Love Destiny

Love Destiny
Epson 379



Setelah bertemu dengan Niko Nathia memutuskan untuk pulang, wanita itu berjalan masuk kedalam rumah dengan lesu.


Niken yang melihat putrinya begitu lesu dan tidak bersemangat pun memutuskan untuk menghampiri Nathia, Niken meraih pundak Nathia.


"Sayang ada apa dengan kamu hmmmmmm?" Tanya Niken, bukannya menjawab Nathia justru melepaskan rangkulan mami nya lalu kembali berjalan menuju kamar.


"Sayang." Panggil Niken.


"Jangan ganggu, aku sedang ingin sendiri." Ucap Nathia, wanita itu berjalan menaiki anak tangga.


"Ada apa dengan anak itu, tidak biasanya dia seperti ini." Gumam Niken, terlihat Nathan yang berjalan mendekati Niken ikut menatap Nathia.


"Ada apa sayang?" Tanya Nathan.


"Hmmmmmm, dia terlihat begitu lesu." Ucap Niken, Nathan mengangguk dan tersenyum.


"Biarka saja, ini urusan anak muda kita tidak bisa terus ikut campur." Ucap Nathan.


"T_tapi." Ucap Niken.


"Biarkan Nathia memilih jalan hidup nya sendiri, percaya saja dia bisa memilih jalan hidup nya dengan baik." Ucap Nathan, Niken pun tersenyum manis kepada suaminya.


Di tempat lain tepatnya di kediaman Dena seorang gadis cantik sedang merebahkan tubuhnya, gadis itu menatap langit-langit kamar.


"Apakah dia benar-benar serius? Tapi bagaimana jika semuanya berubah, tidak ada yang tahu bukan apa yang terjadi di masa depan." Gumam Ayaza.


"Kenapa harus pusing, jika kamu dan dia yakin kalian pasti bisa melewatinya." Ucap Ria, ya Ayaza mengajak Ria untuk menginap di rumahnya.


"Kamu tahu setelah studi nya selesai dia akan pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan keluarga nya, atau mungkin sebelum studinya selesa." Ucap Ayaza.


"Huh? Apakah dia akan pindah kuliah?" Tanya Ria.


"Mungkin saja." Jawab Ayaza.


"Waaaah, kamu tahu diluar sana banyak wanita cantik za." Ucap Ria, Ayaza mengangguk ya ia tahu itu.


"Yes i know, maka dari itu aku tidak terlalu berharap besar." Ucap Ayaza, Ria mendengus bukan itu maksud Ria.


Yaampun kenapa Ayaza menjadi wanita yang begitu simple, kenapa Ayaza tidak minta untuk melanjutkan studi nya dimana lelaki itu akan tinggal.


"Are you crazy Ayaza." Kesal Ria, Ayaza mengernyit heran kenapa Ria terlihat begitu kesal.


"Huh?" Sahut Ayaza, Ria menepuk dahinya sendiri.


"Apa gunanya kamu memiliki mommy dan Daddy yang banyak uang, jika tidak bisa membuat kamu melanjutkan studi dimana lelaki itu akan tinggal nanti." Uxao Ria, Ayaza tercengang mendengar perkataan Ria.


"Apa?" Tanya Ayaza terkejut.


"Why not Ayaza, kamu tahu jika kamu tinggal di negara yang sama itu artinya kamu bisa memantau dia." Ucap Ria.


"Hahahaha, kamu g*la Ria." Ucap Ayaza, Ria menatap Ayaza heran.


"Kenapa?" Tanya Ria.


"Aku seorang wanita mana mungkin aku mengejarnya." Ucap Ayaza, sifat Dena benar-benar menurun kepada Ayaza.


"Memangnya kenapa jika kamu wanita" Tanya Ria, Ayaza mendorong kening Ria.


"No, aku tidak akan melakukan itu. Apa kata orang seorang Revalia Ayaza Richard pindah hanya demi seorang lelaki." Ujar nya tidak percaya.


"Ini nih, ini yang dinamakan gensi tepi was-was." Ucap Ria, Ayaza menatap Ria tajam.


"Gak, aku dan dia belum ada hubungan apa-apa jadi untuk apa aku melakukan hal bo*oh seperti itu." Ucap Ayaza.


"Ayaza ayolah." Ucap Ria, gadis cantik itu tahu betul bagaimana Ayaza.


"Gak." Ucap Ayaza.


"Tepat sekali." Ucap Ayaza.


"Ya, dan mungkin juga saat dia kembali dia mengajak seorang wanita lalu berkata, perkenalkan ini adalah anak dan istri ku." Ucap Ria, Ayaza terbelalak bukankah Ria hanya mengatakan seorang wanita.


"Ish, seorang wanita kenapa tiba-tiba bawa anak." Ucap Ayaza memukul tangan Ria.


"Hahaha, mungkin saja mereka menikah secara diam-diam lalu memiliki anak." Ucap Ria, Ayaza menggelengkan kepalanya.


"Kau g*la, kita ini masih sekolah kenapa membicarakan hal seperti itu." Ucap Ayaza.


"Tidak masalah itu hanya bayangan saja kan." Balas Ria santai, Ayaza menyetujui perkataan Ria.


Lagipula hanya Ria yang bisa di ajak berbicara santai seperti ini, Ayaza tidak mungkin berbicara hal memalukan seperti ini dengan mommy nya.


"Za kak El ganteng deh, dia udah punya pacar belum." Ucap Ria, menatap foto El dan Aya yang di pajang di kamar Ayaza.


"Hmmmmmm, sudah kenapa jangan bilang_" Ucap Ayaza.


"Yah, tadinya mau daftar za jadi calon kakak ipar." Ucap Ria bercanda, Ayaza langsung tertawa mendengar perkataan Ria.


"CK, tipe kamu cowok kaya gak El." Kekeh Ayaza.


"Eh, jangan salah cowo kaya gitu biasanya langka za." Ucap Ria, Ayaza tertawa kecil menatap fotonya dan El.


"Dia itu dingin ri, kenapa kalian bisa suka sama cowok kaya kak El." Ucap Ayaza, Ria tersenyum tipis.


"Jangan salah za cowok yang terlihat dingin itu lebih sweet kalau sama pasangan nya, lebih menyentuh hati gitu." Ucap Ria, Ayaza bergidik ngeri ia tidak tahu tentang hal itu.


Yang dia tahu El terlalu dingin meskipun sikap nya itu sering membuat Ayaza kesal, namun El selalu membela Ayaza jika adik nya sedang di kuliahi sang mommy.


"Hmmmmmm, mungkin juga si. Atau mungkin kak El seperti itu hanya di hadapan pasangan nya." Ucap Ayaza, Ria mengangkat telunjuknya.


"Nah tepat sekali, kalau kak El seperti itu di hadapan orang lain mungkin wibawa nya akan hilang." Ucap Ria, Ayaza mengangguk menyetujui hal itu.


Jangan kan El Ayaza saja selalu bersikap dingin kepada orang lain, Ayaza akan bersikap baik dan ramah hanya kepada orang-orang terdekat nya yang ia rasa dapat dipercaya.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜Š


N***: Boleh minta sahabat kaya ria gak si 😌


A: Kaga ada di dunia nyata kaya nya un 😌


N: Bener juga, sahabat yang bener-bener tulus mah cuma ada di novel doang 😁


A: True 😊


N: NgokheyπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