
Pujian yang dilontarkan oleh Arnold terhadap Crystal membuat Vreyan merasa tidak senang. Dia masih tak habis pikir kenapa bos sekaligus gurunya itu mempertahankan gadis tak berguna itu disampingnya.
“ Aummmmmmm……”
Serigala putih tersebut tiba - tiba melolong tinggi hingga membuat Crystal yang berdiri mematung spontan langsung melompat ke dalam pangkuan Arnold dan memeluknya dengan sangat erat.
“ Ahhh !!!…”, teriak Crystal panik sambil memukul dada Arnold dengan paper bag coklat berisi roti yang sedang dipegangnya berulang kali.
Setelah tersadar, Crystal segera melirik kearah Arnold dengan wajah merah merona karena malu. Perlahan dari sudut matanya, Crystal dapat melihat serigala besar berwarna putih itu mendekatinya dengan moncong yang belepotan darah segar.
Serigala putih tersebut terlihat berjalan mondar – mandir dihadapan Arnold sambil menatap tajam Crystal dengan penuh permusuhan.
Mungkin serigala itu mengira jika Crystal adalah penyusup karena melihat gadis itu melompat dan menerkam Arnold tadi.
Instingnya sebagai hewan buas mengatakan bila sang tuan dalam bahaya, namun setelah beberapa detik tampak sang majikan tidak terganggu dengan keberadaaan gadis itu membuat serigala tersebut berhenti tepat dihadapan Arnold, masih dengan tatapan tajam yang mengarah ke Crystal.
Serigala putih ini bernama Adoff yang artinya serigala yang dihormati , hewan peliharaan Arnold yang tinggal dihutan belakang rumah.
Dalam kehidupan sebelumnya, serigala putih inilah yang sering menyelamatkan hidup Crystal dari musuh - musuh Arnold yang mengejar dan menjebaknya.
Tak terhitung berapa kali serigala itu membantunya, bahkan dia juga dibunuh oleh musuh Arnold karena melindunginya.
Mengingat serigala itu mati karena melindungi nyawanya dimasa lalu membuat Crystal tanpa sadar meneteskan air mata.
Arnold yang melihat Crystal menangis mengira jika tunangannya itu takut dengan Adoff mulai memgangkat satu tangannya, menepuk kepala gadis itu dengan lembut.
“ Adoff !!!…”, ucap Arnold sambil menyipitkan kedua matanya memandang tajam kearah serigala putih itu.
Mendengar peringatan dari tuannya, mata serigala itu dipenuhi kilatan merah yang mengerikan dan meraung dengan lembut.
Cara Adoff melihat Crystal seperti seolah – olah binatang itu hendak membuat kepalnya terpisah dari tubuhnya, seperti yang diperbuatnya tadi.
Cukup lama serigala itu berkonfrontasi dengan Crystal, namun di menit berikutnya secara perlahan harimau itu pergi dengan enggan dibawah tatapan tajam tuannya.
Aura mendominasi yang dikeluarkan oleh Arnold nyatanya membuat hewan buas itu takut. Dari sini Crystal sadar jika hati seseorang kadang lebih menakutkan daripada binatang buas.
“ Pergilah, terima hukumanmu sendiri !!!....”, ucap Arnold sambil menatap sekilas Emily yang ada disebelah kanannya setelah kepergian Adoff.
“ Baik !!!...”, ucap Emily binggung.
Tapi sedetik berikutnya dia sadar dan merasa jika hukuman ini adalah hasil yang terbaik untuk kesalahan yang telah dibuatnya.
Melihat Emily pergi untuk menjalankan hukumannya, diam – diam Vreyan menatap Crystal dengan pandangan mencemoh.
Sama seperti kehidupan sebelumnya, Vreyan ini sangat membenci Crystal yang dianggapnya sebagai benalu dalam kehidupan bosnya.
Hubungan Crystal dengan Vreyan sama sekali tak bagus. Mereka seperti kucing dan anjing, meski begitu Crystal juga tidak bisa membuatnya menjauh dari kehidupan Arnold karena pemuda itu adalah seorang ahli yang paling tangguh disisi Arnold.
Siapapun yang merintangi jalan Arnold pasti akan diselesaikannya dengan bersih. Metode yang digunakan untuk menghabisi musuh juga sangat kejam, bahkan melebihi kekejaman Arnold.
Sementara itu, di club NT seorang pria gemuk dan botak berlari terburu – buru menuju tempat dimana Enrico sedang bersenang – senang dengan gadisnya.
“ Kabar buruk !!!...kabar buruk tuan !!!...”, teriaknya dengan wajah pucat pasi dan keringat mengucur deras ditubuhnya.
“ Apa itu ?...”, tanya Enrico acuh
“ Saya baru mendengar kabar jika paman David dan Anston putranya dibawah ke kediaman Arnold…”, ucapnya sedih.
“ Dasar tidak berguna !!!…”, Enrico mendesah kasar.
“ Tuan muda…anda harus cepat mengeluarkannya…”, pinta laki - laki gemuk itu sambil bersujud dibawah kaki Enrico.
“ Aku tidak punya waktu untuk orang tidak berguna seperti mereka. Lagipula kamu pikir kita bisa membantunya melarikan diri sekarang ?...Kita bahkan tidak akan menemukan satu tulangpun disana, apalagi jenazahnya !!!...”, ucap Enrico dengan nada tinggi.
Siapapun sangat tahu jika musuh sudah dibawah ke kediaman Arnold, maka bisa dipastikan tidak akan bisa untuk ditemukan.
Karena sepupunya itu akan langsung memberikan tubuh musuhnya sebagai makanan hewan peliharaan Arnold yang sama sekali tidak dia ketahui apa wujudnya.
Hal itu jugalah yang membuat semua pihak kesulitan menemukan bukti bahwa Arnold lah pelaku kejahatan itu.
Sementara itu, Emily yang baru saja menyelesaikan hukumannya kembali keruang tamu dan ingin membersihkan semua perbuatan tuannya itu, tiba – tiba ponsel yang dipegangnya bergetar, membuat raut wajahnya panik seketika.
“ Tuan muda…ada panggilam dari nyonya besar…”, ucapnya gugup.
“ Angkatlah !!!...”, perintah Arnold dengan nada dingin.
“ Hallo nyonya…apa ada yang bisa saya bantu ?...”, Emily menjawab telepon tersebut sambil meloudspeaker ponselmya agar tuan mudanya juga turut mendengar percakapan mereka.
“ Emily !!!...Berikan teleponnya ke Arnold !!!…sekarang !!!...”, teriak Elisabeth dengan penuh amarah.
“ Nenek…”, panggil Arnold ramah.
“ Kenapa ponselmu kamu matikan ? Jawab dengan jujur, dimana kamu dan apa yang kamu lakukan sekarang ?...”, teriak Elisabeth dengan penuh amarah.
Wanita tua itu pasti sudah mendengar kabar jika sepupunya ada dikediaman Arnold sekarang. Meski wanita tua itu sangat tegas terhadap semua saudaranya, namun mereka hanya bertengkar bukan saling membunuh.
Jika Elisabeth tahu apa yang baru saja terjadi dengan David dan Anston, semua orang tidak bisa membayangkan konsekuensi apa yang akan diterima oleh tuan mudanya nanti.
“ Rumah…”, jawab Arnold santai, namun tidak dengan Emily dan Vreyan yang saat ini terliah sangat tegang.
“ Apakah pamanmu David dan sepupumu Anston ad…”, belum selesai Elisabeth berbicara dia mendengar ada suara Crystal disana seketika tercenggang dan amarahnya mulai mereda.
“ Crystal !!!...”, ucap Elisabeth terkejut
“ Iya nenek, ini aku …”, ucap Crystal antusias.
“ Cepat berikan ponselnya, biarkan aku berbicara dengan nenek…”, ucap Crystal tak sabar.
Untuk sesaat, Arnold merasa sedikit ragu, setelah dia terdiam sejenak, tiba – tiba tangannya terulur dan ponselpun berpindah ketangan Crystal.
“ Nenek…ini aku…Crystal…”, ucap Crystal dengan suara dibuat semanis mungkin.
“ Crystal, kenapa malam – malam begini kamu masih berada dirumah Arnold dan belum pulang ?...”, tanya Elisabeth hangat dan penuh kecurigaan.
“ Aku kangen Arnold nek, jadi malam ini aku ingin menginap disini…”, ucap Crystal malu – malu.
Ya...Elisabeth tidak tahu jika Crystal sebenarnya tinggal bersama Arnold. Semua itu ditutup dengan sangat rapi. Jadi hanya keluarga Abraham dan orang - orang pilihan saja yang mengetahui keberadaan Crystal dikediamannya.
