
Pagi harinya Crystal dan Arnold bangun dengan wajah ceria. Meski mereka baru tidur jam 2 pagi, namun berkat pembicaraan yang mereka lakukan semalaman membuat hati keduanya terasa lebih ringan.
Semalam adalah pertama kalinya Arnold berbicara panjang lebar dengan seseorang. Suatu hal yang selama ini belum pernah dia lakukan.
Arnold yang selalu waspada dan tidak mudah untuk percaya dengan seseorang membuat dirinya sulit untuk membuka diri.
Namun, bersama Crystal semua hal yang tidak bisa dan tak pernah dilakukannya serasa lebih mudah mengalir begitu saja.
Membuatnya terasa lebih hidup dari sebelumnya. Arnold yang selama ini hidup seakan tidak memiliki emosi apapun selain marah, tiba – tiba mempunyai rasa empati yang cukup tinggi, namun hanya dengan Crystal dia bisa begitu.
Sambil menyantap sarapan yang tersedia diatas meja, Crystal tak berhenti menyunggingkan senyum diwajah cantiknya itu.
Crystal merasa sedikit tenang sekarang karena dia memiliki seseorang yang akan selalu mensupportnya dan mendukung semua keputusannya.
Ternyata berdiskusi dengan Arnold bukanlah hal yang buruk. Banyak alternative solusi yang ditawarkan lelaki tersebut terhadap setiap permasalahan yang sedang dihadapinya.
Mungkin karena jam terbang Arnold yang sudah sangat tinggi jika dibandingkan dengan Crystal yang belum genap satu tahun berkecimpung di dunia bisnis.
Semua pengalaman yang didapatkannya adalah karena pernah terjadi dalam kehidupan sebelumnya. Dan sekarang, dalam kehidupan ini Crystal perlahan mulai belajar agar nantinya bisa menggantikan sang papa untuk memegang Abraham group.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka berdua segera pergi menggunakan mobil mereka masing – masing menuju tempat mereka bekerja.
Pagi ini Crystal ingin mendiskusikan beberapa temuannya selama berada di pulau berlian dengan sang papa dikantor.
Sesampainya dikantor, Crystal yang langsung bergegas menuju ruang kerja sang papa sedikit terkejut dengan kehadiran Gerald disana.
Namun sedetik kemudian, ekspresi Crystal sudah kembali normal dan tenang. Wajah ceria Crystal pagi ini membuat Gerald tidak senang.
Crystal yang awalnya ingin mendiskusikan tentang berbagai macam hal, akhirnya mengurungkan niatnya saat melihat ada kakak iparnya disana.
“ Bagaimana kabarmu ?...”, tanya Gerald basa – basi.
“ Bisa kau lihat…I’m Happy….”, ucap Crystal tersenyum lebar.
Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah sangat bahagia bersama Arnold agar Gerald tidak pernah berpikir untuk membujuknya pergi lagi.
“ Benarkah !!!...”, ucap Gerald tak percaya.
“ Bisa kau lihat….”, ucap Crystal masih tetap mempertahankan senyum lebarnya.
Kemudian Crystal mulai mengalihkan atensinya kepada sang papa. Setelah menyapa Abraham sebentar, dia segera berjalan keluar tanpa memandang Gerald yang terlihat sangat kesal diabaikan seperti itu oleh Crystal.
Pada awalnya, Gerald sudah berpikir jika Crystal pasti akan senang melihatnya berada diperusahaan pagi ini.
Dan berusaha untuk kembali dekat dengannya, namun ternyata dugaan Gerald salah. Bukannya mendekat, gadis itu malah mengacuhkannya setelah sebelumnya berbasa – basi menyapanya.
“ Kenapa dia berubah seperti itu…”, batin Gerald geram.
Setelah selesai berbicara dengan papa mertuanya, Gerald segera pergi keruangannya. Dalam perjalanan menuju keruangannya Gerald melihat Santoso berjalan keluar dari ruang CEO tempat dimana Crystal berada dengan keringat yang bercucuran.
