Love Destiny

Love Destiny
DIA SATU - SATUNYA CALON ISTRIKU



Sabtu pagi di Kediaman Arnold,


“ Cepat turun, aku tunggu di mobil !!!…”, Arnoldpun segera menutup telepon sepihak setelah menghubungi Crystal.


Dengan mengenakan setelan jas hitam dengan celana kulit dan kemeja dengan waran senada, Arnold duduk dikursi penumpang sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya.


Wajah tanpannya terlihat datar dan dingin seperti biasanya. Ada bayangan samar berwarna hitam dibawah kelopak matanya karena sudah beberapa hari tidak tertidur, membuatnya terlihat suram dan mengintimidasi.


Saat ini pandangan matanya mengarah kearah luar dengan dahi yang berkerut, seakan memikirkan sesuatu yang sangat berat.


Dikursi depan, disamping supir, Emily juga memiliki lingkaran hitam disekitar matanya dan wajahnya juga terlihat sangat suram karena kurang tidur.


Emily tidak bisa beristirahat dengan tenang saat kembali mengingat bahwa tuan mudanya itu akan membawa Crystal untuk menemui nyonya besar.


Dia sama sekali tidak bisa membayangkan, bagaimana jika nyonya besar tidak menyukai Crystal, konsekuensi buruk apa yang akan diterima bosnya.


Mengingat Elisabeth adalah pendukung terbesar dalam setiap langkah yang selama ini diambil oleh Arnold hingga dia menempati posisi tertinggi untuk mewarisi bisnis keluarga Lincoln.


Awalnya, Emily hanya menganggap tindakan Arnold menjadikan Crystal sebagai tunangannya adalah tindakan implusif karena gadis itu telah menolaknya.


Harga dirinya yang cukup tinggi membuatnya menahan gadis itu dalam kediamannya karena rasa penasaran. Tapi siapa yang menyangka jika tuan mudanya itu serius bahkan sekarang ingin membawanya menemui nyonya besar.


Emily merasa sudah saatnya dia mengingatkan bosnya tentang keputusan yang dianggapnya sangat beresiko tinggi, meski nyawanya sebagai taruhannya.


“ Tuan, ada beberapa hal yang ingin saya katakan, meski saya tahu jika apa yang ingin saya katakan ini bisa mengancam nyawa saya….”


“ Nyonya besar adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam keluarga Lincoln ”


“ Beliau juga sangat berpengaruh dalam kehidupan anda… ”


“ Apakah anda sudah yakin ingin membawa nona Crystal bertemu dengan nyonya besar ”


“ Jika anda membawanya sekarang, secara otomatis nona Crystal akan menjadi salah satu kandidat untuk menjadi istri anda ”


“ Bagaimana jika nona Crystal nanti menyinggung nyonya besar dan membuatnya terluka ”


“ Apa anda sudah memikirkan konsekuensi yang nantinya akan anda dapatkan…”


“ Mengingat kepribadian nona Crystal yang sedikit absurd…”, ucap Emily cemas.


Dia seakan mengeluarkan semua hal yang menganjal dalam hatinya selama ini, dan berharap tuan mudanya itu mempertimbangkan kembali keputusan yang diambilnya kali ini.


Sebelum Emily kembali melanjutkan ucapannya, suara sedingin es datang dari kursi belakang dan menginterupsinya dengan aura penindasan yang sangat kuat.


“ Siapa yang mengijinkanmu mengatakan semua itu…”, ucap Arnold dengan nada rendah dan dingin.


Rasa dingin yang keluar dari suara Arnold seketika membekukan punggung Emily.  Dia meruntuki kebodohannya yang berani memprovokasi sang bos.


“ Tidak ada calon lain, hanya Crystal satu – satunya…”, ucap Arnold tajam dan dingin.


Susana dalam mobil membeku seketika, Emily sudah siap dengan semua konsekuensi buruk yang akan diterimanya akibat ucapan lancang yang dikeluarkannya.


Tiba – tiba hawa dingin dalam mobil perlahan mulai mencair saat derap langkah terdengar. Crystal berjalan menuju mobil dengan rambut diikat ekor kuda, celana jeans dan kemeja lengan panjang bergaris serta cardigan biru dongker melapisi bajunya, sepatu kets warna putih menambah kesan sporty pada penampilannya pagi ini.


Mukanya yang polos tanpa makeup semakin memancarkan aura kecantikan alaminya, yang menyilaukan mata. Pupil matanya yang berwarna biru mampu menyedot semua orang dalam pesonanya.


Crystal memakai pakaian sederhana dan bergaya sesuai dengan usianya yang masih remaja membuatnya lebih percaya diri untuk menemui nenek tunangannya itu.


