
Disamping mayat tanpa tangan dan kaki yang tergeletak didalam genangan darah, tiba – tiba ada seorang pemuda yang baru sadar dari pingsannya terlihat mulai bangun dan duduk dengan wajah linglung.
Untuk sesaat dia terdiam, mencerna semua hal yang telah terjadi. Saat mata hazelnya menatap lekat - lekat mayat siapa yang ada disampingnya, perlahan amarah dalam dirinya mulai muncul.
*“ Arnold !!!..
“ Kau monster !!!..”
“ Binatang !!!...
“ Bagaimana kau bisa menghabisi pamanmu sendiri !!!...”
“ Darah Lincoln mengalir ditubuhku !!!..”
“ Beraninya kau melakukan ini pada keluargaku !!!...”
“ Kau…Ahh…”,*
Teriaknya sangat keras saat kedua kakinya terpotong oleh samurai yang dilayangkan pemuda yang membunuh ayahnya tadi.
Melihat kedua kakinya terpotong, pemuda itu semakin berteriak histeris sambil merangkak maju sedikit demi sedikit. Tidak ada rasa kesakitan atau kesedihan diwajahnya saat darah terus mengalir dipangkal pahanya.
Yang ada hanya tatapan kebencian dan kemarahan, seolah rasa sakit yang dialaminya saat ini mengalahkan rasa sakit yang ada dalam hatinya.
“ Arnold !!!...”
“ kau akan mendapatkan balasan !!!...”
“ Jangan kau pikir aku tidak tahu !!!...”
“ Papa David, paman John, Bibi Carlotte dan paman Henry…’
‘ Semua mati ditanganmu !!!...”
“ aku akan memberitahukan semuanya kepada nenek…”
“ Dan mengatakannya kepada tetua keluarga Lincoln!!!...”
“ Aku yakin setelah mereka tahu !!!...”
“ mereka tidak akan pernah melepasku !!!...”
“ Tidak akan pernah !!!...”
Ucap pemuda itu penuh amarah dan meludah didepan Arnold kemudian berbalik arah, dan terus merangkak maju menuju pintu keluar dengan terseok – seok.
Melihat pemuda itu ingin kabur, Arnold tidak menghentikannya. Dia hanya menyaksikan dalam keheningan saat pemuda itu berjuang dengan sia – sia di detik – detik terakhirnya dengan nafas yang memburu.
Sesampainya dipintu, pemuda itu berusaha untuk merangkak naik dengan kedua tangan untuk menopang tubuhnya.
Saat usahanya hampir berhasil, satu tangannya berada di handle pintu untuk memutar, tiba – tiba bayangan putih besar dengan kecepatan kilat menyambarnya. Mengigit tepat dileher hingga menyebabkan pemuda itu mati seketika.
Leher pemuda itu bengkok seperti leher ayam yang digorok, tidak sepenuhnya putus disana dengan darah segar yang mengalir deras seperti air mancur mengotori seluruh ruang tamu.
Bau anyir semakin kuat membuat suasana semakin mencekam. Suara gemertak tulang yang dikunyah memenuhi indera pendengaran.
Meski sudah pernah menjalani dua kehidupan, namun melihat langsung bagaimana seseorang dieksekusi mati dan mayatnya dijadikan makanan hewan peliharaannya tetap saja membuat Crystal bergidik ngeri.
Saat kakinya sudah bisa digerakkan, Crystal yang hendak bangun tiba – tiba terpeleset akibat menginjak ujung dressnya hingga sobek.
“ Krekkkk….ahhh….”, teriakannya spontan membuat semua orang memandang kearahnya dengan tatapan dingin.
Seakan tatapan semua orang bisa membekukan darahnya saat ini juga. Crystal yang masih syok melihat kondisi yang ada dalam ruang tamu perlahan mulai menggeser pintu kaca yang ada dihadapannya hingga terbuka penuh.
Bagi Crystal percuma juga dia sembunyi, toh semua orang sudah mengetahui kedatangannya sekarang, setelah suara teriakan yang spontan dia keluarkan tadi.
“ Kamu ?…nona !!!…kenapa anda disini?…”, ucap Emily terkejut saat sadar jika yang tadi menjerit dibalik pintu kaca adalah tunangan sang bos.
“ Kenapa gadis menyusahkan ini ada disini ?…”, batin pemuda dengan pakaian serba hitam yang ada disamping sebelah kiri Arnold, Vreyan.
Vreyan, tangan kiri Arnold memandang Crystal dengan tatapan merendahkan. Dia mengerutkan alisnya dengan ekspresi jijik melihat wajah Crystal yang sudah pucat pasi.
Kenangan menyakitkan sekaligus mengerikan kembali membanjiri ingatannya, membuat kepalanya terasa sangat sakit.
