Love Destiny

Love Destiny
Epson 212



Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya keluarga Dena pun sampai di negara yang ditinggali oleh Dena, mereka di jemput oleh para bodyguard dari keluarga tuan Richard.


Saat tiba di depan gerbang besar yang menjulang tinggi mereka sudah bisa melihat keluarga Keanu yang berdiri di teras, bunda Sisil dan ayah Rio tersenyum saat melihat seorang lelaki yang sedang menggendong bocah kecil.


Siapa lagi jika bukan Keanu yang menggendong Rafael, para keluarga pun turun dari mobil dan disambut oleh senyum manis.


Dena melihat Carl yang menggendong Daniel pun tersenyum, karena ia banyak mendapat kabar dari Anna bahwa Carl sudah banyak berubah.


"Akhirnya kalian tiba, kamu sungguh khawatir dengan kalian." Ucap Oma, membuat ayah Rio tersenyum.


"Terimakasih." Balas ayah Rio, tuan Richard berjalan keluar dan bersalaman dengan ayah Rio.


"Selamat datang tuan Artadinata." Ucap tuan Richard.


"Ah, tidak perlu berlebihan tuan Richard." Ucap ayah Rio, merekapun berkumpul di ruang tamu.


"Hai, aku Karen kakak ipar Dena." Ucap Karen mendekati Mei dan Dea.


"Ah aku mei, kakak ipar Dena juga." Jawab Mei.


"Oh, apakah ini anak kakak?" Tanya Karen melihat Arka dan Azka yang terlihat mirip.


"Iya ini anakku." Jawab Mei.


"Lucu apakah mereka kembar?" Tanya Karen lagi.


"Haha, iya mereka kembar." Jawab Mei, Karen mengalihkan pandangannya kepada ketiga remaja yang duduk dekat Dea dan Dena.


Para perempuan duduk terpisah di ruang tengah, terkecuali bunda Sisil yang ikut duduk di ruang tamu bersama Oma tuan Richard dan yang lainnya.


"Ini? Apa ini kembar tiga?" Tanya Karen menjadi Dea tertawa.


"Ngarang, jelas muka nya yang satu beda." Ucap Dena, Anna tersenyum melihat kedakatan Dena dengan Kaka ipar nya.


"Lah sebentar." Ucap Karen memperhatikan wajah Aiden, Alexi dan Aneska.


"Oiya, tapi muka nya mirip." Ucap Karen.


"Namanya adik kakak ya pasti mirip." Ucap Dena.


"Tapi kak Kai dan Nathan beda." Ucap Niken.


"Mereka sama cuma ahlak nya aja yang beda." Ucap Karen nyeleneh, merekapun tertawa.


"Gumush ih pengen aku bawa pulang." Ucap Karen mengelus kepala Aiden dan Alexi


"Aunty." Ucap anes memeluk Dena.


"Incess." Kekeh Dena membalas pelukan anes.


"Kenapa keluarga nya cakep semua." Ujar Niken.


"Ini namanya cukup pupuk Niken." Ucap Karen.


"Huh?" Balas Niken terkejut.


"Bagaimana kabar kakak?" Tanya Karen yang mulai bersikap dewasa, setelah sikap nyeleneh nya.


"Baik, kabar kami sangat baik." Jawab Dea.


"Dena kamu punya kakak berapa?" Tanya Karen.


"Dua memang nya kenapa." Jawab Dena.


"Tidak kakak kamu yang ini sama yang laki-laki tadi mirip." Ucap Karen.


"Tentu saja mereka kembar." Jawab nya tertawa.


"Tapi kenapa kamu tidak punya saudara kembar?" Tanya Karen lagi.


"Kak Mon maap kalo mau ngerusuh nanti aja di grup ya, jangan disini." Ucap Dena, Karen pun tertawa kecil.


"Oiya diminum kak air nya." Ucap Niken, Anna menatap Niken heran karena hanya Niken yang terlihat lebih muda.


"Mami." Panggil Nathia membuat mereka menoleh.


"Ada apa sayang?" Tanya Niken.


"Mommy." Ucap nathia membuat Dena tersenyum.


"Kok cantik banget si." Ucap Mei, mereka seakan terhipnotis oleh kecantikan nathia.


"Tentu anak papi Nathan." Ucap Dena membuat nathia malu.


"Gemes ih lucu." Kekeh Mei.


"Ini gadis pertama dari keluarga Richard, kalau kyra gadis kedua." Ucap Dena, Dea dan Mei pun mengangguk.


"Kalau El?" Tanya Aiden.


"El mah tunggal belum ada teman dia boy." Ujar Dena menjawab pertanyaan Aiden.


Setelah puas berbincang kini semuanya berjalan masuk ke ruang makan, carl Anna dan yang lain bisa melihat bagaimana perlakuan keluarga Richard terhadap Dena.


"Bagaimana apakah Dena ada mengecewakan tuan dan nyonya?" Tanya ayah Rio.


"Tidak, Dena begitu baik kepada keluarga kami. Bahkan dia dengan mudah beradaptasi kepada para ipar nya." Jawab tuan Richard membuat ayah Rio tersenyum, meja makan itu terasa hangat karena perbincangan dua keluarga besar.


"Benarkah, padahal Dena agak sedikit ngeyel." Goda Dio, membuat Dena memicingkan matanya.


"Itu sangat menyenangkan, Dena lebih sering bercanda dengan ibu." Ucap nyonya Ellen.


"Om tenang saja, Dena dan Oma sudah seperti anak kembar yang selalu berdebat dalam hal kecil." Ceplos Nathan, membuat ayah Rio dan yang lain tertawa.


"Yang benar saja anak kembar." Ucap Dena.


"Ya kami hanya khawatir, takut ada sikap Dena yang kurang baik." Kekeh ayah Rio.


"Itu tidak mungkin terjadi, Dena bahkan merawat Keanu dengan baik." Jawab tuan Richard membuat Nathan menahan tawa nya.


Lelaki itu mengingat kejadian tiga tahun lalu, diaman Dena menghukum Keanu karena kepergok di cafe.


"Syukurlah jika seperti itu." Ucap ayah Rio.


Justin menatap bangga kepada adik bontotnya, ia benar-benar salut kepada Dena yang menjaga nama baik keluarga dan menjaga keharmonisan dalam keluarga Richard.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ruang makan



***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


N**: oke guys jangan lupa vote si Mumun takut un mood bahaya, kita di gantungin 😂


A: Heh Marni 😂


N: Bener kan 😂


A: Ya bener si 😂


N: 🤣🤣🤣*