Love Destiny

Love Destiny
SEX APPEAL



BUG !!!....


Kemesraan keduanya terhenti saat terdengar suara keras menghantam tembok. Crystal melihat dengan jelas bahwa tembok yang berada disebelah Vreyan retak.


Vreyan mengepalkan tinjunya erat – erat dan melotot kearah Crystal dengan tatapan ingin membunuh. Tanpa berkata apapun dan melihat ekspresi orang – orang yang berada disekitarnya, Vreyan berbalik pergi dengan gusar meninggalkan ruang tamu.


Crystal hanya bisa menatap kepergian Vreyan dengan wajah binggung apalagi kesalahan yang telah diperbuatnya.


“ Apa yang salah dengannya…aku kan hanya makan kuaci…apa dia juga benci akan hal itu…”, batin Crystal binggung dengan kemarahan Vreyan kepadanya.


Crystal yang sedang melamun tiba – tiba berteriak saat ada benda tajam mengoyak kulit bibirnya.


“ Awww….”, teriak Crystal sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit bengkak akibat gigitan Arnold.


“ Apa yang sedang kamu pikirkan ?...”, ucap Arnold tak senang.


Ingin sekali Crystal menjawab “ Kenapa kamu masih bertanya !!!...iblis kecilmu sangat marah hingga hampir meghancurkan dinding ruang tamu !!! tidakkah kau lihat !!!...”, namun semua itu urung dia utarakan.


Ada satu hal yang selama ini masih menganjal dalam hati Crystal, bagaimana orang seperti Arnold bisa menyukainya yang hanyalah seorang gadis cantik biasa.


“ Selama ini aku selalu bertanya – tanya, kenapa kamu memilihku untuk menjadi pasanganmu ?...”, guman Crystal dengan suara yang sangat rendah.


Arnold menyipitkan matanya dan kembali bertanya agar gadisnya itu mengungkapkan apa yang membuatnya gelisah.


“ Katakan padaku, ada apa ?... ”, tanya Arnold santai.


“ Kenapa kamu tidak memilih wanita cantik,dewasa, berpenampilan anggun, elegan, berwawasan luas dan terampil menggunakan senjata,  serta cakap dalam urusan dapur. Tapi kamu malah memilih gadis bodoh yang selalu membuat masalah, susah diatur, keras kepala dan pembangkang…”, ucap Crystal setelah memikirkannya beberapa saat.


Mendengar semua ucapan Crystal, Arnold menatap gadis  itu dalam – dalam sebelum akhirnya dia mulai menjawab.


“ Aku terpikat oleh *** appeal mu…”, ucap Arnold  dengan suara serak yang sexy.


Mendengar ucapan Arnold, Crystal hampir tersedak ludahnya sendiri karena terkejut dengan pola pikir tunangannya itu.


“ kurasa, ini bukanlah karakteristik seorang penguasa…”, ucap Crystal ragu.


“ Siapa yang bilang aku seorang penguasa ?...”, jawab Arnold acuh.


Untuk beberapa saat keduanya terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing – masing hingga seorang pelayan datang mengatakan jika makan malam telah siap.


Saat makan malam, seperti biasa Arnold diam dan fokus pada makanan yang ada dihadapannya. Sedangkan Casandra terlihat asyik mengobrol dengan Elisabeth sambil sesekali tertawa saat ada hal yang lucu dalam cerita mereka.


Dari sini Crystal bisa menangkap bahwa Elisabeth menyukainya hanya sebatas karena dia adalah kekasih Arnold, cucu kesayangannya.


Crystal sudah siap dengan segala macam kemungkinan buruk yang akan terjadi. Tempat Casandra di keluarga Lincoln sangatlah kuat dan dalam, tidak mudah digoyahkan, apalagi dicabut dalam waktu singkat.


Setelah makan malam usai, Crystal mengikuti Arnold pergi kedalam ruamg kerjanya yang ada dilantai dua.Dia kemudian mulai mengambil laptop dalam tasnya dan mulai mengerjakan revisi desain yang diberikan oleh professor Stevanus padanya tadi pagi.


Sedangkan Arnold duduk diatas sofa yang ada disebelahnya sambil membolak – balikkan berkas yang ada ditangannya.


Tak lama kemudian, ada suara ketukan pintu dan Casandra masuk untuk melaporkan perkembangan pekerjaannya di ibukota.


