Love Destiny

Love Destiny
KEDATANGAN GERALD PART 2



Arnold yang sejak tadi berdiri dalam kegelapan, terus mengawasi sepasang muda – mudi yang ada dihadapannya dengan tatapan tajam.


Seperti eekor singa yang sedang mengintai mangsanya. Tidak sedetikpun dia lenggah, matanya bergerak seiring pergerakan mangsa yang ada dihadapannya.


Crystal mengambil nafas dalam – dalam dan mengeluarkannya secara perlahan sambil tersenyum. Berusaha untuk mengabaikan kehadiran Arnold yang sedang mengintainya dari belakang. Seakan bersiap memangsanya hidup – hidup saat dirinya salah langkah.


“ Crystal…berhentilah membohongi dirimu sendiri…”, ucap Gerald mulai jengah dengan wajah datar yang ditampilkan Crystal sejak tadi.


Gerald sangat yakin bahwa wajah datar yang ditampilkan oleh Crystal saat ini adalah topeng untuk menutupi kesedihan hatinya.


“ Terimakasih atas perhatiannya…”, ucap Crystal tersenyum sinis.


“ Perhatian yang anda tunjukkan itu…sebagai mantan kekasih…atau sebagai calon kakak ipar…”, tanya Crystal penuh penekanan.


Mendengar ucapan Crystal, Gerald merasa sangat bersalah. Dadanya terasa sangat sakit saat dia mendengar kata calon kakak ipar. Seolah – olah wanita itu mengingatkan kembali akan pengkhianatan yang dilakukannya.


Jujur,  saat ini Gerald masih sangat mencintai wanita  yang ada dihadapannya itu. Dia tidak ingin wanita yang dicintainya itu menderita dan kehilangan jati dirinya seperti sekarang.


“ saya tahu kalau kamu masih marah dan belum bisa memaafkan kesalahanku. Tapi kamu juga tahu kan, kalau semua ini juga bukan kehendakku. Semua terjadi begitu cepat…dan untuk masalah yang menimpamu saat ini, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya….”, ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.


“ Aku dan Leony sudah sepakat kita akan bercerai begitu anak tersebut lahir kedunia. Dan pada saat itu, kembalilah padaku....aku berjanji akan membahagiakan dirimu…”, ucapnya berusaha meyakinkan  wanita yang ada dihadapannya itu.


Dalam kehidupan sebelumnya, Crystal sangat terharu dengan semua ucapan Gerald. Dia bahkan menitikkan air mata waktu mendengar bahwa laki – laki yang sangat dicintainya itu ternyata masih sangat perduli terhadapnya.


Meski sekuat tenaga Crystal berusaha untuk menyangkal, namun lagi – lagi hatinya tidak bisa diajak untuk berkompromi.


Hatinya masih sangat mencintai laki – laki itu. karena rasa cintanya yang begitu dalam, tanpa berpikir panjang dia memaafkan dan kembali menjalin hubungan rahasia Gerald, tanpa sepengetahuan Arnold.


Saat itu Crystal tidak menyadari bahwa semua ini merupakan jebakan yang dibuat oleh Adisty untuk menjatuhkan dirinya.


Menjatuhkannya sedalam – dalamnya, membuatnya terlihat sangat buruk dihadapan semua orang. Hingga puncaknya Crystal dibenci seluruh keluarganya.


Dan yang paling menyakitkan dan sampai saat ini masih membekas adalah dia disiksa hingga mati oleh Arnold, yang pada saat itu sudah menjadi suaminya.


Ucapan Gerald tanpa sadar membuat suhu yang ada disekitar taman mengalami penurunan yang drastis, hingga membuat bulu kudu Crystal merinding.


Sementara itu, beberapa langkah dibelakang Crystal, Arnold yang mendengar hal tersebut tidak bisa lagi untuk menyembunyikan kemarahan yang sudah menutupi hatinya.


Raut wajah datarnya tiba – tiba berubah menjadi sangat gelap, padahal bulan bersinar sangat terang dilangit nyatanya tidak mampu menembus kegelapan yang menyelimutinya.


Tatapan matanya yang tajam seakan – akan bisa mencabik - cabiknya dan menelan seseorang hidup – hidup saat ini juga


Assisten Arnold, Emily yang berada disampingnya mulai berkeringat dingin. Saking takutnya dengan amarah yang akan keluar dari dalam diri tuannya.


Membuat wanita usia 35 tahun ini beberapa kali menyeka keringat yang mulai mengucur deras ditubuhnya, padahal udara di sekitar sangatlah dingin.


“ Kenapa juga aku harus ikut menyaksikan kejadian ini…”, batin Emily ketakutan.


Emily sangat tahu, jika  tunangan bosnya ini berbuat ulah, maka semua orang dirumah ini akan mendapatkan hukuman, termasuk dirinya.


Itulah yang selama ini terjadi. Sejak Crystal menginjakkan kakinya dalam rumah mewah ini, kehidupan didalamnya sudah seperti neraka.


Setiap hari ada saja ulah Crystal yang memancing amarah seorang Arnold,  hingga membuat semua orang tidak bisa menjalani hari dengan mudah dan tenang.