“ Apa yang kamu dan Arnold lakukan sekarang ?...”, tanya Elisabeth dengan nada riang.
Setiap kali Elisabeth mengajukan pertanyaan, jantung Emily dan Vreyan berdetak lebih kencang, takut jika Crystal salah menjawab atau mengatakan sesuatu yang salah, sehingga dapat menyebabkan hal fatal bagi mereka.
Ada niat membunuh disorot mata Vreyan, kapanpun samurainya itu bisa melayang jika Crystal salah dalam menjawab pertanyaan Elisabeth.
Elisabeth sangat jeli, meski Crystal tidak mengatakannya secara langsung jika wanita tua itu melihat saja sedikit perbedaan pada nada yang diucapkan Crystal, maka semuanya akan terbongkar.
Meski Crystal bukanlah majikannya, namun saat ini nyawa keduanya berada ditangan gadis itu. Salah ucap sedikit, bisa dipastikan kepala mereka akan segera melayang.
Jika anak buahnya sangat cemas, Arnold terlihat biasa saja bahkan terkesan acuh tak acuh seolah panggilan Elisabeth kali ini adalah hal biasa, seorang nenek yang rindu dengan sang cucu.
“ Makan roti nek…apa nenek mau ? jika mau, nanti waktu aku main kesana aku bawakan. Roti ditoko ini sangat enak loh nek…”, ucap Crystal mempromosikan roti yang dibawanya tadi.
Untuk sesaat Elisabeth tampak terdiam, mencerna dan meneliti setiap ucapan Crystal. Saat tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, diapun bernafas dengan lega.
“ Crystal, apakah kamu suka roti ?...Datanglah ketempat nenek lain waktu dan nenek akan membuatkan roti yang sangat enak untukmu…aku jamin, rasanya berkali – kali lipat lebih enak daripada roti yang kamu beli…”, ucap Elisabeth dengan penuh kasih sayang.
“ Terimakasih nenek !!!...BIsakah minggu depan aku kesana ?...”, ucap Crystal antusias dengan bola mata berbinar.
“ Tentu saja bisa…kapanpun kamu mau datang, nenek akan langsung membuatkan roti untukmu…”, ucap Elisabeth senang.
Setelah cukup lama berbincang dengan calon cucu menantunya, Elisabeth pun segera mencari Arnold dan mulai berbicara dengannya.
“ Arnold…”, panggil Elisabeth setelah selesai berbicara dengan Crystal.
“ Iya nek, aku disini…”, ucap Arnold hangat.
“ Nenek kembali mengingatkan padamu Arnold, perlakukan Crystal dengan baik. Jangan tunjukkan wajah datar dan dinginmu itu kepadanya. Karena dia sedang dalam masa pertumbuhan, sebaiknya kamu mulai memperhatikan cakupan gizi disetiap makanan kekasihmu itu…”, Elisabeth menasehati Arnold dengan lembut.
“ Aku tahu nek…”, ucap Arnold lembut.
“ Jangan hanya bilang tahu…kamu harus segera mengubah sikap cuek dan temperamen burukmu itu…”, Elisabeth kembali menasehatri Arnold dengan keras.
Mendengar Arnold dinasehati seperti, Crystal sangat bahagia karena merasa bahwa perhatian yang Elisabeth berikan kepadanya mengingatkannya pada sang nenenk yang sudah meninggal sejak dirinya berusia enam tahun.
Crystal hanya mengangguk – anggukan kepala setiap Elisabeth menasehati Arnold cukup keras. Cukup lama Elisabeth mengatakan kata – kata petuah buat cucuhnya itu sebelum sambungan telepon terputus.
Semua orang terlihat bernafas lega saat semua krisis yang baru saja mereka lalui bisa dihindari dengan baik.
Mereka kemudian menatap Crystal dengan berbagai macam ekspresi, bagaimana gadis itu bisa sangat tenang dalam situasi mencekam tersebut dan mengatakan semuanya dengan lancar seoalah – olah tidak ada hal buruk yang pernah terjadi.
Jika tadi yang menjawab telepon Elisabeth adalah Arnold, sekuat apapun Arnold menyangkal, wanita tua itu pasti akan curiga.
Crystal adalah penyelamat mereka malam ini. Entah gadis itu berani atau bodoh, mereka semua masih binggung.
Karena bodoh dan berani itu beda tipis jika dihadapkan pada gadis tanpa perhitungan yang ada dihadapan mereka sekarang.