
Setelah melihat kembali kondisi tambang yang hancur, Crystal dan anak buahnya mulai membenahi tambang yang sudah rata dengan tanah dengan bantuan tenaga dan alat dari Nicholas.
Selanjutnya, diapun mengikuti Lea dan Alvin untuk pergi kesuatu tempat tanpa rasa curiga sedikitpun. Mereka hanya pergi bertiga karena Vely menolak untuk ikut.
Vely memilih menemani Nicholas dilokasi proyek calon suaminya yang tak jauh dari tambang milik Crystal yang sekarang dalam proses pembenahan akibat ledakan dan tanah longsor tadi malam.
Crystal yang masih capek memilih memejamkan mata sepanjang perjalanan. Tentu saja hal itu membuat hati Lea dan Alvin lega karena tidak akan mendapati pertanyaan macam – macam dari gadis itu.
Setelah berkendara hampir dua jam lamanya melewati lembah dan pegunungan, akhirnya mereka tiba di kampung warga asli pulau berlian berada.
Crystal yang semula tertidur langsung dibangunkan begitu tiba disana. Gadis itu menggeliat sambil mengumpulkan nyawanya sebelum keluar dari dalam mobil.
Begitu membuka pintu, Crystal disuguhkan bangunan khas suku pulau berlian yang terlihat berjajar rapi disana. Membuat kedua matanya langsung berbinar menatap keindahan yang tepat dihadapannya.
Sambil melangkah turun Crystal kembali memejamkan kedua matanya menikmati kesegaran udara yang tidak pernah dirasakannya waktu tinggal diperkotaan.
Angin yang memainkan rambutnya yang tergerai bebas begitu dinikmati oleh Crystal, senyum manis mulai terukir diwajahnya.
Crystal cukup terpesona dengan banggunan khas warga asli pulau berlian yang terlihat asri karena banyak pohon besar tumbuh disana dan pemukiman tersebut dekat dengan aliran sungai yang cukup besar.
Suara gemericik air dari aliran sungai membuat suasana semakin adem dan membuat kepala yang tadinya penat karena banyaknya permasalahan yang hadir perlahan mulai sedikit rileks.
Crystal terus berjalan sambil menikmati pemandangan sekitarnya.Hampir semua bangunan disini berupa rumah panggung yang memanjang kesamping ataupun kebelakang.
Seperti rumah adat pada umumnya, banggunan ini dibangun dengan menggunakan material kayu sebagai bahan utamanya dan atap menggunakan daun kelapa atau sawit.
Pada umumnya rumah kepala suku memiliki hulu menghadap timur dan hilir menghadap barat dan merupakan yang paling besar disana.
Disambut Ales, mereka segera menuju rumah dimana tuan agung berada. Mereka berempat pun mulai naik dan memasuki ruangan yang luas tanpa sekat tersebut.
Dari salah satu ruangan yang ada disana tampak seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan dengan kulit putih, mata sipit dan badan kekar yang terlihat dari kemeja press body yang membingkai tubuhnya, kepalanya diikat dengan sebuah kain yang menunjukkan ciri khas suku tersebut berjalan kearah mereka dan langsung duduk dihadapan tamunya setelah tersenyum menyapa.
Tatapan mata tuan agung langsung menuju kearah Crystal dan menelisiknya sambil tersenyum samar. Ditatap intens seperti itu membuat Crystal sedikit canggung.
Sambil mengusap belakang lehernya dengan canggung, Crystal terlihat sedikit sebal saat melirik kearah Lea dan Alvin yang terlihat mengacuhkannya.
“ Sebenarnya apa tujuan Lea dan Alvin mengajakku kesini ?...”, batin Crystal penasaran.
Tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Crystal, lelaki yang dipanggil tuan agung tersebut segera memberi kode kepada Ales untuk menyiapkan ruangan yang akan digunakannya.
“ Saya ingin berbincang empat mata dengan anda nona…”, ucap tuan agung menatap Crystal sambil tersenyum.
“ Saya ?...”, tanya Crystal sambil menunjuk dirinya dengan wajah binggung.
“ Mari ikut saya…”, ucap tuan agung tak memperdulikan Crystal yang masih dalam mode keboingungan.
Diapun mulai berdiri dan menuju kesebuah ruangan tempat Ales tadi masuk. Saat keduanya sudah mendekati ruangan tersebut, Alespun keluar.
Crystal yang sedikit ragu hanya terdiam ditempat sambil mengamati isi ruangan yang tidak terlalu besar itu dengan pandangan penuh selidik.
Ruangan tersebut kosong, hanya berisi satu buah lemari buku, karpet dengan dua bantalan tipis buat tempat duduk seperti yang digunakan pada saat hendak meditasi dan sebuah meja disudut ruangan.
“ Masuklah…aku tidak akan berbuat jahat kepadamu…”, ucap tuan agung yang seakan bisa membaca isi pikirannya.
Sekilas Crystal melirik kearah Lea dan Alvin yang masih duduk diruang tamu. Setelah melihat keduanya tersenyum kearahnya, Crystalpun tanpa ragu mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan.
Untung saja ruangan tersebut tidak memiliki pintu membuat hati Crystal sedikit lega. Setidaknya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dia bisa segera berlari keluar ruangan dengan cepat.
Melihat Crystal masih memberikan kewaspadaan yang cukup tinggi, tuan agung hanya tersenyum tipis. Dia kemudian mempersilahkan Crystal untuk duduk senyaman mungkin.
Akibat aroma terapi yang dikeluarkan beberapa lilin yang ada dalam ruangan membuat Crystal perlahan – lahan mulai merasa tubuh dan pikirannya rileks dan tenang.
Meski begitu, tingkat kewaspadaannya sama sekali tidak berkurang. Dia masih belum tahu lelaki dihadapannya ini siapa, musuh ataukah teman….
“Takdir, jodoh, dan rejeki sudah ada yang mengatur...Tidak semua hal bisa dirubah…”, ucap tuan agung sambil mengamati ekspresi Crystal yang langsung fokus terhadapnya begitu ucapan tersebut keluar dari mulutnya.
“ Kehidupan kedua yang kamu dapatkan ada kaitannya dengan awan hitam yang menyelimutimu saat ini…”, ucap tuan agung menjelaskan.
Melihat ekspresi Crystal yang masih kebinggungan, tuan agungmu mulai menjelaskan semuanya dan berharap Crystal lebih berhati – hati lagi dalam bertindak.
Meski awalnya orang ini tidak mentargetkannya dan hanya menjadikannya kelinci percobaan, namun jika melihat hasil yang didapatkannya saat ini bukan tidak mungkin orang tersebut akan memanfaatkannya untuk mencapai tujuannya.
“ Jadi maksud anda tujuan dari semua hal yang terjadi dengan saya saat ini bukanlah saya tapi orang yang sangat dekat dengan saya saat ini ?...”, tanya Crystal berusaha meyakinkan apa yang baru saja didengarnya.
“ Apakah tujuan sebenarnya adalah Arnold…”, guman Crystal menebak.
Crystal terlihat mulai menggerakkan kedua bola matanya dengan cepat sambil berpikir tentang rentetan kejadian yang dialaminya.
Jika orang ini benar – benar mentargetkan Arnold, kenapa dirinya dan keluarga besarnya yang menjadi sasaran.
“ Gerald…apakah dia juga ada hubungannya dengan Arnold ?...apakah mereka sudah menganal lebih dulu sebelum aku bertunangan dengannya?...”, batin Crystal mulai menerka – nerka.
Melihat Crystal tampak berpikir keras memecahkan teka – teki dalam hidupnya, tuan agung segera bersuara untuk membuyarkan lamunannya.
“ Semua berpusat dari hatimu. Ikuti saja apa kata hatimu, jangan kamu ingkari. Lupakan dendam dimasa lalu karena akan membuat hatimu semakin terluka…”, tuan agung berucap menasehati Crystal.
“ Sekarang, ikuti emban yang ada di belakangmu dan berendamlah dengan bunga dan dedauanan yang sudah ada dalam bak tersebut selama tiga puluh menit dan usahakan pikiran dan jiwamu tenang. Coba untuk rileks tanpa memikirkan apapun saat ini. Pasrahkan semuanya padaNya, penguasa alam semesta dan isi dunia ini….”, ucap tuan agung menjelaskan.
