
Alexander berjalan maju untuk menyambut tamunya, sementara itu anak buahnya sudah bersiap dengan senjata api masing – masing buat berjaga – jaga jika wanita yang ada dihadapan mereka itu berbuat ulah.
“ Wah…saya merasa terhormat kedatangan tamu seperti anda…”, ucap Alexander tersenyum lebar.
Bukannya menjawab, Crystal malah terkekeh mendengar ucapan tersebut. Alexander secara alami melihat ejekan dalam tawa tersebut darah dalam tubuhnya mulai mendidih
Namun amarah dalam dirinya berhasil ditekannya kuat – kuat, Alexander harus memeras otaknya agar terhindar dari bencana jika benar wanita yang ada dihadapannya itu adalah Rose Devil.
“ Nona…Apa yang anda inginkan dengan datang ke gubuk kecil saya ini?...”, ucap Alexander merendah.
“ Berani sekali kau melukai orang – orang yang kusayangi !!!...”, teriak Crystal penuh amarah.
Mendengar ucapan wanita yang ada dihadapannya, senyum Alexander yang mulai tadi terpatri disana langsung menghilang.
“ Apa yang dia maksud adalah Crystal ?...ada hubungan apa Crystal dengan Rose Devil ?...”, batin Alexander penasaran.
Tidak ingin salah menebak, dengan sangat hati - hati diapun kembali melontarkan pertanyaan untuk memastikan dugaannya.
“ Maaf, saya tidak mengerti apa yang anda maksud nona ?...”, ucap Alexander dengan wajah bodoh.
Melihat Alexander pura – pura bodoh membuat Crystal tertawa dengan keras. Mendengar suara tawa itu membuat jantung Alexander berdetak tak karuan dan firasat buruk mulai menghantuinya.
Hujan badai dan angin kencang tiba - tiba mengubah langit yang semula cerah menjadi gelap gulita dan suasana sekitarnya menjadi suram.
Salah satu anak buah Alexander merasa geram melihat wanita bercadar tersebut mengejek pimpinan mereka. Tanpa diperintah, diapun mulai menarik senjata yang ada disamping tubuhnya.
Dor....
Tiba – tiba suara tembakan terdengar, namun peluru tersebut meleset dan hanya mengenai atap mobil yang terparkir dibelakang tubuh Crystal.
Melihat anak buah Alexander melepaskan tembakan, spontan para pasukan yang mengawal Crystalpun mulai mengeluarkan senjata mereka dan berhasil menewaskan orang yang tadi berusaha menembak calon istri bosnya itu hanya dalam satu kali tembakan.
Anak buah Alexander langsung tersulut emosinya begitu melihat satu orang rekan mereka tergeletak tak bernyawa di tanah.
Aduh senjatapun tak terelakkan, semua kubu mulai saling serang secara membabi buta. Meski kalah jumlah, namun anak buah Arnold yang cukup terlatih mampu menjatuhkan musuh cukup banyak.
Begitu juga dengan Crystal dan kawan – kawannya, meski tak seprofesional anak buah Arnold, namun keberadaan mereka sangat membantu dalam menjatuhkan musuh – musuh yang terus berdatangan tersebut.
DORRR....
DORRR....
DORRR.....
Bunyi suara tembakan terdengar di mana - mana. Semua orang saling serang untuk me,umpuhkan musuh - musuhnya.
Arnold dan anak buahnya yang baru saja tiba segera turun dari mobil dan berjalan dengan tenang diantara kekacauan yang ada.
Dalam sekejap mata pasukan bayangan yang dibawah Arnold sudah merobohkan puluhan orang yang berada disana.
Mereka membantai para musuhnya seperti sedang bermain dengan tikus – tikus liar yang langsung diterkam habis tanpa adanya perlawanan.
Arnold terlihat sangat geram waktu melihat Alexander berhasil mendekati Crystal dan kembali menancapkan sebuah jarum suntik yang dibwanya kepunggung gadisnya itu.
Dengan garang dia langsung menghunuskan pedang yang dibawanya ketubuh Alexander dengan membabi buta.
Setiap luka yang didapat Alexander menembus jauh kedalam dagingnya, sedikit lagi mungkin luka tersebut sudah menembus jantungnya.
Meskipun lukanya tidak fatal namun hal itu membuatnya sangat menderita dimana setiap sisi bagian tubuhnya telah tersayat pedang hingga sampai ketulang – tulangnya.
Saat ini Alexander merasa jika takdirnya lebih buruk daripada kematian. Darah yang mengalir tidak terlihat dipakaian hitam yang dikenakannya, tapi kemanapun dia melangkah jejak darah terlihat jelas disana.
Anak buah Arnold terus saja membunuh setiap orang yang hendak mendekat ke tempat dimana pertikaian antara sang bos dengan Alexander berada.
Alexander terus berusaha untuk mendekat kearah Arnold dengan tertatih – tatih dan darah segar terus mengucur deras dari tubuhnya tapi tak mneyurutkan lelaki itu untuk terus maju dan melawan anak buah Arnold yang berusaha untuk menghalanginya.
Professor Smith yang tertembak di perutnya melihat Alexander bergerak maju berusaha untuk bangun, tetapi karena rasa sakit yang luar biasa, dia dengan tajam membungkuk, dahinya meneteskan keringat dingin dan nafasnya tersenggal – senggal.
“ Tuan…berhenti…itu jebakan…cepat lari….”, teriak professor Smith dengan sisa nafas yang masih ada sebelum akhirnya jatuh tersungkur ditanah
Alexander tak memperdulikan teriakan profesor Smith dan terus bergerak maju untuk menyerang Arnold dengan pisau yang dibawanya, karena pistolnya sudah terlempar entah kemana.
Sambil menahan rasa sakit, dia menyunggingkan senyum penuh kemenangan waktu melihat Crystal perlahan mulai roboh ke tanah.
Melihat gadisnya roboh, Arnold segera mengistruksikan kepada Emily agar segera membopong Crystal ke tempat yang aman.
Saat musuhnya sudah mulai terlihat mendekat, Arnold dengan tatapan malas mulai memasang sarung tangan besinya yang bergerigi tajam dan langsung menghantam perut Alexander hingga masuk kedalam perutnya.
Rasa sakit yang begitu menyiksa membuat Alexander hampir saja jatuh pingsan, namun dia terus berjuang untuk menegakkan kembali tubuhnya sekali lagi dan membiarkan darah mengalir semakin deras dari tubuhnya.
Alexander hanya bisa terdiam mematung saat tangan Arnold kembali melubangi perutnya dan mencabik – cabik daging yang ada ditubuhnya hingga habis tak bersisa.
“ Ternyata hanya segini kemampuanmu….Membosankan…”, ucap Arnold mencemoh.
Diapun kemudian berjalan menjauh, meninggalkan area pertempuran yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat dan bergegas menuju ke mobil dimana Crystal berada.
Udara tebal dengan aroma darah yang cukup kental menghiasai langit yang mulai menggelap. Dalam keheningan, para pasukan bayangan segera menghancurkan lokasi kejadian beserta para korban didalamnya hingga hancur menjadi abu.
Tak ada satupun barang bukti atau saksi mata yang mereka tinggalkan disana. Sekarang yang terlihat hanyalah sebidang tanah kosong bekas pembakaran karena banyaknya abu yang berterbangan disana.
Beginilah cara Arnold untuk menghabisi para musuh – musuhnya hingga tak berbekas dan siapapun tak akan bisa melacaknya.