Love Destiny

Love Destiny
RACUN



Elisabeth terlihat sangat cemas waktu mendengar kabar dari dokter Robert jika cucu menantunya itu sakit dan sudah dua hari terbaring lemas diatas ranjang.


Dan yang paling membuat Elisabeth terkejut adalah pernyataan dokter Robert jika Crystal kemungkinan besar terkena racun yang sama seperti yang dialami mendiang mama Arnold, Isabella.


Mendengar hal itu, membuat Elisabeth langsung bergegas untuk berkunjung ke rumah Arnold bersama dengan Raihan, sepupu Arnold.


“ Bagaimana ini bisa terjadi ?...”, batin Elisabeth gelisah.


Dia sama sekali tidak ingin kejadian buruk tersebut terulang kembali. Sepanjang perjalanan Elisabeth merasa gelisahdan tidak tenang dan terus memikirkan semua perkataan dokter Robert tadi.


FLASH BACK ON


" Gawat nyonya !!!...ini gawat !!!...dia sudah kembali !!!...", ucap dokter Robert panik.


" Hey...ada apa ?...tenangkan dirimu !!!...", ucap Elisabeth diseberang sana.


" Nona Crystal terkena racun yang sama dengan racun yang mengerogoti tubuh nyonya Elisabet dulu...", ucap dokter Robert cemas.


" Ba...bagaimana bisa ?!!!...", ucap Elisabeth syok.


" Saya tidak tahu kejadian detailnya nyonya, hanya saja dalam darah nona Crystal terdapat kandungan zat - zat beracun yang sama seperti yang ada pada nyonya Isabella...",ucap dokter Robert menjelaskan.


Dokter Robert pada awalnya mengira jika demam tinggi yang dialami oleh Crystal adalah hal biasa terjadi akibat pergantian musim.


Ditambah lagi dia mendengar informasi dari para pelayan jika Crystal sempat kehujanan hingga pulang dalam kondisi pakaian basah.


Namun, setelah mengamati perkembangan kondisi Crystal yang semakin menurun dan ada beberapa tanda yang sedikit mencurigakan, akhirnya dokter Robert mengambil sampel darah Crystal untuk di uji di laboratorium.


Dokter Robert sangat terkejut dengan hasil laboratorium yang didapatnya siang ini dan langsung menghubungi Elisabeth, karena dia tidak mungkin membicarakan hal itu dengan Arnold.


“ Saya akan coba teliti lebih lanjut, hanya saja kandungan darah nona Crystal menunjukkan jika zat tersebut mengalir dalam darahnya, meski jumlahnya sangat kecil…”, ucap dokter Robert berusaha menenangkan.


“ Rahasiakan !!!...tunggu aku datang !!!...”, ucap Elisabeth penuh penekanan.


“ Baik nyonya…”, ucap dokter Robert patuh.


Tubuh Elisabeth langsung terjatuh dilantai membuat James yang berada disampingnya terlihat panik dan bergegas memapah majikannya itu agar bisa duduk disofa dan memberikannya segelas air putih hangat untuk menenangkannya.


Elisabeth masih belum percaya saat mengetahui jika dalam tubuh Crystal terdapat racun yang sama seperti yang ada dalam tubuh mama Arnold, Isabella dulu hingga membuat wanita itu tidak bisa merawat Arnold setelah melahirkan dan hanya terbaring lemah di tempat tidur dalam jangka waktu yang cukup lama.


Setelah agak tenang, Elisabethpun bergegas menghubungi Raihan, cucunya agar mengantarkannya menuju kediaman Arnold saat ini juga.


FLASH BACK OFF


Sementara itu, di dalam kamar Crystal, Arnold sedikit curiga kenapa kondisi tubuh tunangannya itu semakin hari semakin lemah.


Bahkan kulitnya juga terlihat semakin pucat membuat hatinya merasa sangat sedih. Melihat Crystal membuka mata, Arnold segera mengambilkan air minum dan membantu gadisnya itu untuk duduk.


“ Gimana perasaanmu?...ada yang sakit ?...”, tanya Arnold lembut.


“ Aku hanya merasa sangat lemas…ada apa dengan diriku ?...”, tanya Crystal lemah.


“ Kita kerumah sakit sekarang ya…”, bujuk Arnold dengan tatapan sendu.


“ Apa seburuk itu ?...”, tanya Crystal dengan tatapan sayu.


“ Kita tidak akan tahu jika tidak diperiksa…”, bujuknya lagi sambil membelai lembut pipi Crystal yang terlihat sedikit tirus.


“ Baiklah, jika itu yang terbaik…”, ucap Crystal pasrah.