Crystal menoleh kebelakang dan didapatinya dua orang wanita tua yang tersenyum kepadanya. Karena terlalu larut dalam pemikirannya sendiri, Crystal sampai tidak sadar jika sudah ada orang lain yang hadir dalam ruangan tersebut.
Meski masih belum terlalu percaya dengan semua ucapan tuan agung yang baginya sangat mustahil terjadi, namun dia berusaha untuk mengikuti semua arahan anak kepala suku tersebut.
“ Anggap saja sedang spa…”, batin Crystal menenangkan diri sambil berjalan mengikuti kedua emban yang membawanya kesebuah ruangan dan menyuruhnya untuk berganti pakaian.
Crystal disuruh menanggalkan seluruh pakaiannya dan membalut tubuh polosnya dengan jarik. Selanjutnya dia disuruh tengkurap diatas sebuah ranjang yang juga dialasi sebuah kain jarik.
Tak lama kemudian muncullah wanita muda berusia sekitar tiga puluh tahunan yang memperkenalkan diri sebagai istri sang tuan agung.
Sambil tersenyum, wanita itu langsung saja meluluri tubuh Crystal dengan ramuan dalam sebuah wadah kayu yang dibawa para emban.
Ramuan tersebut dibalurkan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Untuk sesaat setelah ramuan terbalut sempurna ditubuhnya, Crystal merasakan tubuhnya seperti terbakar.
Namun rasa panas itu tidak berlangsung lama, istri tuan agung segera memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dari belakang dan mulai membacakan sesuatu yang tidak Crystal pahami karena menggunakan bahasa asli suku pulau berlian.
Dalam sekejap, tubuh Crystal yang semua terasa sangat panas tiba – tiba berubah menjadi dingin seiring asap putih yang keluar dari atas kepalanya.
Setelah asap tersebut hilang tak bersisa, barulah Crystal disuruh berendam dalam bak air hangat yang berisi aneka bunga dan dedaunan yang tidak diketahuinya.
Crystalpun mulai memejamkan mata setelah seluruh tubuhnya sudah masuk kedalam bak yang cukup besar tersebut.
Dia mencoba untuk tidak memikirkan apapun saat ini. Membiarkan tubuh dan pikirannya beristirahat untuk sejenak, sebelum dirinya kembali beraktivitas.
Sementara Crystal melakukan ritual dengan sang istri, tuan agung ditemani dengan Ales mulai berdiskusi dengan Alvin dan Lea yang menunggu Crystal diruang tamu.
Tuan agung mulai mengingatkan bahaya yang mungkin akan Crystal temui didepan nanti setelah kabut hitam tersebut berhasil dihilangkan.
“ Orang yang mengirim ini sudah meninggal, ini adalah sihir terakhir yang dilakukannya sebelum ajalnya menjelang. Sekarang tinggal kalian, sebagai orang terdekatnya, kalian harus selalu membuat sahabat kalian ini selalu berpikir positif dan lebih mendekatkan diri kepada sanga pencipta agar ritual ini bisa berjalan dengan maksimal maka harus ada kerjasama dengan orang yang mejalaninya…”, ucap tuan agung mengingatkan.
Alvin dan Leapun mengangguk sebagai respon atas ucapan tuan agung. Dia berharap ritual yang dilakukan Crystal saat ini bisa menyelamatkan nyawanya dari orang yang berniat jahat kepadanya.
“ Karena ini sudah berlangsung cukup lama, sebaiknya perlu dilakukan ritual semacam ini minimal dua kali lagi. Kalian bisa datang lagi minggu depan untuk melakukan ritual kedua dan diakhir bulan untuk ritual terakhir. Semoga usaha kita mendapatkan restu dariNya, pencipta alam semesta…”, ucap tuan agung sambil memejamkan kedua matanya berharap apa yang dilakukan ini mendapatkan restu dan nyawa Crystal masih bisa diselamatkan.
Meski hidup dan mati seseorang adalah kewenanganNya, namun sebagai manusia kita hanya bisa berusaha semaksimal mungkin.
Bukan menyalahi takdir, namun berusaha untuk berdamai dan sejalan dengan takdir yang digariskan kepada kita.
Kematian yang disebabkan oleh sihir bukanlah kematian yang sudah ditakdirkan tapi terambil paksa oleh seseorang yang bersekutu dengan iblis dan kegelapan.