
Selepas kepergian dokter Robert, Arnold semakin memperketat penjagaan untuk istri dan anaknya. Dia tak mau hal buruk terjadi pada mereka.
Sudah tiga hari lamanya Crystal terbaring koma sedangkan sang anak juga masih dalam pemantauan karena sempat mengalami demam tinggi dan kejang – kejang.
Oleh karena itu, selama tiga hari tersebut Arnold dengan setia menjaga istri dan anaknya dirumah sakit. Sedangkan sang mertua hanya waktu siang hari berada dirumah sakit mengingat kondisi Abraham yang tidak terlalu bagus setelah Crystal mengalami koma.
Arnold yang baru saja selesai menjenguk Artal diruang intensif untuk bayi tanpa sengaja melihat ada seseorang berpakaian perawat dengan gelagat yang cukup aneh berjalan monadr - mandir disekitar ruang rawat anaknya.
Dia terlihat seperti sedang mengawasi kondisi sekitar sambil membawa sebuah berkas, seolah – olah dia sedang mengambar peta situasi yang ada disana.
Karena curiga, Arnoldpun mengikuti langkah perawat lelaki yang terlihat buru – buru menjauh dari ruang rawat Artal begitu sadar jika gerak – geriknya telah terbaca.
Melihat musuhnya kabur, Arnold bersama dua bodyguard yang menemaninya segera mengejar perawat lelaki tersebut hingga sampai di didepan loby.
Namun perawat tersebut berhasil kabur dibalik kerumunan keluarga pasien yang kebetulan sedang berjalan untuk menjenguk disalah satu ruang rawat yang baru saja masuk.
“ Sial !!!..cepat cari dia !!!...”, perintah Arnold tegas.
Kedua bodyguard yang berada dibelakang Arnold langsung bergegas mencari jejak perawat lelaki tersebut ke seluruh area rumah sakit karena mereka yakin jika lelaki itu masih belum terlalu jauh.
Arnold yang kenal dengan pemilik rumah sakit tempat istri dan anaknya dirawat itupun segera menghubungi dan meminta bantuannya.
Berbekal hal itu, Arnoldpun bisa bebas mengakses cctv rumah sakit untuk mencari jejak pelaku yang hendak mencelakai anak dan istrinya itu.
“ Stop !!!...”, perintah Arnold pada saat melihat cctv seseorang yang baru saja keluar lewat loby rumah sakit dengan pakaian perawat.
“ Coba perbesar…”, perintahnya lagi.
Arnoldpun meminta petugas mencetak gambar lelaki tersebut dan berusaha untuk mengungkap identitasnya.Anak buah Enrico yang sadar jika Arnold sudah menyadari keberadaan merekapun mulai menarik diri dan merubah rencana.
Mereka tidak bisa menggunakan cara yang sama karena tentunya Arnold sudah semakin waspada pada siapa saja yang masuk kedalam ruang rawat anak dan istrinya setelah kejadian sore ini.
Setelah diselidiki bahwa lelaki berbaju perawat tadi bukan merupakan salah satu pegawai rumah sakit, maka Arnold semakin yakin ada musuh yang sedang mengincar keluarganya.
Untuk itu dia semakin memperketat penjagaan terhadap ruangan yang dihuni oleh istri dan anaknya. Dengan bantuan direktur rumah sakit, Arnoldpun bisa memilih perawat dan dokter mana yang berhak masuk kedalam ruang perawatan dimana anak dan istrinya berada.
Dia tak mau kecolongan karena akan berdampak fatal bagi keselamatan keluarganya. Ditengah – tengah kekacauan yang terjadi, Arnold dapat bernafas dengan lega waktu salah satu perawat menyampaikan jika istrinya sudah siuman.
Tak ingin membuang waktu, Arnoldpun bergegas menuju ruang rawat sang istri. Diatas ranjang, Crystal yang baru saja sadar terlihat sangat lemas dan pucat dengan mata sayu.
Di berusaha untuk tersenyum waktu melihat wajah suaminya diantara dokter yang sedang memeriksa kondisinya.
“ Kondisi nyonya Crystal sudah stabil. Setelah semua alat bantu dicabut, nyonya Crystal dapat segera dipindahkan di ruang rawat…”, ucap dokter Arum menjelaskan.
Arnold pun segera mengistruksikan kepada Emily untuk menyiapkan ruang rawat yang nyaman dan aman bagi istri dan anaknya.
