Love Destiny

Love Destiny
INFORMASI



Setelah kelas selesai, Crystal langsung menuju studio pribadi profesor Stevanus dimana kali ini dirinya bersama tim akan melangsungkan meeting.


“ Akhirnya datang juga….”, ucap Erani sambil menepuk bahu Crystal pelan.


“ Maaf agak telat…”, ucap Crystal sambil menggeser kursi yang ada disamping Erani.


Setelah Crystal datang, meeting segera dimulai. Semua orang mulai membahas persiapan untuk renovasi yang akan berlangsung minggu depan.


Pembangunan yang diperkirakan akan memakan waktu enam bulan tersebut membutuhkan pengawasan yang ketat sebab ada beberapa konsep yang cukup rumit disana.


Untuk itu, agar pengerjaan bisa sesuai dengan desain dan tepat waktu maka akan ditempatkan satu orang yang bisa standby disana, untuk mengawasi proyek secara langsung.


Setelah berdiskusi cukup lama akhirya ditetapkanlah Dodit yang akan tinggal disana untuk mengawasi proyek dikarenakan mata kuliahnya sudah selesai dan saat ini tinggal penyusunan skripsi.


Dalam setiap bulannya akan ada yang mengantikan Dodit disana selama satu minggu saat cowok itu melakukan bimbingan skripsi di kampus


Semua orang mendapatkan giliran yang adil untuk berada dikota kembang tempat proyek renovasi berlangsung.Agar semua bisa berkesempatan untuk terjun langsung dilapangan.


Setelah jadwal disusun dan disepakati bersama maka meeting yang memakan waktu hampir empat jam inioun berakhir.


“ Saya harap Crystal dan Dodit bisa menemani saya ke kota kembang minggu depan untuk bertemu dengan pemilik rumah sekaligus memulai pembangunan…”, ucap Stevanus diakhir meeting.


“ Saya usahakan ya prof…tapi saya tidak bisa janji juga….”, ucap Crystal menginterupsi.


“ Jika tidak bisa, setidaknya beritahu saya dua hari sebelum keberangkatan…”, ucap Stevanus mencoba mengerti.


“ Siap…”, ucap Crystal tersenyum lebar.


Sebelum pulang, Crystal menyempatkan diri untuk menemui sang mama yang baru saja selesai arisan di sebuah restoran Jepang yang berada ditengah kota.


Rencananya hari ini dia akan mengorek informasi sejauh mana kakaknya itu terlibat dalam permasalahan yang ada diperusahaan.


Mumpung hari ini Gerald ada pertemuan dengan klien penting hingga malam dan Abraham lagi ada pertemuan dengan sahabatnya waktu kuliah dulu, jadi kemungkinan Leony berada sendirian di rumah sangat besar.


Sesampaianya didepan restoran terlihat wanita paruh baya memakai dress abu - abu dengan motif bunga kecil di beberapa sisinya terlihat tersenyum ceria berjalan kearahanya.


“ Tumben mau jemput mama….”, tanya Selvi curiga.


“ Lagi kangen aja sama mama…”, ucap Crystal dengan nada manja.


“ Mama mau langsung pulang atau ingin kemana dulu gitu…”, tanya Crystal menawarkan.


“ Langsung pulang aja…mama sedikit khawatir sama Leony jika kelamaan diluar…”, ucap Selvi sedikit cemas saat ingat jika Leony dirumah sendirian.


“ Tapi kondisi janin dan kak Leony baik – baik saja kan ma ?….”, tanya Crystal cemas.


“ Sebenarnya tidak begitu baik…namun kakakmu tidak mau dibawa kerumah sakit, nggak nyaman katanya…”, ucap Selvi sedih.


“ Lalu Gerald gimana ?...”, tanya Crystal berusaha memancing pembicaraan.


Bukannya menjawab, Selvi malah terlihat mengambil nafas panjang dan dalam waktu putri bungsunya itu menanyakan menantunya sekaligus mantan kekasihnya itu.


Melihat sang mama terlihat enggan untuk bersuara, Crystalpun segera mengalihkan topik pembicaraan.


" Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat untuk mencari informasi dari mama...semoga nanti dengan kak Leony aku bisa mendapatkan informasi yang kuinginkan....", batin Crystal  sambil menghembuskan nafas dengan kasar.


Crystal kemudian mulai membicarakan mengenai perkuliahannya dan rencana kepergiannya ke kota kembang untuk pengerjaan proyek barunya bersama sang dosen.


