen berharap jika anak buah nya memberikan kabar yang baik.


Saat membuka pintu apartemen nya wanita itu melihat sebuah kotak yang selama sebulan ingin meneror nya, dengan takut ia mengambil kotak itu dan melihat isi nya.


Braaaaakkk.... Suara benda jatuh dari dalam kamar mandi nya, ia benar-benar terlihat ketakutan kali ini.


"Siapa itu." Teriak nya, meskipun takut gadis itu tetap berjalan ke arah kamar mandi.


"Tidak ada siapa-siapa." Lirih nya, namun tiba-tiba ada yang mendorong tubuh nya kedalam bathub yang sudah terisi penuh oleh air.


"Tolong." Pekik nya, ia benar-benar tidak bisa bernafas karena seseorang menahan kepalanya.


"Kau harus membayar semua yang sudah kamu lakukan." Ucap orang itu, saat wanita itu sudah hampir kehabisan nafas tiba-tiba saja orang yang mendorong nya menghilang.


Ia menangis histeris dalam apartemen nya, ia benar-benar merasa takut. Susah usaha nya untuk mendekati lelaki yang dicintainya tidak berhasil, kini kena teror pula.


"Keluar kamu jangan cuma sembunyi dibalik kotak-kotak itu." Teriak nya lagi dengan melirik ke kiri dan kanan.


Bughhhh... Seseorang memukul kepalanya hingga mengeluarkan darah segar, gadis itu benar-benar kehabisan nyali meskipun hanya untuk menatap orang yang memukul nya.


"Aaaakkhhh." Pekik nya memegang kepala yang terasa sangat sakit.


"Ini belum sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan." Bisik nya benar-benar merasa merinding, setelah itu orang yang menyerang nya pergi begitu saja.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


A**: Maaf ya telat mau puasa Mumun gue rada-rada riweh gitu kan, kerjaan Mayan banyak 😁


N: Untung hari ini Lo update ye kan, kalo kaga up juga gue demo rumah Lo😂


A: Jangan ngada-ngada Lo ya, gue lempar petasan baru nyahok Lo 😒*


*N: Canda elah 😁


A: 😂😂😂*