Karena tadi dia juga sempat mendapat kabar dari dokter anak yang menangani Artal jika malam ini bayi kecil itu sudah bisa dipindah keruang rawat yang rencananya akan Arnold gabung dengan ruang rawat sang istri.
Selain agar Crystal bisa melihat buah hati yang sudah dikandungnya selama sembilan bulan, hal ini juga semakin memudahkan dirinya untuk menjaga keluarganya dari orang jahat yang ingin menyakiti mereka.
Begitu Crystal sudah dipindahkan dari ICU kedalam ruang rawat yang telah disiapkannya, Arnoldpun berjalan mendekat dan mengenggam tangan sang istri dengan erat, seolah - olah dia tak ingin tangan tersebut kembali terlepas olehnya.
“ Ada apa ?...”, tanya Crystal cemas.
“ Tolong, ambilkan air…”, ucap Crystal lemah.
Arnolpun membantu sang istri untuk duduk dan mengambilkan segelas air putih dan membantu Crystal untuk minum sambil tersenyum.
Tampaknya senyum manis Arnold tak mampu mengalihkan kecurigaan sang istri yang kembali bertanya dengan wajah serius.
“ Apa terjadi sesuatu pada anak kita ?...”, tanya Crystal cemas.
“ Artal baik – baik saja sayang...kamu jangan terlalu banyak berpikir…”, ucap Arnold sambil mengelus lembut kepala Crystal.
“ Artal ?...”, tanya Crystal binggung.
“ Iya, Artal…anak kita…”, ucap Arnol tersenyum lebar.
Sejenak Crystal terdiam untuk mencerna semuanya hingga akhirnya senyum manis terbit diwajahnya waktu menyadari jika dialah yang memutuskan nama Artal tersebut.
“ Nama bayi kita Artal Rafelio Lincoln…”, Arnold berkata waktu melihat wajah sang istri yang terlihat masih sedikit binggung.
Mendengar ucapan sang suami, senyum manispun terbit diwajah Crystal. Rasanya dia ingin sekali melihat bayi yang sudah dikandungnya selama Sembilan bulan tersebut saat ini juga.
Tok…tok….tok…
Dari balik pintu terlihat seorang suster yang datang sambil mendorong box bayi menuju kearah dimana Arnold dan Crystal berada.
“ Bayi anda sudah waktunya makan. Apa anda ingin mencoba memberinya asi ?...”, tanya perawat tersebut sopan.
“ Tentu…mana…”, ucap Crystal antusias.
Diapun langsung mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil sang bayi yang baru saja dikeluarkan dari box oleh perawat yang membawanya.
Crystalpun dengan cepat mengikuti arahan dari perawat tentang bagaimana cara menggendong dan memberi asi pada bayi yang ada dihadapannya.
“ Kenapa ?...kok asinya tidak keluar ?...”, tanya Crystal sedih.
“ Tidak apa nyonya, hal ini normal mengingat anda baru saja sadar dari koma. Nanti lama – lama asinya juga akan keluar dengan sendirinya…”, ucap perawat mencoba membesarkan hati Crystal.
Dengan wajah sedih, Crystalpun mulai memberi bayinya susu yang telah disiapkan dalam botol. Dia sangat kecewa kenapa asinya sama sekali tidak keluar hingga bayinya harus minum susu formula, bukan asi yang seharusnya masih dibutuhkan untuk bayi yang masih berusia belum genap satu minggu itu.
Melihat kesedihan diwajah sang istri, Arnoldpun mulai mengusap punggung sang istri dengan lembut, berusaha untuk menguatkannya.
“ Tidak apa…nanti aku tanya mama bagaimana caranya agar asi bisa lancar keluar…”, ucap Arnold sambil mengusap kepala Crystal dengan lembut.
Mendengar ucapan sang suami, Crystal hanya bisa tersenyum tipis. Meski hari ini masih belum bisa memberi bayinya asi, namun Crystal bertekad akan mencari cara agar bayinya bisa mendapatkan asi eksklusif dari dirinya.
Crystalpun mulai bersenandung kecil sambil menyusui sang buah hati. Wajah munggil yang tampan, dengan hidung mancung, alis yang sempurna dan bibir tipis berwarna merah membuat Artal tampak seperti Arnold dalam bentuk kecilnya.
" Sangat tampan...", gumannya bangga.
Melihat istrinya sudah kembali ceria, Arnoldpun merasa sangat lega. Dia segera menghubungi mertua dan neneknya untuk memberi kabar jika Crystal sudah sadarkan diri.