Love Destiny

Love Destiny
BERTEMU NENEK



Meski kedatangan Crystal belum ditetapkan, namun tampakanya Elisabeth sudah mulai bersiap menyambut calon cucu menantunya itu tiba dirumah utama.


Setelah kepergian semua orang dan hanya menyisakan Arnold disana,  Elisabeth segera menginstruksikan kepada seluruh pelayannya agar menganti semua gorden disetiap ruangan.


Dia juga menyuruh pelayan untuk mendekor ulang kamar tamu yang nantinya akan digunakan oleh calon cucu menantunya itu menginap dengan menganti sprei dan kelambu dengan warna kuning sesuai dengan warna favorit Crystal.


Elisabeth juga menginstruksikan kepada staf dapur untuk membeli bahan – bahan sesuai menu yang telah disiapkannya.


Setelah semua selesai ditangani, dia menginstruksikan James agar membawa Emily, asisten Arnold kedalam ruangannya.


Tok tok tok….


Emily mengetuk pintu ruangan Elisabeth waktu James memberitahunya jika nyonya besar ingin bertemu dengannya untuk bicara empat mata.


Saat mendengar sahutan dari dalam Emilypun bergegas masuk  dan berdiri setengah membungkuk didepan wanita tua berambut pirang sebahu yang terlihat sedang menyesap teh hangat yang ada ditangannya dengan santai.


“ Nyonya, apa anda memanggil saya…”, tanya Emily dengan gugup


“ Jelaskan semuanya padaku sekarang !!!...Setiap waktu kamu selalu berada disamping Arnold, tapi kenapa kamu tidak tahu jika cucuku sedang jatuh cinta !!!...”, ucap Elisabeth geram saat asisten cucunya itu tidak memberikan informasi apapun jika Arnold sudah mempunyai pacar.


“ Eh…tuan muda jatuh cinta?...”, ucap Emily terkejut.


“ Crystal namanya…tadi Arnold memberitahukan padaku !!!...”, bentak Elisabeth marah saat menyadari bahwa asisten cucunya itu tak tahu apa – apa.


“ Nona Crystal, tentu saja dia tahu. Gadis itu sudah berada dalam kediaman tuan mudanya itu selama enam bulan terakhir ini. Untuk masalah cinta, itu hanyalah perasaan sepihak dari tuan muda karena nona Crystal tampaknya tidak begitu. Mereka juga jarang berinteraksi dan tidur dalam kamar yang terpisah. Apakah  yang seperti itu bisa disebut Cinta…”, batin Emily tercengang.


.


.


.


Dikampus bintang,


Proposal penelitian yang diajukan oleh Crystal sudah di aprove oleh profesor Edward. Dengan penelitian tersebut diharapkan Crystal dapat menambah nilainya serta bisa dijadikannya sebaga bahan acuan untuk mengajukan judul skripsi.


Crystal sangat senang saat mendengar kabar tersebut. ini artinya planning untuk menyelesaikan perkuliahan secara tepat waktu akan terwujud.


Apalagi dalam menelitian yang akan dijalaninya, professor Edward  secara pribadi meminta beberapa dosen untuk membantu Crystal.


Banyaknya dukungan dari semua pihak membuat Crystal lebih percaya diri dan sangat berterimakasih kepada professor Edward selaku kepala jurusan prodinya.


Dan untuk ketertinggalannya dalam satu semester ke belakang  bisa diambilnya melalui semester pendek yang sekarang sudah berjalan .


Maka dari itu, Crystal yang mulai mengikuti semester pendek terlihat sangat sibuk. Dia benar – benar serius untuk mengejar ketertinggalannya.


Setelah mengikuti kelas terakhirnya, dengan lunglai dia berjalan menuju keparkiran, dimana mobilnya berada.Baru saja memutar kunci, tiba – tiba ponselnya berdering membuat Crystal kembali mematikan mesin mobilnya.


“ Haloo….”, ucap Crystal lemas.


“ Apakah kuliahmu sudah selasai…”, tanya Arnold dengan nada suara rendah dan dingin.


“ Hari ini jadwalku sangat padat. Mulai pagi aku sudah masuk kelas hingga sore hari. Bahkan aku tadi juga sempat melewatkan makan siangku karena sibuk berdiskusi mengenai penelitian yang sedang kujalani. Dan tadi saat aku hendak makan, tiba – tiba dosen yang akan mengajar kelas selanjutnya sudah datang. Jadi samapai malam begini aku belum makan…badanku terasa sangat lelah dan lapar sekarang….”, ucapku mengeluarkan semua uneg – uneg yang ada agar Arnold mengetahui bagaimana rutinitasku dan tidak punya alasan untuk mencurigaiku karena menyembunyikan sesuatu darinya.


Arnold mendengarkan keluh kesah tunangannya itu dengan sabar, saat Crystal sudah berhenti berbicara, diapun segera bersuara.


“ Apakah sabtu besok kamu tidak ada kegiatan…”, tanya Arnold mulai melembutkan suaranya.


