
Emily masih memandang ponsel tuannya untuk memastikan penglihatannya sekali lagi, sambil tangannya mulai bergerak untuk mengambil ponsel tersebut.
Setelah memastikan bahwa pesan tersebut dari Crystal, Emilipun mulai bangun dan berjalan menuju kearah Arnold sambil menyerahkan ponsel bosnya yang baru saja diambilnya.
“ Tuan... Ini…”, ucapmya sambil mengulurkan ponsel yang ada ditangannya kepada Arnold.
“ Bawalah….”, ucap Arnold dengan suara serak dan dalam.
Melihat ponsel yang ada ditangan Emily membuat wajah kembali menggelap saat ingat kata - kata menjijikkan yang ditulis tunangannya itu.
Arnold masih tidak menyangka, setelah enam bulan bersamanya Crystal masih belum bisa melupakan pengkhianat itu, bahkan dia menuliskan surat cinta yang menjijikkan itu untuknya. Lamunan Arnold buyar seketika saat mendengar suara Emily.
“ Ada pesan dari nona Crystal tuan…”, ucap Emily dengan tangan gemetar, dan masih dengan posisi tangan yang terulur kearah Arnold.
Dengan tatapan tajam dan dingin Arnold segera mengambil ponsel tersebut dan mencengkeramnya dengan sangat erat sampai dia melihat sebuah pesan dari tunangannya terpampang jelas dilayar ponselnya yang retak.
Saat melihat kembali surat cinta dalam pesannya, darah Arnold kembali mendidih. Tapi surat cinta ini berbeda dari sebelumnya, ada tulisan namanya dan logo bentuk hati aneka warna. Alis Arnold terangkat sebelah saat melihat siapa pengirim pesan tersebut.
“ Crystal...”, gumannya sedikit terkejut, diapun melebarkan matanya untuk memastikan bahwa pandangannya tidak salah.
“ Ya…ini benar pesan dari Crystal…”, gumannya yakin.
“ Jadi, pesan ini benar – benar darinya…”, batin Arnold dengan pandangan takjub.
Diapun mulai menggunakan jari – jarinya untuk menggeser layar kebawah. Bukan hanya surat cinta saja, disana dia juga melihat banyak emoticon berbentuk hati.
Jika raut gelap dari wajah Arnold perlahan mulai menghilang setelah melihat pesan yang dikirim Crystal, namun tidak dengan diri gadis itu.
Saat ini raut wajah Crystal diselimuti kecemasan, hatinya tidak tenang dan merasa gelisah saat pesannya belum juga dibalas oleh Arnold padahal sudah terbaca.
“ Apakah dia tidak menyukai puisiku…atau aku menyinggungnya karena mengirim puisi dengan kata – kata alay seperti itu…”, batin Crystal bermonolog.
Kemudian ingatan dikehidupannya terdahulu muncul , layaknya sebuah film yang diputar secara otomatis dalam kepalanya.
Crystal melihat dirinya diseret dengan paksa oleh orang – orang suruhan Arnold dari dalam mall, saat dia menemani Adisty untuk membeli hadiah pernikahan kedua orang tuanya.
Pada saat itu semua orang menatapnya dengan pandangan curiga kepadanya karena diseret dan dibawa paksa oleh orang – orang bertubuh kekar dengan pakaian berwarna hitam.
Dan jika itu terjadi disini, didalam kampus, maka bisa dipastikan citranya akan hancur seketika dan rumor yang telah dihembuskan oleh Adisty selama dirinya tidak berkuliah akan kembali terdengar dan memanas.
Saat mengingat kembali peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sebelumnya membuat tubuh Crystal mulai bergetar, rasa takut kembali menyelimuti hatinya.
Dengan tubuh bergetar, Crystal kembali menulis pesan kepada tunangannya itu, berharap kali ini Arnold akan membalas pesan yang dikirimnya.
.
.
.
.
Dikediamannya, Arnold saat ini seperti orang linglung, pikirannya seakan kosong. Saat sedang bergelut dengan hati dan pikirannya yang kacau, tiba – tiba ponselnya bergetar, pesan dari Crystal kembali masuk.
“ *Kenapa tidak dibalas..…”
“ Bagaimana puisiku…”*
“ Bagus kan….”
“ Aku menulisnya dengan segenap hatiku…”
“ itu adalah ungkapan hatiku yang paling dalam….”
“ saat pulang nanti….”
“ Aku ingin dapat pujian, ciuman, dan hadiah….”, tulis Crystal dalam pesannya.
Para pelayan yang sedari tadi duduk dipojok dapur terlihat gemetaran dengan wajah binggung, saling pandang antara yang satu dengan yang lainnya.
