
Crystal yang marah akhirnya memilih tinggal diapartemen Lea untuk mendinginkan kepalanya dan menghindari konflik dengan Arnold sementara waktu.
Sudah hampir tiga jam Crystal berada didalam kamar Lea tanpa melakukan apapun dan hanya berguling kesana kemari seperti orang bodoh diatas ranjang.
Sudah ratusan pertanyaan yang Lea lontarkan, namun tak satupun mendapatkan jawaban. Jangankan jawaban, mulai datang hingga sekarang Crystal sama sekali tak mengeluarkan suara sepatah katapun.
Leapun coba memancing pembicaraan dengan permasalahan yang ada dalam perusahaan namun hasilnya sama. Sahabatnya itu hanya menatapnya acuh tiap kali diajak berbicara.
Sambil mengacak rambutnya dengan kasar, Lea yang tidak pernah melihat Crystal sekacau ini segera menghubungi Vely dan meminta sahabatnya itu untuk menginap diapartemennya sekaligus berusaha untuk membujuk gadis itu agar menceritakan permasalahannya.
Vely yang sudah lama tidak berjumpa dengan Crystal segera bergegas menuju apartemen Lea setelah mendengar cerita jika sahabatnya itu sekarang dalam kondisi benar – benar buruk.
Apalagi saat melihat foto yang dikirim oleh Lea kepadanya. Vely seperti melihat orang lain dalam gambar tersebut. Tidak ada sosok Crystal yang ceria dan optimis yang selama ini dikenalnya.
Sepanjang perjalanan, Vely terus saja menerka – nerka dalam pikirannya sebesar apa permasalahan yang dihadapi oleh Crystal hingga sahabatnya itu bisa sekacau ini.
Saat fokus dengan pikirannya tanpa sadar ujung mata Vely menangkap bayangan toko kue yang berada diseberang jalan.
Tanpa pikir panjang diapun segera memutar mobilnya untuk menuju toko kue tersebut dan membelikan cake favorit Crystal. Dia berharap dengan adanya cake tersebut perasaan sahabatnya itu bisa segera membaik.
Setibanya di apartemen Lea, Vely hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar melihat Crystal duduk diatas sofa dengan wajah kusut seperti kertas yang habis diremas dan dibuang ketempat sampah, lecek tak beraturan.
“ Kenapa mukamu kusut banget kaya gitu…”, ucap Vely sambil menepuk bahu Crystal.
Bukannya menjawab, Crystal hanya menatap Vely acuh dan mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berada didalam kamar Lea sambil menutup kedua matanya.
Melihat hal itu, Vely langsung saja mengeluarkan sekotak chesse cake dan redvelved yang tadi dibelinya saat menuju kesini.
Mencium aroma yang sangat familiar, spontan Crystal langsung membuka kedua matanya dan mencari sumber aroma yang tadi mampir diindera penciumannya.
Melihat ada cake kesukaannya diatas meja, tanpa diminta Crystal lamgsung melahap habis semuanya hingga tak bersisa dalam waktu sekejap dengan wajah ceria.
Lea dan Vely hanya bisa saling berpandangan dan menatap heran dengan tingkah laku sahabatnya itu. Ternyata hanya dengan sekotak cake mood buruk Crystal langsung menghilang tak bersisa.
“ Jadi dari tadi manyun itu laper…”, ucap Lea dengan senyum mengejek.
Mood Crystal yang sudah membaik akibat sekotak chesse cake dan redvelved favoritnyapun hanya tersenyum manais mendengar ucapan Lea yang terkesan sinis itu.
Setelah meminum segelas air putih , Crystal segera menepuk - nepuk sofa dengansatu tangannya agar Vely segera duduk disebelahnya.
“ Gimana hubunganmu dengan Nicholas ?...”, tanya Crystal membuka obrolan.
“ Masih lanjut dan baik – baik aja. Doain aja, jika nggak ada halangan akhir tahun ini kami akan nikah…”, ucap Vely dengan muka bersemu merah.
“ Nikah ?...”, ucap Crystal dan Lea kompak dengan mata melotot karena terkejut.
“ Itu, empat bulan lagi…”, ucap Lea sambil menghitung bulan yang tersisa dengan jari tangannya.
“ Iya, kurang lebih empat bulan lagi…”,Vely mengucapkannya dengan wajah bahagia.
“ Emang, kamu sudah siap melepas masa lajangmu sekarang ?…”, tanya Crystal sambil menatap Vely tajam.
“ Tentu saja siap…bukankah itu yang kita inginkan dalam setiap hubungan, nikah dan memiliki keluarga kecil sendiri…”, ucap Vely dengan bola mata berbinar ketika mengingat kembali lamaran romantis yang dilakukan Nicholas kepadanya.
Tanpa disadari semua orang Lea terus saja mengamati keduanya terutama ekspresi Crystal yang terlihat sedikit muram waktu membahas masalah pernikahan.
“ Tunggu…tunggu…jangan bilang jika kamu sekarang galau karena Arnold ngajak kamu nikah… ”, ucap Lea menebak sambil menatap sahabatnya itu penuh selidik.
Melihat ekspresi Crystal yang tiba- tiba berubah menjadi masam setelah mendengar ucapannya membuat Lea semakin yakin jika tebakannya benar.
Crystal hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar waktu kedua sahabatnya itu menatapnya dengan pandangan menyelidik kepadanya.
