
Malam semakin larut, semua orang sudah berada di alam mimpinya masing – masing, begitu juga Leony hingga rasa kering ditenggorokan hadir dan menyiksanya, membuat dia dengan enggan melangkahkan kakinya turun dari ranjang.
“ Ya…habis…”, guman Leony sedih waktu menyadari jika air minum dalam kamarnya habis dan Gerald tidak mengisinya kembali.
Dengan nyawa yang masih belum sepenuhnya terkumpul, Leony mulai membuka pintu kamar dan berjalan menuruni anak tangga menuju dapur.
Leony menuruni anak tangga satu persatu secara perlahan sambil mengelus perut buncitnya, sesekali dia berhenti untuk mengatur nafasnya yang mulai tersenggal.
Hamil enam bulan membuatnya gampang sekali kelelahan. Untuk itu, tiap kali turun beberapa langkah dia akan berhenti sejenak untuk mengatur nafas.
“ Ah…segarnya…”, ucap Leony tersenyum.
Setelah mengisi botol air minum yang dibawanya, Leony yang hendak kembali naik kedalam kamarnya samar – samar mendengar suara suaminya dari taman belakang yang pintunya terbuka.
Sambil mengendap – endap Leony mendekat ke arah Gerald yang sedang berdiri membelakanginya.
Karena posisinya yang sedikit jauh, Leony tidak terlalu jelas apa yag sedang dibicarakan oleh suaminya dengan seseorang di telepon tersebut, namun yang pasti hal ini berkaitan dengan sang adik, Crystal.
“ Aku harus melakukan sesuatu untuk Crystal…”, batin Leony cemas.
Tidak ingin aksinya ketahuan Gerald, Leonypun segera beranjak dari sana setelah melihat suaminya itu hampir selesai berbicara.
Leony yang naik ke dalam kamarnya dengan cepat terlihat sedikit kepayahan akibat beban tubuh yang ada.
Sambil membungkuk dan memegangi perutnya, denga tertatih Leonypun segera duduk di tepi ranjang sambil mengatur nafasnya yang mulai tersenggal.
Masih ngos – ngosan Leonypun segera menegak air minum yang tadi dibawanya dari dapur dengan cepat hingga tak terasa air dalam botol tersebut kembali habis tak bersisa.
Begitu mendengar suara langkah kaki mendekat, Leony buru – buru masuk kedalam selimut dan pura – pura memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, suaminya datang dan langsung tidur disampingnya setelah mematikan ponselnya terlebih dahulu dan meletakkannya diatas nakas.
Setelah Leony mendengar suara dengkuran halus yang keluar dari mulut Gerald, dengan perlahan dia mengambil ponsel sang suami dan daim – diam menyalakannya.
Untungnya Leony sempat melihat password ponsel Gerald, jadi dia bisa dengan mudah membuka menu aplikasi dalam ponsel tersebut.
“ Mr. A ?....siapa dia ?...”, batin Leony penasaran waktu melihat menu panggilan dari ponsel sang suami.
Leony tidak menemukan petunjuk apapun selain siapa yang baru saja menghubungi suaminya. Tampaknya Gerald sangat berhati – hati sehingga tidak ada pesan apapun yang bisa terbaca diponselnya.
Setelah merasa tidak menemukan apapun diponsel Gerald, Leony segera mematikan dan meletakkan kembali ponsel tersebut pada posisinya.
Sambil berbaring dia kembali mengingat – ingat percakapan suaminya tersebut dengan Mr.A yang tadi sempat samar dia dengar.
“ jl.kenanga no.245….”, batin Leony langsung mengetikkan alamat tersebut pada menu gps nya.
“ tidak ada apapun disini…”, Leony mencoba menjelajahi lagi maping yang ada di menu gps nya untuk memastikan kembali posisi alamat tersebut yang terlihat hanya sebuah tanah kosong.
“ Apa aku harus memberitahukan hal ini pada Crystal ?...”, batin Leony bermonolog.
Diapun kemudian mulai memejamkan kedua matanya dan berharap besok pagi dia bisa segera memberitahukan semuanya kepada sang adik.
Diapun segera turun, di meja makan hanya ada papa dan mamanya, tanpa Gerald sang suami. Menyadari ada sesuatu yang ganjil, Leonypun segera menghubungi Crystal.
