Love Destiny

Love Destiny
Epson 386



Keesokan harinya di sebuah rumah besar terlihat seorang lelaki yang sedang menuruni anak tangga, siapa lagi kalau bukan putra bungsu Tio dan Tata.


Tata menatao putranya yang sudah terlihat rapi, ia mengernyit semenjak kepergian Kenzo Kevan suka seklai keluar dari rumah entahlah apa yang menjadi kegiatan putra bungsu nya itu.


"Kamu mau kemana Van?" Tanya Tata.


"Mau keluar bentar mi." Jawab nya.


"Kaya yang iya aja kamu keluar, jomblo ngapain keluar bikin macet jalanan doang." Cibir tata, Kevan menatap sinis mami nya.


"Biar jomblo juga aku cakep mi." Ucap nya, tata tertawa kecil melihat tingkah putranya.


"Halah cakep doang kaga ada yang mau ngapain, pamer tampang kaga laku Van gak ada juga yang mau beli." Goda nya, kelakuan tata dan Kevan malah seperti adik dan kakak.


"Mami Kevan doang yang senang ngejekin anak nya jomblo, nanti Kevan punya pacar nangeeeeeessss." Ledek nya, tata menatao kesal putra nya sejak kapan Kevan Solimi.


Ah tata lupa jika tata dan antek-anteknya adalah pasukan emak-emak Solimi, jadi wajar saja jika sikap seperti itu menurun kepada salah satu anak nya.


"Mau kemana boy?" Tanya Tio menepuk pundak Kevan.


"Mau keluar Pi." Jawab nya.


"Ngapain tumben amat keluar?" Tanya Tio, lagi Kevan menghela nafasnya menatap mami dan papi nya.


"Mau nyari calon mantu buat mami sama papi, udah ah ngomong sama kalian gak ada ujung nya." Ucap Kevan, Tio tertawa kecil mendengar perkataan putranya.


"Yasudah hati-hati." Ucap Tio, tata menatap Kevan yang berjalan semakin jauh.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Tio.


"Kevan itu sebenarnya sangat mirip dengan Kenzo, tapi kenapa Kevan selalu meniru apa yang Kenzo lakukan." Ucap tata.


"Mungkin Kevan ingin menjadi kebanggaan seperti Kenzo, bukankah selama ini Kenzo selalu lebih unggul dari Kevan." Ucap Tio, tata menatap Tio lembut.


"Ya, dari kegiatan sekolah dan kegiatan diluar rumah memang Kenzo selalu lebih unggul dari Kevan. Tapi kalau dirumah mereka berdua sama-sama baik dan keduanya sama-sama jagoan ku." Ucap tata, Tio tertawa kecil mengecup pipi istrinya.


"Tentu saja, keduanya memiliki peran dan kelebihan masing-masing bukan." Ucap Tio.


"Hmmmmmm, tepat sekali." Ucap tata, Tio dan tata memilih untuk menonton televisi saja.


Kedua orang itu selalu menghabiskan waktu nya bersama jika keduanya sedang ada dirumah dan tidak sibuk, sementara itu di tempat lain terlihat Ayaza yang sedang berjalan di sebuah toko buku.


"Za kita kemana kek gitu toko buku Mulu prasaan." Ucap Ria.


"Bentar apa ri aku lagi cari novel ini." Ucap Ayaza.


"Ni anak kesambet apaan si suka amat baca novel." Oceh Ria, Ayaza tertawa saja mendengar perkataan Ria.


"Suka aja karena banyak cerita yang menarik." Ujarnya, Ria tertawa dan bergelayut di tangan Ayaza.


"Bilang aja si biar kamu bisa kaya kisah-kisah nona muda dalam novel kan." Ucap Ria, Ayaza menatap Ria sekilas.


"Gak gitu konsep nya Ria." Ucap Ayaza, saat Ayaza akan mengambil sebuah buku bertepatan dengan orang lain juga yang akan mengambil buku itu.


"Maaf aku duluan yang ambil buku ini." Ucap Ayaza.


"Benarkah?" Tanya lelaki itu, Ayaza mengangguk dan mendongakkan kepalanya menatap wajah lelaki itu.


"Hmmmmmm, tapi jika kamu menginginkan nya ambil saja." Ucap Ayaza, lelaki itu tersenyum tipis kepada gadis manis di hadapannya.


