
Rumah kediaman Abraham cukup sepi hanya menyisakan Selvi yang sibuk di dapur dan para pekerja. Abraham yang masih belum pulih benar sudah masuk kantor meski sedikit memaksakan keadaan.
Sedangkan Leony menemani Gerald di rumah sakit karena kondisinya masih belum stabil pasca kecelakaan mobil yang dialaminya.
Mengingat semua itu dan ada suatu hal yang ingin Crystal cari kebenanrannya membuat gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumah bersama Vely.
Selvi sedikit terkejut saat melihat kedatangan putri bungsunya bersama seorang gadis yang terlihat pucat dengan mata merah dan bengkak, seperti habis menangis.
Keterkejutan Selvi bukan tanpa alasana, selama ini Crystal hampir tidak pernah membawa temannya kerumah, hanya Gerald dan Adisty yang sering datang ke kediaman Abraham.
Meski sedkit terkejut, namun ada rasa senang yang mulai menyelinap dihatinya, melihat Crystal mempunyai sahabat lain, selain Adisty.
“ Kok pulang nggak ngasih kabar ? Kamu nggak kuliah ? Mana Arnold ? ini siapa ?...”, Selvi mencecar putrinya itu dengan berbagai macam pertanyaan saat gadis itu hendak melangkah masuk kedalam rumah.
“ Satu – satu dong ma tanyanya…”, ucap Crystal sambil nyelonong masuk kedalam rumah saat mencium bau harum dari dapur.
" Mama masak ayam bakar ya....harum banget....", ucap Crystal dengan bola mata berbinar.
Belum sempat Crystal mencomot ayam bakar dan mencocolnya dengan sambal tangannya keburu dipukul oleh Selvi dengan keras.
" Kebiasaan !!!....cuci tangan dulu sana.!!!...", Selvi langsung mendorong Crystal ke wastafel agar mencuci tangannya.
Vely yang melihat pertunjukan ibu dan anak tersebut hanya bisa benggong di tempatnya dan melihat Crystal yang sudah bersiap mengambil nasi dan ayam diatas meja makan.
" Sini duduk....temannya Crystal ya....", ucap Selvi ramah
Sambil mengangguk, Vely mengambil kursi yang tidak jauh dari Crystal. Mengamati adik tingkatnya yang sekarang terlihat makan dengan lahap.
“ Ma, kenalin Ini kak Vely, kakak tingkatku…”, ucap Crystal dengan mulut penuh makanan.
“ Siang tante…”, ucap Vely sopan.
" Ayo ikut makan....", ajak Selvi yang langsung memberikan piring ketangan Vely.
Sebenarnya Vely beluym lapar, karena sekarang dia tidak ada nafsu untuk makan apapun setelah melihat postingan Brian tadi.
Tapi, demi menghargai mamanya Crystal, dengan terpaksa Vely mengambil nasi dan lauk yang ada diatas meja makan.
Melihat Vely mulai memasukkan makanannya kedalam mulut, Crystal tersenyum tipis. Dia senang akhirnya Vely mau mengisi perutnya dengan makanan karena dia tidak mau jika kakak tingkatnya itu sampai pingsan karena kelaparan.
Crystal sangat yakin jika mulai kemarin Vely tidak makan apapun. Bagaimana bisa makan jika sedang patah hati seperti itu.
Melihat kondisi Vely yang terlihat cukup mengenaskan saat ini, Selvi sebenarnya sudah gatal ingin menanyakan banyak hal pada putrinya, namun niat tersebut dia urungkan, takut Crystal tidak nyaman dengan hal itu.
Setelah selesai makan, Crystal segera berdiri dan mengajak Vely untuk naik kedalam kamarnya. Membicarakan semua rencana yang sudah ada dikepalanya saat ini
“ Ma…aku kekamar dulu sama kak Vely ya…”, ucap Crystal dan bergegas naik kekamarnya.
Melihat tingkah sang putri membuat Selvi hanya bisa geleng – geleng kepala. Tapi dia juga bahagia karena putrinya itu sudah memiliki sahabat lain selain Adisty. Setidaknya, dia bisa bernafas lega sekarang.
“ Duduk aja sesukamu…”, ucap Crystal acuh saat mereka sudah masuk kedalam kamar.
Melihat kakak tingkatnya itu duduk manis disofa, Crystalpun segera menuju perpustakaan mini pribadinya yang berada diujung kamarnya dan segera mencari album alumni SMA nya.
“ Ketemu juga akhirnya…”, guman Crystal bahagia.
Crystalpun segera memasukkan album tersebut kedalam tas ranselnya untuk dibawa ke kediaman Arnold nanti. Sekarang dia mencoba fokus terhadap permasalahan Vely.
Mengacu pada ingatan dalam kehiduapn sebelumnya, keluarga Brian ini sangat mengantungkan keuangan mereka pada keluarga Vely.
Selama ini Brian bisa berlaku seenaknya jika tidak ada kedua orang tua mereka. Rasa cinta Vely yang sangat dalam kepadanya diajdikannya senjata agar gadis itu tidak melawan semua perkataan yang diucapkannya.
Meski merugikan, namun Vely yang sangat cinta mati sama Brian rela melakukan apapun agar lelaki itu mau bersama dengannya, meski kehadirannya sering tak dianggap.
“ Langkah awal, putuskan pertunanganmu dengan Brian…”, perintah Crystal santai.
“ Apa ?...Memutus pertunangan ?...”, raut wajah Vely pucat seketika mendengar perintah dari Crystal.
“ Jangan bilang kakak masih belum menyerah dan masih ingin menikah dengannya ?...”, tanya Crystal sambil mengangkat satu alisnya curiga.
“ Ba..bagaimana mungkin…aku hanya ingin lihat dia menyesal…”, Vely gelagapan ditatap seperti itu oleh adik tingkatnya.
“ Tapi Crystal, memutus pertunangan itu tidak segampang yang kamu ucapkan. Kedua perusahaan kami memiliki banyak kerjasama bisnis yang belum selesai. Dan jika tiba – tiba aku membatalkan pertunangan begitu saja, bukankah harga saham perusahaan kami akan turun drastis….kuharap kamu punya solusi lain…”, ucap Vely berusaha menjelaskan situasinya yang ada.
“ Saya melihat berita jika AN group sedang berupaya keras untuk mendapatkan proyek pemerintahan. Dan keluargamu akan menyuntikkan dana milliaran untuk proyek tersebut. Saya khawatir bahwa dana besar tersebut tidak akan cepat balik. Orang tuamu melakukan semua ini hanya karena ingin kamu mempunyai kehidupan yang lebih baik bersama Brian nantinya. Sekarang, setelah melihat watak asli Brian…apa kamu masih ingin memberi mereka keuntungan dan menggunakan keuntungan yang mereka dapatkan untuk menjaga Adisty…”, ucap Crystal berusaha untuk membuka pikiran Vely dengan kenyataan yang ada.
Dalam kehidupan sebelumnya, Brian merupakan salah satu laki – laki yang memenuhi semua materi Adisty. Dia menggunakan sebagian uang yang diberikan oleh mertuanya untuk AN group untuk membuka usaha butik yang akan dikelola Adisty.
“ Sebaiknya kamu segera menghubungi orang tuamu sebelum semuanya terlambat…”, desak Crystal.
“ Bagaimana aku memberikan penjelasan kepada kedua orang tuaku mengenai pembatalan ini….mereka sangat menyukai Brian…jika aku tiba – tiba membatalkan pertunangan secara sepihak, mereka bisa sangat marah karena beranggapan aku hanya membuat ulah dan tidak serius….bagaimana ini…”, Vely kebinggungan.
“ Berikan ponselmu padaku…biar aku yang coba bicara dengan kedua orang tuamu…”, ucap Crystal sambil mengulurkan tangannya.
“ Kamu akan berbicara dengan orang tuaku?…serius?….”, Vely menatap Crystal tak percaya.
