Love Destiny

Love Destiny
PIHAK KETIGA



Setelah perjanjian dibuat, Adoff yang biasanya susah di ketemukan tiba – tiba saja muncul di halaman belakang rumah tanpa harus dicari.


Melihat sosok berbulu yang tampak tak asing baginya, Crystal yang baru saja masuk ke dalam rumah bersama Arnold langsung berjalan menuju taman belakang rumah.


“ Kenapa juga serigala bau ini ada disini…”, batin Arnold dengan tatapan tajam.


Sekarang, tidak ada alasan bagi Arnold untuk mengulur waktu agar keberadaan serigala putih di kediamannya bisa ditunda untuk sementara waktu.


Dengan wajah masam, Arnoldpun merelakan calon istrinya itu membawa Adoff kedalam rumah dan mulai bermain dengannya.


Seperti sebelum – sebelumnya, pada saat bermain dengan Adoff, Crystal pasti melupakan tentang  keberadaannya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Hal tersebut tentu saja membuat Arnold tak senang dan memilih untuk masuk ke ruang kerjanya dan menghabiskan waktu didalam sana.


Crystal yang tidak tahu jika calon suaminya sedang merajuk terus saja bermain dengan Adoff dengan riang gembira.


Bahkan sekarang mereka terlihat sedang berguling – guling diatas karpet berbulu yang ada diruang tamu sambil tertawa terbahak – bahak.


Melihat Crystal tak peka dengan apa yang terjadi, dengan sangat hati – hati Emily pun mencoba untuk berbicara dengan calon istri bosnya itu dari hati ke hati.


Emily yang sudah berada disamping Crystal terlihat beberapa kali menarik nafas panjang dan sangat dalam, mencoba untuk mengutarakan semua hal yang ada dalam hatinya.


“ Ada apa Emily ?...”, tanya Crystal penuh selidik.


“ Apa nona tidak ingin menemani tuan muda diruang kerja ?...”, tanya Emily gugup.


“ Menemani ?...”, Crystal balik bertanya dengan wajah binggung.


Melihat Crystal yang masih belum paham dengan apa yang diucapkannya membuat Emily sedikit gemas dengan gadis yang ada disampingnya itu.


Diapun kemudian segera menjelaskan apa maksud dari ucapannya.Hal itu juga dilakukannya agar tuan mudanya tidak semakin marah kepada calon istrinya itu.


Untungnya mood Crystal saat ini lagi bagus karena adanya Adoff disampingnya, sehingga semua ucapan Emily bisa dicernanya dengan baik.


“ Dasar kekanak – kanakan…”, Crystal mendengus sebal setelah mendengar ucapan Emily.


Bukannya Crystal tidak tahu jika Arnold marah karena dia lebih memperhatikan Adoff daripada calon suaminya itu. Namun Crystal sama sekali tak menyangka jika Arnold akan merajuk seperti anak kecil karena hal sepele seperti itu.


Melihat Crystal hanya terdiam ditempat dan belum beranjak untuk membujuk tuan mudanya membuat Emily menatap calon istri bosnya itu dengan mata berkaca - kaca.


“ Saya harap nona bisa mengalah pada tuan muda, untuk sekali ini saja…”, ucap Emily memohon.


Melihat wajah sedih Emily, Crystal yang tak tega melihatnya akhirnya mulai bangkit dari tempat duduknya dan mengambil cangkir yang sudah disiapkan oleh Emily untuk Arnold.


“ Baiklah…”, Crystalpun berkata sambil berjalan menuju ruang kerja Arnold dengan secangkir kopi panas ditangannya.


Tok….tok…tok…


“ Masuk…”, ucap Arnold dingin.


Setelah meletakkan cangkir kopi yang dibawanya, Crystal segera duduk dipangkuan Arnold sambil bergelayut manja.


“ Kamu sibuk ? serius amat....”, tanya Crystal sambil melirik tajam berkas yang ada ditangan Arnold.


Meski merasa senang karena calon istrinya itu berusaha untuk membujuknya, namun Arnold yang memiliki ego tinggi berusaha untuk tetap datar dan tidak terpengaruh dengan kehadiran Crystal.


Tidak mendapatkan respon Crystal pun kembali berkata dengan nada manja. Namun semua ucapannya diacuhkan oleh Arnold, membuat Crystal sedikit sebal dibuatnya.


“ Mau jual mahal !!!...ok !!!...kita lihat, siapa yang akan menang…”, batin Crystal tersenyum licik.


Dengan senyum nakal, Crystal pun  mulai meraba wajah dan dada Arnold dengan jemarinya sambil sesekali memberikan kecupan manis di bibir dan pipi calon suaminya itu dengan manja.


