
Suasana dalam mobil terasa sangat dingin akibat aura yang dikeluarkan oleh Arnold. Sekali lagi dia melihat Crystal kembali tak sadarkan diri.
Tampaknya racun yang disuntikkan Alexander kali ini lebih kuat jika dibandingkan dengan sebelumnya jika melihat reaksi tubuh Crystal setelah mendapatkan suntikan itu.
Untungnya Arnold membawa pil yang diberikan oleh dokter Robert, sehingga penyebaran racun dalam tubuh Crystal bisa diperlambat.
Karena jarak perkebunan dengan kediaman utama keluarga Lincoln cukup dekat jika dibandingkan dengan rumah Arnold, maka dia membawa Crystal kesana setelah sebelumnya menghubungi dokter Robert dan memberitahukan kondisi gadisnya saat ini.
Setibanya di kediaman utama, dokter Robert yang sudah menunggu kedatangan mereka segera memeriksa kondisi Crystal.
Dokter Robert bisa bernafas dengan lega saat mengetahui jika obat yang diraciknya itu mampu menahan racun agar tidak menyebar keseluruh tubuh.
Diapun segera memberikan suntikan obat dengan dosis yang lebih tinggi dari yang kemarin, mengingat racun yang masuk ketubuh Crystal kali ini lebih kuat.
Sambil menunggu Crystal sadarkan diri, Arnold bergegas menuju gudang tempat Gerald disekap. Dia akan membuat perhitungan pada kakak ipar calon istrinya itu atas semua kejadian yang terjadi.
Arnold sangat yakin jika tujuan Gerald bukanlah Crystal, melainkan dirinya. Informasi tersebut didapatkannya secara tak sengaja pada saat dirinya sedang menyelidiki Alexander.
Yang jadi beban pikirannya adalah apa yang membuat Gerald mentargetkan dirinya dan keluarga Lincoln, bahkan rencana tersebut sudah dirancang sejak lama oleh Gerald sebelum dirinya memutuskan untuk bertunangan dengan Crystal.
Dalam gudang, Arnold memandang tajam Gerald yang kaki dan tangannya terikat di tiang kayu dalam kondisi pingsan setelah mendapatkan berbagai macam siksaan dari anak buahnya.
“ Bagunkan !!!...”, perintah Arnold tajam.
Gerald segera menggerakkan kepalanya pada saat seember air dingin mengguyur tubuhnya yang penuh dengan luka.
Sambil menahan perih di sekujur tubuhnya, Gerald tersenyum sinis kearah Arnold. Diapun meludah pada saat calon suami Crystal itu berjalan mendekatinya.
“ Waktumu tidak akan lama Arnold….”, ucap Gerald sambil tertawa mengejek.
Mengingat sudah banyak hal yang dikorbankannya selama ini, Gerald tidak mau usaha yang dilakukannya bersama sang papa menjadi sia – sia.
FLASH BACK ON
Gerald yang baru saja menginjak masa remaja menemukan kebenaran jika orang tua yang selama ini sangat disayanginya ternyata bukanlah orang tua kandungnya.
Hal itu diketahuinya pada saat seorang laki – laki paruh baya mendatanginya dengan hasil tes DNA ditangannya yang menyatakan bahwa dirinya adalah putra kandung laki – laki tersebut.
Sebagai seorang remaja yang masih labil, Gerald tentu saja menolak fakta yang ada dihadapannya dan berusaha untuk menjauh dari laki – laki tersebut.
Namun demi dendam dan ambisinya, Frans sama sekali tidak menyerah terhadap penolakan yang diberikan sang putra kepadanya.
Dia terus saja berusaha untuk meminta maaf dengan berbagai macam cara hingga akhirnya Gerald pun dibuat luluh padanya.
Saat sang putra mulai membuka diri kepadanya, Frans perlahan mulai mempengaruhi Gerald dengan menanamkan kebencian yang mendalam kepada keluarga Lincoln atas kematian sang mama dan penyebab dirinya harus merelakan sang putra diadopsi oleh keluarga Adams yang sangat menginginkan keturunan.
Setelah Gerald sudah berada dalam genggaman, Franspun mulai melancarkan rencananya demi menghancurkan Elisabeth dan keluarga Lincoln melalui Arnold.
Untuk itu, Frans yang mengetahui jika kakek Arnold membuat perjanjian dengan ayah Abraham tentang pernikahan kedua cucu mereka mulai menyuruh Gerald untuk mendekati Crystal sebagai anak kandung dan pewaris sah Abraham.
