Love Destiny

Love Destiny
KEMARAHAN ADISTY



Setelah insiden di kamar Abraham, Adisty mengikuti langkah sahabatnya  itu dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak, gadis itu seharian menunggu Crystal dirumah sakit tapi yang ditunggu tidak juga datang.


Dan saat ingin meminta penjelasan, dirinya malah dibentak dan dipermalukan di depan Abraham, ingin rasanya Adisty menampar dan menjambak Crystal saat ini juga, namun hal itu dia tahan mengingat dimana dirinya berada sekarang.


Melihat putrinya turun bersama Adisty, Selvi yang sejak awal tidak terlalu menyukai gadis itupun segera pergi menuju dapur saat gadis bermuka dua itu berada diruang tamu


Sampai saat ini Selvi masih belum terlalu mengerti kenapa suami dan putri bungsunya itu sangat menyayangi Adisty, gadis ular yang menurutnya berbahaya itu.


Selain bermuka dua, Selvi merasa setiap ucapan yang dikeluarkan Adisty mengandung bisa yang mematikan. Adisty segera duduk dikursi yang ada disamping Crystal sambil menatap Arnold dengan penuh kekaguman.


“ Arnold semakin hari semakin bertambah tampan aja…belum lagi hartanya, tidak akan habis lebih dari tujuh turunan…”, batin Adisty terpesona.


“ Aku harus segera menyingkirkan gadis sialan ini jika ingin mendapatkannya!!!…”, batin Adisty tersenyum licik


Untuk menjalankan rencananya, Adisty  yang duduk dikursi samping  Crystal dengan raut wajah penuh penyesalan meraih tangan sahabatnya itu.


“ Crystal…maafkan aku…aku benar – benar tidak sengaja….”, ucap Adisty dengan air mata yang lolos begitu saja dipipinya.


Dia ingin menunjukkan kepada Arnold, jika Crystal adalah gadis yang kejam dan tak berperasaan. Semua orang selama ini selalu luluh saat airmatanya keluar seperti sekarang. Menjadi seoalah - olah dirinya gadis yang tertindas


“ Ada apa ini ?…”, tanya Selvi penasaran.


Selvi yang sebelumnya berada didapur sedikit terganggu dengan suara isak tangis Adisty yang berada diruang tamu. Apalagi saat mendengar nama putrinya dipanggil membuatnya bergegas kedepan.


Dengan wajah penasaran, Selvi melangkah menuju raung tamu sambil membawa martabak yang habis saja dibuatnya.


Setelah meletakkan martabak diatas meja, Selvi segera mengambil tisu dan memberikannya kepada Adisty. Meski muak, dia terpaksa harus bersikap baik karena tidak ingin dibenci oleh putrinya yang selama ini selalu membela gadis itu.


“ Crystal tadi membentakku dihadapan papa Abraham hingga membuatku malu…”, ucapnya sesedih mungkin sambil mengelap kedua matanya dengan tisu.


Melihat Arnold meliriknya sekilas membuat hati Adisty senang karena niatnya untuk menarik perhatian laki – laki itu mulai terwujud.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama saat dia melihat wajah Crystal yang mulai merah karena amarah, Arnold kembali sibuk memainkan ponsel yang ada ditangannya.


“ Aku hanya tidak suka tindakannya yang langsung nyelonong masuk kedalam kamar papa ma...., padahal dia tahu jika mama lagi ada dibawah…”, ucap Crystal menjelaskan.


“ Ta…tapi aku tidak sengaja…dan aku sudah minta maaf…”, ucap Adisty berderai air mata.


“ Papa Abraham juga sudah tidak mempermasalahkan hal itu…”, ucap Adisty menambahkan kalimatnya sambil sesenggukan.


Mendengar nama papanya kembali dibawa – bawa membuat Crystal semakin geram pada sahabatnya itu. Dia sangat tahu jika Adisty selalu menggunakan Abraham untuk melindunginya dari berbagai macam kesalahan yang dibuatnya.


“ Dia pikir mama akan membelanya, seperti apa yang dilakukan oleh papanya tadi...”, batin Crystal sinis.


Dia tidak bodoh dan sudah cukup lama tahu jika sang mama tidak begitu suka dengan Adisty.Bahkan mamanya itu pernah terang – terangan mengatakan ketidak sukaannya terhadap gadis itu kepadanya dimasa lalu.


Crystal yang pada saat itu sudah dicuci otaknya oleh Adisty, tentu saja membela sahabatnya itu dan mulai memusuhi sang mama.


“ Aku hanya tidak ingin ada fitnah ma…, bagaimanapun juga, mana pantas anak gadis masuk kedalam kamar seorang pria yang sudah beristri, ditambah lagi orang itu bukan siapa – siapa dalam keluarga ini…”, ucap Crystal penuh penekanan dan sinis.


Mendengar setiap kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu, darah dalam tubuh Adisty mulai mendidih. Apalagi saat Crystal dengan jelas mengatakan bahwa dirinya bukanlah siapa - siapa dirumah ini membuat emosinya mulai meluap.


“ Awas saja kamu Crystal !!!....”, batin Adisty geram.


Merasa terpojokkan, Adistypun segera menghampiri Selvi dan bersimpuh dibawah kakinya sambil memegang erat kedua tangan mama sahabatnya itu dengan berderai air mata.


“ Tante…aku tidak seperti itu…semua itu hanya salah paham…”, renggek Adisty semakin terisak sambil mengenggam tangan Selvi dengan erat.