Meskipun nenek Arnold memiliki status tinggi dan sangat terhormat, namun Crystal merasa semua nenek yang ada didunia ini memiliki selera yang sama.


Sebagian besar dari mereka akan menghargai gadis yang rapi, bersih, dan berperilaku baik. Maka dari itu dia akhirnya memilih menggunakan celana jeans dengan kemeja serta sepatu kets.


Selain simple dan tidak terlalu mencolok, pakaian yang dikenakannya ini akan lebih memudahkannya dalam bergerak, ketimbang harus memakai gaun dengan high hells yang cukup merepotkan.


Melihat Crystal berdiri di samping mobil, dengan canggung Emily segera membukan pintu belakang mobil dan kembali menutupnya saat tunangan bosnya tersebut sudah duduk manis didalam.


Emily terus menatap curiga tentang perubahan yang terjadi dalam diri Crystal akhir – akhir ini. Biasanya dia akan sangat senang membuat Arnold marah, namun akhir – akhir ini dia malah melakukan tindakan yang sebaliknya, menjadi gadis patuh ternyata mampu membuat sang bos menyerah padanya.


Alih – alih senang dengan perubahan tunangan sang bos, Emily justru menatap Crystal dengan penuh rasa curiga. Berpikir keras, apa lagi yang akan direncanakan wanita itu kepada tuan mudanya.


“ Aku tidak yakin apakah kita nanti akan menginap, jadi aku membawa laptopku agar bisa mengerjakan tugas dan laporan progress penelitianku disana…”, ucap Crystal sambil meletakkan tas ransel kepangkuannya.


“ Ini adalah daftar hadiah yang sudah aku kumpulkan dari internet. Kita bisa pergi bersama ke mall yang akan kita lewati untuk membelinya. Ada suplemen kesehatan, minuman herbal, tas, syal, atau mungkin saat ini nenek membutuhkan sesuatu…coba kamu katakan, siapa tahu itu akan menjadi hadiah special buat beliau.…”, ucap Crystal sambil memberikan daftar hadiah yang sudah ditulisnya kepada Arnold.


“ Hmm…dan untuk hadiah itu, bisakah kamu yang membayarnya. Kamu tahukan kalau kartuku hilang dan aku belum mengurusnya ke bank hingga sekarang. Jika ingin menariknya langsung ke bank, itu tidak mungkin karena ini hari sabtu, bank pasti tutup…”, cicitku memohon.


Saat Crytal hendak berbicara kembali, nafas hangat Arnold menyentuh pipinya dan sekian detik dia merasa bibirnya mulai kebas.


“ Apa aku tadi salah bicara….atau apa cara berpakaianku salah…”, batin Crystal cemas saat Arnold menghisap bibirnya dengan kasar.


Saat Arnold melepas ciumannya, Crystal menggunakan kesempatan itu untuk mendorong sedikit tubuh laki – laki itu, dan mulai berbicara dengan cepat.


“ Aku berpakaian seperti ini untuk bertemu dengan nenek, karena aku tahu orang tua tidak menyukai seorang gadis berpakaian dan berpenampilan yang tidak sesuai dengan usianya dan berlebihan. Kamu tidak marah kan….”, ucap Crystal sedikit cemas.


“ Dia benar – benar melakukan semuanya ini untuk membuat nenek senang… ”, batin Arnold tercenggang dengan pola pikir tunangannya itu.


Dia kemudian mulai menelisik pakaian yang dikenakan Crystal hari ini. Saat dia melihat bentuk pinggang yang ramping dan bagian dada yang mulai tumbuh, leher putih yang jenjang, serta bibir cerah merah alami.


Ahhh.....Arnold seakan menjadi gila dibuatnya. Hanya melihat bagian luar saja membuat tubuhnya tiba – tiba mulai memanas.


Aliran aneh yang ada dia rasakan membuat hewan buas dalam tubuhnya meraung – raung. Demi memenuhi memuaskan sesuatu yang muncul dalam tubuhnya, Arnold kembali mencium bibir Crystal.


Kali ini dia melakukannya lebih lembut daripada sebelumnya, menelusuri bibir merah tersebut, menggigitnya, dan saat mulut Crystal terbuka dia segera mengabsen setiap inci rongga mulut tunangannya itu.


Tangan kirinya memegang pinggang ramping Crystal, dan tangan kananya menarik tekuk gadis tersebut agar ciuman yang dilakukan Arnold semakin dalam.


Dia berharap dengan ciuman yang dilakukannya ini , semua perasaan yang tersimpan dalam hatinya dapat tersalurkan, dan Crystal mengetahuinya meski tanpa kata.