
Setelah menyelesaikan beberapa permasalahan yang ada, Crystal segera berjalan keluar dari perusahaan dan menuju mobil Alphard hitam yang sudah terparkir didepan kantor.
Sore ini, Crystal mengerai rambut coklatnya dan hanya memakai jepit mutiara kesayangannya yang disematkan disebelah kanan.
Dress selutut berwarna coklat susu dibawah lutut dipadu padankan dengan blazer bergaris berwarna coklat tua dengan anksen pita di bagian perut membuat tampilannya semakin manis.
Emily yang setiap hari melihat tunangan bosnya itu masih saja terpesona dengan kecantikan alami yang terpancar dari wajah Crystal.
Ketika gadis itu mendekati mobil, Emily segera tersadar dari lamunannya dan langsung membukakan pintu kursi belakang untuknya.
Dikursi belakang, Arnold tampak sedang sibuk dengan laptop yang ada dipangkuan dan headshet Bluetooth yang terpasang ditelinganya.
Sepertinya dia sedang ada konferensi video, jadi pandangannya terus saja fokus pada layar yang ada dihadapannya.
Crystal menebak jika konferensi yang sedang berlangsung tidak berjalan dengan lancar saat melihat dahi Arnold yang berkerut cukup dalam dan wajahnya penuh dengan jejak kemarahan yang samar.
Suasana dalam mobil pun terasa sangat dingin dan mencekam. Seolah – olah iblis tersebut akan mencekik siapa saja yang menganggunya.
Crystalpun mulai duduk bersandar dikursi pojok dengan patuh dan berusaha untuk meminimalkan kehadirannya, agar tidak menganggu sang iblis.
Setelah pintu belakang tertutup, Emily masuk dan duduk disamping sopir, mobil perlahan mulai berjalan meninggalkan Abraham Group.
Saat mendongak, tanpa sengaja Crystal melihat bahwa yang mengendarai mobil hari ini bukanlah supir Arnold yang biasanya.
Dikursi pengemudi terlihat seorang pemuda yang terlihat lebih tua dua tahun dari dirinya, memakai pakaian serba hitam terlihat fokus melihat kedepan.
Pemuda itu memiliki rambut pendek yang rapi, ekspresinya tegas dan tajam, seperti senjata yang siap digunakan kapan saja dibutuhkan.
Dalam ingatan kehidupan Crystal sebelumnya, pemuda itu bernama Vreyan, tangan kiri Arnold yang paling tangguh dan keji, bahkan kekejamannya melebihi sang iblis.
Saat mendongak, tanpa sadar bola mata Crystal bertemu dengan bola mata Vreyan di kaca spion. Dan seperti biasa Vreyan menatapanya dengan nada merendahkan dan meremehkan seperti biasa yang dilakukannya dalam kehidupan sebelumnya setiap kali mereka bertemu.
Meskipun Crystal sudah terbiasa dengan tatapan Vreyan yang seperti itu, namun setelah dirinya bangkit dari kematian, Crystal tidak terima jika pemuda itu terus mencari masalah dengannya.
Crystal benar – benar membenci cara pemuda ini memandangnya. Semua yang dituduhkan Vreyan kepada dirinya sangat tidak masuk akal.
Sekilas, Crystal melirik Arnold yang wajahnya terlihat sangat dingin saat berbicara dengan salah satu Manajer senior dilayar laptopnya.
Vreyan yang memperhatikan bahwa Crystal terus saja menatap bosnya dari kaca spion membuat pemuda itu mengerucutkan bibirnya tak senang.
Dan pandangan matanya terus menatap setiap gerak – gerik Crystal dengan pandangan awas. Melihat dirinya diawasi, Crystal menaikkan sudut bibirnya berniat untuk menjaili Vreyan.
Perlahan Crystal mulai menggeser posisi duduknya hingga akhirnya dia cukup dekat dengan Arnold dan sedetik kemudian, Crystal menarik tekuk Arnold dan mencium bibir tunangannya itu dengan ganas.
Arnold mengkerutkan keningnya hendak berbicara, namun merasakan rasa manis yang lembut membuatnya terdiam dan menikmati semuanya.
Untuk sesaat, Arnold sangat terpana dengan keberanian Crystal yang menyerangnya pada saat dirinya sedang melakukan konferensi video.
Jari – jari Arnold yang langsing dan panjang kemudian menutup laptop dengan cepat dan memotong layar dari pihak lain.
Dalam konferensi video, manager senior yang sedang melakukan presentasi tiba – tiba hilang fokus saat ada gadis cantik muncul dilayar.