“ Apa yang diucapkan Crystal itu ada benarnya. Kamu sebagai gadis yang beranjak dewasa tentunya harus bisa menjaga diri. Jangan sembarangan masuk kedalam kamar seorang pria, jika ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan bisa kamu bahas di luar kamar…Apalagi jika pria tersebut sudah beristri. Kamu harus bisa menempatkan dirimu dengan benar dan menjunjung tinggi harga dirimu sebagai wanita…”, ucap selvi menasehati.


Ucapan mamanya Crystal tersebut seakan seperti sebuah belati yang langsung menusuk hatinya, sakit tapi tak berdarah.


Selvi juga langsung menarik kedua tangannya dan pura – pura mengambil martabak yang ada diatas meja agar tidak digenggam lagi oleh Adisty.


Semua orang terlihat menikmati martabak buatan sang mama. Ingin membuat hati Adisty semakin panas, Crystal dengan sengaja menyuapi Arnold dan tentu saja hal itu disambut bahagia oleh laki – laki tampan itu.


Merasa diabaikan serta melihat kemesraan yang ditampilkan oleh sahabat bersama tunangannya itu membuat hati Adisty semakin panas.


Dengan penuh amarah, Adistypun segera bangkit dan langsung menuju pintu keluar tanpa berpamitan. Dirinya sudah tidak sanggup melihat semua itu didepan matanya.


Semua orang yang melihat kepergian Adisty dengan wajah ditekuk tersenyum lebar. Selvi bahkan terlihat bernafas lega karena akhirnya putri  bungsunya itu mulai sadar bahwa sahabat yang selalu dia bela dan dia lindungi selama ini tidakalah sebaik kelihatannya.


Adisty masuk kedalam mobil dengan kaki dihentak – hentakkan ketanah karena kesal. Beberapa kali setir mobilnya dipukul dengan keras untuk melampiaskan seluruh marahnya.


“ Sial !!!....awas saja kamu Crystal !!!...”, makinya geram.


“ Arcchhh !!!....Kenapa hari ini aku sial sekali…Damn !!! ”, teriaknya penuh amarah.


FLASH BACK ON


Setelah menghubungi Crystal, Adisty duduk terdiam didalam mobilnya sambil menunggu kedatangan sahabatnya itu di rumah sakit.


Rencananya, begitu sahabatnya itu datang dia akan memotretnya dan mengirim foto tersebut kepada Arnold. Adisty sangat yakin jika Arnold pasti akan langsung mengirim anak buahnya untuk mengecek keberadaan Crystal disana.


Crystal yang sangat sedih pasti akan langsung mendatangi Gerald yang terbaring di unit gawat darurat. Dan saat mereka berdua sedang berdua saja di dalam ruang rawat IGD, orang kepercayaan Arnold datang dan melihat semua.


Mereka pasti akan langsung melaporkan hal tersebut kepada Arnold. Dan tidak dapat dielakkan, selanjutnya pertengkaran besarpun pasti akan terjadi.


Tapi semua yang direncanakannya gagal total karena Crystal sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya disana.


Kesialan Adisty bukan sampai disitu saja, saat  dirinya selesai membeli minum tanpa sengaja dia menabrak tubuh Lea hingga es kopi yang dipegangnya jatuh dan tumpah di bajunya


Pertengkaran diantara merekapun tidak dapat lagi terelakkan. Akibat pertengkaran tersebut Adisty bahkan merelakan beberapa genggam rambutnya tercabut akibat ulah Lea yang menjambak rambutnya dengan sangat keras.


Setelah berhasil lepas dari Lea, Adistypun segera masuk kedalam mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi meninggalkan halaman rumah sakit.


Sesampaianya dikosan, Adisty segera mandi dan membersihkan tubuhnya yang kotor akibat tumpahan es kopi yang baru dibelinya tadi.


Dia juga membersihkan sisa make up yang terlihat berantakan dan membenahi rambutnya yang acak – acakan akibat perkelahiannya dengan Lea di halaman rumah sakit.


Setelah kembali bersih dan wangi, Adistypun segera turun keparkiran dan mulai memacu mobilnya menuju kediaman Abraham.


Rencana ingin mendapatkan perhatian dari papa Abraham setelah kesialan yang dialaminya hari ini, Adisty dibuat terkejut oleh kehadiran Arnold yang terlihat sedang asyik ngobrol dengan mama sahabatnya itu tanpa melihat Crystal disana.


Setelah sedikit basa – basi, Adisty yang mengetahui jika sahabatnya itu sedang berada dikamar papanya segera  naik ke atas.


Adisty menyusul Crystal dikamar sang papa rencananya ingin melampiaskan kekesalannya itu pada sahabatnya. Seperti yang selama ini dia lakukan, jika kesal dia akan menemui Crystal dan melampiaskan amarah tersebut dengan mencari – cari kesalahan dari sahabatnya itu.


Tapi yang terjadi malah sebaliknya, baru saja dirinya masuk, Crystal sudah langsung membentaknya yang menyebabkan hubungannya dengan Abraham sedikit renggang.


FLASH BACK OFF


Adisty yang sangat marah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil menggerutu sepanjang perjalanan. Saat ponselnya bergetar dan melihat nama dilayar, Adisty segera menepikan mobilnya.


Drtttt….drttt….drttt….


“ Datang ke club NT sekarang !!!...”, ucap seorang pria diseberang sana, kemudian telepon dimatikan secara sepihak.


“ Akhirnya, dewi fortune berpihak padaku lagi…”, batin Adisty senang.


“ Ok…lebih baik aku bersenang – senang sekarang…”, gumannya tersenyum lebar dan kembali mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi.