
Malam hari seorang gadis cantik dijemput oleh seorang lelaki tampan, karena mereka bisa pergi saat Devika selesai kuliah dan Samuel selesai bekerja maka keduanya memutuskan untuk pergi malam hari.
"Yang mau jalan mah beda." Ledek Chika, membuat wajah Devika merona.
"Tolong yak emak-emak solimi dilarang solimi sama anak nya sendiri." Ledek Devika, membuat Chika tertawa kecil.
"Gak berasa anak papi sudah besar." Ucap Devin, Devika tersenyum.
"Divika tidak akan kemanapun percaya deh." Ujar nya, Devin tertawa kecil.
"Selamat malam om Tante." Sapa Samuel.
"Malam Sam." Jawab Chika dan Devin.
"Hai vik." Sapa Samuel.
"Hai El." Jawab Devika, membuat Samuel mendengus.
"Bisa tidak jangan manggil El, itu si El meresahkan bisa salah orang nanti." Ucap Samuel, Devika tertawa kecil.
"Baiklah Samuel." Ucap Devika, Samuel meminta ijin kepada Devin dan Chika untuk mengajak Devika pergi.
Kini Samuel dan Devika pun pergi, Samuel mengajak Devika ketempat yang sangat disukai oleh Devika.
"Indahnya, tapi kok sepi." Ucap Devika saat mereka tiba di tempat tujuan.
"Hmmmmm, aku sengaja buat ini untuk kamu." Ucap Samuel, membuat Devika menoleh dan menatap Samuel.
"Really?" Tanya Devika tidak percaya.
"Kapan aku pernah bohong sama kamu? Janji aku untuk kembali saja aku tepati. Kau tahu dari sekian banyak wanita yang mendekati aku, hanya kamu yang bisa membuat aku terlihat bo*oh." Ucap Samuel, membuat Devika berkaca-kaca.
Jantung nya berdebar kencang saat ia menatap mata yang berada dihadapannya, tunggu harus kah Devika meyakinkan ini lagi.
"Thank you." Ucap Devika menunduk.
"Jangan bersedih, setelah ini kamu akan selalu mendapatkan hal-hal seperti ini." Ucap Samuel, aaaaaaa rasanya Devika ingin berlari memeluk tubuh tegap Samuel.
Di tempat lain tepatnya di kediaman seorang gadis kini ia sedang berbaring di tempat tidur nya, sampai seseorang masuk kedalam kamar nya.
"Aku melihat kau memiliki sepatu baru." Ujar seorang gadis.
"Hmmmmm, aku membelinya kemarin." Ucap Felly, ya gadis itu adalah Felly.
"Cih, pakai saja sepatu lama mu. Aku akan memakai sepatu barumu." Ujar nya.
"Apakah kau bisa lebih menghargai sesuatu yang menjadi milik orang lain, kau selalu menginginkan semua yang aku miliki." Ucap Felly, inilah alasan Felly selalu menolak pemberian dari orang lain.
Felly tidak ingin mengecewakan orang yang sudah memberikan sesuatu, namun bukan Felly yang menggunakan nya.
"Kau berani melawanku." Ujar nya.
"Memangnya kenapa aku harus takut? Selama ini aku kerja untuk memenuhi kebutuhan mu selalu kamu." Ucap Felly.
"Kau, pergi kau dari rumah ku." Teriak nya, jujur dari dulu Felly ingin sekali tinggal sendiri. Namun ia selalu si*l karena paman dan bibi nya pasti menggunakan banyak cara untuk menyeret nya kembali pulang.
"Jika bukan karena orang tuamu aku sudah lama pergi dari sini, aku sudah tidak peduli mengenai saudara." Pekik Felly, kini wajah nya merah padam.
Felly mengambil tas dan ponsel lalu keluar dari rumah, Felly tidak menghiraukan panggilan paman dan bibi nya.
Ia berjalan di trotoar jalan tanpa arah, Felly tidak tahu ia akan kemana dan harus kemana. Akhirnya ia pergi ke sebuah taman yang terdapat danau buatan disana.
"Kenapa harus Felly kenapa ma, kenapa mama dan papa pergi begitu cepat." Teriak nya, siapa yang tahan dengan keadaan yang ia hadapi.
"Kau bersedih." Ucap seseorang yang tiba-tiba duduk disamping Felly.
"Ka_kau." Ujar Felly, lelaki itu menoleh dan menatap Felly dengan senyum.
Oh God, jika para wanita kampus yang melihat senyum itu pasti sudah mengadakan syukuran. Beruntung yang melihat itu adalah Felly.
"Kenapa?" Tanya El, membuat Felly mengernyit.
"Kau berbicara dengan ku?" Tanya Felly lagi.
"Tidak aku sedang berbicara dengan katak." Ucap El ngasal, Felly mendesis.
"Mengikuti kata hati." Jawab Rafael, Felly menoleh kearah El.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain berdiam diri disini?" Tanya Felly, El menoleh dan menarik tangan Felly tiba-tiba.
"Aaaaa, hey lepaskan tangan ku." Pekik Felly, membuat El mengeratkan cengkraman nya.
"Ish, lepaskan aku atau aku teriak." Ucap Felly.
"Teriak saja aku tidak takut." Jawab El yang tiba-tiba menoleh, dan membuat Felly terkejut.
"Kau bisa tidak jika menengok kebelakang bilang dulu." Cebik Felly, Rafael memasukan Felly kedalam mobilnya.
"Pakai seat belt mu." Ucap El, Felly menggelengkan kepalanya.
"Tidak, buka pintunya dan turunkan aku." Ucap Felly, bukannya membuka pintu Rafael justru melakukan hal yang membuat Felly terkejut.
Dag-dig-dug, seperti itulah jantung Felly sekarang. Boleh kah ia berteriak maaaaakkk pengen pulang maaakkk.
Setelah selesai Rafael kembali duduk dan menyalakan mesin mobilnya, Felly menghela nafasnya tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Apa aku sedang diculik sekarang." Ujar nya.
"Tidaka ada yang mau menculikmu." Ucap El, Felly pun menoleh.
"Kenapa?" Tanya Felly polos.
"Makan mu banyak, bisa bangkrut orang yang menculik mu." Ledek El, membuat Felly mengangguk.
"Benar juga, uang yang kau miliki pun belum tentu cukup untuk biaya makan ku." Ujar nya, tolong bungkam mulut Felly agar El tidak kehilangan wibawa nya karena tertawa.
"Kita mau kemana?" Tanya Felly.
"Kau diam dan ikuti aku saja." Ucap El, ia menyumpal mulut Felly dengan coklat. Karena jika diberikan Felly pasti menolak.
Felly ingin mengembalikan coklat itu tapi sayang rasanya sangat enak, Felly kembali menatap El.
"Akan aku ganti coklat ini." Ujar nya, El hanya menatap sekilas.
Kini Felly menikmati coklat nya dan tidak sadar jika El masih belum memberhentikan mobilnya, entahlah kemana lelaki itu akan membawa Felly pergi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€ jangan lupa like komen dan vote nya ππ
N**: Rafael ngegas ya bundπ
A: Kaga ngerem lagi π
N: Takut-takut bikin gue bapeureu π
A: Auahhh Lo mah bapeureu Mulu π
N: πππ*