
Markas CBKB (Club Basket Kampus Bintang ),
Malam semakin larut namun markas CBKB masih terlihat sangat hidup. Semua anggota tim bersama beberapa sahabat mereka terlihat sedang menikmati makanan dan minuman yang tersedia diatas meja.
“ Bos…jangan marah – marah terus. Gigolo itu tak layak untuk menjadi sainganmu. Keluarganya sekarang mungkin masih kuat, mengingat real estate sedikit agak sulit saat ini. Tidak bisa jika dibandingan dengan AN group yang mendapatkan seluruh proyek pemerintah dengan laba milliaran ”, ucap salah satu anggota timnya Brian.
“ Benar itu bos, Vely sangat bodoh karena meninggalkanmu demi gigolo itu…”, ucap yang lain menimpali.
“ Saya pikir Vely hanya memperalatnya, semua itu dilakukannya hanya untuk memprovakasimu dan menarik perhatianmu saja…”, ucap yang lainnya berusaha menenangkan hati Brian yang sedang kalut.
“ Ya…ya…pasti seperti itu…”, ucap yang lainnya serempak.
Brian yang awalnya sangat emosi tiba – tiba merasa tenang saat mendengar semua ucapan dari sahabatnya itu. Suasana yang tadinya suram sekarang sudah berwarna lagi.
Brianpun sudah ceria kembali, bahkan dirinya sudah kembali tersenyum dan bergurau bersama sahabatnya seperti sedia kala.
Saat sedang asyik – asyiknya ngobrol dengan semua anggota timnya tiba – tiba ponsel Brian bergetar dan nama sang papa terlihat jelas disana.
Melihat sang papa menghubunginya, membuat senyum yang ada diwajah Brian lebih ceria dari biasanya. Dia berpikir jka sang papa menghubunginya ingin membagi kabar bahagia dengannya.
“ Halo pa…apakah semuanya beres ?...”, tanya Brian bersemangat sambil berjalan keluar ruangan.
“ Belum…Andreas tidak jadi memasukkan uangnya ke AN group…”, ucap Bagus tidak senang.
“ Bagaimana bisa ?!!!...mereka sudah berjanji akan mentransfernya malam ini…”, ucap Brian sedikit kesal.
“ Mereka mengatakan ada sedikit masalah jadi uang tersebut tidak bisa ditransfer sekarang…”, ucap Bagus menjelaskan.
“ Masalah apa pa ?...kenapa mereka tidak mengatakan apa – apa waktu terakhir kali kita bertemu ?…apakah mereka tahu berapa kerugian yang akan kita terima karena penundaan ini?...”, Brian sedikit cemas mendengar alasan Andreas yang baginya sangat tidak masuk akal itu.
Brian dan papanya untuk kemudian terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing - masing. Menebak alasan yang tepat kenapa Andreas mengingkari janjinya janjinya, padahal sepengetahuan mereka, Andreas bukanlah orang seperti itu.
“ Bagaimana hubunganmu dengan Vely sekarang ?....”, bagus bertanya dengan curiga jika menundaan uang masuk ini ada hubungannya dengan Vely dan Brian.
“ Seperti biasanya…”, Brian mendesah pasrah.
“ Buat dia bahagia, beri kejutan atau hadiah kecil untuknya. Jangan terlalu cuek…aku tidak ingin semua rencana kita berantakan hanya karena kamu tidak bisa menghandle gadis itu…”, perintah Bagus tegas.
“ Sampai kapan aku harus berpura – pura seperti itu pa ?...aku mempunyai gadis yang sangat aku cintai…”, ucap Brian protes.
“ Omong kosong !!! aku sudah mengingatkanmu berkali – kali, tahan dirimu hingga rencana ini berhasil. Saat kita sudah setara dengan keluarga Wilson, kamu bisa bersama dengan gadis yang kamu cintai itu tanpa halangan…”, ucap Bagus murka.
“ Baiklah pa…aku mengerti…”, ucap Brian sambil mengertakkan giginya dengan keras.
“ Itu baru putraku…”, ucap Bagus bangga.
.
.
.
.
.
.
“ Bagaimana kencanmu semalam kak ? Sukses ?...”, Crystal langsung menodong Vely dengan berbagai macam pertanyaan.
“ Ini baru permulaan…”, ucap Vely mendesah kasar.
“ Aku sudah menceritakan semuanya pada Nicholas semalam. Jika semua ini adalah rencanamu, dan untuk saat ini aku masih belum bisa menjalin hubungan baru. Seperti katamu….Nicholas mengerti posisiku dan mau berteman denganku. Kita akan menjalaninya secara berlahan. Jika cocok maka terus…jika tidak, mungkin berteman akan jauh lebih baik…”, ucap Vely menjelaskan semuanya.
“ Syukurlah kalau semuanya bisa berjalan dengan lancar. Setidaknya kakak sudah berusaha….”, ucap Crystal bernafas lega.