Untuk sementara waktu, Selvi bisa melupakan kesedihan yang ada dihatinya dan bisa tertawa lepas waktu Crystal menceritakan keseruannya bersama  Adoff.


Tentu saja Crystal tidak mengatakan jika Adoff adalah seekor serigala. Mamanya itu menganggap Adoff adalah anjing putih yang mengemaskan saat melihat  foto yang ditunjukkan oleh Crystal dimana hanya memperlihatkan sedikit wajah Adoff dan lebih menampilkan bulu lebat putihnya yang seperti salju.


“ Crystal…maafin mama ya nak…”, ucap Selvi tiba - tiba dengan wajah sendu.


Crystal tahu jika selama ini mamanya merasa sangat bersalah karena telah memaksanya untuk bertunangan dengan Arnold dan melepaskan Gerald, demi sang kakak.


“ Aku baik – baik saja kok ma….mama lihat sendiri kan bagaimana baiknya Arnold memperlakukan aku. Mama jangan kepancing omongan orang diluar sana, yang jelas aku sekarang sangat bahagia….”, ucap Crystal tersenyum lebar.


“ Syukurlah kalau begitu…”, ucap Selvi sambil menatap Crystal dengan hangat.


Untuk beberapa saat, Selvi mengamati raut wajah putri bungsunya itu yang terlihat lebih ceria seperti biasa.


Jadi dia merasa sedikit tenang, apalagi dia juga mendengar kabar dari sang suami jika putrinya tersebut sudah mulai aktiv mengurusi perusahaan.


Sebenarnya  Selvi ingin berkeluh kesah tentang hubungan Gerald dan Leony, namun karena tidak ingin melihat Crystal bersedih hati makanya Selvi mengurungkan niat tersebut.


Tak terasa mobil sudah memasuki halaman utama kediaman Abraham. Perlahan bola matanya mengamati garasi mobil yang hanya ada dua mobil disana.


“ Syukurlah…Gerald belum pulang…”, batin Crystal lega.


Diruang keluarga terlihat Leony sedang duduk santai menonton acar televisi sambil ditemani bik Ima yang memijat kedua kakinya yang terlihat mulai membengkak.


“ Bagaimana kabarnya kak ?…”, ucap Crystal sambil memeluk Leony hangat.


“ Baik…kamu sendiri gimana kabarnya ?...”, Leony berucap sambil membetulkan posisi duduknya agar Crystal bisa duduk disebelahnya.


“ Seperti kakak lihat, aku baik – baik saja…”, ucap Crystal tersenyum lebar.


Melihat raut bahagia diwajah sang adik Leony merasa lega. Melihat keduanya sibuk bercerita, Selvipun berjalan masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian.


Perlahan namun pasti Crystal mulai mengorek informasi kepada Leony. Cara Crystal yang sangat halus membuat Leony tidak menaruh rasa curiga pada sang adik dan menjawab dengan lugas setiap hal yang ingin diketahui Crystal.


Leony merasa jika Crystal bertanya karena adiknya itu baru pertama kali aktif di perusahaan jadi perlu bimbingan darinya.


" Lalu...buku itu ada dimana kak ?....", tanya Crystal penuh selidik.


" Ada diruanganku...kamua cari aja dirak bagian kanan atas paling ujung....", ucap Leony sambil mengingat dimana dia meletakkan buku besar tersebut.


" Siapa saja yang tahu mengenai buku itu ?...", Cystal bertanya dengan was - was.


" Kurasa....tidak ada yang tahu. Itu hanya catatan dan bukti - bukti transaksi biasa. Kalau untuk transaksi detailnya kan semua sudah dihandle oleh divisi keuangan.....", ucap Leony santai.


Leony tampaknya tak sadar jika buku besar tersebut sangatlah penting bagi Crystal untuk mendapatkan bukti - bukti kecurangan transaksi yang selama ini terjadi diperusahaan.


Mungkin juga dalam catatan tersebut ada beberapa transaksi yang sengaja tidak dimasukkan kedalam jurnal accounting perusahaan.


" Kalau kamu mau...disamping buku besar itu juga ada map putih berisi beberapa konsep promosi dan produk baru yang gagal kita gunakan karena ide tersebut ternyata sudah digunakan perusahaan lain. Sayang sekali, padahal waktu itu aku sangat yakin jika perusahaan kitalah yang lebih dulu mendaftarkannya. Mungkin itu bisa kamu jadikan acuan nantinya agar tidak kembali salah langkah ...", ucap Leony mengingatkan.