Dengan isyarat mata, Santoso menekankan agar Gerald pura - pura tidak mengenalnya karena dia sangat yakin jika Crystal pastinya mengawasi setiap pergerakannya.
Mendapatkan kode seperti itu, Gerald akhirnya terus berjalan dengan santai menuju ruangan yang tak jauh dari tempat Crystal berada.
“ Ternyata seperti itu…”, guman Crystal sinis melihat interaksi Gerald dan Santoso yang tak kasat mata.
Dalam ingatan kehidupan sebelumnya Gerald masuk kedalam Abraham group setelah pulih dari kecelakaan mobil yang dialaminya.
Posisi dia di Abraham group adalah sebagai penganti Leony di bagian Direktur Pelaksana karena sang kakak tidak bisa bekerja akibat kehamilannya yang sedikit bermasalah.
Tapi, jika melihat interaksi antara Gerald dan Santoso, tampaknya ini bukan pertama kalinya lelaki itu menginjakkan kakinya di perusahaan.
" Apa ada sesuatu yang kulewatkan ?...", Crystal terlihat sedang berpikir keras sambil menatap keluar jendela.
Untuk beberapa saat Crystal terlihat sedang memikirkan alur cerita hidupnya yang sudah banyak mengalami perubahan setelah dia bangkit dari kematian, meski hal tersebut tidak terlalu signifikan.
Namun, dia merasa ada bagian penting dalam hidupnya yang terlewatkan, tapi dia tidak tahu apa itu. Lamunan Crystal buyar saat Andrew yang sudah berada disampingnya tiba - tiba bersuara.
“ Miss…haruskah aku…”, ucapan Andrew terpotong waktu Crystal meletakkan telunjuk dibibirnya.
Crystal kemudian memberikan beberapa berkas yang ada diatas meja ketangan asistennya itu hingga membuat mata Andrew seketika melotot tak percaya.
“ Ini…? bagaimana bisa ?...”, tanya Andrew tak percaya.
“ Kamu harus belajar banyak dari Alvin…dia lebih gesit dari pada kamu…simpan itu !!!...”, ucap Crystal tersenyum mengejek.
“ Sudah miss…sesuai dengan instruksi anda…”, ucap Andrew sambil menunduk mencermati data yang ada ditangannya.
“ Baiklah…kita tinggal melihat permainan apa yang ingin mereka mainkan sekarang…”, ucap Crystal menyeringai.
Andrewpun melangkah keluar ruangan saat merasa Crystal sudah tidak memerlukannya lagi dan bergabung bersama Rose di meja sekretaris.
Sambil mengenggam data yang ada ditangannya, Andrew masih syok jika Alvin bisa mendapatkan temuan seperti itu.
“ Bagaimana dia bisa mendapatkan data ini…”, batin Andrew penasaran.
Padahal seingat dia, Santoso sudah menghancurkan data tersebut sebelum Abraham menemukannya.
Hal itu tak sengaja diketahuinya dari seorang security yang bertugas pada malam kejadian. Namun besoknya security tersebut ditemukan gantung diri dirumahnya.
Karena aksinya sangat bersih dan rapi, polisi tidak menemukan kejanggalan apapun sehingga mengumumkan bahwa kejadian tersebut murni aksi bunuh diri.
Dugaan tersebut diperkuat dengan banyaknya tagihan yang diterima korban dirumahnya. Dan sms dari sang istri yang mengatakan akan menceraikannya.
Kasus tersebut ditutup dan tersangka aslinya terbebas dari hukuman. Sejak saat itu Andrew sangat berhati – hati terhadap semua orang.
Melihat kinerja Alvin yang sangat bagus hingga dipuji oleh Crystal membuat Andrew merasa tertantang untuk bisa bekerja lebih baik lagi dan mengalahkan posisi Alvin di hati Crystal.
Sementara itu, Crystal terus saja menatap layar laptopnya sambil memasang headset Bluetooth ditelinganya.
