
Sementara di cafe sebelah para istri masih saja memuji barista yang berada di hadapannya, apalagi Tata, Dena dan Chika yang sama rusuh nya.
"Wow urat nya itu lihat." Ucap Chika, membuat Karen menoleh.
"Heh, urat apaan Lo jangan ngada-ngada dah Chik." Ucap Karen.
"Urat tangan yaelah mes*m amat Lo kak." Kekeh Chika.
"G*la si ini berotot banget bikin ah sudahlah." Ucap Tata, Dena dan Niken menggelengkan kepalanya.
"Yyyaaaakk! Berotot kaga tuh." Kekeh Dena.
"Rahangnya ta rahang berasa pengen gue sentuh ta." Ucap Chika.
"Ini si ya jidat nya khawatir ngalahin jidat paripurna laki gue." Ucap Dena, tata dan yang lain tertawa.
"Keanu merasa resah gaes." Kekeh Karen.
"Tapi tangan nya se*soy sekali." Kekeh Dena.
"Apanya yang se*soy?" Bisik seseorang, masih membuat para mommy belum sadar.
"Tangan nya itu liat berotot ye kan, rahang nya tegas beuuuhhhh boleh dibicarakan baik-baik." Ucap Dena.
"Mulai meresahkan ya mom." Bisik Keanu membuat Dena terlonjak kaget, dan langsung menoleh.
"Da_daddy." Ucap Dena gugup.
"Ma*poooosss!" Ucap tata menepuk dahinya sendiri.
Saat mereka saling tatap dengan para suami, barista itu menghampiri mereka dan berdiri di samping tata.
"Hai nona." Ucap barista itu, tata dan Dena saling pandang.
"Hmmmmm, ada apa ya mas?" Tanya tata.
"Mbaknya dari tadi ngeliatin saya Mulu, bikin saya penasaran." Ujarnya, Dena dan yang lain menunduk menahan tawa.
"Eh, enggak kok saya gak ngeliatin mas nya." Ucap tata gugup, karena Tio menatap nya tajam.
"Yasudah deh mbak, tapi boleh gak saya minta nomor mbak nya." Ucap barista itu, membuat Tio geram.
"Minta nomor pale Lo, Lo gak liat ini gue diri disini. Sembarangan aja Lo minta nomor bini gue." Ucap Tio, membuat tata menunduk.
"Pi, sabar Pi jangan meresahkan Pi." Ucap tata.
"Hah? Kok bisa si." Ujar barista itu.
"Ya bisa lah, Lo kagak salah minta nomor wanita yang udah punya anak dua!" Tegas Tio, sontak membuat barista itu terbelalak.
"Yakali anak dua masih muda begini, masih seger." Ujar nya.
"Lo bener-bener dah, Lo pilih mau pulang tanpa pala apa tanpa kaki." Ucap Tio emosi.
"Santai dong mas sensi amat, yaudah kalau gitu saya minta nomor mbak cantik aja." Ujar nya menunjuk Dena.
"Lah kenapa gue." Ucap Dena kaget.
"Karena mbak yang paling muda dan cantik, jadi saya yakin mbak nya belum nikah." Ujar nya, membuat Keanu mendelik tajam.
"Lo cari masalah mas minta nomor dia." Ucap Chika dan Karen.
"Kenapa dia keliatan lebih muda kok, boleh kan mbak." Ujar nya.
"Lo gak liat laki yang duduk di sebelah nya mas." Ucap Nathan.
"Liat kok, paling dia yang ngincer mbak ini juga kan." Ujar nya.
"Ngincer bibirmu! Saya suaminya mau apa." Ucap Keanu tegas.
"Gak percaya saya, udah gak usah ngaku-ngaku mas kita bersaing secara sehat saja." Ujar nya, sontak membuat Kai, Nathan dan Devin tertawa.
"Kamu mau pulang tanpa lengan atau tanpa nyawa?" Tanya Keanu, berhasil membuat barista itu menelan Saliva nya.
"Beneran mbak ini suaminya." Tanya nya memastikan.
"Iya dia suami gue ya lord, dia suami gue Daddy dari kedua anak gue udah puas Lo." Ucap Dena, Karen dan Chika tertawa kecil.
"Kamu kenapa ketawa mom? Kamu lupa kalau disini juga ada suami kamu!" Ucap Devin, sontak membuat Chika bungkam.
"Dah lah jadi ini semua udah punya suami nih?" Tanya nya.
"Bukan cuma suami, mereka udah pada punya anak mau ape Lo." Ucap Nathan, lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan sampai cafe ini di tutup sama dia mas." Ucap tata menunjuk Keanu yang memasang wajah datar nya.
"Pulang." Ucap Keanu, Dena terdiam ia takut jika Keanu menghukum nya.
"Mommy mau pulang atau aku telpon El, dan bilang kalau mommy nya lagi di cafe muji-muji cowok lain di hadapan Daddy nya." Ujar Keanu, tindakan Keanu membuat Dena langsung bangun dari duduk nya dan menarik tangan Kean untuk pergi.
"Ayok dad, pulang saja. Aku belum siap kalau El konser dirumah!" Ucap Dena, Kean tersenyum tipis melihat Dena.
Tidak hanya Dena para sahabat dan sepupunya pun pulang bersama para suami mereka, Dena merasa si*l sekali hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€ jangan lupa like komen dan vote nya ππ
N**: Emak-emak lagi gak tuh yang ketauan π€£
A: Gara-gara Tio meresahkan emang π
N: Kean ancamannya Rafael ya bundπ€£
A: Maklum bund anak pertama π
N: Belum sempat tukar nomor bund π©
A: Jangan ngada-ngada bisa-bisa rata itu cafe sama tuan Kean π
N: Benar juga π€£π€£π€£*