Love Destiny

Love Destiny
PENCULIKAN



Mobil  ambulan yang membawa Leony dan Crystal tiba – tiba dihadang oleh dua buah mobil van hitam di tengah jalan membuat ambulan terpaksa berhenti secara mendadak hingga membuat Crystal dan dua petugas media yang berada dibelakang memegangi kepala mereka akibat benturan keras yang baru saja mereka alami.


" Hati - hati pak...", ucap salah satu petugas medis mengingatkan.


" Ma...maaf...itu...", ucap sang sopir gugup sambil menunjuk kearah mobil van hitam yang sudah parkir melintang didepan.


Dari dalam mobil turun lelaki berpakaian hitam dengan penutup kepala berwarna senada yang jumlahnya diperkirakan ada sepuluh orang dengan senjata api ditangannya.


Melihat hal itu, Crystal langsung mengirim pesan SOS kepada Arnold dan Lea agar posisinya terlacak.


Satu orang masuk ke belakang dan menodongkan pistol ke kepala Crystal dan satu orang lagi langsung duduk didepan sambil menodongkan pistol kepada sang sopir agar mengikuti semua instruksinya.


Sang sopir hanya bisa pasrah menjalankan mobilnya dengan todongan senjata dari arah samping. Dia kemudian mengikuti arahan sang penjahat yang memberinya instruksi untuk berbelok kekiri, menjauhi rumah sakit.


Melihat mobil semakin jauh dari arah rumah sakit dan kondisi Leony yang kritis membuat Crystal berupaya untuk berbicara dengan penjahat yang ada disampingnya agar membiarkan sang kakak mendapatkan perawatan terlebih dahulu.


Tetapi, sekeras apapun upaya yang dilakukan oleh Crystal tidak membuahkan hasil, bahkan petugas medis yang berada didepan gadis itu terkena tembakan dibahunya karena bersikeras agar pasien dilarikan ke rumah sakit atau klinik terdekat dulu.


Teknik lobbying tampaknya tidak mempan, Crystal hanya berharap Arnold dan Lea segera menemukannya dan membawa bala bantuan sambil dia berpikir cara agar bisa lolos .


Sambil pura –pura menggaruk pergelangan tangannya yang gatal, sekali lagi Crystal memencet tombol SOS yang ada di jam tangannya dengan sangat hati – hati agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Komplotan penjahat ini tampaknya hanya ditugaskan untuk membawa mereka kesuatu tempat dan dilarang melakukan komunikasi apapun kepada korban.


Dan jika korban melawan atau membuat kegaduhan yang dianggap menyusahkannya, maka melukai korban adalah jawabannya, seperti yang dialami petugas medis tadi.


Dalam diam, Crystal terus berpikir keras memecahkan teka – teki siapa orang yang berniat mencelakai dan menculiknya.


“ Jika tadi kak Leony mendorongku agar tidak tertabrak, pasti dalang semua ini kak Leony tahu…”, batin Crystal sambil menatap nanar kakaknya yang masih belum sadarkan diri di brankar.


“ Apa kak Leony ada hubungannya dengan semua ini ?...Kenapa?...atas dasar apa?....”, Crystal sedikit mengkerutkan keningnya berpikir keras.


Sementara itu, Abraham dan Arnold terlihat sangat panik waktu anak buahnya mengabarkan jika mereka kehilangan jejak Crystal.


Bahkan Arnold tak segan – segan menghajar habis orang yang membawa kabar itu kepadanya. Untung saja Emily berhasil mengetahui posisi Crystal saat ini dengan pesan SOS yang dikirimkan gadis itu ke ponsel Arnold, sehingga nyawa orang yang membawa kabar buruk tersebut terselamatkan.


“ Cepat kirim PB 1 sekarang juga….”, perintah Arnold tajam.


Sambil mengepalkan kedua tangannya, Arnold segera bergegas masuk kedalam mobil, diikuti oleh Emily yang langsung naik kedepan dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi mengikuti arah maping yang dikirim Crystal.


Dalam perjalanan, Arnold mendapat kabar dari anak buahnya yang selama ini mengawal Crystal jika mereka berhasil menangkap Gerald, sebagai pelaku yang hampir saja mencelakai calon istri bosnya itu.


Mendengar nama Gerald, sontak saja darah dalam tubuh Arnold mendidih. Diapun segera memerintahkan anak buahnya agar membawa Gerald ke markas rahasia mereka yang ada diujung danau.


