Love Destiny

Love Destiny
Epson 166



Malam hari di negara K seorang lelaki masih berkutat dengan pekerjaan nya, ia tidak ingin membuang waktu nya.


Ia ingin segera menemui anak dan istrinya, apapun akan ia lakukan asal bisa bertemu dengan anak dan istrinya.


"Kean." Panggil nyonya Ellen, yang masuk kedalam ruang kerja putranya.


"Hmmmmm." Sahut Keanu.


"Makan dulu, jangan terlalu banyak bekerja. Kamu bisa menyusul Dena tapi tidak seperti ini." Ucap nyonya Ellen menepuk pundak Keanu.


"Aku tidak bisa terlalu lama jauh dengan Dena mom." Ucap Keanu.


"Kenapa? kau benar-benar tidak bisa jauh dengan Dena atau dengan El?" Goda sang mommy.


"Tentu saja dengan Dena." Balas Keanu.


"Ada apa dengan Dena?" Tanya nyonya Ellen.


"Karena Dena yang akan selalu menemani hari-hari Kean, disaat El besar nanti ia akan sibuk dengan dunianya sendiri. Dan mungkin dia akan pergi untuk menjalani hidup nya, bahkan mungkin ia akan pergi dengan keluarga kecil nya saat ia sudah menikah." Ucap Keanu.


"Lalu?" Tanya nyonya Ellen.


"Tapi tidak dengan Dena, dia akan selalu bersama dengan Kean. Lagi pula tidak perlu menunggu El dewasa, sekarang pun sudah seperti itu. Dena yang selalu ada untuk Kean." Jawab nya.


"Jagalah istri mu, apalagi jika dia sudah benar-benar memberikan hidup dan segalanya untuk mu." Ucap nyonya Ellen.


"Aku akan selalu menjaga nya mom, aku tidak ingin menyakiti hati nya. Bukankah kesuksesan seorang suami tergantung kepada kebahagiaan seorang istri." Ucap Kean membuat nyonya Ellen tertawa kecil.


"Kau sudah begitu besar." Ucap nyonya Ellen gemas.


"Tentu saja, bahkan aku sudah memiliki anak jika mom lupa." Kekeh Keanu.


"Sudahlah makan dulu, jangan sampai kau sakit sebelum membawa pulang anak dan istri mu." Ucap nyonya Ellen lagi, Keanu mengangguk dan tersenyum.


Ia menatap kepergian mommy nya, Kean menyandarkan tubuhnya di kursi. Lalu memejamkan matanya sekilas ia membayangkan tubuh mungil El yang tertawa dan berjalan, lalu ia membayangkan Dena yang sedang merajuk manja kepada nya.


"Aku bisa g*la jika terus membayangkan mereka, aku harus cepat-cepat menyusul mereka." Gumam Keanu.


...


Sementara di tanah air di sebuah rumah besar Dena menuruni anak tangga bersama dengan Rafael, ia benar-benar tidak lepas dari putranya.


"Si Rafael gemesin." Ucap Mei tertawa kecil.


"Mommy." Ucap El takut.


"Lah kenapa?" Tanya Dena tertawa kecil, Dena duduk di karpet bergabung dengan keluarga nya.


"El sudah makan de?" Tanya bunda Sisil.


"Sudah Bun." Jawab Dena.


"El kemari." Panggil Justin, El menatap Justin dan memanggil nya Daddy.


"Daddy." Ujar El membuat semuanya tertawa.


"No, itu bukan Daddy bro." Ucap Dena tertawa kecil.


Carl memperhatikan kedekatan Dena dengan Rafael putranya, begitupun dengan Anna. Dena benar-benar sudah menjadi wanita cantik dan begitu dewasa, jauh dari pemikiran nya dulu yang berfikir jika Dena sedikit manja.


"Huuuhhh?" Sahut El terkejut.


"Bukan itu bukan Daddy." Ucap Dena menjelaskan.


"Mommy Daddy." Lirih nya.


"El ingin Daddy?" Tanya Dena.


"Daddy." Jawab nya antusias.


Dena pun memutuskan untuk melakukan panggilan video dengan Keanu, ia tidak ingin membuat El rindu terlalu besar kepada Kean.


**Panggilan video!!!


Keanu**: Hallo. (lembut)


Keanu: Weees jagoan, kenapa boy?😁 ( Tersenyum )


Dena: Anak nya rewel pengen ke Daddy.πŸ˜’


Keanu: Secepatnya aku kesana, El sedang apa sudah makan?😁


Dena: Ini anak nya lagi liatin muka kamu, sudah dia sudah makan. πŸ€ͺ


Kean: Mommy nya sudah makan?😁


Dena: Gak nafsu makan aku.😣


Kean: Dih kumat πŸ˜‚


Dena: Gak usah solimi, cepet jemput aku πŸ˜’.


Perkataan Dena yang meminta di jemput sontak membuat para keluarga heran, kenapa Dena jadi tidak betah berlama-lama di negara nya.


*Kean: Sabar nyonya, nanti aku jemput πŸ˜‚


Dena: Yasudah kamu jangan lupa makan, istirahat sana.😊


Kean: Hmmmmm, baiklah*.


Panggilan video pun terputus, El menatap Dena yang mematikan panggilan nya.


"Kenapa bro?" Tanya Dena tertawa kecil.


Bukannya menjawab El justru melengos mendekati bunda Sisil, El hanya berani berada di dekat Dena dan berada di dekat bunda Sisil.


"Mau ngapain itu?" Tanya Dena.


Namun El hanya tersenyum saja dan duduk di dekat bunda Sisil, Dena menghela nafasnya membiarkan saja putranya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Rafael



Daddy



happy reading πŸ˜ŠπŸ€— jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


*A: Dah ya seadanya dulu 😊


N: Oke tidak masalah πŸ˜‚


A: Jangan lupa vote nya ngokheyπŸ˜‚


N: ngokhey😁*