“ Arnold, perkembangan kasus di ibukota….”, Casandra menghentikan ucapannya dan melirik Crystal yang sedang sibuk dengan laptopnya.


“ Duduk !!!...”, perintah Arnold tajam


Perlahan, Crystal menatap Arnold dan Casandra secara bergantian dengan ekspresi pasrah. Sebenarnya dia juga tidak ingin berada dalam situasi canggung seperti ini, apalagi ingin mengetahui rahasia organisasi mereka.


Namun, sepertinya Arnold tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Lelaki itu merasa gadisnya tidak perlu meninggalkan ruangan karena tidak ada suatu hal pun yang perlu dirahasiakan dari Crystal.


Semua rahasia Arnold sudah Crystal ketahui, mulai dari kamar gelapnya, ruang bawah tanahnya, organisasi rahasianya, bahkan penyakitnya yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja Crystal juga sudah tahu.


Melihat Crystal kembali sibuk dengan laptopnya, Casandra hanya diam sesaat sebelum akhirnya dia melaporkan secara terperinci semua permasalahan yang ada di ibukota.


Dalam kesunyian malam hanya ada suara Casandra yang terdengar sangat jelas diruangan dan beberapa kata singkat dari Arnold sesekali.


Meski Casandra meliriknya beberapa kali namun hal tersebut diacuhkan oleh Crystal yang masih sibuk untuk merevisi lima gambar yang harus selesai malam ini juga. Dirinya tidak ada waktu untuk mengurusi urusan orang lain dan fokus pada desain yang ada dihadapannya.


Tiba – tiba suara benturan benda keras menginterupsi kesunyian yang ada dalam ruang kerja tersebut.


BRAKKK……


“ Awww….”, Crystal mengadu kesakitan.


Spontan Casandra dan Arnold yang sedang serius membahas setiap langkah yang akan dilakukannya mengangkat kepala mereka dan melihat kearah Crystal.


Arnold terlihat menjepit alisnya dan mengisyaratkan agar Casandra berhenti. Dia kemudian berdiri dan berjalan mendekat kearah Crystal dan membungkuk didepannya.


“ Sakit ?...”, tanya Arnold sambil mengusap lembut kening Crystal yang terlihat merah dan bengkak.


“ Huuh…”, Crystal mengangguk dengan mata berkaca – kaca.


Arnold segera membantu Crystal untuk duduk dikursinya. Mengambil kotak P3K dari dalam almari, mengoleskan obat memar kedahi Crystal yang merah dan bengkak lalu meniupnya secara perlahan.


Melihat Arnold meniup lukanya, Crystal sedikit terkejut untuk sesaat. Namun sedetik berikutnya diapun kembali fokus pada layar laptop yang ada dihadapanya.


Setelah sepuluh menit berlalu dan Arnold masih setia disampingnya, mengoleskan obat dan meniupnya hingga kering membuat hati Crystal seakan meleleh.


Crystal menatap Arnold dengan penuh kekaguman, seolah iblis tersebut sudah berubah menjadi malaikat dengan sepasang sayap putih yang mulai tumbuh dipunggungnya.


Casandra yang sedari tadi duduk di sofa dan menunggu dalam diam akhirnya mulai angkat bicara saat Arnold tidak kunjung juga beranjak.


“ Arnold !!!...”, panggil Casandra pelan.


“ Kamu bisa keluar dulu…”, ucap Arnold menatap Casandra sekilas dan kembali fokus pada kening Crystal.


“ Tapi…masalah ibukota kita harus…”, ucap Casandra gelisah saat Arnold mengacuhkannya.


“ Aku tahu apa yang harus dilakukan !!!...” ucap Arnold datar tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Crystal dan hanya memberikan isyarat melalui tangannya agar Casandra segera keluar dari dalam ruangan.


“ Ok..”, jawab Casandra kecewa.


Terus diacuhkan oleh Arnold membuat Ekspresi Casandra menjadi suram.  Diapun segera membereskan semua dokumen yang ada diatas meja dan berdiri meninggalkan ruangan.


Crystal yang mendengar suara pintu terbuka dan kemudian tertutup kembali terlihat cukup terkejut saat mengetahui bahwa Casandra telah keluar dari ruang kerja dengan wajah ditekuk dalam – dalam.