
Setibanya di kediaman Arnold, dengan langkah gontai Crystal segera melangkahkan kakinya menuju kedalam kamar, meletakkan tasnya di meja belajarnya, melepas sepatu dan mulai merebahkan diri diatas ranjang dengan posisi terlentang.
Cukup lama Crystal dalam posisi tersebut hingga akhirnya dia ingin merilekskan tubuh dan pikirannya dengan berendam dalam air hangat agar otot - otot tubuh dan pikirannya kembali rileks.
Meski hari ini cukup melelahkan, namun tak dapat Crystal pungkiri jika dirinya sangat bahagia. Selain karena akan bekerja sama dalam proyek besar yang nantinya bisa dijadikan portfolionya, dia juga sudah melakukan pembalasan kecil terhadap Adisty.
Meski belum cukup untuk menebus penderitaan yang telah dialaminya akibat perbuatan sahabatnya itu, namun langkah awal ini sudah cukup bagus menurutnya.
Rencana yang telah disusun oleh Crystal tampaknya akan sedikit mudah untuk dijalankan dengan adanya dua sekutu kuat yang hari ini membuat kesepakatan kerjasama dengannya.
Dia sama sekali tidak menyangka jika Adisty ternyata sangat licik dan kejam. Dia melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan kemewahan dan keuntungan pribadinya meski harus mengorbankan perasaan banyak orang.
Cukup lama Crystal berpikir tentang semuanya hingga ponsel yang ada disakunya bergetar. Sambil menggali ingatan dalam memorinya, Crystal meletakkan ponselnya disamping telingga setelah mengeser tanda hijau dilayar ponsel.
“ Halo nona Crystal…”, ucap Emily dengan suara bergetar.
“ Ada apa Emily ? Apa ada masalah ?...”, tanya Crystal cemas.
“ Nona, tuan muda ingin bertemu dengan anda…”, ucap Emily masih dengan suara yang masih bergetar.
“ Dimana dia ?...”, tanya Crystal sambil memakai handuk kimono berwarna kuning favoritnya.
“ Apa nona sudah dirumah ? Saya ada didepan gerbang….”, ucapnya lagi.
“ Baiklah…aku akan segera turun sekarang…”, ucapku segera memakai baju dan sedikit mengoleskan bedak serta menyisir rambut dan membiarkannya tergerai bebas.
Mendengar suara Emily yang bergetar sepertinya ada hal serius yang sedang terjadi. Untuk itu Crystal tidak menunda waktu lagi.
Setelah memakai dress simple berwarna hitam selutut dengan aksen renda disepanjang tepinya dan menyelipkan jepit mutiara di rambutnya, dia segera bergegas untuk turun.
Hal ini seperti kehidupan sebelumnya, saat Arnold memanggilnya, tak perduli sedang apa dan dimanapun dia berada, Crystal harus segera menghadap iblis berwajah malaikat tersebut.
Sebenarnya tidak ada hal yang penting setiap kali Arnold memanggilnya. Dia hanya akan memandangnya sekilas dan mulai sibuk dengan pekerjaan yang ada dihadapannya.
Sedangkan Crystal dia biarkan sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Terkadang Arnold akan meliriknya sekilas diantara kesibukannya.
Biasanya Emily akan memanggilnya jika kondisi serta suasana hati bosnya itu memburuk. Hanya dengan melihat dan merasakan keberadaan Crystal disampingnya, baru suasana hati Arnold akan berubah menjadi bagus.
“ Apa Arnold sedang bad mood sekarang ? …”
“ Apa yang membuat moodnya buruk ?...”
“ Siapa penyebabnya ?...”, banyak pertanyaan mulai bermunculan didalam kepala Crystal.
Saat mengetahui suasana hati tunangannya yang buruk dengan semua yang terjadi hari ini, Crystal harap bahwa apa yang terjadi tidak seburuk apa yang sedang dipikirkannya saat ini.
