Love Destiny

Love Destiny
KERJA SAMA



Vely terus menangis dalam pelukan Crystal cukup lama hingga dadanya yang tadi terasa sesak berangsur – angsur mulai lega.


Gadis itu sama sekali tidak menyangka bahwa Brian yang sudah tumbuh bersama dengannya sejak kecil, mampu membuat mimpinya hancur berkeping – keping  dan seluruh dunia yang ditatanya apik menjadi berantakan tak berbentuk.


Bukan hanya ditinggalkan, dia juga dikhianati oleh teman yang paling sangat dia percayai. Vely selama ini selalu kemana – mana dengan Adisty, menceritakan semua rahasia dirinya kepada gadis itu.


Bukan hanya memperlakukannya sebagai sahabat, bahkan Vely juga sudah memperlakukan Adisty seperti keluarganya sendiri.


Siapa yang tahu bahwa dibelakang punggungnya gadis itu diam – diam menusukknya, menghancurkannya, dan membunuhnya secara perlahan seperti ini.


Semakin kamu perduli dengan seseorang maka akan semakin besar rasa kecewa yang kamu rasakan, jika kamu sudah menemukan kebenaran sesungguhnya.


Itulah yang sedang dirasakan oleh Vely saat ini. Dua orang yang paling dia sayangi dan dia percayai mengkhianatinya sedalam ini.


“ Bagaimana kalau kita bekerja sama ”, tawar Crystal saat melihat gadis dihadapannya itu sudah mulai bisa diajak berbicara.


“ Bukankah Adisty sahabatmu ? kenapa kamu melakukan ini ?...”, tanya Vely binggung.


“ Teman terbaik ? Dia juga sahabatmu ? Tapi aku tidak sebodoh dirimu hingga perlu seseorang untuk memberitahumu agar kau sadar…”, ucap Crystal dengan senyum mengejek.


Sebenarnya Crystal merasa bersalah saat mengatakan hal tersebut, karena dirinya dulu juga sangat bodoh. Percaya dan melakukan semua hal yang dikatakan oleh Adisty kepadanya.Bahkan kebodohan itu sudah menjalar keseluruh tubuhnya hingga kematian membuat otaknya kembali bekerja.


“ Kamu…”, ucap Vely masih dengan wajah binggung.


“ Kak, apakah kamu ingin kak Brian jatuh cinta dan berbalik lagi kepadamu ? Apakah kamu ingin mengungkapkan warna asli Adisty didepan semua orang dan merusak reputasinya ?  Dan apakah kamu ingin melihat  kak Brian menyesal karena lebih memilih gadis ular itu dibandingkan dengan dirimu yang sudah bersamanya sejak kecil...Apakah kamu rela melepaskan semuanya itu sekarang ?….”, ucap Crystal memprovokasi.


Meskipun Vely tidak menanggapi ucapan adik tingkatnya itu, namun mendengar semua yang diaktakan Crystal kepadanya membuat matanya berbinar kembali.


“ Bekerja sama ?  Kenapa aku harus bekerja sama denganmu ? kenapa aku harus percaya padamu ?...”, ucap Vely sedikit ragu.


“ Karena kita memiliki musuh yang sama. Apakah alasan itu sudah cukup ? ”, tanya Crystal sambil tersenyum lembut.


Ucapan Crystal seakan melekat kuat dalam hatinya, “ musuh yang sama” apakah itu berarti Adisty juga melakukan hal yang sama dengan adik tingkatnya ini.


“ Bolehkan aku bertanya, mengapa kau ingin menghancurkan Adisty ?...”, tanya Vely setelah terdiam cukup lama.


“ Sama sepertimu, dia mencuri lelakiku…”, ucap Crystal sinis.


“ Jadi ini hal yang membuat hubungan Crystal dan Adisty memburuk sekarang…”, batin Vely menebak.


“ Seperti pepatah kawanmu adalah musuhmu…musuhmu adalah kawanmu…”, ucap Crystal penuh tekanan.


Vely kembali mencerna setiap kata dari ucapan terakhir gadis itu dengan seksama. Tidak buruk juga jika dirinya harus bekerjasama dengan adik tingkatnya.


Selain bisa membalas dendam, dia juga tidak rugi apapun dalam transaksinya kali ini. Jadi, sekali lagi dia coba untuk mempercayai seseorang. Berharap keputusannya kali ini tepat dan tidak membuatnya kembali menelan pil kekecewaan.


“ Baiklah…aku mau bekerja sama denganmu…”, ucap Vely sambil tersenyum.


“ Deal…”, ucap Crystal sambil mengulurkan tangannya.