Saat dia membuat masalah, maka sang bos yang marah akan melampiaskan kekesalannya itu keseluruh orang yang berada di rumah.


“ Dan malam ini…gadis tersebut kembali memprovokasi sang bos…dengan membawa kekasihnya kesini…”, batin Emily semakin resah dengan wajah pucat pasi.


“ Melihat raut gelap yang menyelimuti wajah bos saat ini….aku sangat yakin jika kemarahan bos kali ini bisa membakar seluruh kota menjadi abu…”, batin Emily bergidik ngeri.


Emily mulai memejamkan matanya dengan putus asa, berharap tunangan bosnya itu tidak melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan nyawa banyak orang, terutama dirinya yang saat ini berdiri disamping Arnold.


Gerald tampak tidak sabar dan langsung mengulurkan tangan untuk meraih lengan Crystal karena gadis yang ada didepannya itu tidak bergerak ataupun merespon ucapannya.


Belum juga tangan Gerald berhasil menyentuh, Crystal sudah lebih dulu memundurkan langkahnya seakan tidak


ingin disentuh.


“ kenapa…”, ucap Gerald sambil mengerutkan keningnya binggung dengan sikap Crystal yang dianggapnya diluar nalar.


“ Apa aku sudah bilang ingin bersamamu…”, ucap Crystal ketus.


“ Crystal…sadarlah…Arnold  hanya sedang mempermainkanmu…setelah bosan, dia akan membuangmu, seperti semua gadis yang  pernah bersamanya dulu…”, ucap Gerald dengan tatapan sedih.


Gerald tahu kalau Crystal masih sangat mencintainya seperti dulu, dengan ucapannya ini, dia sangat yakin bisa menarik perhatian gadis yang ada dihadapannya itu.


“ Kau…mengasihani diriku….”, ucap Crystal terkekeh mendengar lelucon yang keluar dari mulut mantan kekasihnya itu.


“ Arnold itu tampan, hebat, dan lebih kaya. Dia juga berada dalam status sosial yang lebih tinggi darimu, serta memiliki tubuh yang sempurna. Tidur bersamanya sekali lebih baik dari pada bersamamu seumur hidup. Sadarlah….”, ucap Crystal tersenyum mengejek.


“ Kau…”, tunjuk Gerald geram.


Gerald  sama sekali tak menyangka kalau Crystal akan mengatakan hal seperti itu pada dirinya. Ucapan yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan terucap dari mulut wanita yang dia tahu sangat mencintainya itu.


Jika Gerald terlihat sangat marah dengan ucapan Crystal, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan Arnold. Laki – laki itu sekarang terlihat lebih tenang dari sebelumnya yang seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


Bukan hanya Gerald dan Arnold saja yang terkejut, Emily yang ada disamping Arnoldpun sangat terkejut hingga matanya tidak berhenti melotot dengan mulut yang terbuka lebar.


Jika ada lalat yang terbang, mungkin saat ini lalat tersebut sudah masuk kedalam mulut Emily yang terbuka cukup lebar akibat terkejut.


“ Mengapa nona Crystal bersikap aneh hari ini. Bukannya dia sangat mencintai tuan Gerald, dia seharusnya senang mendapat tawaran seperti itu…atau ini hanya taktiknya agar tuan Gerald semakin merasa bersalah dan terus mengejarnya…”, batin Emily penuh dengan tanda tanya yang sangat besar dengan perubahan sikap tunangan bosnya itu.


“ Crystal…berhentilah menghibur diri. Semua orang sangat tahu kalau Arnold itu sangat kejam dan berperasaan. Tahukah kamu…sudah berapa banyak orang yang dia bunuh…berapa banyak wanita yang berada disisinya juga dilenyapkannya…apa kamu juga ingin mengalami hal yang sama, meninggal ditangan laki – laki itu…tidakkah kau perduli dengan hidupmu…”, teriak Gerald penuh amarah.


Crystal hanya memutar bola matanya dengan malas dan sedikit menguap bosan menanggapi peringatan keras dari mantan kekasihnya itu.


Meski  tidak dapat dipungkiri kalau semua yang Gerald ucapkan itu benar adanya, karena dia juga pernah merasakan sendiri, merenggang nyawa ditangan Arnold.


Ditempat persembunyian, Emily diam – diam melirik sang bos, berusaha untuk melihat bagaimana ekspresi sang bos setelah mendengar  semua kata yang Gerald ucapkan barusan.


Tapi sayangnya, raut wajah sang bos tetap datar dan dingin seperti biasa. Tidak ada ekspresi apapun yang terpancar disana.


“ Baiklah…jika itu maumu. Kuharap kamu bisa secepatnya sadar. Dan jangan menyesal jika disaat itu aku tidak ada disini. Saat ini yang kulakukan adalah semuanya demi kebaikanmu…setidaknya ini hal terbaik yang bisa aku lakukan untukmu saat ini…” , ucap Gerald kembali member peringatan kepada Crystal.


Tidak mendapatkan respon dari gadis yang ada didepannya, Gerald memutuskan untuk pergi dari tempat itu.