Crystal masuk kedalam mobil dengan perasaan campur aduk, apalagi saat melihat wajah Emily yang sudah pucat pasi seperti habis melihat hantu.
“ Kenapa Arnold memintaku untuk datang tiba – tiba ?...Apa ada sesuatu yang terjadi ?...”, tanyaku mencoba mengorek informasi dari Emily.
Emily yang terpesona dengan kecantikan alami yang terpancar dari wajah tunangan bosnya itu membuatnya tertegun.
Tanpa riasan dengan dress berwarna hitam polos dengan aksen hiasan renda disepanjang tepi gaun membuat aura kecantikan tunangan bosnya itu sangat terlihat, anggun dan elegan.
Seperti kecantikan bunga yang bermekaran dimusim semi, membuat siapa saja yang memandangnya ingin segera memetiknya dan menikmati keindahannya sepanjang waktu.
“ Maaf nona Crystal, saya juga tidak tahu. Anda sendiri pasti sangat hafal seperti apa watak tuan muda. Disini saya hanya menjalankan perintah…”, ucapnya saat sudah tersadar dari lamunannya.
“ Bagaiman suasana hatinya saat ini ?...”, tanyaku to the point.
“ Tuan….”, Emily tiba – tiba terdiam.
Melihat reaksi yang diberikan oleh Emily aku sudah dapat menebak jika Arnold saat ini dalam kondisi suasana hati yang sangat buruk.
“ Dan aku harus menenangkan iblis itu…”, batinku mendesah pasrah.
Setelah melalui perjalanan hampir satu jam, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Crystal sampai juga dibaseman club NT. Setelah memarkirkan mobil, Crystal dan Emily berjalan menuju kedalam lift khusus dan naik kelantai paling atas.
“ Nona, silahkan masuk…”, namun gerakan Emily yang hendak membuka pintu aku tahan.
“ Tunggu…tunggu…jangan buka pintu !!!...biarkan aku menilai situasinya terlebih dahulu…”, ucapku sambil mengambil alih gagang pintu yang tadi dipegang oleh Emily.
Crystal mendorong pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara dan mengintip untuk mengetahui situasi yang terjadi didalam ruangan.
Emily yang ada dibelakang Crystal menatap tunangan bosnya itu dengan wajah cemas. Namun dia sangat bersyukur jika Crystal mau bekerja sama dengannya.
Meski sudah melakukan persiapan mental, nyatanya Crystal masih ketakutan saat sekilas melihat pemandangan yang ada didalam ruangan melalui celah pintu yang tadi didorongnya sedikit itu.
Tidak banyak orang yang ada dalam ruangan, dia hanya mengenal Mike, sedangkan beberapa orang lagi yang ada disana dia sama sekali tidak kenal.
“ Mungkin mereka kolega bisnis Arnold…”, batin Crystal menebak.
Saat ini Arnold terlihat sedang duduk disudut sofa, memegang sebuah pisau yang penuh dengan darah. Dan terlihat melempar pisau tersebut keatas meja dengan santainya.
Bahkan dengan wajah datar dan sikap acuhnya dia menyeka pungung tangannya yang berlumuran darah beberapa kali dengan kasar hingga kulit tangannya hampir mengelupas tanpa niatan untuk berhenti.
Ekspresinya saat ini sangat gelap dan dingin, seolah seluruh tubuhnya ditelan oleh malam yang gelap tanpa sedikitpun cahaya yang tersisa.
Dihadapannya, ada seorang gadis cantik berdiri gemetar ketakutan dengan wajah pucat pasi. Seperti seorang tahanan yang sedang menunggu eksekusi mati.
Gadis itu terlihat sangat cantik meski matanya terlihat sangat merah dengan berlinang air mata yang semakin deras mengalir tiap kali dia mengerjapkan kedua matanya.
