Love Destiny

Love Destiny
OPERASI PENYELAMATAN PART 1



Crystal terus mengamati semua jalan yang telah dia lalui dengan cermat sambil memikirkan cara untuk melarikan diri.


“ Ini bukan perkebunan biasa…”, batin Crystal saat melihat beberapa titik jalan terdapat sensor dan kamera pengawas.


Semakin masuk kedalam, bukan hanya kamera pengawas dan beberapa jebakan yang didapatkannya, namun ada beberapa penjaga yang dilengkapi dengan senjata api bersiap dibeberapa titik yang tidak terlalu terlihat.


Saat berada didepan gerbang besar, lelaki yang berada di belakang segera turun untuk melapor ke petugas jaga membuat Crystal akhirnya bisa berkomunikasi dengan dua petugas medis yang ada dihadapannya melalui isyarat mata dan tulisan yang dibuatnya di secarik kertas.


Mereka segera menyiapkan apa yang diminta Crystal dan segera memusnahkan kertas tersebut sebelum lelaki yang menyandera mereka kembali kedalam mobil.


Saat gerbang dibuka, Crystal melihat jika hanya mobil ambulan yang mereka tumpangi yang masuk kedalam, sedangkan mobil van hitam yang mengawal mobil mereka sedari tadi sudah tidak terlihat lagi.


“ Ini kesempatan bagus…”, batin Crystal senang.


Crystal terlihat bernafas lega saat mobil memasuki sebuah tempat yang sedikit jauh dari para penjaga dan terlihat sepi, melalui isyarat matanya dia melihat kearah kedua petugas medis yang ada dihadapannya agar segera menjalankan rencana yang telah dia susu tadi.


Dengan satu kedipan mata dari Crystal Anton, salah satu petugas medis yang duduk tepat dibelakang pelaku penculikan segera membekap lelaki yang duduk di depannya dengan saputangan yang sudah diberi obat bius.


Dalam waktu yang sama Crystal juga langsung menancapkan jarum suntik yang sudah berisi obat bius sambil menampik pistol yang ditodongkan kepadanya hingga terpental kedepan dan langsung diamankan oleh Dadang, petugas medis yang terkena tembakan di bahunya.


Untung gerakan mereka sangat cepat hingga dua penjahat tersebut berhasil dilumpuhkan tanpa menimbulkan keributan.


Setelah kedua penjahat tersebut sudah tak sadarkan diri, mereka segera berpikir bagaimana cara melarikan diri, mengingat tempat mereka berada sekarang dijaga dengan sangat ketat.


Sambil melihat sekeliling, Crystal menyuruh Mukti, sang sopir agar menjalankan mobil hingga keujung utara .  Disana Crystal melihat semak belukar yang lumayan lebat.


Diapun mengistruksikan agar sang sopir membawa ambulan masuk kedalam semak dan bersembunyi disana untuk sementara waktu sambil dia memikirkan ide selanjutnya.


Dua pelaku penculikan yang pingsan setelah terkena obat bius diseret keluar oleh Crystal bersama Mukti dan Anton. Kedua tubuh pelaku diikat di sebuah tiang yang ada disana.


Dari tubuh pelaku Crystal mendapatkan dua buah pistol dan pisau serta dua buah ponsel beserta satu chip yang diperkirakan sebagai  tanda masuk kesuatu ruangan.


Setelah mengikat tubuh pelaku dan menyumpal mulut mereka dengan kain, Crystal, Anton dan Mukti  segera kembali kedalam ambulan.


Anton yang merupakan dokter muda yang sedang magang segera melakukan operasi ringan terhadap rekannya Dadang yang tadi terkena tembakan dibahu.


Crystal yang sudah kebal melihat darah tidak terlalu terganggu dengan operasi kecil yang dilakukan oleh Anton didepan matanya.


Saat ini dia mencoba mengotak – atik ponsel si pelaku dan mencoba mencari informasi siapa dalang dibalik penculikan dan tabrak lari yang dialaminya hari ini.


Namun hasilnya nihil, sama sekali tidak ada data dalam kontak telepon ataupun pesan yang ada. Hanya ada private number yang terlihat beberapa kali menghubungi mereka.


“ Sial !!!...”, guman Crystal kesal.


Apalagi saat dia melihat ponselnya sama sekali tidak ada sinyal membuat gadis itu kembali menghembuskan nafas secara kasar sambil berguman tidak jelas.


Sementara itu, pasukan bayangaan utama ( PB 1) yang dikirim oleh Arnold saat ini sudah berada dilokasi perkebunan.


Karena cukup terlatih maka mereka terlihat sangat mudah melewati semua jebakan yang dipasang sepanjang area perkebunan jika dibandingkan dengan Lea dan kawan - kawannya.


Bahkan mereka kini sudah mendekati gerbang setinggi dua meter yang di jaga oleh banyak pria berbaju hitam dengan persenjataan super lengkap.


Anak buah Arnold segera melumpuhkan satu persatu penjaga dalam diam, dan mulai menyusup masuk kedalam. Mereka masuk melalui sisi gerbang yang berbeda dengan Crystal sehingga pasukan bayangan tersebut tidak melihat keberadaannya, apalagi mobil ambulan sudah tertutup semak belukar.


