Love Destiny

Love Destiny
SAKIT



Seharian ini Crystal terus saja bersin - bersin setalah mengikuti mata kuliah dengan baju basah. Untuk itu, siangnya dia tidak jadi kekantor dan memilih pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Setelah makan siang, Crystalpun meminum obat flu dan beristirahat didalam kamarnya agar kondisinya cepat pulih.


Malam harinya, saat badannya terasa sudah enakan Crystal turun keruang tamu. Melihat Adoff berada disana, Crystal tersenyum bahagia.


Diapun mulai bermain bersama Adoff dan berguling - guling dikarpet bulu yang ada diruang tamu. Seperti sebelumnya, Crystal menceritakan kegiatan padatnya hari ini kepada Adoff seperti seorang sahabat yang sedang curhat.


Adoff hanya menanggapi ucapan Crystal dengan mengoyang – goyangkan ekornya atau mengaum rendah membuat Crystal tersenyum puas.


Tiba – tiba kepalanya terasa sangat sakit saat banyak kenangan kehidupan sebelumnya  datang secara bersamaan dalam kepalanya, Crystal merasakan sakit yang teramat sangat.


Kepalanya serasa ditusuk dengan ribuan jarum hingga dia harus menyandarkan kepalanya di tepi sofa.Crystal terusa saja memegangi kepala ya yang terasa mau pecah tersebut hingga akhirnya kegelapan menelannya.


“ Aummmm……..aummm…….”, Adoff terus melolong tinggi.


Suara lolongannya seakan menyiratkan kesedihan yang begitu dalam hingga siapa saja yang mendengarnya akan tersayat hatinya.


Adoff  bergerak mendekat kearah Crystal saat gadis tersebut sudah tergeletak diatas karpet putih yang ada didepan sofa.


Wajah  Crystal terlihat sangat merah dengan nafas tersengal – sengal, namun matanya masih tertutup rapat.


Adoff yang terlihat panik hanya bisa bergerak mengitari tubuh Crystal sambil sesekali mengarahkan kakinya untuk menggerakkan tubuh majikannya tersebut agar bangun.


Namun Crystal masih dalam posisi yang sama, diam tak bergeming membuat Adoff mengarahkan moncongnya dan menjilati gadis itu agar terbangun, namun usaha serigala putih tersebut sia – sia.


Adoff  terdengar meraung rendah sambil mengitari tubuh Crystal beberapa kali, berharap ada seseorang yang datang untuk menolong majikannya itu.


Saat ini semua pelayan sudah berada dalam kamarnya masing – masing. Mereka tidak akan berani keluar dan berkeliaran secara bebas didalam rumah jika Adoff berada disana.


Mereka tidak ingin menjadi santapan binatang buas peliharaaan majikannya itu. Apalagi saat ini Emily ataupun Vreyan sedang tidak berada didalam rumah.


Tidak mendapatkan respon dari Crystal, Adoff terus saja melolong panjang diruang tamu, berharap Arnold atau Emily cepat datang.


Melihat tubuh Crystal menggigil dengan wajah semakin merah membuat serigala tersebut berbaring disamping Crystal dan menyelimuti gadis itu dengan bulu putihnya yang tebal.


Bahkan ekor panjang Adoff terlihat menyelimuti betis Crystal yang terlihat karena gadis itu hanya memakai piyama dengan celana pendek.Adoff sekarang menjadi selimut hidup bagi Crystal.


Perlahan, mobil Alphard hitam mulai memasuki halaman utama. Melalui kaca spion, Emily menatap Arnold dengan gelisah.


Bagaimana tidak, Arnold meninggalkan perjamuan penting secara tiba – tiba dan terlihat sedikit hilang kendali, membuat Emily sedikit kalang kabut tadi karena harus menenangkan beberapa klien yang terlihat tersinggung dengan ulah Arnold yang mereka anggap tidak sopan.


Emily semakin gelisah saat melihat ruang tamu dalam kondisi sepi, padahal Arnold meninggalkan Adoff disana.


Mengingat hubungan baik antara Adoff dan Crystal sangat tidak mungkin mereka tidak bermain sepuasnya bersama, apalagi Arnold tidak berada didalam rumah membuat mereka bebas melakukan apa saja.