“ Oh…jadi begitu cara mainnya… ”, guman Crystal tersenyum licik melihat musuh – musuhnya kembali bergerak.
Crystal sama sekali tak menyangka jika camera super mini yang diberikan oleh Lea ini akan sangat bermanfaat.
Selain gambar yang ditampilkan cukup jelas, suara yang dihasilkanpun sangat jernih sehingga dia bisa mendengar setiap detail percakapan, meski itu sangat pelan.
Crystal sama sekali dia tak menyangka jika Gerald lah orang yang mengerakkan Santoso beserta kroni - kroninya dalam Abraham Group.
" Jadi ini yang aku lewatkan....", guman Crystal sambil fokus menatap layar laptopnya.
Dulu, Crystallah yang meminta Gerald agar menggantikan posisi papanya yang sedang sakit bersama Adisty kala itu.
Awalnya, Crystal pikir jika Adisty gagal masuk kedalam Abraham group maka perusahaan akan aman untuk sementara waktu.
Tapi siapa sangka ternyata Gerald lah otak semuanya dan Adisty kala itu sebagai pendukungnya karena gadis itu sangat dipercaya oleh Abraham.
" Wah....tampaknya aku sempat salah perhitungan...", batin Crystal tersenyum kecut.
Crystal terlihat mencorat - coret buku agendanya, mencari hubungan dari semua ini. Hingga tanpa sadar nama Leony sang kakak tertulis disana.
" Kakak ?....apakah dia juga terlibat dalam masalah ini ?...", Crystal terus melingkari nama Leony di bukunya.
Sebelumnya, Crystal mengabaikan keberadaan Leony karena pada saat Abraham group jatuh sang kakak sudah tidak aktiv di perusahaan dalam waktu yang lama.
Tapi sekarang, posisi Gerald adalah sebagai Direktur Pelaksana, tentunya dia punya wewenang besar dalam pengambilan setiap keputusan yang ada dan posisi yang paling krusial di perusahaan.
" Kurasa aku harus berbicara dengan papa agar membatasi pergerakan Gerald....", batin Crystal sambil beranjak dari tempat duduknya.
Namun, baru saja dia berdiri dari kursinya tiba - tiba gendang telinganya mendengar percakapan Gerald dengan seseorang melalui sambungan video.
Sontak saja Crystal menghentikan langkahnya dan berbalik duduk sambil mengamati layar laptop yang ada dihadapannya.
Disana terlihat Gerald sedang melakukan panggilan video dengan seseorang yang Crystal yakini sebagai Mr. X, tapi sayang orang tersebut tidak memperlihatkan wajahnya secara jelas.
Hanya gambaran seorang dengan lelaki dengan tinggi sekitar 180 cm berambut hitam pendek, memakai pakaian jas rapi berwarna gelap dan tak ketinggalan cerutu yang selalu ada diantara jari telunjuknya.
Suara berat dan dingin yang dikeluarkannya memancarkan aura yang sangat kuat dan mendominasi, hampir sama dengan aura yang dimiliki oleh Arnold membuat Crystal mulai bertanya – tanya apakah sosok tersebut merupakan salah satu keluarga Lincoln.
“ Mungkin aku harus bertanya pada Arnold nanti…”, guman Crystal setelah selesai menyimak pertemuan antara Gerald dengan Mr.X lewat sambungan video tersebut.
Sementara itu, Arnold yang mendapatkan kabar jika Gerald sudah kembali masuk kedalam Abraham Group raut wajahnya langsung menggelap.
Meski hubungannya dengan Crystal sudah semakin baik, namun rasa cemburu yang sangat dalam tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Apalagi saat Arnold mengingat jika gadisnya itu dahulu pernah beberapa kali mencoba untuk kabur dari kediamannya dengan mantan pacarnya itu.
Emily yang juga mendengar kabar tersebut terlihat mulai gelisah. Dia sangat berharap bahwa Crystal tidak kembali berbuat ulah dan membuat suasana kacau kembali.