
Satu Minggu berlalu kini Dena maupun Keanu sedang sibuk dengan kepentingan nya masing-masing, di ruang kerja nya Keanu terlihat mengeraskan rahangnya dengan wajah yang merah padam.
"CK, sampai sini saja rupanya kamu bertahan dalam persembunyian." Gumam Keanu.
"Yan, kita gak punya banyak waktu lagi. Sebelum dia menyadari bahwa kita sudah tahu semua ini, lebih baik kita pergi ke tanah air." Ucap Nathan, membuat Kai menoleh.
"Jangan bilang jika kamu rindu negara itu nath." Ucap Kai, Nathan pun cengengesan.
"Aku pengen ajak Niken kesana kak, selama ini Niken tidak tahu kan negara Dena." Ucap Nathan.
"Benar juga." Ucap Kai.
"Bersiaplah, kita akan pergi malam ini." Ucap Keanu membuat Nathan dan Kai tercengang.
Sementara di tempat lain terlihat Dena sedang menatap benci kepada layar laptop, entah apa yang Dena lihat disana.
Wajah nya terlihat penuh amarah, namun ia harus menyembunyikan semua itu sampai Keanu mengajak nya pulang.
"Sayang." Panggil Keanu, membuat Dena menoleh.
"Hmmmmm, ada apa dad?" Tanya Dena, Dena pintar sekali menyembunyikan wajahnya kesal nya.
"Kita pulang sekarang, kita harus menjenguk ayah dan bunda." Ucap Keanu.
"Benarkah?" Tanya Dena dengan wajah bahagia nya.
"Ya, kita akan kembali ke tanah air bersama Kai Nathan, Karen juga Niken." Ucap Keanu, Dena mengangguk.
Tidak peduli siapa yang akan ikut bersama Dena pergi, yang jelas Dena sudah tidak sabar untuk menemui orang itu.
Kini ketiga pasang suami istri itu sedang dalam perjalanan menuju bandara, bersama para suster anak-anak mereka juga.
Niken merasa ada yang aneh dengan Dena, entahlah Niken merasa jika Dena sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Nathan kepada Niken.
"Aku tidak apa-apa." Balas Niken.
"Sungguh?" Tanya nya lagi.
"Hmmmmm, sungguh." Jawab Niken, Niken merasa hatinya tidak tenang.
Ia merasa Dena sedang tidak baik-baik saja, bukan hanya Niken Keanu juga merasakan hal yang sama. Namun karena Dena yang cerdik bisa menyembunyikan perasaan nya.
"Kamu kenapa?" Tanya Dena.
"Aku yang harusnya bertanya, mommy El kenapa?" Ujar Keanu, membuat Dena tersenyum manis.
"Aku baik-baik saja, memang nya aku kenapa." Kekeh Dena, sudahlah Keanu hanya bisa mengiyakan dan memantau Dena dari belakang.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan mereka lebih dulu pergi ke rumah sakit, saat ini Dena melihat ayah dan bunda nya masih belum sadarkan diri.
Karen dan Niken ikut merasa sedih melihat keadaan orang tua Dena, mereka jelas tahu baiknya ayah Rio dan bunda Sisil.
"Jika mereka mencelakai mu dengan caranya sendiri, maka aku akan membalasnya dengan tangan ku sendiri." Bisik Dena di telinga ayah Rio.
"Bukankah drama seperti ini harus segera berakhir, aku tidak peduli siapa orang itu. Yang jelas mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal." Ucap Dena begitu terdengar tajam, Dena menatap ayah dan bunda nya dengan mata yang merah berkaca-kaca. Bukan sedih melainkan Dena menahan amarahnya.
"Sayang." Panggil Keanu, Dena menoleh dan tersenyum.
"Hmmmmm." Balas Dena.
"Kita ke rumah bunda sekarang." Ucap Kean, Dena pun mengangguk dan tersenyum.
Kini mereka sudah tiba di kediaman Artadinata, Dena meminta suster untuk mengajak Rafael, nathia, dan kyra ke kamar yang akan tiga bocah itu tempati.
Dio, Julian, Justin dan Keanu sudah tahu mengenai pelaku itu. Namun mereka mengira Dena belum mengetahui semuanya, karena Dena tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
"Bagaimana kabar mu?" Tanya Dea, para keluarga berkumpul di kediaman Artadinata.
"Baik kak, aku sangat baik." Jawab Dena.
(Ya, aku sangat baik setelah mengetahui siapa orang yang merenggut nyawa kedua opa ku. Bahkan hampir membuat aku kehilangan ayah dan bunda ku.) Batin Dena.
"Kak Dena, sudah punya anak makin cantik aja." Kekeh arisha.
"Kamu tidak kalah cantik Risha." Balas Dena, kini Dena duduk di tengah-tengah para kakak nya.
Mereka berbincang dengan hangat, Dena tertawa lepas sampai membuat para keluarga nya merasa heran termasuk Karen dan Niken.
Bukan apa-apa tawa Dena kali ini terdengar mengerikan, Mae menatap Dena intens karena ia merasa bulu kuduk nya berdiri.
"Dek, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Mae, membuat yang lain ikut menatap Dena dengan intens.
"Haha, memangnya aku kenapa." Kekeh Dena.
"Ah, tidak kamu tidak apa-apa." Jawab yang lain, Dena pun tersenyum manis membuat mereka semua berusaha meyakinkan diri bahwa Dena baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
A**: Yang sabar ya gaes sabar, jangan komen yang bikin gue unmood 😂
N: Berasa sesek dada gue Thor Lo gantungin teross 😌
A: Udah kaya jemuran belum 😂
N: Bukan lagi, udah kaya pas dibikin sayang tapi gak dikasih kepastian 😭
A: Jleb dah tuh. 🤣
N: Solimi 😌😭
A: 🤣🤣🤣*