Namun yang didapatkan sekarang adalah keheningan, tidak ada satu pergerakkanpun yang bisa didengarkan oleh Emily yang sedari tadi menajamkan pendengarannya.


Emily mengikuti langkah Arnold dari belakang dengan perasaan campur aduk, antara cemas dan takut. Sedangkan Arnold memicingkan matanya menatap curiga kearah ruang tamu.


Saat mereka berdua masuk, Arnold dan Emily disuguhkan pemandangan yang sangat sulit dinalar akal sehat.


Dikarpet depan sofa terlihat Crystal terbaring sambil memeluk cakar Adoff dengan kedua tangannya sambil mengigil dengan wajah memerah.


Sedangkan Adoff terlihat memeluk Crystal seperti induk hewan yang sedang mendekap dan melindungi anaknya dari musuh dengan melingkarkan tubuhnya hingga semua bulu putihnya menutupi tubuh munggil Crystal.


“ Manusia bodoh !!!...akhirnya kamu kembali !!!...apa kamu sudah tak menginginkan gadismu lagi !!!..RRROOOAAARRR !!!…….”, Adoff mengaum marah sambil menatap tajam Arnold yang berjalan mendekat kearahnya.


Melihat Adoff  marah dan wajah Crystal yang semakin merah, Arnold segera membungkuk dan memegang dahi Crystal dengan telapak tangannya.


“ *Pa*nas…”, batin Arnold masih tetap menempelkan punggung tangannya didahi Crystal dan dahinya berulang kali.


“ Panggil dokter Albert sekarang !!!....”, perintah Arnold marah.


“ Baik…”, ucap Emily gugup.


Diapun segera mengambil ponselnya dan menghubungi dokter Robert agar segera datang ke kediaman Arnold.


Melihat Crystal masih belum juga membuka mata, Arnoldpun segera mengendong Crystal dan membawanya kelantai dua agar gadisnya itu bisa beristirahat didalam kamarnya.


Emily segera membangunkan semua pelayan dengan segera. Semua lampu di kediaman Arnold mulai menyala dengan terang.


“ Jika terjadi sesuatu dengan nona Crystal, semua orang disini pasti akan dikubur hidup – hidup oleh tuan…”, batin semua orang ketakutan.


Saat sebuah mobil sedan hitam memasuki halaman utama, Emily segera menyambutnya dan mengantar dokter Robert dan asistennya menuju kamar Crystal.


Kediaman Arnold saat ini diselimuti oleh awan hitam dan suara petir terdengar dimana – mana. Mereka semua terlihat menautkan kedua tangannya sambil memejamkan mata, berdoa agar kondisi Crystal segera membaik.


Dokter Robert dan asistennya segera masuk kedalam kamar Crystal. Didalam kamar mereka melihat seorang gadis dengan wajah memerah sedang terbaring di tempat tidur dengan Arnold setia duduk disampingnya sambil mengenggam tangan Crystal dengan erat.


Setelah melihat sekilas dari penampilan gadis itu, jejak takjub melintas dimata asisten dokter Robert.


“ Gadis ini sangat cantik, bahkan disaat kondisinya sangat lemah, bibirnya pucat  dan pipinya memerah, dia masih terlihat mempesona. Tidak heran tuan muda Arnold , yang terkenal sangat kejam dan tak berperikemanusiaan sangat mengkhawatirkannya….”, batin asisten dokter Robert terpesona.


“ Dokter Robert, tolong selamatkan dia…”, ucap Arnold dingin.


Merasakan perubahan suhu ruangan yang semakin dingin, dokter Robertpun segera mengambil peralatan medisnya untuk memeriksa kondisi Crystal.


Saat Arnold hendak beranjak dari tempat duduknya, tangan Crystal mencengkeram kuat, seakan tak ingin melepaskannya membuat Arnold akhirnya kembali duduk.


“ Bisakah anda memeriksa denyutnya dari seberang…”, ucap Arnold yang terlihat sudah tak bisa bergerak akibat cengkeraman kedua tangan Crystal dilengganya.