Arnold berpikir nanti dia akan membuat perhitungan kepada Gerald setelah nyawa gadisnya terselamatkan.


Abraham sudah menyebar anak buahnya untuk segera mencari jejak Leony dan Crystal sambil bergegas menuju rumah sakit tempat supir keluarga mereka dirawat, karena hanya lelaki tua itulah kunci Abraham bisa mencari jejak kedua putrinya.


Sementara itu, Lea yang sedang berkumpul dengan teman – teman dari kampung halamannya dibagian timur langsung bergegas sewaktu mendapatkan pesan SOS dari Crystal.


“ Apa kita akan berperang ?…”, tanya Theodore, teman Lea dengan wajah senang.


“ Bisa ya…bisa tidak…cepat bawa semuanya…”, ucap Lea sambil memasukan semua peralatan yang dibutuhkannya.


“ Lalu, kenapa kita membawa senjata banyak sekali….”, tanya Theodore lagi.


“ Buat jaga – jaga…kita juga tidak tahu kondisi apa yang sedang dihadapinya disana…”, ucap Lea sambil menenteng tas ransel hitamnya dipunggung.


Mereka berlima pun segera berangkat menuju posisi yang dikirimkan Crystal kepadanya. Dalam mobil Lea terus mengotak – atik laptopnya mengikuti jejak Crystal melalui maping yang berhasil dilacaknya.


“ Ini….”, dahi Lea mengernyit waktu menyadari jika mobil yang mereka tumpangi memasuki perkebunan teh, tempat markas rahasia Alexander yang baru sehari kemarin Lea ketahui.


Melihat siapa musuh yang akan mereka hadapi, Lea langsung menghubungi Arnold. Dia sama sekali tidak mau ambil resiko, mengingat betapa misteriusnya Alexander sehingga gadis itu tidak bisa mengetahui seberapa kuat mereka.


“ Apa kamu yakin ?...”, tanya Arnold dengan nada datar dan dingin.


“ Sangat yakin…aku baru tahu posisi markas mereka kemarin…”, ucap Lea mantap.


“ Yang perlu kita waspadai adalah kekuatan mereka. Saat ini aku sudah mulai kehilangan posisi Crystal waktu dia berjalan memasuki area perkebunan. Kita harus cepat jika tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Crystal…..”, ucap Lea langsung mengakhiri panggilan telepon dengan Arnold.


“ Aku tidak akan membiarkan mereka hidup jika sampai menyentuh gadisku…”, batin Arnold penuh amarah.


Lea yang posisinya lebih dekat dengan Crystal saat ini sudah berada di depan area perkabunan. Untung saja tadi sempat hujan jadi jalanan sedikit becek hingga mereka bisa melihat ada jejak roda mobil yang masih baru disana.


Berbekal jejak tersebut, mobil yang dikendarai Lea dan teman – temannya mulai melaju sambil mereka menatap awas ke sekeliling , siapa tahu ada jebakan batman disana.


Seperti yang mereka duga, ban mobil yang mereka tumpangi tiba – tiba saja kempes. Setelah dilihat, ternyata jalan yang mereka lalui banyak sekali ranjau hingga membuat ban mobil mereka terkoyak.


Untung saja Lea sudah prepare semuanya sebelum berangkat, pada saat teman - temannya sedang menganti ban, Lea mencoba berjalan melihat kondisi sekeliling untuk memastikan jalan yang ada didepan mereka aman.


Setelah menganti ban mobil mereka segera kembali berangkat sambil lebih waspada lagi terhadap apa yang ada di depan mereka.


Mereka sangat yakin jika jebakannya bukan hanya itu saja. Hal yang tadi dialami hanyalah pembuka sebagai ucapan selamat datang saja.


“ Le…itu sepertinya sensor…kalau tak mau ketahuan, kita sebaiknya jalan kaki mulai dari sini…”, ucap Beni, teman Lea memperingatkan waktu melihat cahaya biru dari kacamata yang dipakainya.


Lea pun mencoba kacamata pintar milik Beni, benar saja didepan banyak sekali sensor yang tak kasat mata hingga siapapun yang datang pasti akan terdeteksi.


Sebelum sinyal ponsel semakin lemah, Lea segera mengirimkan beberapa pesan kepada Arnold untuk mewaspadai semuanya, karena sejak jalan masuk perkebunan sudah banyak kejutan yang menunggu mereka.