Crystal terus saja melakukan aksi nakalnya itu hingga membuat badan Arnold menjadi panas dingin. Perlahan, hewan buas yang ada dalam tubuhnya mulai bangun dan berusaha untuk keluar.


Sedetik kemudian\, diapun langsung menarik tekuk Crystal dan m*****t bibir calon istrinya itu dengan sangat ganas.


Arnold terus saja m*****t bibir Crystal dengan rakus\, tanpa memberikan waktu bagi gadis itu untuk beristirahat dan mengambil nafas.


Crystal  yang pada awalnya sempat memberontak terlihat mulai pasrah karena tenaganya kalah kuat jika dibandingkan dengan Arnold.


Hanya ******* demi ******* yang berhasil lolos dari mulut munggilnya, yang sekarang terasa sangat kebas karena dihisap terlalu kuat oleh Arnold yang tampak sudah dikuasai nafsu.


Cukup lama Arnold memuaskan hewan buas dalam dirinya untuk mengambil alih sejenak. Setelah merasa puas, diapun melepaskan bibir merah yang terlihat membengkak tersebut dengan senyum liciknya.


Crystal yang merasakan bibir dan lidahnya terasa kebas segera mengambil ponsel Arnold yang tergeletak diatas meja.


“ Arnold…!!!...”, ucap Crystal geram waktu melihat bibir sexnya terlihat membengkak.


Dengan mata melotot, Crystal segera mengambil sebuah majalah yang tergeletak di atas meja kerja Arnold, menggulungnya dan memukul laki – laki itu dengan penuh amarah.


“ Ampun yang….”, teriak Arnold sambil menghindari Crystal yang memukulinya dengan membabi buta.


Adoff  yang sedang tertidur di sudut ruangan merasa terganggu dengan suara berisik majikannya itu akhirnya mulai membuka mata dengan enggan.


“ Dasar…manusia – manusia bodoh…”, batin Adoff acuh dan kembali menutup kedua matanya.


Sementara itu, Arnold segera memeluk tubuh calon istrinya itu dengan kuat agar Crystal tidak terus – menerus memukulinya.


“ I Love U…”, bisik Arnold lembut.


Crystalpun langsung menghentikan pukulannya begitu mendengar ucapan Arnold yang baginya sangat langkah tersebut.


“ Apa?...aku tidak dengar ?...”, ucap Crystal dengan tatapan menggoda.


“ Fokus…”, ucap Arnold sambil mengangkup wajah munggil Crystal dengan kedua tangannya.


Melihat Crystal sedikit binggung dengan ucapan Arnold membuat laki – laki itu kembali mengecup bibir calon istrinya itu beberapa kali.


“ Fokuslah…hanya padaku…”, ucap Arnold dengan tatapan lembut.


Mendengar ucapan lembut Arnold, Crystal hanya bisa mengangguk sambil mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, hingga bunyi telepon mengalihkan perhatiannya.


“ Siapa ?...”, Kening Crystal berkerut waktu melihat nomor baru yang menghubungi.


Baru saja hendak kembali memasukkan ponsel kedalam sakunya tiba – tiba ponsel tersebut kembali berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


Kening Crystal terlihat berkerut cukup dalam sewaktu membaca isi pesan yang masuk kedalam ponselnya dari nomor yang tidak dia kenal.


“ Tidak ada foto profilnya…”, batin Crystal saat mencoba mencari informasi tentang seseorang yang baru saja mengiriminya pesan tersebut.


Belum juga menemukan informasi apapun, orang tersebut kembali mengiriminya sebuah pesan yang sontak saja membuat wajah Arnold menggelap menahan amarah.


“ Siapa dia ?...”, tanya Arnold geram pada saat membaca pesan yang masuk kedalam ponsel calon istrinya itu.


“ Aku juga nggak tahu…”, ucap Crystal mengangkat kedua bahunya acuh.


Untuk sesaat Arnold merasa sedikit familiar dengan nomor yang tertera dilayar ponsel Crystal tersebut. Diapun segera mengambil ponselnya dan mengetikkan nomor orang yang telah mengirimi gadisnya pesan tak senonoh tersebut


“ Sudah kuduga…”, ucap Arnold setelah melihat nama yang tertera dilayar ponselnya waktu dia selesai mengetikkan nomor tersebut.


Arnold langsung saja memblokir nomor tersebut dari ponsel Crystal tanpa sepengetahuan gadis yang saat ini sibuk membangunkan Adoff yang terlihat masih enggan untuk diajak bangun.


“ Belum juga yang ini hilang, muncul satu lagi hama penganggu…”, batin Arnold geram.