Mereka berjalan tanpa suara dan menghilang cepat seperti bayangan yang ada ditubuh kita, tanpa terlihat oleh mata.


Mereka hanya mendapati seorang laki – laki tua bersama dua orang lelaki muda sedang melakukan beberapa penelitian di dalam sebuah laboratorium sambil memakai sabuk yang memancarkan lampu berwarna merah yang sangat diyakini sebagai bom yang dapat meledakkan tubuh mereka secara langsung jika sang membawa tombol menekannya..


“ Uji sekarang….”, perintah professor Smith kepada salah satu anak buahnya.


Pemuda tersebut segera membawa sebuah jarum suntik dan keluar ruangan. Salah satu anak buah Arnold segera mengikuti langkah kemana pemuda itu pergi.


SREKKK….


KRIETTT….


Disalah satu ruangan, saat pemuda itu mengeser sebuah lukisan, tiba – tiba tanah bergetar dan di salah satu ubin mulai terbuka yang menampilkan deretan anak tangga.


Anak buah Arnold terus saja mengikuti anak buah professor Smith yang mulai turun kedalam ruang bawah tanah yang sedikit gelap dan lembab itu.


Pemuda itu segera menuju kesebuah jeruji besi yang berisi seorang lelaki yang terlihat sangat kesakitan dengan wajah pucat pasi tertidur terlentang dengan dua kaki dan tangan dirantai yang menempel diranjangnya.


Setelah membuka pintu jeruji, pemuda itu segera mendekati lelaki malang itu, menunduk dan langsung menyuntikkan obat yang tadi dibawanya.


“ Tidak !!!...Jangan lagi !!!...bunuh saja aku !!!...”, teriak lelaki malang itu dengan rasa kesakitan yang teramat dalam.


Teriakan lelaki malang itu semakin keras saat obat yang disuntikkan tersebut bereaksi. Setelah menjalankan perintahnya, pemuda itu segera keluar dan menutup kembali jeruji besi yang mengurung lelaki malang yang masih terus saja berteriak kesakitan dengan suara parau.


Tanpa disadari semua orang, saat pemuda itu sedang menjalankan tugasnya, diam – diam anak buah Arnold memasang kamera pengawas disana. Dia merasa ada sesuatu yang bosnya harus ketahui tentang kelinci percobaan itu.


Sejak kemurkaan Alexander yang terakhir kalinya dan menyebabkan anak bungsu professor Smith sekarang terbujur kaku di rumah sakit dalam keadaan koma, lelaki tua itu tidak lagi menggunakan hewan sebagai kelinci percobaannya, tapi langsung menggunakan manusia untuk menguji setiap eksperimennya.


Hal itu dilakukannya agar hasil yang didapatkannya bisa maksimal dan keluarganya yang disandera oleh Alexander tidak kembali mengalami penyiksaan.


“ Bagaimana ?...”, tanya professor Smith begitu anak buahnya itu tiba.


Anak buahnya itu tak berkata apa – apa hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk membuat professor Smith menarik nafas cukup dalam dan kembali bereksperimen dengan cairan yang ada ditangannya.


“ Hanya tinggal tiga puluh menit lagi…”, batin professor Smith resah.


Sesekali dia melirik jam yang tergantung didinding laboratorium dengan wajah resah, dan menginstruksikan anak buahnya untuk mempercepat pekerjaannya.


Sementara itu seluruh pasukan bayangan yang sudah masuk kedalam rumah itu masih terlihat mencari dengan seksama calon istri bosnya itu.


Hingga salah satu diantara mereka menemukan sebuah tembok yang sedikit menonjol. Dan setealh ditekan tembok bergetar dan terlihatlah sebuah ruangan penuh dengan layar monitor didalamnya.


Salah satu pasukan bayangan yang sekarang sudah memasuki ruang kontrol sudah melumpuhkan petugas yang berada disana.


Dengan cermat dia mulai mengamati satu persatu layar monitor yang ada dihadapannya hingga tiba – tiba dia melihat empat orang anak muda yang terlihat berjalan mendekat ke gerbang tanpa tahu bahwa di depan mereka ada bahaya yang mengancam.


Melalui isyarat rahasia yang dimilikinya, salah satu rekannya mulai menghilang untuk menyelamatkan empat orang pemuda yang dilihatnya tadi yang diduga adalah sahabat dari calon istri bosnya.


Saat sedang mengamati salah satu layar monitor dia melihat ada sebuah mobil berada di antara semak belukar yang sangat rimbun diujung gedung.


Segera saja dia perbesar gambar yang ada dilayar, dan saat itu barulah dia bisa melihat dengan jelas jika yang berada dalam semak tersebut adalah mobil ambulan.


Tak lama kemudian matanya melotot saat ada seorang gadis yang menodongkan pistol kearah kamera dan sedetik berikutnya, kamera pengawas tersebut sudah tidak berfungsi.


“ Nyonya….”, ucap pasukan bayangan tersebut dan langsung menghilang menuju tempat dimana Crystal berada.