“ Tidak masalah…”, ucap dokter Robert yang lansung memeriksa detak jantung Crystal dengan stetoskopnya.


Pada awalnya dokter Robert mengira jika dirinya dipanggil kerumah ini karena kondisi tubuh Arnold yang mulai melemah akibat tidak mampu menahan penyakit insomnia akut yang dideritanya.


Namun siapa sangka jika yang membutuhkan perawatannya adalah Crystal yang digadang – gadang akan menjadi istri Arnold tersebut.


Perlahan Arnold melepaskan satu genggaman tangan Crystal agar denyut nadinya bisa dirasakan oleh dokter Robert.


Tapi Crystal terus mencengkeram lengan Arnold  dengan kuat membuat lelaki tersebut akhirnya menarik paksa tangan tersebut, sampai membuat Crystal menangis dengan mata terpejam.


Melihat gadisnya meneteskan air mata, Arnold mengusap air mata tersebut dan sedikit membungkung untuk mengecup kening gadis tersebut dengan lembut.


Dokter Robert yang melihat interaksi tersebut menghela nafas panjang untuk beberapa saat, berusaha untuk tidak membuat kesalahan apapun.


Jika biasanya sang asistenlah yang mengecek denyut nadi pasien, namun melihat betapa protektifnya Arnold terhadap Crystal membuat dokter Robert akhirnya turun tangan sendiri.


Dokter Robert terlihat sedikit kesulitan dalam mendeteksi denyut nadi Crystal yang sangat lemah tersebut hingga keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


Bukan hanya dokter Robert yang tampak gugup, sang asisten dan Emilypun  terlihat memasang ekspresi yang sama.


“ Apa penyakitnya begitu serius ?...kenapa dokter Robert terlihat kesulitan ?... ”, batin asisten dokter Robert dan Emily bersamaan.


Setelah memeriksa denyut nadi Crystal beberapa kali dan melihat thermometer yang terpasang diketiak gadis itu yang mencapai suhu 40 derajat membuat wajah dokter Albert sedikit pucat.


“ Tuan muda, anda tidak perlu khawatir…nona Crystal hanya demam karena perubahan cuaca dan sedikit dehidrasi. Kami akan memasangkan infuse dan memberinya acetaminophen. Setelah infuse habis, kondisi nona Crystal akan segera pulih seperti sedia kala…”, ucap dokter Robert sambil bergegas untuk memasangkan jarum infuse ketangan Crystal yang bebas.


Arnold kembali mengecup kening Crystal saat melihat gadis tersebut terlihat kesakitan waktu dokter Robert menancapkan jarum infuse dipergelangan tangan kirinya.


“ Aku khawatir kondisi Crystal memburuk…jadi malam ini saya harap anda dan asisten anda bisa menginap disini…”, ucap Arnold dan segera mengkode Emily agar segera menyiapkan kamar tamu untuk dokter Robert dan asistennya.


Mendengar ucapan tuan muda Lincoln tersebut, asisten dokter Robert langsung membuka matanya dengan lebar, melotot tak percaya.


“ Hey !!!…”


“ Dia hanya demam…”


“ Kenapa kami harus menginap disini !!!…”


“ Untuk mengecek suhu tubuhnya, kamu bisa memakai thermometer…”


“ Tidak perlu dokter Robert dan aku untuk mengawasinya semalaman !!!...”, batin Asisten dokter Robert tak terima dengan permintaan Arnold yang dianggapnya berlebihan.


Melihat asistennya hendak protes, dokter Robert segera berbalik cepat kearah pemuda tersebut dan menggelengkan kepalanya, memberitahukan pada pemuda itu agar tetap diam.


“ Terimakasih atas keramahan anda tuan, jika tuan muda tidak ada yang diperlukan lagi, saya pamit undur diri. Tiap satu jam sekali, saya dan asisten saya akan bergantian untuk mengecek kondisi nona Crystal…”, ucap dokter Robert sopan.


Bersama Emily, dokter Robert dan asistennya turun kelantai satu menuju kamar tamu yang sudah disiapkan untuk mereka menginap malam ini.