Dalam diam, Crystal sesungguhnya membenarkan semua ucapan Vely. Dan dalam hati kecilnya, dia juga merasakan hal itu.
Namun entah kenapa bayangan kekejaman Arnold dalam kehidupan sebelumnya membuatnya mengingkari fakta itu dan memilih mempercayai apa yang sudah dilaluinya.
Dan hal itu yang tidak bisa dikatakannya kepada kedua sahabatnya, jika dirinya pernah meninggal dan hidup kembali.
“ Tidak semudah itu kak…”, ucap Crystal sambil mendesah.
Lea tersenyum saat sahabatnya itu akhirnya mau bersuara setelah terdiam cukup lama. Setidaknya usahanya untuk mendatangkan Vely agar Crystal mau bersuara berhasil.
“ lalu ?...”, tanya Lea dan Vely serempak penasaran.
“ Aku masih tidak yakin dengan semuanya…”, ucap Crystal sambil menghembuskan nafas dengan kasar.
“ Kamu tidak yakin akan Arnold atau dirimu sendiri…”, tanya Vely penuh selidik.
“ Aku ada sedikit trauma dengan pernikahan…”, Crystal mengucapkannya dengan lesu, kemudian dia dengan cepat meralat ucapannya waktu kedua sahabatnya sedikit terkejut mendengar apa yang dikatakannya.
“ Maksudku....mendengar kata pernikahan itu....membuatku takut…kamu tahu kan jika banyak sekali pasangan yang tidak berhasil dalam pernikahan…hmmm…..seperti kakakku dan Gerald…”, ucapku beralibi.
“ Masalah kakakmu itu kasus khusus…tidak bisa kamu jadikan acuan…”, ucap Vely sedikit gemas mendengar ucapan Crystal yang baginya sangat tak masuk akal itu.
“ Dan tidak sedikit pasangan yang berbahagia dengan pernikahan, contohnya kedua orang tuamu…”, Vely memberi gambaran secara bijak pada Crystal.
“ Itu karena papa dan mama saling mengerti dan memahami. Sedangkan hubunganku dan Arnold tidak seperti itu…”, ucapku sedikit frustasi.
Dia ingin sekali menjelaskan semuanya kepada kedua sahabatnya, namun itu tak mungkin. Crystal kembali menutup kedua matanya waktu ingatan menyakitkan itu datang lagi.
Ingatan tentang kekejaman Arnold yang semakin menjadi – jadi setelah keduanya resmi menikah dan menjadi sepasang suami istri.
Sikap possesif dan dominan yang dimiliki Arnold pun semakin besar terhadap dirinya hingga terkadang Crystal merasa jika bernafas saja dia harus meminta ijin laki – laki yang waktu itu sudah menjadi suaminya.
Meski sekarang sifat Arnold berubah menjadi baik dan tidak sekasar serta sekejam dahulu, namun tidak akan ada yang menyangka jika jiwa iblis dalam dirinya akan kembali muncul begitu Crystal melakukan kesalahan yang tidak bisa ditolerirnya.
Melihat Crystal kembali terdiam dengan wajah yang lebih murung daripada tadi membuat Vely perlahan menepuk bahu sahabatnya itu dengan lembut.
“ Aku tahu ketakutan yang kamu rasakan. Tapi setidaknya, cobalah bicara baik – baik dengan Arnold. Jika perlu, kalian bisa membuat perjanjian pra nikah agar hatimu bisa sedikit tenang. Intinya dalam setiap hubungan adalah komunikasi. Bangun hal itu mulai dari sekarang…”, ucap Vely bijak.
Mendengar ucapan Vely entah kenapa tiba – tiba hati Crystal merasa sangat sejuk. Mungkin yang diucapkan sahabatnya itu ada benarnya.
Dia akan coba berkomunikasi dengan Arnold. Bukankah lelaki itu sekarang sudah bisa diajak berkomunikasi meski kadang respon yang didapatkan tidak sesuai harapan.
Namun setidaknya itu adalah solusi yang terbaik yang bisa dilakukan olehnya saat ini. Karena mundur dari pernikahan bukanlah solusi yang tepat bagi dirinya dan keluarga besarnya saat ini.
Dengan senyum lebar, Crystal segera bangkit dari sofa dan memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat. Dirinya sangat bersyukur karena mendapatkan sahabat baru seperti Lea dan kak Vely yang selalu bisa bersikap dewasa dan ada dikala sedih maupun bahagia.
" Nah...begini dong...ini baru namanya Crystal...", ucap Vely tersenyum lebar.
" Aku lebih baik melihatmu membunuh musuh dengan kejam daripada melihatmu seperti tadi...", ucap Lea bergidik ngeri.
" Apa aku semenakutkan itu ?...", tanya Crystal penasaran.
" Nakutin sih enggak, tapi aku takut kamu jadi gila jika terus - terusan seperti itu...", ucap Lea tertawa lebar.
" Dasar kamu....", ucap Crystal sambil memukul kepala Lea dengan bantal kecil yang ada di atas sofa.
Tidak terima kepalanya dipukul bantal oleh Crystal, Leapun membalas. Namun sayangnya pukulan Lea malah mengenai Vely, hingga akhirnya perang bantalpun diimulai.
Mereka bertigapun terbaring dengan posisi terlentang karena kelelahan setelah perang bantal sambil tertawa terbahak - bahak, dengan perasaan bebas dan gembira.