Ketika mencoba untuk mendekat dan melihat dengan jelas siapa wanita cantik yang berani menerkam bosnya itu, tiba – tiba layar berubah menjadi hitam dan sambungan konferensi video terputus.
“ Dia benar – benar menerkam sang bos !!!...”
“ Ini gila !!!...”
“ Bagaimana itu terjadi ditengah –tengah rapat !!!...”
Begitulah ucapan semua orang yang melihat kejadian tersebut pada saat konferensi video berlangsung. Pada saat yang sama, ada yang lebih gelap dari layar yang terputus koneksinya, yaitu wajah Vreyan .
Mata pemuda itu langsung melotot tajam seperti seekor banteng yang melihat kain merah yang dibawah sang matador.
Dia hampir meledak tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Vreyan benar – benar terperangah dengan perilaku Crystal yang tahu malu.
Meskipun Emily sudah pernah melihat hal tersebut berkali – kali sebelumnya, namun dirinya masih merasa canggung setiap kali hal tersebut terjadi.
Diapun segera menarik batas tegas dan memotong adegan yang ada dibelakang, memfokuskan dirinya untuk melihat jalan raya yang ada didepan mata.
“ Hmmph….”, suara ******* lolos juga dari bibir Crystal meski sudah berusaha untuk dia tahan mati – matian.
Tampaknya tindakan implusifnya untuk membuat Vreyan marah dan terganggu menjadi boomerang bagi Crystal.
Arnold sama sekali tak melepaskannya dan hanya memberinya waktu untuk mengambil nafas dan kembali melahapnya dengan rakus.
Crystal tidak bisa menyalahkan Arnold akan hal ini karena dialah yang memulai membangunkan iblis yang sedang berada dalam suasana hati tak begitu baik.
Namun anehnya, suasana hati Arnold seketika langsung berubah ceria selepas bercumbu mesra dengan Crystal.
Saat Arnold sudah puas, perlahan dia mulai melepaskan pagutannya, mengusap bibir Crystal menggunakan ibu jarinya dengan lembut dan kembali mengecupnya berulang kali.
Crystal yang sudah berada dalam pangkuan Arnold hanya mengedipkan mata beberapa kali dengan kaku saat melihat pandangan mata iblis tersebut menatapnya tajam.
Meski berakhir dengan baik, namun Crystal meruntuki dirinya yang terlalu berani dan memiliki nyali yang sangat besar dengan memprovokasi sang iblis yang sedang marah.
Melihat sorot mata Arnold yang menghangat, Crystal perlahan membaringkan kepalanya didada Arnold sambil menuliskan pola kasar didada bidang laki – laki itu.
“ Aku sudah lama disini…tapi kau mengabaikanku dan sibuk dengan laptopmu itu sepanjang waktu…”, ucap Crystal merajuk.
“ Apakah laptopmu itu lebih penting daripada aku ?!!!...sekarang kamu pilih aku apa laptopmu itu ?...”, ucap Crystal dengan bibir mengerucut karena kesal.
Mendengar ucapan yang keluar dari bibir Crystal membuat Vreyan semakin berang. Pemuda itu mengertakkan giginya dengan keras karena kesal sampai mati mendengar ucapan wanita iblis itu.
“ Wanita iblis ini !!!...”, desis Vreyan sambil mencabut samurainya yang ada disisi kirinya.
“ Tenang !!!...Jangan gegabah !!!...ini bukan pertama kalinya kamu melihat hal seperti ini !!!...Bagaiamana kalau tuan muda mendengar ucapanmu ?!!!...apa kau ingin mati ?!!!...”, desis Emily berusaha menahan pergerakan tanga Vreyan yang sudah berhasil mengeluarkan separuh samurai dari kantongnya.
Pemuda disamping Emily itu terlihat sangat marah hingga api seakan membakar seluruh rambutnya, sambil memasukkan kembali samurai yang ada ditangan kiri pada tempanya.
“ Wanita iblis ini sangat aneh akhir – akhir ini. Dia jelas memiliki niat buruk yang terselubung. Mengapa tuan tidak bisa melihat semuanya itu dan tetap membiarkan wanita iblis itu berada disisinya…”, desis Vreyan tak percaya dengan keputusan bosnya kali ini.
“ Dia hanya gadis kecil yang bodoh. Apa yang bisa dilakukannya pada bos ?...kamu jangan terlalu khawatir…”, Emily berusaha untuk menenangkan Vreyan yang sudah hampir hilang kendali.