Melihat keindahan yang ada dihadapannya tampaknya tidak memiliki pengaruh apapun bagi Arnold, wajahnya tetap datar dan sedingin es.
Melihat situasi yang aneh seperti itu, Crystal tidak bisa berbuat apa – apa selain tercengang dan binggung dengan situasi yang ada.
“ Apa yang sebenarnya terjadi disini ?...”, batin Crystal penuh tanda tanya.
Saat kepalanya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, dia melihat ada seorang pria muda gemuk dengan wajah bermandikan keringat mencoba untuk menenangkan Arnold.
“ Tuan muda, gadis ini tidak sengaja melakukannya. Anda adalah pria berhati lapang. Tentunya tidak akan menyimpan dendam untuk masalah sekecil ini…”, ucap pria gemuk itu berusaha untuk menjadi penengah.
“ Tidak sengaja !!!….hanya masalah kecil !!!….”, batin Arnold penuh amarah.
Mendengar ucapan pria muda gemuk itu Arnold yang pada awalnya masih sibuk dengan tangannya, tiba – tiba mengangkat kepalanya dan mulai mengarahkan tatapan membunuh kepada pria muda gemuk yang ada dihadapannya itu.
Seketika, aura mematikan dan membunuh menyelimuti seluruh ruangan, membuat pria muda gemuk itu sangat ketakutan hingga jantungnya seakan berhenti berdetak.
Buru – buru dia menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Arnold yang sangat menakutkan itu dan menoleh kearah Mike untuk meminta bantuan.
“ Tuan muda Mike, kamu lihat ini….”, ucapnya dengan tubuh bergetar ketakutan.
Mike merasa bahwa adiknya itu terlalu sensitive, gadis itu hanya menyentuhnya sedikit namun reaksinya seolah – olah ingin mencincang tubuhnya dan menyebabkan pertumpahan darah disini
Tetapi tidak ada yang bisa dilakukan oleh Mike, semua orang juga sangat tahu jika Arnold sangat benci berdekatan dengan wanita, namun gadis itu melanggar batasan yang dimiliki oleh adik tirinya itu.
“ Jangan lihat aku !!!...Bukannya kamu juga tahu aturan yang dimiliki Arnold !!!...Kenapa kamu masih memanggil gadis itu ? Apa kamu sengaja mencari masalah ?...”, ucap Mike frustasi.
Memikirkan semua yang terjadi dihadapannya membuat darah Mike mendidih. Semua memang salahnya hingga suasana hati Arnold memburuk sekarang.
Namun, gadis dihadapannya itu yang melanggar aturan Arnold dan membuatnya terlibat dalam masalah ini. Seakan bayangan kematian terlihat jelas dimata semua orang, membuat semua orang yang berada dalam ruangan bergetar ketakutan.
Dengan wajah pucat pasi, Veron, pria muda gemuk itu merasa sangat menyesal telah membawa gadis cantik itu dalam pertemuan penting yang dimilikinya saat ini.
Namun semua juga bukan murni kesalahannya, gadis itujuga tidak sengaja melakukannya. Hanya saja yang mereka singgung ini bukanlah orang biasa, melainkan iblis haus darah.
Dia sangat takut jika masalah yang ditimbulkannya hari ini dapat menyeret seluruh keluarga besarnya. Veron cukup tahu bagaimana kejamnya Arnold dalam menyingkirkan semua orang yang telah menyinggungnya, hingga keakar - akarnya.
Banyak pengusaha kaya yang jatuh dalam hitungan detik saat memaksakan putri mereka untuk lebih dekat dengan pewaris keluarag Lincoln itu.
Gadis ini bahkan tidak mendekati tubuhnya, hanya menyenggol tangannya secara tidak sengaja saat menuangkan anggur kepadanya.
Tapi pria kejam yang tidak berperikemanusiaan ini langusng memotong jari gadis yang menyentuh tangannya itu dengan pisau yang tergeletak diatas meja.