Sebenarnya sampai sekarang Vely masih sedikit ragu dengan Crystal. Tidak menemukan kebohongan dalam tatapan adik kelasnya membuat Vely kembali percaya.
Diapun segera menghubungi maminya dan me loudspeaker ponselnya diahadapan Crystal agar dia juga bisa mendengar semua percakapan yang sedang terjadi.
“ Iya Vely…ada apa lagi sekarang ? kenapa kamu menghubungi mami jam segini ? apa kamu kehabisan uang lagi ?...”, cecar sang mami dengan berbagai pertanyaan.
Mendengar suara cerewet sang mami, Vely hanya menyunggingkan senyum kecut diwajahnya. Sedangkan Crystal bersiap untuk beracting di depan maminya Vely.
“ Tante !!!...saya adik tingkatnya kak Vely !!! Kak Vely ingin bunuh diri dengan menabrakkan diri dijalan raya tadi !!!...untung saya lewat dan berhasil menyelamatkannya sebelum ada mobil yang menghantam tubuhnya !!!...sekarang kak Vely masih dalam keadaan syok dan berada dikediaman saya…”, ucap Crystal menjelaskan sambil memberikan alamat rumahnya kepada mami Vely.
Vely cukup terkejut dengan bualan yang disampaikan adik tingkatnya itu. Saat dia ingin menghentikan ucapan Crystal, adik tingkatnya itu sudah melotot kepadanya hingga membuatnya mengurungkan niatnya untuk berbicara.
“ Apa yang kamu katakan !!!...Vely mau bunuh diri !!!...omong kosong apa itu !!!...apa kamu seorang penipu !!!...”, ucap mami Vely penuh amarah.
“ Tante….aku bukan penipu. Aku benar – benar adik tingkat kak Vely. Tapi tante tidak perlu khawatir, kak Vely sudah aman bersama saya. Jika tante tidak percaya, tante bisa menuju kealamat rumah yang sudah saya kirim tadi…”, ucap Crystal berusaha meyakinkan maminya Vely.
Mami Vely yang merasa bahwa gadis yang menelponnya tidak meminta sejumlah uang atau mengancamnya mulai sedikit percaya.
Diapun segera mencari alamat tersebut dimesin pencarian, dan saat dia mengetahui bahwa alamat yang diberi oleh gadis yang mengaku adik tingkat anaknya itu berada dikawasan perumahan elit, yang hanya bisa ditempati oleh konglomerat membuatnya mulai percaya.
Bersama sang suami, mami Vely segera bergegas menuju kediaman Abraham dengan hati cemas, takut putri semata wayangnya itu terluka.
“ Crystal !!! kenapa kamu berbohong kepada mamiku…”, ucap Vely menuntut penjelasan.
“ Aku tidak sepenuhnya bohong…bukankah kemarin sore kakak sempat berpikir untuk terjun kedanau…kalau bukan ingin bunuh diri, lalu apa….aku hanya merubah alurnya saja…”, ucap Crystal kembali mengingatkan Vely kejadian kemarin.
Dalam hati, Vely membenarkan semua ucapan adik tingkatnya itu. Jika bukan karena Crystal menarik tangannya dan berteriak keras, mungkin saat ini dia sudah menjadi mayat.
Vely hanya mengangguk – anggukkan kepala mendengar ide gila yang dilontarakan adik tingkatnya itu keapadanya.
Namun semua ide gila itu terlihat masuk akal bagi Vely yang tidak ingin terus – terusan dijadikan boneka dan dibodohi oleh keluarga Brian.
Untuk memuluskan rencananya, Crystal bahkan melibatkan sang mama dalam skenario yang telah dibuatnya.
Dihadapan sang mama, Crystal bercerita bahwa kakak tingkat yang pulang bersamanya itu hampir saja bunuh diri di jalan raya akibat di khianati tunangannya.
Selvi yang sempat melihat mata teman putrinya bengkak dan merah percaya begitu saja dengan ucapan sang putri.
Crystal pikir, saat kedua orang tua Vely datang pasti akan bertemu dengan sang mama. Dan saat itu, alur cerita yang telah dibuatnya akan dimulai.