Love Destiny

Love Destiny
MULAI MEMBAIK



Hari ini, begitu sang mentari menunjukkan wajahnya,  semua orang memulai aktivitasnya pagi ini dengan riang gembira sambil menghirup udara pagi yang sejuk diiringi dengan  alunan musik dari kicauan burung yang bersahutan diatas dahan.


Hangatnya sinar mentari yang masuk melalui celah - celah jendela kamar, menyentuh kulit Crystal hingga membuatnya perlahan mulai membuka mata.


Setelah mengumpulkan sebagian nyawanya, diapun mulai duduk sambil menggeliat untuk merenggangkan otot – otot tubuhnya yang sedikit kaku sambil tersenyum saat melihat suaminya memasuki kamar sambil membawa segelas susu ditangannya.


“ Pagi sayang….”, ucap Arnold sambil mengecup kening Crystal dengan lembut.


“ Minum susunya biar perutmu hangat…”, ucapnya lagi sambil menyodorkan segelas susu ibu hamil buat sang istri.


Melihat niat baik sang suami, meski dengan sedikit enggan Crystalpun perlahan mulai meminum susu yang sudah dibawakan oleh suaminya.


“ Bagaimana…enak ?...”,Arnold bertanya sambil menelisisk ekspresi sang istri.


Dia sangat berharap susu yang dibuatnya pagi ini tidak kembali dimuntahkan seperti sebelum – sebelumnya.


“ Ini mas yang buat ?...”, tanya Crystal penasaran.


“ Iya..bagaimana rasanya ?...”, Arnold kembali bertanya dengan sedikit perasaan was – was.


“ Enak..aku suka,tidak terlalu manis seperti biasanya…”, ucap Crystal sambil meneguk habis sisa susu yang ada dalam gelas.


Mendengar ucapan sang istri, Arnold menghela nafas lega. Setelah beberapa kali membuatkan susu untuk sang istri dan ini untuk pertama kalinya dia mendapat pujian, itu rasanya wow…banget bagi Arnold.


“ Aku mau tiap hari mas buatkan susu seperti ini buatku…”, Crystal berkata sambil bergelayut manja dilengan suaminya.


“ Tentu saja sayang. Apa sih yang tidak untuk istri cantikku ini…”, ucap Arnold sambil mengecup pucuk kepala Crystal dengan penuh cinta.


“ Sudah bisa ngegombal ya sekarang…”, ucap Crystal terkekeh.


“ Hanya denganmu aku begini…”, ucap Arnold serius.


“ Awas saja kalau berani bilang seperti itu ke wanita lain…”, ucap Crystal dengan nada mengancam.


Sedetik kemudian, mereka berduapun tertawa dengan riang gembira. Menyambut pagi hari yang hangat ini dengan penuh kebahagiaan.


.


.


.


Meski pada trimester awal kehamilannya sedikit bermasalah hinga harus membuat Crystal terpaksa bolak – balik masuk rumah sakit.


Namun menginjak trimester kedua ini kehamilannya sudah tidak separah seperti sebelumnya. Bahkan dirinya sudah mulai bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala meski gerak tubuhnya masih terbatas, namun hal itu tak mengurangi niatnya untuk segera menyelesaikan studinya yang tinggal sedikit lagi.


Arnold yang sudah mengalihkan ruang kerjanya dirumah sambil menjaga sang istri beberapa kali terlihat menghembuskan nafas secara kasar saat melihat Crystal terus sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya.


Tidak kuat terus melihat dari kejauhan, Arnoldpun mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja kerja sang istri.


“ Sayang…apa tidak sebaiknya kamu ambil cuti kuliah hingga anak kita lahir ?...”, tanya Armnold cemas.


Entah karena akan menjadi ayah atau terlalu khawatir dengan kondisi sang istri, Arnold sekarang lebih cerewet dan banyak berbicara daripada sebelumnya.


Dan hal itu kadang memicu pertengkaran kecil dengan sang istri yang merasa bahwa suaminya itu terlalu berlebihan dalam menanggapi apapun hal yang terjadi pada dirinya.


“ Tidak bisa mas…aku harus lulus tahun ini juga. Bahkan kalau bisa, sebelum anak kita lahir aku sudah harus menyelesaikan skripsiku…”, ucap Crystal kekeh dengan pendapatnya.