“ Sabtu – minggu besok aku free…ada apa ?..”, tanya Crystal sedikit penasaran.


“ Nenek ingin bertemu denganmu…”, ucapnya lembut


“ Ah…nenek…”, Crystal mulai berpikir sejenak.


Dalam keluarga Lincoln, orang yang paling dekat dengan Arnold adalah neneknya. Wanita tua yang memegang posisi paling tinggi dalam keluarga tersebut.


Karena mama kandung Arnold meninggal saat dirinya dilahirkan, membuat wanita tua itu sangat menyayangi Arnold, dibandingkan cucu – cucunya yang lain.


Jika Arnold menginginkan sesuatu, maka tidak akan segera memberikannya. Bahkan dia selalu mendukung apapun yang dilakukan oleh Arnold, meski kadang hal tersebut salah.


Dukungan tanpa syarat yang diberikan oleh sanga nenek membuat posisi Arnold dalam keluarga Lincoln cukup kuat.


Namun, dalam kehidupan sebelumnya Crystal telah menyinggung wanita tua itu secara keseluruhan akibat menerapkan saran yang diberikan oleh Adisty kepadanya.


Bahkan nenek Arnold yang sebelumnya baik – baik saja dengan dandanan norak dan pakaian tidak sopan yang dikenakan, serta dinginnya sikap Crystal yang ditunjukkan gadis itu sejak datang hingga pulang tidak menjadi masalah asalkan cucunya bahagia.


Namun, Adisty memprovokasi Crystal dengan mengatakan bahwa Gerald mengalami kecelakaan dan dalam kondisi kritis.


Saat itu, Crystal yang sangat mencintai Gerald berusaha untuk pergi mendampingi mantan kekasihnya itu. Hal tersebut tentu saja memancing emosi Arnold yang dengan tegas melarangnya pergi.


Crystal yang emosi karena dilarang pergi menemui Gerald bertengkar hebat dengan Arnold disana. Caci maki dan kata – kata kasar diucapkan oleh Crystal yang tersulut emosi, bahkan Crystal sempat menyumpahi Arnold agar segera mati.


Mendengar ucapan Crystal membuat Elisabeth pingsan akibat tekanan darah tinggi yang dideritanya tiba – tiba naik secara drastis. Dan mengakibatkan wanita tua itu meninggal tak lama setelah insiden tersebut terjadi.


Tubuh Crystal seketika bergidik ngeri mengingat betapa jahatnya dia dikehidupan sebelumnya. Meski dia membenci Arnold, dia tak seharusnya ikut menyeret sang nenek yang pada awalnya benar – benar tulus menerimanya masuk kedalam keluarga besar Lincoln tanpa memperdulikan penampilan buruk dan ucapan Crystal yang kasar dan sama sekali tidak sopan.


Melihat tunangannya hanya terdiam dalam jangka waktu yang cukup lama, membuat Arnold kembali bersuara dengan nada sangat dingin.


“ Lupakan….”, ucapnya dingin.


Crystal yang mendapatkan kesadarannya setelah mendengar suara berat dan dingin Arnold segera menjawab ucapan Arnold dengan cepat.


“ Nenek ingin bertemu denganku ?....”


“ Kalau begitu, ayo kita pergi….”


“ Aku tadi diam karena sedikit gugup…”


“ Ini pertamakalinya aku bertemu nenekmu…”


“ Apa yang disukai nenekmu…”


“ apakah dia punya hobi ?...”


“ Apa yang harus saya pakai…”


“ Haruskah saya menyiapkan hadiah….”, ucap Crystal panjang kali lebar.


Arnold yang mendengar Crystal mengajukan banyak pertanyaan kepadanya sekaligus membuatnya terdiam dalam jangka waktu yang lama.


“ Halo…Halo Arnold…apa kamu masih disana….”, tanya Crystal cemas.


“  Iya..aku masih disini…”, ucap Arnold dengan nada datar.


“ Kamu mau pergi…”, tanyanya menyelidik.


“ Kenapa tidak….hey, kenapa kamu belum menjawab pertanyaanku tadi…”, ucap Crystal cepat.


“ Kamu tidak perlu menyiapkan apa – apa, tunggu saja aku menjemputmu…”, kata Arnold masih dengan nada datar.


“ Bagaimana kita bisa melakukan itu…ini pertamakalinya aku bertemu dengan nenek dan kesan pertama adalah hal yang paling penting, seharusnya kamu tahu itu…”, ucap Crystal sedikit tidak puas.


“ *Bagaimana jika kamu menjemputku agak pagi, atau kalau tidak kamu malamnya pulang dulu kerumah sehingga kita bisa berbelanja bersama sebelum pergi ketempat nene*k…”, ucap Crystal menggebu – nggebu.


Dalam hati Crystal merasa bersalah karena pada kehidupan sebelumnya dialah yang menjadi penyebab wanita tua itu meninggal, sehingga Arnold harus kehilangan orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya.