Love Destiny

Love Destiny
TINDAKAN



Elisabeth terlihat duduk termenung disebuah sofa sambil sesekali menghela nafas panjang, memperhatikan semua orang yang sibuk berlalu - lalang membereskan semua kekacauan yang baru saja terjadi.


Melihat Elisabeth yang masih diam tak beranjak membuat Crystal akhirnya datang menghampiri dan mengajak wanita tua itu untuk pulang.


Demi keamanan, Crystal dan Elisabeth pulang diantar Emily dan beberapa orang bodyguard yang setia mengawal mereka dari belakang.


Dalam perjalanan keluar, beberapakali Elisabeth tampak menoleh kebelakang dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang penuh dengan bercak darah dan berbau anyir tersebut.


Padahal acara sudah berjalan dengan lancar dan semua orang tampak sangat berbahagia dalam pesta pernikahan cucu kesayangannya itu hingga kedatangan Frans mengacaukan segalanya.


“ Ayo nek…”, ajak Crystal waktu melihat Elisabeth masih terlihat sedikit linglung.


Dengan sabar Crystal membantu Elisabeth untuk naik kedalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya sambil tersenyum manis.


“ Maafkan nenek ya Crystal…gara – gara nenek, pesta pernikahanmu menjadi kacau seperti ini…”, ucap Elisabeth penuh penyesalan.


“ Nenek jangan terlalu banyak berpikir. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan nenek. Itu yang utama…”, ucap Crystal sambil tersenyum.


Crystal lalu mengenggam kedua tangan Elisabeth dengan erat, mengalirkan perasaan hangat dan berusaha untuk menenangkan hati wanita tua itu agar tidak terus gelisah.


“ Sungguh beruntung Arnold mendapatkan istri yang pengertian sepertimu…”, ucap Elisabeth sambil mengelus pipi kanan Crystal dengan tersenyum.


Crystalpun segera memeluk Elisabeth dengan erat, berusaha untuk meredakan rasa bersalah wanita tua itu terhadap dirinya dan menguatkannya.


Keduanya kembali terdiam hingga mobil masuk kedalam kediaman Arnold. Dengan penuh kesabaran Crystal membantu Elisabeth keluar dan menuntunnya masuk kedalam rumah.


“ Bagaimana jika nenek tinggal disini untuk sementara waktu ?...”, tanya Crystal begitu mereka sudah duduk di ruang tamu.


“ Tidak.... nenek tidak mau menganggu waktu kalian…”, ucap Elisabeth sambil menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali.


“ Yang diucapkan Crystal itu benar.  Untuk sementara waktu, tinggallah disini sampai semua kekacauan ini berhasil kubereskan…”, ucap Arnold yang tiba – tiba sudah hadir diantara mereka.


Mendengar ucapan cucu kesayangannya dan cucu menantunya hati Elisabeth terasa menghangat. Kedua matanya terlihat berkaca – kaca karena terharu dengan perhatian yang mereka berikan.


“ Baiklah, jika kalian memaksa…”, ucap Elisabeth sambil tersenyum bahagia.


Melihat sang nenek terlihat sangat lelah, Crystalpun segera membawa Elisabeth menuju kamar tamu yang sudah disiapkan, agar nenek Arnold itu bisa beristirahat setelah melalui hari yang cukup panjang dan melelahkan.


“ Crystal…”, panggil Elisabeth begitu mereka sudah ada didalam kamar.


Dari dalam tas kecilnya, Elisabeth mengeluarkan sebotol obat yang diadapat dari dokter Robert dan diberikannya kepada Crystal.


“ Apa ini nek ?...”, tanya Crystal penasaran.


“ Vitamin....Sebaiknya, sebelum tidur kamu minum sebutir agar kesehatanmu bisa terus terjaga…”, ucap Elisabeth menjelaskan.


“ Terimakasih nek…”, ucap Crystal sambil mengecup pipi Elisabeth dengan riang.


Tidak ingin mengecewakan sang nenek, Crystalpun meminum satu butir vitamin yang telah diberikan Elisabeth kepadanya dan menyimpan sisanya didalam saku bajunya.


“ Sekarang, nenek harus istirahat…”, ucap Crystal sambil membantu Elisabeth untuk naik keatas ranjang.


Crystalpun mulai mengatur bantal yang akan digunakan Elisabeth untuk tidur. Setelah posisinya dirasa nyaman, diapun segera menyelimuti tubuh Elisabeth agar hangat.


“ Selamat malam nek…”, ucap Crystal sambil mengecup kedua pipi Elisabeth sebelum pergi meninggalkan kamar.


“ Bereskan semuanya !!!...bersihkan sampai keakar – akarnya !!!…”, perintah Elisabeth tegas.


Meski Arnold berkata akan membereskan masalah Frans, namun sebagai pemicu aksi balas dendam ini, Elisabeth tidak mau hanya berdiam diri sebagai penonton saja.


Apalagi dua kali Frans berhasil menerobos pengamanan ketat yang dia lakukan, sehingga dia harus segera menyelesaikan semuanya secepat mungkin.


Dia tidak mau Frans dan kroni – kroninya kembali mencari celah dan berulah  untuk menyakiti anggota keluarganya yang lain.


Sementara itu, didalam kamarnya Crystal yang sudah merasa sangat lelah segera membersihkan diri didalam kamar mandi.


Setelah itu, dia mulai merebahkan tubuh munggilnya diatas ranjang yang sedari tadi sudah memanggil – manggil namanya.


Karena terlalu capek, hanya dalam hitungan detik saja Crystal sudah terbang kedalam dunia mimpi sambil memeluk bantal yang ada dalam dekapannya dengan erat.


Arnold yang baru saja masuk kedalam kamar hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat istrinya sudah tertidur pulas diatas ranjang.


“ Sabar ya…”, guman Arnold berusaha menenangkan hewan buas yang ada dalam tubuhnya agar tidak bergejolak.


Arnold kemudian segera pergi kedalam kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang sudah mulai memanas setelah melihat paha mulus sang istri yang sempat tersingkap dari balik selimut yang menutupinya.


Setelah selesai, Arnold yang sudah memakai piyama bergegas masuk kedalam selimut sambil berbaring menyamping, memandang wajah cantik sang istri yang tertidur pulas.


Beberapa kali terlihat Arnold membenarkan rambut yang menutupi wajah cantik sang istri sambil tersenyum lembut, menatap wajah teduh wanita yang berhasil merebut hatinya itu.


Sementara itu, ditempat lain anak buah Arnold dan Elisabeth mulai menyusuri jejak – jejak Frans yang tertinggal dan membumi hanguskan semuanya.


Sesuai perintah, semua yang berkaitan dengan Frans dihabisi hingga sampai ke akar – akarnya agar api dendam tersebut langsung padam dan tidak kembali menyala.


Charles yang mendengar kabar tersebut hanya tersenyum masam. Untungnya dia tidak sempat masuk kedalam permainan yang dibuat oleh Frans.


Jika tidak, mungkin dia akan mengalami kerugian yang banyak dari perjanjian yang tidak terlalu menguntungkan tersebut.


“ Dasar bodoh !!!...”, guman Charles tersenyum miris melihat bagaimana Frans beserta jaringannya dilenyapkan dalam semalam.


“ Dia salah perhitungan…”, ucap Enrico sambil menyesap rokok yang ada ditangannya.


“ Lalu…apa langkahmu selanjutnya…”, tanya Charles sambil melirik cucu semata wayangnya yang terlihat sibuk memainkan rokok yang ada ditangannya.


“ Aku akan menjadi duri dalam pernikahan mereka…”, ucap Enrico gamblang.


“ Apa kamu yakin ?…”, tanya Charles dengan senyum mengejek.


“ Apa kakek meragukan kemampuanku dalam memikat wanita ?...”, Enrico berkata sambil menatap kakeknya dengan tajam.


“ Buktikan….”, ucap Charles sebelum meninggalkan Enrico yang diam – diam mengepalkan kedua tangannnya dengan kuat.


“ Ternyata, semua yang kulakukan masih belum membuat kakek puas…”, batin Enrico geram.


Selama ini Enrico selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam segala hal agar kakeknya itu bangga terhadapnya dan mengakuinya.


Namun, tampaknya perjuangan dan kerja kerasnya selama ini masih belum bisa membuat laki – laki tua itu  mengakuinya.


Charles selalu saja membanding – bandingkan dirinya dengan Arnold yang dinilai memiliki kemampuan dan kualitas yang lebih jika dibandingkan dengan dirinya.