“ Aku ada kelas kak…kita bisa bertemu lagi nanti…ini nomorku….”, ucap Crystal sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi nomor teleponnya kepada Vely.


Sementara itu, Crystal yang sediikt terburu – buru berjalan tanpa sengaja menabrak tubuh seseorang hingga berkas yang dibawahnya jatuh berantakan kemana – mana.


“ Oh…professor Stevanus…maaf saya tadi lagi buru – buru…”, ucap Crystal sedikit gugup saat mengetahui bahwa laki - laki yang ditabraknya itu dosennya.


“ Selesai kelas, langsung keruangan saya !!!…”, ucap dosen muda itu tajam.


Crystal hanya menatap punggung dosen muda itu dengan perasaan ngeri. Dan saat melihat jam yang ada dipergelangan tangannya, Crystal langsung lari terbirit – birit menuju kelas agar tidak terlambat.


“ Ceroboh seperti biasa…”, guman seorang laki – laki tampan berkacamata dari balik tembok.


Diapun  segera berbalik dan berjalan menuju  lift saat melihat gadis yang mencuri hatinya itu sudah masuk kedalam kelas.


Didalam kelas Crystal mengikuti semua penjelasan yang dosennya berikan dengan cermat. Kali ini dia akan bersungguh – sungguh dalam mengikuti semua kelas yang sudah diambilnya.


Dalam kehidupan keduanya ini, dia akan membuat semua orang yang menyayanginya bangga atas pencapaian yang didapatkannya.


Setelah kelas selesai, Crystal yang sedang merapikan semua berkasnya didatangi seorang gadis tomboy yang berdiri disamping mejanya.


“ Gue Lea…lu ada waktu sekarang…”, tanyanya to the point.


“ Sekarang tidak bisa…aku harus menghadap professor Stevanus segera…”, jawab Crystal sambil berdiri dari tempat dudukku.


“ Ok. Aku tunggu ditaman samping perpus setelah urusanmu dengan professor selesai…”, ucap Lea dan pergi begitu saja meninggalkan Crystal yang masih dipenuhi tanda tanya.


Sambil memikirkan apa maksud Lea menghampirinya tadi, Crystal melangkahkan kakinya menuju ruangan professor Stevanus.


“ Lea…lea….aku seperti tak asing dengannya….tapi apa…”, Crystal berpikir cukup keras, mengingat memori kehidupan sebelumnya siapa tahu ada informasi tentang gadis itu hingga tanpa sadar dirinya sudah berada didepan ruangan professor Stevanus.


“ Ayo masuk !!!....”, ucap professor Stevanus sedikit terkejut saat membuka pintu ada gadis yang sudah memporak  porandakan hatinya setahun terakhir ini sedang berdiri melamun didepan ruangannya.


“ iy…iya prof….saya akan masuk….”, ucap Crystal gugup.


Setelah berada didalam, Crystal mencoba untuk menepis rasa penasarannya terhadap Lea. Lagipula sebentar lagi dirinya juga akan bertemu dan berbicara dengan gadis itu.


Yang harus dilakukannya saat ini adalah fokus dengan dosen muda yang ada didepannya itu. Kira – kira apa yang membuat dosen itu menyuruhnya menghadap.


“ Kulihat jadwal kuliahmu tidak terlalu padat. Apa kamu mau bergabung dengan proyek yang akan kubuat ? ”, tanya professor Stevanus penuh harap.


“ Proyek…proyek apa ya prof kalau saya boleh tahu ?...”, tanya Crystal penasaran dan penuh minat


“ Pembanggunan rumah mewah tiga lantai , dia ingin menggabungkan desain arsitektur modern tapi tidak menghilangkan arsitektur kuno dalam rancangannya…”, ucap professor Stevanus menjelaskan.


“ Jika proyek ini sukses, bukankah hal itu sangat bagus buat portfolio nanti…”, ucap professor Stevanus berusaha untuk meyakinkan Crystal.


“ Kurasa ini kesempatan bagus….”, batin Crystal menimbang – nimbang penawaran yang diberikan dosennya itu.


“ Satu tim berapa orang…”, tanya Crystal dengan wajah penuh minat.


“ Kalau kamu setuju, empat orang denganmu. Dua perempuan dan dua laki – laki…”, ucap professor Stevanus tersenyum bahagia saat melihat antusias diwajah Crystal.


Setelah memikirkan semuanya dengan matang, Crystalpun segera mengiyakan penawaran dari dosennya itu. Sebuah peluang emas untuk membuat semua orang bangga kepadanya.


“ Saya setuju untuk bergabung bersama tim anda…”, ucap Crystal tersenyum lebar.