Satu panggilan tak ada jawaban, begitu juga dengan panggilan kedua dan seterusnya membuat Leony bertambah cemas hingga akhirnya pada panggilan kelima Cryustal baru meresponnya.
" Iya kak....ada apa?...aku lagi di jalan....", ucap Crystal diujung sana.
" posisimu sekarang dimana?...kamu mau kemana?...", tanya Leony cemas.
" Aku mau ke jalan kenangga menemui klien.eh...udah dulu ya kak, nanti aku hubungi lagi...", ucap Crystal mengakhiri saat melihat Alvin menghubunginya.
" Jalan kenangga?....",guman Leony panik.
Tanpa menghiraukan panggilan sang mama, Leony segera meminta sopir keluarganya untuk mengantarnya ke jalan kenangga no.245 sesuai info yang didengarnya dari Gerald semalam.
" Agak cepat ya pak...", ucap Leony dengan raut wajah semakin cemas.
" Baik non....", jawab sang sopir patuh.
Leony sangat berharap adiknya baik - baik saja dan dirinya tidak terlambat sampai disana. Agar cepat sampai tujuannya yang diinginkan sang majikan, pak supir mengambil jalan pintas mengingat pagi hari jalan utama biasanya akan sangat macet karena banyaknya para pekerja yang akan berangkat kekantor dan anak pergi kesekolah.
" Lebih cepat lagi pak....", ucap Leony sambil menunjuk mobil Crystal yang tak jauh dari posisinya sekarang.
Baru saja Crystal turun dari mobilnya dan menuju sebuah tanah kosong disamping banggunan ruko, dari arah berlawanan muncul mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya.
Leony yang melihat hal tersebut spontan mendorong tubuh sang adik hingga terpental ke trotoar. Sedangkan dirinya bersimbah darah akibat tertabrak mobil tadi yang sekarang sudah melarikan diri.
Melihat apa yang menimpah dua anak majikannya, sang supir keluarga Abraham segera memanggil ambulans dan polisi agar segera datang kelokasi TKP.
Beberapa orang yang kebetulan sedang lewat disana segera menolong Crystal dan memberinya pertolongan pertama.
Sedangkan Leony, merek tidak berani melakukan apapun karena kondisinya yang lumayan parah. Crystal yang baru saja tersadar setelah kepalnya terbentur trotoar akibat dorongan Leony tadi segera menghampiri sang kakak begitu melihat gadis itu terbaring bersimpah darah di samping jalan raya.
" Kak...bangun kak....", teriak Crystal sambil menguncang tubuh Leony agar terbangun.
Namun karena seriusnya luka yang diterimanya, Leony masih setia memejamkan kedua matanya. Crystalpun terus menangis disamping tubuh sang kakak hingga polisi dan mobil ambulans datang.
Crystal dan lEony ditempatkan dalam satu ambiulans karena luka gadis itu yang tak terlalu serius. Selain itu dia juga ingin menemani sang kakak yang sudah menyelamatkan nyawanya tadi.
Sambil berderai air mata, Crystal terus saja mengenggam tangan Leony dengan erat sementara petugas media yang berada dalam ambulans mulai memasangkan selang oksigen dan infus ke tubuh Leony.
Kedua gadis itu segera dilarikan kerumah sakit dengan dibuntuti sang supir dari arah belakang yang sebelumnya sudah menghubungi Abraham dan menceritakan apa yang menimpah kedua putri Abraham tersebut.
Sedangkan pasukan bayangan yang setia mengawal Crystal saat ini sedang mengejar pelaku insiden tabrak lari yang sepertinya mengincar nyawa calon istri bosnya itu.
Gerald yang merasa dibuntuti oleh seseorang semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menghubungi beberapa anak buahnya agar segera memblokir orang yang mengejarnya.
" Sial !!!....bagaimana bisa wanita sialan itu bisa muncul disana !!!....", ucap Gerald penuh amarah.
Dia sama sekali tidak menyangka jika Leony akan datang dan mendorong Crystal ke tepi jalan hingga aksi yang sudah direncanakan dengan matang tersebut kembali menuai kegagalan.