Mereka tidak mengerti kenapa majikannya yang tadi mengamuk seperti orang gila dan menghancurkan seisi rumah sekarang terdiam begitu tenang bagai sebuah patung.
Majikannya itu terlihat menatap ponselnya dengan ekspresi yang beragam, sesuatu hal yang belum pernah dilihat oleh pelayan dan pekerja yang ada dikediaman Arnold selama ini.
Semua ekspresi Arnold seakan – akan ingin menyampaikan sesuatu yang sedang dirasakannya, namun tidak bisa. Emily yang berada dihadapannya juga merasakan hal yang sama.
“ Diamlah !!!...”, ucapnya dengan suara serak yang cukup dalam.
Mendengar suara Arnold yang begitu dingin membuat Emily langsung terdiam dan menutup bibirnya rapat – rapat.
Saat ini Arnold masih saja terus menatap layar ponselnya dengan wajah serius. Laki – laki itu kembali mengerutkan keningnya saat menyadari bahwa ponselnya tidak lagi bisa berfungsi seperti sediakala.
Setelah berpikir sesaat, jari – jari rampingnya mulai bergerak untuk membalas pesan yang dikirim Crystal kepadanya.
Didalam perpustaakan, Crystal yang sangat cemas menunggu balasan pesan yang dikirimnya tanpa sadar mencengkeram erat ponsel yang berada dalam genggamannya.
Hampir saja Crystal melempar ponsel yang ada ditangannya karena terkejut saat tiba – tiba ponsel itu bergetar. Crystal yang sangat terkejut, terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya dia mulai melihat pesan yang masuk kedalam benda pipih yang ada ditangannya itu.
Mata Crystal melotot tak percaya saat melihat nama pengirim pesan yang tertera dilayar ponselnya itu. Dengan gugup, dia membuka pesan yang dikirim Arnold kepadanya.
“ Bagus…”, itulah yang ditulis Arnold dan ada emoticon ciuman dibawahnya
“ Ini…beneran Arnold yang menulis…”, guman Crystal tersenyum lega.
Seketika rasa takut yang tadi melanda tiba – tiba hilang dan diganti dengan rasa hangat yang menjalar keseluruh tubuh.
Sambil tersenyum riang, Crystal mengenggam erat ponselnya didada. Kemudian dia mulai menangkup wajahnya dan menyembunyikannya diantara kedua telapak tangannya, malu dan senang dengan balasan yang dikirim oleh tunangannya itu.
Dengan hati berdebar, crystal kembali menuliskan pesan untuk Arnold, mengabari laki – laki itu jika dirinya akan pulang terlambat hari ini.
Crystal :
Hari ini aku pulang agak malam sebab harus menyelesaikan proposal yang harus aku serahkan besok.Jadi, makanlah dulu, jangan menungguku....
Arnold :
ya…
sekarang kamu dimana ?
Crystal :
perpustakaan kampus
Arnold :
ok…
Crystal :
Jangan rindukan aku ya…
emoticon mata mengerling.
Arnold :
emotican pelukan dan ciuman
Melihat balasan tersebut membuat Crystal tersenyum – senyum sendiri dengan wajah yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Padahal hanya satu kata singkat yang ditulis Arnold, namun mampu membuat hati Crystal dipenuhi bunga berwarna – warni.
Jari – jari Crystal kembali menari – nari diatas keyboard. Menuangkan semua yang ada dalam pikirannya sambil tersenyum – senyum simpul saat mengingat chatnya denganArnold.
“ Crystal…fokus !!!...”, batinku mengingatkan.
Akupun segera kembali menghadap buku – buku yang ada didepanku. Berusaha untuk menulis semuanya dengan benar agar besok pagi bisa diserahkan ke professor Edward.
Sementara itu, dikediaman Arnold, Emily yang sedikit penasaran dengan apa yang ditulis sang bos diponselnya berusaha untuk mencuri lihat.
“ Apa itu benar – benar emoticon ciuman dan pelukan…”, batin Emily sambil melotot tak percaya bahwa majikannya benar – benar mengirim emoticon itu kepada tunangannya.
Belum juga hilang keterkejutan Emily dengan apa yang baru saja dilihatnya, dia kembali dikejutkan oleh perintah sang bos.
“ Katakan pada mereka untuk kembali sekarang….”, perintah Arnold datar, pandangan matanya masih menatap kearah ponsel yang ada ditangannya.
mendengar perintah sang bos, Emilypun segera mengambil ponsel dalam sakunya dan menghubungi para bodyguard yang sedang menuju kampus bintang agar segera kembali ke kediaman Arnold.
“ Oh Tuhan…kapan badai ini akan berlalu…”, batin Emily penuh harap.