
Tiga hari berlalu setelah kejadian itu kini Dena sedang duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya yang terbaring, Dena tersenyum manis melihat wajah kedua orang tuanya.
"Dena sudah membalas semua perlakuan orang yang membuat ayah seperti ini, dan Dena tidak akan melepaskan orang itu begitu saja yah." Lirih nya.
"De_na." Lirih seseorang, membuat Dena yang sedang menunduk mendongak tiba-tiba.
"Huh?" Gumam Dena bingung, ia melihat ayah dan bunda nya untuk memastikan suara lemah siapa yang barusan ia dengar.
"D_en_a." Lirih nya lagi, kali ini cukup jelas di telinga Dena. Wanita itu menoleh dan melihat bunda Sisil yang menggerakkan tangannya.
"Bunda." Ucap Dena dengan mata berkaca-kaca.
"Sa_yang." Lirih bunda Sisil lagi, kali ini bunda Sisil meneteskan air matanya. Tidak percaya bahwa dirinya bisa melihat wajah cantik putri bungsunya lagi setelah koma dalam waktu cukup lama.
"Bunda bangun, bunda panggil Dena. Sebentar Dena panggil dokter dulu." Ujar nya, Dena berlari keluar untuk memanggil dokter yang menangani orang tuanya.
"Bagaimana dok?" Tanya Dena, membuat dokter itu tersenyum.
"Nyonya sudah jauh lebih baik nona, suatu anugerah karena nyonya bisa melewati masa kritis nya." Ucap dokter itu, lalu Dena menatap bunda nya.
"Dok, tapi kenapa ayah saya belum bangun?" Tanya Dena.
"Sabar nona, kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk tuan Rio." Ujar nya, Dena pun mengangguk kini wanita itu menatap sang bunda.
"Hiks, Dena sempat takut bunda. Dena takut jika bunda tidak bisa menemani Dena lagi." Lirih nya memeluk tubuh bunda Sisil.
"Bunda akan tetap disini sayang, tapi bagaimana dengan opa mu?" Tanya bunda Sisil, membuat Dena terdiam begitupun Dea dan Mei yang baru saja masuk.
"Bunda, syukurlah bunda sudah sadar." Lirih Dea, kini Dea pun memeluk sang bunda begitupun dengan mei.
"Kak, bagaimana keadaan opa kak." Lirih bunda Sisil Kepada Dea.
"Bunda sebaiknya bunda sembuh dulu, nanti kami akan memberi tahu tentang opa." Ucap Dea, mencoba menahan tangisnya.
"Opa baik-baik saja kan kak, bunda bunda belum siap kehilangan opa kak. Kamu tahu kan opa orang tua bunda satu-satunya." Lirih bunda Sisil.
Deegg!!!
Dena dan Dea terdiam, iya opa Gerry memang satu-satunya orang tua yang dimiliki bunda Sisil. Mendengar itu membuat Dena kembali harus membalas rasa sakit yang dirasakan oleh bundanya.
"Bunda tenanglah, opa baik-baik saja. Sekarang yang terpenting bunda sehat lagi agar bisa melihat opa." Ucap Dea.
(Ya bunda opa baik-baik saja, mungkin opa sudah tenang di sana karena Dena berhasil membuat pelaku nya ikut merasakan apa yang kita rasakan. Aku harap bunda tidak akan merasa terpukul.) Batin Dea, Dena menarik tangan Mei keluar ruangan.
"Ada apa dek, kenapa kamu menarik kakak?" Tanya mei.
"Bagaimana keadaan intan, apa dia sudah sadar?" Tanya Dena, Mei pun terdiam sejenak.
"Ya intan sudah sadar." Lirih mei.
"Kak." Panggil Dena.
"Lakukan sayang, lakukan apapun yang kamu mau. Kakak tahu perbuatan intan dan papi nya sudah kelewat batas, tenanglah kakak akan selalu mendukung kamu. Kamu tetap adik kakak kan, tetap adik kesayangan kakak." Lirih mei memeluk Dena, Dena membalas pelukan Mei.
"Aku akan menemui intan, apa dia berada satu ruangan dengan papi nya?" Tanya Dena.
"Iya, mereka berada dalam satu ruangan." Jawab Mei, Dena mengangguk dan pergi.
Mei menatap kepergian Dena dengan lembut, ia bangga kepada Dena yang benar-benar membela orang tuanya.
"Aku mendukungmu karena aku tahu sejak kecil tidak ada keluarga mami ku yang peduli kepada ku, dan intan dia dekat dengan ku hanya ingin mengambil hatiku saja untuk menguasai perusahaan papi ku." Lirih mei, Mei mengetahui semua itu kemarin dari Justin dan Julian yang membongkar rahasia intan dan papi nya.
...
Kamar rawat intan, Dena membuka pintu membuat intan yang sedang memejamkan matanya kembali membuka matanya.
"Hai cantik, apa kabar. Ah aku tahu kabar mu pasti baik bukan." Lirih Dena, suara lirih itu terdengar seram di telinga intan.
"Ap_apa yang akan kau lakukan?" Pekik intan.
"Tentu saja menuntaskan pekerjaan ku yang belum selesai." Ujar Dena tersenyum smirk, lalu matanya melirik papi intan yang terbaring lemah.
"Jangan kau sentuh papi ku." Teriak intan.
"Wooow, baiklah kalau begitu aku akan menyentuh mu saja." Ucap Dena, mencengkram kaki intan yang pat*h karena injakan nya.
"Aaaaaaaakh, lepas hiks. Lepas Dena." Teriak intan kesakitan.
"Seperti nya kau suka sekali jika aku memegang kaki mu yang ini." Kekeh Dena, membuat intan emosi.
"Wanita tidak punya hati." Teriak intan, Dena pun tersenyum dan menatap sinis intan.
Dena melepaskan tangan nya dari kaki intan dan melipat kedua tangannya di dada, Dena menatap intan dengan tatapan tajam.
"Kalian berdua itu tidak asik, karena terlalu lemah." Ejek Dena, membuat intan menangis histeris.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
N**: Si Dena bener-bener dah serem amat woy 😲😲
A: Devinisi belum puas ya begitu 😂
N: Bisa-bisanya Lo ketawa Thor 😌
A: Yakali harus nangis, gue kan pihak Dena ya bahagia lah 😂
N: Eiya gue juga pihak Dena 😂
A: Lah 😒
N: 😂😂😂*