Setelah mendapat persetujuan dari Crystal, Arnold segera menginstruksikan dokter Robert untuk menyiapkan semua keperluan pengobatan Crystal di rumah sakit.


Arnold membopong Crystal dengan perasaan campur aduk. Dia berjalan menuruni anak tangga dengan cepat dan langsung masuk kedalam mobil.


Di luar, Arnold hanya bisa menunggu gadisnya dengan cemas. Beberapa kali dia terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan rahang mengeras.


“ Alexander…”, guman Arnold geram.


Arnold sangat yakin jika kondisi Crystal ini ada hubungannya dengan Alexander yang terakhir berinteraksi dengan gadisnya.Tapi dia masih belum menemukan apa itu.


Namun jika berdasarkan laporan pengawal bayangan yang mengikuti Crystal, ada beberapa kejadian ganjil yang dialami gadis itu pada saat dirinya hampir tertabrak motor dikampus.


Belum lagi informasi tentang Alexander yang tidak bisa dia temukan dimanapun membuat Arnold semakin menaruh rasa curiga yang besar terhadap lelaki itu.


“ Bagaimana?...”, lirik Arnold saat melihat Emily datang.


“ Sampai saat ini kami sama sekali tidak mendapatkan data apapun tuan…”, lapor Emily gugup.


“ Terus awasi dia !!!...”, perintah Arnold tegas.


Tak berapa lama, dokter Robert beserta tim keluar dari dalam ruangan dengan wajah tegang. Mereka segera memindahkan Crystal ke bangsal VVIP agar bisa memantau kondisinya dengan ketat.


“ Bagaimana?...”, tanya Arnold penuh kilat amarah dimatanya.


“ Sebaiknya anda perketat penjagaan diruang rawat nona Crystal, mengingat aksi pertamanya gagal, saya yakin jika mereka akan berusaha melakukannya lagi…”, ucap dokter Robert memperingatkan.


“ Apa maksudmu?...”, tanya Arnold tajam.


Tubuh dokter Robert langsung menegang saat merasakan suhu ruangan yang tiba – tiba turun secara drastis dan kilat amarah dimata Arnold.


“ Tampaknya ada yang sengaja memberi nona Crystal obat, kami masih menunggu hasil lab untuk mengetahui secara pasti hal itu…”, ucap dokter Robert berbohong.


Sesuai instruksi Elisabeth, dia akan menunggu wanita tua itu baru menjelaskan semuanya kepada Arnold.


“ Obat apa?...”, tanya Arnold menuntut.


“ Nanti akan kami beritahukan jika hasil laboratoriumnya sudah keluar malam ini…”, ucap dokter Robert berusaha meyakinkan Arnold agar tidak bertanya lebih jauh.


“ Lakukan yang terbaik…”, ucap Arnold dan langsung bergegas masuk kedalam ruang perawatan Crystal dengan Emily yang mengikutinya dari belakang.


Melihat Arnold sudah menjauh, dokter Robert dan tim merasa sangat lega. Mereka tidak tahu harus menjawab apa tadi seandainya Arnold terus mencerca mereka dengan pertanyaan.


“ Cari tahu semuanya dan perketat penjagaan !!!...”, perintah Arnold tegas.


“ Baik…”, ucap Emily yang langsung mengistruksikan pasukan bayangan yang berada dibawahnya.


Saat berada dalam ruang perawatan tiba – tiba muncul sosok berjubah hitam disana. Arnold segera memerintahkannya untuk mengambil sample darah Crystal dan mengujinya di laboratorium rahasianya.


Arnold yang sudah curiga dengan tindak tanduk dokter Robert akhirnya mulai bergerak sendiri untuk mengetahui semua yang terjadi dengan tubuh Crystal.


“ Ambil sample yang kamu butuhkan dan beri aku hasilnya malam ini juga !!!...”, perintah Arnold tajam.


Setelah mendapatkan semua yang diperlukannya, sosok berjubah hitam tersebut langsung menghilang tanpa bekas, seperti udara yang tak terasa dan tak terlihat sambil membawa sample untuk penelitiannya.


Perlahan jemari ramping Arnold menelusuri lekuk wajah Crystal yang sangat dingin dan pucat. Perlahan Arnold mengecup bibir pucat tersebut untuk menyalurkan kehangatan disana.


“ Eummm…”, lengkuh Crystal waktu merasakan sedikit kebas dibibirnya.


“ Apa yang kamu lakukan?...”, tanya Crystal lemah.


“ Memberi kehangatan…”, ucap Arnold dan kembali ******* bibir tersebut dengan lembut.


Crystal hanya bisa pasrah sambil menutup mata, menikmati setiap kehangatan yang mengalir disana.