
Malam harinya, Crystal yang sedang berada diluar setelah makan malam langsung bergegas memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara pada saat mendapatkan telepon dari Alvin jika salah satu tambang yang berada dipulau berlian longsor akibat ledakan.
Lea dan Vely yang berada didalam mobilpun akhirnya ikut juga berangkat kepulau berlian karena tidak tega membiarkan sahabatnya yang dalam kondisi hati yang tidak stabil pergi mengatasi permasalahn tersebut seorang diri.
Karena tergesa – gesa, Crystal yang tidak hati – hati menjatuhkan ponselnya di bandara. Akibat terpelanting pada saat dirinya hampir jatuh, ponselnya menabrak tembok dan hancur berkeping – keping.
“ Sudah…nanti kita beli jika sudah tiba disana…”, ucap Vely sambil membantu Crystal berdiri dan mengambil memory card yang tercecer dilantai.
Ketiganyapun segera berlari kencang waktu mendengar jika pesawat yang hendak membawa mereka akan segera tinggal landas.
Ketiganya segera mengatur nafas mereka begitu sudah duduk manis dikursinya masing – masing. Crystal segera menegak habis air yang ada dalam genggamannya sambil melirik kedua sahabatnya yang duduk jauh didepannya.
Vely, Lea dan Crystal tidak bisa mendapatkan tempat duduk yang sejajar karena membeli tiketnya secara dadakan, mengandalkan orang yang batal terbang saat ini.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka tiba di pulau berlian. Ketiganya segera menaiki taxi yang ada dibandara untuk mencapai lokasi tambang yang tiba – tiba longsor akibat ledakan yang sampai saat ini masih belum ditemukan pelakunya.
“ Bagaimana kondisi pekerja ?...”, tanya Crystal begitu sudah sampai dilokasi tambang emas miliknya.
“ Untungnya pada saat ledakan semua orang yang sedang berganti shift belum masuk, jadi hanya ada lima orang korban luka. Sementara tujuh orang sisanya masih terjebak didalam dan sekarang masih dalam tahap evakuasi…”, ucap Alvin menjelaskan.
“ Apa sudah ada titik terang ?...”, Crystal bertanya lagi sambil melihat para petugas mulai membuat jalan masuk untuk mengevakuasi pekerjanya yang terjebak didalam.
Crystal sangat berharap para pekerja yang terjebak didalam gua masuk kedalam bilik cabinet pengaman yang ada didalam sehingga tubuh mereka tidak tertimbun tanah.
“ Dari beberapa saksi yang selamat, mereka sekilas tadi siang sempat melihat Santoso ditambang…”, ucap Alvin memberitahukan temuannya.
“ Saat ini saya sudah menyuruh orang untuk mencarinya dan masih menunggu kabar perkembangan selanjutnya…”, Alvinpun mulai menjelaskan kinerjanya.
Crystal hanya mengangguk menanggapi ucapan asistennya itu. Dia sangat bersyukur mempunyai Alvin yang memiliki gerakan dan pemikiran yang cepat dalam mengatasi segala permasalahan yang ada di proyek saat ini.
Vely dan Leapun tak tinggal diam melihat sahabatnya sedang dalam kesusahan. Memanfaatkan proyek papanya yang ada dipulau berlian, Lea yang memiliki saham didalamnya meminta kolega perusahannya untuk meminjamkannya alat berat buat membantu mengeruk pasir yang menutup gua.
Begitu juga dengan Vely, Nicholas yang sedang meninjau proyek yang berada dipulau berlian tak menyangka jika proyek yang sedang dikerjakannya dekat dengan pertambangan Crystal yang longsor.
Diapun juga meminjamkan alat beratnya beserta para tenaga kerjanya untuk membantu evakuasi orang – orang yang masih terjebak didalam gua.
Dengan bantuan banyak orang dan alat berat yang bekerja dari segala arah, akhirnya korban yang terjebak dalam gua bisa secepatnya dievakuasi.
Dini hari, ketujuh orang yang terjebak dalam gua berhasil diselamatkan dan segera mendapatkan pertolongan pertama dengan tabung oksigen karena sebagian besar dari mereka terlihat mengalami sesak nafas akibat berada didalam timbunan tanah cukup lama.
Selanjutnya, mereka segera dilarikan ke klinik terdekat untuk segera mendapatkan penanganan mengingat ada tiga diantara mereka yang mengalami cidera kaki dan tangan yang cukup serius.
Crystal yang baru saja tiba setelah membelikan makanan dan minuman segera membagikannya kepada semua orang yang telah membantu jalannya evakuasi malam ini.
“ Terimakasih ya semuanya, jika tidak ada kalian, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi…”, ucap Crystal dengan mata berkaca – kaca.
“ Kita adalah sahabat, susah senang kita bersama…”, ucap Lea dan Vely kompak.
Mereka bertigapun segera berpelukan layaknya teletubies, dengan erat dan hangat. Nicholas dan Alvin yang melihat ketiganya menangis dan tertawa secara bersamaan merasa sangat haru.
“ Dia benar – benar wanita hebat…”, puji Alvin dalam hati.