Untungnya semua kenangan tersebut hanya terlintas dalam hitungan detik. Crystal dengan cepat berusaha menenangkan dirinya dan mengambil kesadarannya kembali.
Perlahan dia merobek dengan kasar bagian dressnya yang sempat tersangkut kakinya tadi agar tidak menganggu pergerakannya..
Mengambil kantong tas berwarna coklat yang berisi roti, selangkah demi selangkah dia mulai berjalan menuju kearah Arnold.
Pandangan Crystal difokuskan pada wajah Arnold, tidak ke yang lainnya agar rasa takut, ngeri dan mual tidak kembali dia rasakan.
Meski sekilas dari sudut matanya dia dapat melihat ekspresi ketakutan diwajah Emily, lantai tertutup darah segar dibawah kaki Veryan , dan suara serigala putih yang menghancurkan tulang – tulang manusia berusaha untuk tak dihiraukannya.
“ Apa kamu lapar ? dalam perjalanan pulang aku tadi mampir disebuah toko roti yang lagi viral akhir – akhir ini. Disana semua rotinya enak – enak, terutama roti lapis dagingnya… ”, ucap Crystal dengan mata berbinar sambil menyerahkan kantong coklat kearah Arnold.
Arnold yang duduk disofa hanya diam tak merespon semua ucapan Crystal. Mata lelaki itu terlihat sangat suram dengan aura gelap yang menyelimutinya.
Saat ini, lelaki itu tampak seperti iblis yang keluar dari dalam neraka, pada malam yang gelap dan penuh darah,seperti malam ini.
Suara gemuruh yang ditimbulkan oleh oleh lolongan serigala putih dan gelapnya aura Arnold membuat ruang tamu tersebut benar – benar dingin, tanpa satupun kehangatan disana.
Emily yang berdiri disebelah kanan Arnold, tubuhnya sudah basah dibanjiri keringat. Dia sama sekali tidak berharap gadis itu akan pulang dan menyaksikan semua kejadian yang mengerikan ini.
“ Bukankah kemarin nona bilang akan menginap selama tiga hari dirumahnya…tapi kenapa malam ini dia kembali ?...”, itulah pertanyaan yang ada dibenak Emily sekarang.
Emily merasa telah membuat kesalahan besar hingga tak mengetahui jika gadis ini akan pulang malam ini.
“ Kurasa, sebentar lagi aku akan mati…”, batin Emily gelisah.
Sejak tadi tidak mendapatkan respon, Crystal yang ingin segera keluar dari ruangan mengerikan ini kembali bertanya pada Arnold.
“ Apakah kamu lapar ?...”, tanya Crystal sekali lagi sambil mendekatkan kantong roti yang dibawahnya pas didepan wajah Arnold.
“ Apa ini ?...”
“ Kenapa nona Crystal bertanya seperti itu ?...”
“ Apakah kamu lapar ?...”
“ Pertanyaan macam apa itu ?...”
“ Disituasi sekarang ?...”
“ Dengan ekspresi riang seperti tak terjadi sesuatu…”
“ Apa otak nona juga bergeser sekarang…”
“ Jika orang normal, maka dia akan berteriak dan berlari melihat semuanya…”
Batin Emily dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
Melihat Crystal dengan santai memberikan sekantung roti membuat Vreyan mendelik dan memberikan tatapan peringatan terhadap gadis itu.
“ Apakah kamu takut ?...”, kalimat tanya itu yang keluar dari bibir Arnold setelah sekian lama terdiam
“ Tidak…”, jawab Crystal dengan nada tegas tanpa keraguan didalamnya.
Meski sebagai orang normal dia seharusnya merasa takut akan kejadian yang baru saja dilihatnya, namun jika memikirkan akhir hidup nya dimasa lalu, hal ini belumlah ada apa – apanya.
Temperamen Arnold yang fluktuatif dan membinggungkan, Crystal tidak akan pernah tahu tindakan atau komentar apa yang tidak sengaja dibuatnya yang bisa membuat iblis tersebut marah.
Berkaca pada kehidupan sebelumnya, jawaban yang diberikannya tadi dapat mencegah dirinya dari kemarahan sang iblis.
Saat Crystal terdiam sambil menunggu respon, Arnold menatapnya selama beberapa detik dengan matanya yang mulai menggelap, seakan ada lubang hitam yang ingin menyedotnya masuk kedalam.
Setelah beberapa detik, Arnold menjepit dagu Crystal dengan jari – jari rampingnya yang dingin dan berbisik dengan suara serah yang sangat rendah.
“ Gadis pintar….”, bisiknya puas.
Mendengar suara bisikan tersebut , saraf tegang Crystal perlahan mulai kembali rileks karena sudah terbebas dari kematian yang baru saja menghampirinya.