Gerald yang tampan dan berasal dari keluarga yang cukup terpandang membuat dirinya tidak terlalu sulit untuk mendekati Crystal hingga membuat gadis itu cinta mati kepadanya.
Crystal yang sedang dimabuk cinta selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Gerald membuat Frans sangat yakin jika peluang untuk menghancurkan Elisabeth melalui Arnold, cucu kesayangannya berada didepan mata hingga suatu kejadian tak terduga diterimanya.
Diapun kemudian menyuruh Gerald untuk memutuskan Crystal dan mendekati Leony, sang kakak demi memuluskan apa yang sudah dirancangnya.
Pada awalnya Gerald menolak rencana sang papa karena dirinya sudah jatuh hati terhadap Crystal, namun pada saat Frans mengingatkan kembali betapa mengenaskan kematian sang mama membuat api dendam dalam hati Gerald kembali berkobar.
Dengan memanfaatkan rencana Adisty, Gerald akhirnya bisa mendapatkan Leony hingga membuat Arnold sempat frustasi waktu mengetahui jika calon tunangannya itu hamil dengan lelaki lain.
Melihat Arnold sangat kecewa Frans dan Gerald tersenyum bahagia, namun kegembiraan mereka tidak bertahan lama pada saat mengetahui jika Arnold akhirnya bertunangan dengan Crystal.
Dan parahnya lagi, ternyata Arnold benar – benar jatuh hati dengan putri Abraham tersebut membuat Frans kembali merubah rencananya.
Berbagai macam cara dia lakukan untuk bisa membuat Crystal berpaling dari Arnold dan meninggalkannya.Namun semua usaha mereka tidak berhasil hingga akhirnya mereka harus membunuh gadis itu dihadapan Arnold agar cucu kesayangan Elisabeth tersebut terpuruk.
Tapi, usaha membunuh Crystal tidak lah semuda membalikkan telapak tangan karena semua usaha yang mereka lakukan selalu berakhir dengan kegagalan.
Hingga dirinya terpaksa harus menggerakkan Gerald dan Alexander secara bersamaan, berharap langkah tersebut berhasil.
FLASH BACK OFF
“ Aku tidak akan berbasa basi lagi….”, ucap Arnold sambil memainkan pisau ditangannya.
“ Apa tujuanmu sebenarnya ?....”, tanya Arnold dengan suara rendah dan dingin.
Dia mengatakan itu sambil menggoreskan pisaunya diwajah Gerald dan membuat kulit mulusnya penuh dengan ukiran berdarah.
Sambil menahan perih, Gerald hanya terkekah mendengar pertanyaan Arnold yang dianggapnya sebagai lelucon murahan itu.
CRASH….
Darah segar mengalir dengan deras waktu satu daun telinga Gerald dipotong oleh Arnold karena tidak merespon pertanyaannya.
“ Tanyakan saja kepada nenek tersayangmu itu, apa yang membuatku melakukan semua ini…”, ucap Gerald dengan senyum mengejek.
“ Kenapa tidak kamu saja yang mengatakannya…”, ucap Arnold sambil mengukir leher Gerald dengan pisau hingga darah kembali meleleh.
Gerald tidak memperdulikan rasa sakit dan nyeri yang dideritanya karena rasa tersebut tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakannya akibat kematian tragis sang mama.
Meski hanya mendengar ceritanya dari sang papa, namun Gerald bisa merasakan rasa sakit yang teramat dalam yang dialami sang mama sebelum ajal menjemputnya.
Dan itu bisa dirasakannya saat ini, semua perkataan sang papa benar adanya jika semua keluarga Lincoln selalu menghabisi musuh – musuhnya dengan penyiksaan yang menyakitkan seperti ini.
“ Cih !!!….Ternyata hanya begini saja kemampuanmu !!!….”, cemoh Gerald sambil meludahi wajah Arnold.
Setelah membersihkan ludah Gerald diwajahnya dengan saputangan, Arnold yang sudah jenuh bermain – main dengan mangsanya akhirnya mencongkel kedua mata Gerald dengan kejam.
“ Achhh !!!…..”, teriak Gerald saat pisau tajam tersebut menembus kedua matanya.
“ Kirim kedua bola mata ini ke Frans…”, perintah Arnold dan segera pergi meninggalkan gudang sambil membasuh kedua tangannya yang belepotan darah dengan cairan disinfektan.
Arnold sudah mengetahui jika Gerald adalah putra kandung Frans, bodyguard sekaligus selingkuhan kakak ipar neneknya, Elinor yang dianggap semua orang sudah mati.
Dia ingin segera mengakhiri permainan Frans sampai disini sekaligus membalsakan dendam atas kematian sang mama akibat perbuatan mereka.