Jangan tanya Ria dimana sudah jelas jika ria sedang menikmati ketampanan lelaki yang ada di hadapannya, Ria mencubit tangan Ayaza kecil membuat Ayaza menoleh.


"Aaaaassshh, sakit Ria." Ucap Ayaza, Ria pun tersadar ia telah menyakiti Ayaza.


"Eh, maaf za maaf gak sengaja." Ujar nya.


"Ambillah." Ucap lelaki itu.


"Tidak usah aku bisa mencari yang lain." Ucap Ayaza.


"Tidak apa-apa ambil saja, aku hanya ingin melihat judul bukunya saja." Ucap orang itu.


"Baiklah." Ucap Ayaza, ia berniat untuk pergi namun lelaki itu memanggil nya kembali.


"Tunggu." Panggil nya, alhasil Ayaza dan Ria pun menoleh.


"Ya." Sahut Ayaza.


"Siapa namamu gadis kecil?" Tanya nya, Ria dan Ayaza saling pandang.


"Saya?" Tanya Ayaza memastikan.


"Hmmmmmm, perkenalkan namaku Daniel." Ucap nya, Ayaza mengernyit heran ia tidak bertanya nama lelaki itu.


"Ah, namaku Ayaza." Ucap nya, Daniel menatap Ayaza merasa tidak asing dengan mata dan wajah itu.


"Nama yang bagus." Ucap Daniel, Ayaza hanya mengangguk saja.


"Kalau begitu aku permisi dulu tuan." Ucap Ayaza, Daniel mengangguk ia menatap kepergian Ayaza dan Ria.


"Za dia kaya seusia kak El gak si." Ucap Ria, Ayaza diam ia sedikit berfikir.


"Hmmmmmm, bisa jadi tapi kayaknya lebih tua dia daripada kak El." Ucap Ayaza, Ria tertawa memang benar karena wajah El lebih ke baby face.


"Kak El mah mungil menggemaskan, aku juga kalau mom Dena mau jodohin aku sama kak El gak apa-apa serius dah." Ujar nya, Ayaza tertawa lepas mendengar perkataan Ria.


"Sayangnya aku gak mau ri punya kakak ipar kayak kamu." Kekeh Ayaza.


"Ish kenapa, nanti kan kita bisa pergi-pergi bareng kemana-mana bareng." Ucap Ria, Ayaza menggelengkan kepalanya.


"Gak ya ri, aku gak mau kakak aku sama kamu. Bisa-bisa aku gak ada waktu sama kak El karena kamu." Ucap Ayaza, Ria tertawa lagian belum tentu juga El mau dengan Ria.


Setelah selesai membeli buku Ayaza memutuskan untuk pulang ke rumah nya, ia memasuki rumah membuat Dena tersenyum dan menghampiri putri bungsu nya.


"Anak mom sudah membeli buku nya sayang?" Tanya Dena.


"Sudah mom." Jawab Ayaza.


"Kenapa wajah kamu murung seperti itu, apa ada yang membuat kamu tidak nyaman?" Tanya Dena lagi.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja tadi ada orang aneh yang tiba-tiba mengajak berkenalan." Ucap nya, Dena mengernyit selama ini tidak pernah ada orang asing yang berani mengajak putrinya berkenalan.


"Benarkah?" Tanya Dena.


"Hmmmmmm, aku saja sampai heran selama ini jika aku pergi kemanapun tidak pernah ada yang menggangu. Hanya kali ini saja." Ujar nya, Dena tersenyum mengelus kepala putrinya.


"Baiklah sebaiknya kamu mandi dan istirahat sayang." Ucap Dena, Ayaza menatap mommy nya dengan penuh tanda tanya.


"Mom ini bukan masalah yang serius." Ucap Ayaza.


"Mommy mengerti nak." Balas Dena, akhirnya Ayaza pun pergi ke kamar nya sementara Dena menatap Ayaza yang tengah menaiki anak tangga.


Ada rasa penasaran dalam diri Dena ia ingin mencari tahu siapa yang mengajak putrinya berkenalan, namun karena bagi Ayaza ini bukan masalah serius baiklah Dena akan membiarkan nya dulu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N**: Aya tuker emak sama gue mau kaga ya 😂*


A: Kaga mau Uun 😂


N: Ngada-ngada Lo Thor 😒


A: 😂😂😂 Mon maap Dena udah paling dabest 🤣


N: Mengsedih sekali miskah 😭


A: 🤣🤣🤣🤣