" Baik kak...nanti jika ada hal yang ingin aku tanyakan lagi, aku akan hubungi kakak....", ucap Crystal tersenyum lebar.


Crystal yang mendapatkan informasi dari Leony tersebut merasa sangat senang. Dengan informasi tersebut Crystal jadi tahu langkah apa yang harus segera diambilnya.


Untuk itu, besok pagi - pagi sekali dia ingin pergi kekantor mencari semua berkas yang ada didalam ruangan Leony sebelum dirinya berangkat kekampus..


Pembicaraan kedua terhenti begitu mendengar suara mobil berhenti dan tak lama kemudian sosok yang sangat tidak ingin dilihat oleh Crystal  terlihat berjalan memasuki ruang tamu dengan wajah lusuh.


" Kurasa, pertemuan hari ini tidak berjalan dengan lancar....", batin Crystal tersenyum puas.


Ya...Crystal kembali menikung setiap buyer atau investor yang ingin ditemui oleh Gerald, Santoso dan rekan - rekannya.


Meski membawa bendera yang sama, namun niat buruk merekalah yang membuat Crystal melakukan cara tersebut.


Tentunya para buyer dan investor lebih mempercayai Crystal daripada mereka. Selain karena posisinya paling tinggi diperusahaan dengan jumlah saham terbesar, Crystal adalah putri dari Abraham yang digadang - gadang sebagai penerus perusahaan tersebut.


Membuat siapa saja akan berpihak kepadanya jika tidak ingin tersingkir dari jajaran kursi direksi. Dan yang paling utama adalah, Crystal berani memberikan keuntungan besar kepada mereka.


Melihat Gerald berjalan menuju dapur, Crystal yang malas untuk bertemu dengan kakak iparnya itu segera berdiri dan berpamitan kepada kakak serta mamanya.


“ Kupikir kamu akan menginap disini ?...”, tanya Leony sambil memeluk adiknya itu dengan hangat.


“ Lain kali aja kak aku nginap sama Arnold disini…”, ucap Crystal tersenyum.


“ Sayang…jaga mama baik – baik ya, jangan nakal disana…”, ucap Crystal sambil membelai perut buncit Leony dengan lembut.


Melihat Crystal mengelus perut buncit Leony, Gerald merasa tak senang. Jika malam naas itu tak terjadi, mungkin saat ini Crystallah yang sedang mengandung buah hatinya, bukan Leony.


“ Ma…aku pulang dulu ya. Kapan – kapan kalau ada waktu aku main lagi kesini…”, ucap Crystal sambil mengecup kedua pipi Selvi dan mencium punggung tangan sang mama.


Gerald yang awalnya berada didapur untuk mengambil air minum  karena tiba - tiba tenggorokannya terasa sangat kering segera berlari kecil waktu melihat Crystal berjalan keluar rumah.


Hal itu tidak luput dari penglihatan Leony yang hanya bisa menatap suaminya itu dengan nanar. Selvi yang melihat hal itu hanya bisa mengelus bahu putri sulungnya itu untuk menguatkannya.


“ Crystal!!!…tunggu!!!…aku ingin bicara!!!…”, ucap Gerald sambil menarik lengan Crystal hingga gadis itu menghentikan langkahnya.


“ Ada apa ?  cepat katakan, aku tidak punya waktu banyak untukmu !!!…”, ucap Crystal sambil menarik kasar lengan yang dipegang Gerald dan bersendekap.


“ kapan kamu ada waktu ?...aku ingin bicara empat mata denganmu…”, ucap Gerald sendu.


“ Besok sore dikantor…”, ucap Crystal dan segera bergegas masuk kedalam mobil.


Gerald hanya bisa mengusap wajahnya kasar dengan satu tangannya melihat sikap dingin Crystal kepadanya.


“ Sial !!!...”, ucap Gerald sambil menghantam dinding yang ada disampingnya dengan keras.


Dari balik pintu, Leony mengamati dan mendengar semua interaksi antara Gerald dan Crystal. Tanpa sadar airmata yang sedari tadi berusaha dia bending akhirnya menetes juga.


“ Kapan kamu bisa menganggapku sebagai istrimu dan mencintaiku sedalam itu…”, batin Leony sedih.