Love Destiny

Love Destiny
KEPUTUSAN



Cukup lama keduanya terdiam dengan posisi Crystal berada dalam pangkuan Arnold. Lelaki itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Crystal dan mulai tertidur dengan lelap.


Jika begini, Crystal sudah tidak bisa berkutik lagi hingga sang iblis terbangun dari tidurnya. Sambil menunggu Arnold bangun, Crystal terus saja berkomunikasi dengan Andrew mengenai Santoso dan kroni – kroninya.


Crystal juga meminta bantuan Lea yang ahli dalam bidang  IT untuk meretas system yang dipakai Santoso untuk menjalankan aksinya.


Sambil menunggu Andrew dan Lea bekerja, Crystal mulai mengutak atik data yang didapatkannya dan mulai menganalisa semuanya.


Melihat Santoso yang sangat buru – buru melakukan aksinya, Crystal sangat yakin jika besok sore mereka tidak akan langsung melakukan transaksi.


Crystal berusaha untuk mencari celah agar usaha Santroso tersebut gagal. Berbagai alternative solusi dia analisis dengan cermat untuk menilai berapa persen tingkat penyelesaian tersebut akan berhasil.


Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya Crystal mendapatkan data yang diinginkannya dari Lea.


“ Seperti dugaanku…rencananya sangat mentah…”, ucap Crystal tersenyum bahagia.


Diapun segera menghubungi Andrew untuk mempersiapkan semua hal yang akan dibawanya besok ke pulau berlian.


Karena Arnold sedikit rewel, Crystalpun memutuskan untuk berangkat ke pulau berlian langsung setelah pulang dari kediaman utama keluarga Lincoln.


Jarak ke bandarapun tidak terlalu jauh jika dia berangkat dari sini, hanya memerlukan  waktu sekitar dua puluh hingga tiga puluh lima menit saja.


Lebih cepat dan efisien daripada dia harus pergi keperusahaannya dulu. Untuk semua data yang diperlukan, dia tinggal meminta Andrew untuk mengirimkannya.


Untuk  berjaga – jaga, Crystal akhirnya memutuskan untuk mengajak Lea pergi ke pulau berlian. Kemampuan gadis itu di bidang IT tidak diragukan lagi, membuat Crystal merasa jika dirinya nanti akan membutuhkan bantuannya selama disana.


Apalagi di pulau berlian  juga ada perusahaan sang papa, jadi sekali dayung dua tiga pulau bisa terlampaui. Begitulah, semua rencana selama berada di pulau berlian sudah Crystal dan Lea susun serapi mungkin.


Crystal menghentikan kegiatannya saat melihat Arnold sudah terbangun. Meski masih belum sepenuhnya membuka mata, tubuh laki –laki tersebut sudah bergerak menandakan kesadarannya sudah kembali.


“ Jam berapa sekarang ?...”, tanya Arnold masih tidak merubah posisinya sama sekali.


“ Sudah jam 12 malam. Apa kamu ingin pindah ke kamar ?...”, Crystal menawarkan


“ Apa kau mau menemaniku ?...”, tanya Arnold dengan suara seraknya.


“ Iya, aku akan menemanimu…”, ucap Crystal sambil menangkup wajah Arnold dengan kedua tangannya.


“ Ayo turun…”, ajak Crystal sambil turun dari pangkuan Arnold.


“ Kamu duluan saja…”, ucap Arnold sambil membereskan beberapa dokumen penting yang ada diatas meja kerjanya.


“ Ok…”, jawabku singkat.


Crystalpun kemudian keluar dari ruang kerja dengan tas ransel yang dibawah dipundaknya dan  melangkah turun. Diruang tamu, tampak Casandra sedang duduk di sofa menunggu Arnold.


“ Mau kemana ?...kamu menginapkan ?...”, tanya Casandra basa – basi saat  melihat Crystal turun sambil membawa tas ranselnya.


“ Tentu saja dia harus pulang. Bagaimana dia memenuhi syarat untuk tinggal di kediaman utama…”, ucap Vreyan mengejek.


Belum juga Vreyan menyelesaikan kalimatnya, seorang pelayan datang menghampiri ketiganya membuat Vreyan terdiam seketika.


“ Nona, jika anda mau istirahat, anda bisa menggunakan kamar yang biasanya…”, ucap pelayan tersebut membungkuk hormat.


“ Kamar yang biasanya ?...apa maksudmu ?...”, ucap Vreyan binggung.


“ Maksud saya, kamar yang biasanya nona Crystal gunakan saat berkunjung  ke kediaman utama…”, ucap pelayan itu menjelaskan.


Vreyan menunduk rendah dan punggungnya terasa membeku untuk sesaat sebelum keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya.


Setelah ketakutan itu hilang, kemarahan yang teramat sangat kembali membuat darahnya semakin mendidih. Crystal acuh dan pergi menuju kamarnya berada diikuti oleh pelayan wanita yang tadi menghampirinya.


“ Vreyan, kemarilah !!!...”, perintah Arnold tegas.


“ Arnold…jangan salahkan Vreyan, dia tidak bersungguh – sungguh…kamu tahu bagaimana dia kan…”, ucap Casandra khawatir.


“ Nona Casandra, anda tidak perlu berbicara untukku !!!...”, ucap Vreyan sambil melangkah naik mengikuti kemana Arnold membawanya pergi.


Sesampainya didalam ruangan, Arnold segera duduk dikursi antik yang lebar dan sederhana sambil memandang seorang pemuda yang berdiri tegak ditengah ruangan.


Wajah Vreyan dipenuhi oleh kekeras kepalaan dan ketidak puasan tersirat jelas dari raut wajahnya.


Ekspresinya pemuda itu sekarang seperti anak serigala liar yang susah diatur. Hanya ada satu cara menjinakkan orang seperti dia, harus dengan orang yang lebih hebat dan kuat dari pada dirinya.


Jika tidak yang bisa menaklukkannya maka dia tidak akan pernah tunduk pada siapapun sampai mati.


“ Apa ada yang ingin kau katakana ?...”, tanya Arnold santai.


“ Aku tidak berani tuan…”, guman Vreyan pelan.


“ Kamu tidak berani…”, suara rendah Arnold penuh dengan aura penindasan.


Vreyanpun mengertakkan giginya dengan keras, berusaha untuk menahan semuanya, namun tidak bisa hingga akhirnya dia mulai bersuara.


“ Sebenarnya, saya punya pendapat. Tuan…sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa anda memilih wanita seperti Crystal untuk berada disisi anda ?...”, Vreyan mengungkapkan apa yang mengganjal dalam hatinya.


“ Lalu dalam pikiranmu, wanita seperti apa yang sebaiknya aku pilih ?..”, bukannya menjawab, Arnold malah balik bertanya masih dengan nada datarya.


“ Tentu saja seseorang yang cantik luar dalam, yang berpengetahuan luas dan terampil dalam seni bela diri. Hanya wanita seperti itulah yang kompatibel dengan anda. Bagaimana anda bisa bersama dengan wanita bodoh yang tidak berguna yang membutuhkan perlindungan anda sepanjang waktu. Dan saya tidak percaya jika anda memilih wanita hanya berdasarkan  fisik saja…”, Vreyan menjelaskan panjang kali lebar apa yang ada dalam pikirannya.


Berada disisi tuan mudanya begitu lama membuat Vreyan cukup paham jika bos nya itu memiliki standart yang sangat tinggi terhadap berbagai macam hal.


Semua orang percaya jika tuan mudanya itu tidak ingin dekat dengan wanita, tetapi menurut Vreyan hal tersebut tidaklah benar.


Selama ini semua wanita yang berusaha mendekati tuan mudanya itu tidak ada yang menarik, jika ada satu wanita yang sangat luar biasa, maka wanita itu tentunya akan menjadi pendamping yang cocok dengan standart bosnya itu.


“ Cantik…luar dalam…berpengetahuan luas, dan terampil dalam seni bela diri…maksudmu, aku harus menikahimu atau Emily begitu….”, ucap Arnold datar sambil menatap tajam Vreyan.


Mendengar ucapan sang bos, otak Vreyan seperti jatuh dengan cepat membuat dia seketiga tercengang.


“ Bagaimana mungkin !!!...bukan begitu !!!...maksud saya adalah…”, Vreyan gugup, bagaimana seharusnya dia menjelaskan agar bos itu paham.


“ Siapa yang memberitahumu bahwa pasangan saya hanya mempunyai tiga kriteria itu ?...”, tanyanya dengan suara yang lembut tapi tatapannya sangat dingin.


“”Kalau begitu, menurut tuan muda orang seperti apa dia ?....”, tanya Vreyan dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


Selama ini dia belum pernah mendengar langsung tuan mudanya menyebutkan kriteria wanita idamannya. Jadi saat memasuki konteks ini tentu saja rasa ingin tahu Vreyan sangat tinggi.


“ Tak tertandingi…”, ucap Arnold dengan suara rendah dan serak.


Mendengar hal itu seketika rahang Vreyan terjatuh. Dia sama sekali tidak menyangka jika standart gurunya itu sangatlah tinggi dan diluar batas normal.