“ Tapi…”, belum sempat Arnold menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah dibungkam dengan bibir lembut Crystal yang mengecupnya dengan lembut.


Jika sudah begitu, Arnoldpun akan langsung terdiam dengan perasaan sedikit dongkol karena sang istri selalu menggunakan kelemahannya itu untuk mewujudkan keingginannya.


Melihat suaminya sudah terdiam, Crystalpun tersenyum penuh kemenangan dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda sebentar tadi akibat adu argument dengan sang suami.


“ Dasar keras kepala !!!...”, guman Arnold sambil menghembuskan nafas dengan kasar.


Diapun kemudian segera berlalu dari ruang kerja menuju dapur untuk menyiapkan kudapan dan coklat hangat buat sang istri agar perut Crystal tidak kosong.


Meski kondisi Crystal di trimester kedua ini sudah lebih baik daripada sebelumnya, namun meski begitu perutnya diusahakan sebisa mungkin tidak kosong agar asam lambungnya tidak kembali naik.


Untuk itu, setiap satu jam sekali harus ada makanan yang masuk kedalam perutnya, meski itu hanya biscuit sepotong.


Karena hanya makanan dan minuman yang dibuat oleh sang suamilah yang bisa masuk kedalam perutnya, maka Arnold akan menyiapkan semua kebutuhan camilan sang istri sebelum dia berangkat kerja dan setelah sepulang kerja, seperti malam ini.


Semua pelayan hanya bisa tersenyum tipis melihat sang majikan begitu sayang dan perhatian terhadap istrinya.


Bukan hanya menyiapkan menu sehari – hari untuk sang istri, Arnoldpun sering turun tangan bersama sang koki untuk menyiapkan kudapan yang sehat dan bergizi buat istri dan calon anak yang ada dalam kandungan Crystal.


Semua itu dilakukannya dengan hati gembira, dia ingin sang anak sudah bisa merasakan perhatian dari kedua orang tuanya sejak dalam kandungan.


Dengan menyiapkan semua kebutuhan sang istri dan menjaga asupan gizi yang masuk kedalam tubuh Crystal, Arnold sangat berharap hal itu bisa sedikit meringankan penderitaan sang istri yang harus mengandung sang buah hati selama sembilan bulan.


Dengan hati - hati, Armold mengambil kudapan yang tadi dibuatnya dengan sang koki sepulang kerja dari dalam  oven dan menatanya apik diatas piring kecil disamping coklat hangat yang baru selesai dibuatnya.


Selanjutnya, diapun segera masuk kedalam ruang kerjanya sambil membawa nampan berisi kue kacang coklat dan minuman hangat untuk sang istri.


Arnold tersenyum samar melihat keteguhan hati sang istri untuk segera menyelesaikan skripsinya dan bisa lulus secepat mungkin.


“ Istirahat dulu…”, ucap Arnold sambil menyuapi Crystal dengan sepotong biscuit yang baru saja matang.


“ hmmm…enak…”, ucap Crystal dengan mata berbinar.


“ Jika kamu suka, nanti akan aku buatkan yang lebih banyak lagi…”, ucap Arnold sambil mengelus kepala Crystal dengan lembut.


“ Mungkin, jika kacang medenya lebih banyak akan lebih gurih…”, ucap Crystal sambil terus mengunyah biscuit coklat kacang tersebut dengan senyum merekah.


“ Baik….besok akan aku tambahi kacang medenya dan kubuat lebih banyak agar bisa kamu makan setiap saat…”, ucap Arnold lembut.


Mendapat perhatian seperti itu tentu saja membuat Crystal sangat senang. Selama masa kehamilannya ini, Crystal merasa dijadikan ratu oleh Arnold yang selalu memanjakannya setiap saat.


Dia sangat bersyukur karena mendapatkan suami yang sangat perhatian dan sayang kepadanya. Meski masih keras kepala, namun sifat Arnold perlahan – lahan mulai berubah menjadi lebih baik.


Bahkan dia juga melihat jika Arnold sudah menjadi suami siaga sejak awal kehamilannya. Untuk itu, dia akan bertekad untuk segera menyelsaikan skripsinya, agar saat anak ini lahir dia sudah lulus dan membuat semua orang bangga terhadapnya.