
Dena terbangun pukul 9 pagi, dan jenazah sang opa sudah di makamkan pukul 07 pagi tadi.
Dena memijat pelipisnya rasanya ia m merasa kepalanya pusing dan berat, karena Dena sampai ke kediaman Artadinata tengah malam.
Dena menoleh tidak ada keberadaan Keanu di samping nya, ia sempat lupa kalau semalam ia menangis dan tidak sadarkan diri.
Dena memutuskan untuk mandi dan setelah selesai Dena baru mengingat opa tersayang nya yang sudah tenang disana, Dena membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga.
Ia melihat para kakak yang memakai baju serba putih sedang duduk di ruang keluarga, mereka mengalihkan pandangannya kepada Dena.
Dena melihat ruangan yang semalam dijadikan tempat kedua opa nya, matanya kembali berkaca-kaca.
Mei berjalan mendekati Dena dan memeluk Dena lembut, ia tahu apa yang dirasakan oleh Dena. Karena Mei oun sudah pernah mengalami hal itu.
"Kamu sudah bangun." Tanya mei lembut.
"Dimana opa." Lirih Dena, Mei tersenyum lembut.
"Dena opa sudah ada di rumah baru nya, kamu hanya perlu mendoakan agar opa tenang dan bahagia disana." Lirih mei, tubuh Dena ambruk dan terduduk di lantai.
Dena menunduk dan menarik nafas nya panjang, Keanu yang berniat menghampiri Dena di tahan oleh Justin.
"Biarkan dulu yan, Dena butuh waktu." Ucap Justin, Keanu pun mengangguk.
Saat mereka sedang menatap Dena yang terduduk dengan menundukkan kepalanya, tuan Richard dan nyonya Ellen tiba.
Nyonya Ellen merasa hatinya teriris melihat Dena yang terduduk di lantai dengan menangis, bahkan nyonya Ellen melihat Keanu hanya diam tanpa menghampiri Dena.
"Tuan Richard." Sapa Justin, semua keluarga Dena berkumpul dan terlihat lebih ramai.
Nyonya Ellen menyapa semuanya dan berjalan mendekati Dena yang terduduk di anak tangga terakhir, nyonya Ellen mengangkat dagu Dena hingga membuat Dena mendongak.
"Kamu baik-baik saja sayang." Sapa nyonya Ellen lembut.
"Mom, hiks." Lirih nya.
Dengan cepat nyonya Ellen memeluk Dena dan menenangkan Dena, nyonya Ellen dan Dena lebih terlihat seperti seorang ibu dan anak kandungnya.
"Mommy disini bersama kamu sayang, kamu tidak sendiri ada mommy, Daddy, oma dan Kean. Bahkan banyak lagi keluarga kamu yang menyayangi kamu." Ucap nyonya Ellen.
"Dena ingin melihat ayah dan bunda." Lirih nya, oh God ini seperti bukan Dena menantunya yang kuat dan tegar.
Bahkan nyonya Ellen ikut meneteskan air matanya, Keanu membantu Dena berjalan untuk pergi ke rumah sakit.
Sementara Rafael bocah itu di jaga oleh Mae, karena memang Mae melarang Kean mengajak El.
Skip perjalanan!!!
Kini mereka tiba di rumah sakit milik keluarga Artadinata, hanya Dena yang masuk kedalam ruangan itu karena hanya di perbolehkan untuk satu orang saja.
"Ayah." Lirih Dena, jemari lentik nya menggenggam tangan sang ayah.
"Ini Dena yah, Dena disini untuk ayah." Lirih nya, Dena menciumi wajah ayah Rio yang sangat pucat.
"Ayah bangun, ayah sudah berjanji jika ayah akan selalu bersama dengan Dena." Lirih nya, Dena sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Kenapa ini bisa terjadi kepada ayah, apa salah ayah Dena. Dena sayang ayah Dena belum siap jika haru kehilangan ayah, Dena gak mau ayah pergi yah." Ucap Dena terdengar sangat pilu.
"Ayah bangun Dena janji tidak akan nakal lagi, Dena janji tidak akan merengek minta uang kepada ayah." Lirih nya, mengingat kenangan Dena yang selalu merengek manja kepada ayah Rio.
Dena beralih ke samping ayah Rio, dimana bunda Sisil juga terbaring lemah disana. Dio dan Justin sengaja meminta ayah dan bunda nya berada dalam satu ruangan, hanya dibatasi oleh tirai saja.
"Bunda hiks... Bunda sembuh kan bunda harus sembuh, jangan tinggalin Dena." Lirih nya memeluk sang bunda.
"De." Panggil Dea saat melihat Dena keluar.
Dena bersandar di dinding dan tubuh nya merosot kebawah, Dena memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana.
"Hiks...hiks... Kalau ayah gak pulang kesini ayah gak akan kaya gini kan." Lirih nya, Dea dan Mei benar-benar merasa bersalah.
"De maafin kakak." Lirih Dea.
"Biasanya kalian lebih ngutamain keselamatan ayah dan bunda, tapi kenapa kejadian kaya gini bisa terjadi?" Lirih Dena lagi.
Keanu berjongkok dan menangkup wajah Dena, wajah cantik itu tidak lagi terlihat ceria. Kean hanya melihat rasa sakit dan kecewa yang mendalam di mata Dena.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang, kamu tidak boleh terus seperti ini. Ingat ada Rafael juga yang membutuhkan kamu." Ucap Keanu, Dena terdiam dan menunduk.
"Maaf." Lirih Dena.
"Tidak ada yang perlu disalahkan, semuanya sudah takdir kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kamu harus ikhlas." Ucap Keanu mengecup kening Dena, nyonya Ellen dan tuan Richard tersenyum melihat perlakuan lembut Kean kepada Dena.
Nyona Ellen memeluk Dea, wanita itu tahu rasa sakit Dea lebih besar karena ia menyaksikan ayah dan bundanya berlumuran darah mungkin. Namun Dea mencoba tegar demi Dena demi adik kecil nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
N**: Kean aku padamu 😭
A: Heh, bisa-bisa nya 😌
N: Dea juga aku padamu say 😭
A: Sabar ya UN ya 🤗
N: Sabar lah gue selalu 😌
A: 🤗🤗🤗*