Dia tidak salah langkah telah memutuskan untuk mengikuti dan setia kepada Crystal. Sejak pertama kali bertemu dengan anak bosnya itu, Alvin sudah bisa melihat potensi diri yang ada dalam diri Crystal yang pantas untuk dijadikannya sebagai panutan.
Seorang lelaki berusia enam puluh tahunan yang sejak tadi mengamati Crystal mulai berjalan mendekat ke arah Alvin.
Memakai bahasa asli pulau berlian, lelaki itu berbicara kepada Alvin jika tubuh Crystal saat ini diselimuti energy negatif yang sangat gelap.
Energy negatif itu perlahan terus menyerap hawa murni yang ada ditubuhnya. Bukan hanya menghilangkan sifat positif dan membuat orang yang terselimutinya mudah putus asa hingga depresi, jika dibiarkan terus menerus bukan tidak mungkin energi negatif itu bisa merengut nyawanya.
Alvin sangat terkejut mendengar penuturuan lelaki yang dipanggilnya tetua itu. Dia sangat percaya dengan ucapan tetua kepadanya.
Tapi dia sendiri binggung bagaimana menyampaikan hal itu kepada Crystal. Sebagai kaum terpelajar yang tinggal dikota besar tentunya bosnya itu tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang akan disampaikannya.
“ Nyawanya tidak akan lama, sebaiknya besok antar dia ke kampung, tuan agung bisa menyembuhkannya …”, ucap Ales mengingatkan sebelum beranjak pergi.
Alvin hanya bisa mengangguk sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam, memikirkan bagaimana cara untuk membawa Crystal ke kampung dan menemui tuan agung, anak ketua suku mereka yang bisa menyembuhkan hal – hal mistis seperti ini.
“ Ilmu hitam ini pasti sangat hebat dan kuat karena bisa melewati laut hitam…”, guman Alvin sambil menatap Crystal cemas.
Semua orang tentunya sangat tahu apa itu laut hitam. Segala ilmu hitam yang melewati laut tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Maka bagi siapa saja yang terkena ilmu hitam dan tidak bisa sembuh, cukup dengan datang ke pulau berlian maka secara otomatis ilmu hitam tersebut akan langsung menghilang begitu berada diatas laut hitam.
Namun jika hal itu tidak berhasil, maka bisa dipastikan ilmu hitam itu sangatlah kuat dan hanya tuan agung saja yang bisa menyembuhkannya.
Sesampainya dipenginapan, Alvin yang diajak berdiskusi oleh Crystal terlihat sangat tidak fokus. Dia masih memikirkan semua ucapan Ales kepadanya tadi waktu berada dipertambangan.
“ Hey…kenapa melamun…konsentrasi…”, ucap Crystal sambil menepuk bahu Alvin pelan.
“ Kalian istirahat dulu…semuanya dibicarakan lagi nanti…”, ucap Vely sambil menutup laptop yang ada dihadapan Crystal.
“ Kakak lihat kan berapa kerugian yang ada. Kondisi perusahaan masih belum terlalu stabil. Dengan kerugian ini, aku khawatir akan membuatnya goyah…”, ucap Crystal cemas.
“ Iya, aku paham. Tapi kamu juga harus jaga kondisi tubuhmu. Besok mungkin hal ini bisa kamu konsultasikan dengan papi. Karena terakhir kali papi ingin sekali berinvestasi dipertambangan…”, ucap Vely menyarankan.
“ Benarkah ?...”, tanya Crystal tak percaya.
“ Tentu saja benar. Sekarang kamu istirahat agar bisa berpikir jernih…”, ucap Vely sambil menarik tangan Crystal dan membawanya masuk kedalam kamar.
Sementara itu, Alvin yang masih terduduk di sofa ruang tamu segera menghentikan Lea begitu gadis itu selesai menelepon.
Dia ingin meminta bantuan Lea sebagai sahabat Crystal untuk membawa gadis itu ke kampung dan bertemu dengan tuan agung.
Lea yang merupakan orang bagian timur tentunya cukup paham dan percaya dengan adanya mistis karena di tempatnya berasal hal itu sangatlah kental.
Setelah mendengar cerita Alvin, Lea baru tersadar dengan kejadian tadi siang diapartemennya waktu mendapati Crystal dalam kondisi kacau.
“ Jadi ini penyebabnya..pantes saja…”, guman Lea sambil mengingat – ingat perubahan Crystal yang mulai dirasakannya setelah dirinya bebas dari aksi penculikan dan melakukan perawatan dikediaman utama keluarga Lincoln.
“ Apa?...”, tanya Alvin saat mendengar gumanan Lea yang tidak terlalu jelas.
“ Ehmmm…tidak apa – apa. Jadi besok aku harus membawa Crystal untuk bertemu dengan tuan agung ini…”, tanya Lea memperjelas.
“ Benar…semakin cepat semakin baik, sebelum energinya benar – benar terserap habis…”, ucap Alvin dengan raut wajah risau yang tidak bisa lagi disembunyikan.
“ Ok kalau begitu. Besok pagi kamu siapkan semuanya untuk perjalanan kesana…”, ucap Lea sebelum beranjak pergi untuk beristirahat.
Mendengar ucapan Lea hati Alvin sedikit lega, setidaknya nyawa bosnya itu bisa diselamatkan sebelum semuanya terlambat.