“ Oya, papi semalam bilang jika tidak jadi mentrafer uang ke rekening AN Group dengan alasan perusahaan sedikit bermasalah. Dan pada saat yang sama, diam – diam papi meloby semua pihak yang bekerja sama dengan mereka agar menarik dananya pelan – pelan dari An Group. Kurasa, sebentar lagi perusahaan tersebut akan jatuh begitu para investor meninggalkannya. Bukankah semua orang tersebut mau bekerja sama dengan AN Group karena ada papi disana….”, ucap Vely tersenyum puas.
Dia tak mau keluarganya dijadikan kas berjalan bagi AN Group, apalagi setelah semua kepalsuan yang telah dilihatnya dalam diri Brian mulai terkuak.
Vely sangat yakin jika tindakan Brian tersebut juga atas dukungan dari kedua orang tuanya yang hanya mengincar kekayaan keluarga Wilson saja.
“ Wah…om Andreas memang benar – benar hebat. Mungkin suatu saat nanti aku akan membutuhkan jasa beliau…”, ucap Crystal kagum dengan pemikiran dan gerak cepat papinya Vely itu.
“ Bantuan ? kamu ada masalah apa ?...”, Vely menatap Crystal dengan pandangan curiga.
“ Perusahaan papa ada sedikit masalah, tapi aku belum tahu pasti juga seberapa besar masalah itu ada. Maka dari itu, nanti siang, setelah dua kelasku selesai aku akan kesana langsung…”, ucap Crystal menceritakan rencananya pada Vely.
Mendengar ucapan sahabatnya itu Vely hanya mengangguk – angguk sambil menggandeng tangan Crystal, berjalan menuju cafeteria kampus, karena tadi dia tidak sempat sarapan karena ada kuliah di jam ke – 0 (jam 6 pagi).
Saat mereka baru menginjakkan kaki di cafeteria, mereka bertemu dengan seseorang yang seketika membuat nafsu makan Vely hilang.
“ Hey Vel, ini aku belikan makanan favoritmu…kamu pasti tadi tidak sempat sarapan karena ada kelas jam ke-0 kan ? ”, ucap Brian sambil mengangkat tas kresek yang dibawanya ke kehadapan Vely sambil tersenyum lebar.
Vely dapat melihat jika didalam tas kresek putih itu ada segelas coklat hangat dan sebungkus batagor pedas dari pujasera langganan Adisty, jika dilihat dari kemasan yang terlihat dari luar.
“ Jadi lelaki brengsek ini ingin menyogok kak Vely dengan makanan karena om Andreas belum mentrasfer dana ke rekening mereka…murahan sekali !!!....”, batin Crystal sinis.
“ Maaf, aku tidak suka makanan murahan ini !!!...kamu berikan saja kepada Adisty, aku sangat yakin gadis itu suka yang berbau – bau gratis dan murahan seperti yang kau bawa itu…”, ucap Vely sambil menekankan kata murahan dan gratis dengan tinta tebal.
Mendengar hal itu spontan Crystal tertawa terbahak – bahak hingga memegangi perutnya karena sakit. Begitu juga dengan beberapa pengujung cafeteria yang terkekeh melihat pertunjukkan lucu pagi ini.
Brian terlihat sedikit geram karena untuk kesekian kalinya dipermalukan didepan umum oleh Vely. Namun demi menjalankan perintah sang papa, perasaan tersebut berusaha dia tekan kuat - kuat.
“ Aku sangat yakin jika ini adalah makanan kesukaanmu…bukankah kamu sendiri yang bilang padaku waktu itu? …”, ucap Brian kekeh dengan pendapatnya.
“ Itu adalah makanan kesukaan Adisty, dan aku dulu bilang suka karena kamu membawakannya untukku. Anggap saja ucapanku sebagai tanda terimakasih. Tapi itu dulu…kalau sekarang, aku akan langsung membuangnya ke tempat sampah…”, ucap Vely tajam.
Sekali lagi menerima hinaan, darah dalam hati Brian mulai mendidih. Kedua tangan lelaki itupun terlihat terkepal kuat, tapi sekali lagi amarah itu dia tahan dengan kuat.
“ Vely, aku tahu jika aku menyakitimu sangat dalam. Aku juga tidak akan melakukan hal itu jika saja kamu tidak menyerang Adisty secara terbuka seperti itu. Dan jika sekarang aku berbicara untuk Adisty, maka dia akan kembali disalah pahami dan diserang oleh semua orang. Dulu kalian adalah sahabat dekat, bisakah kau membiarkannya bahagia bersamaku…”, ucap Brian tak tahu diri.
“ Jadi kamu ingin aku yang diserang dan disalah pahami oleh semua orang ?...dasar picik !!!...”, ucap Vely mencibir.
Brian terlihat sangat syok mendengar semua perkataan Vely. Awalnya dia sangat yakin jika dia menjadi sedikit lebih baik padanya, gadis itu akan berlari kedalam pelukannya dengan berurai air mata bahagia.
Siapa yang menduga Vely yang lemah dan bucin setengah mati kepadanya dalam waktu singkat berubah seperti itu dan terlihat sudah move on darinya. Sesuatu hal yang tidak bisa diterima Brian begitu saja.
“ Aku berbuat baik hari ini sama sekali tidak mengharapkan balasan apapun dari kamu. Semuanya adalah perbuatan tulus dari lubuk hatiku mengingat seberapa dekatnya hubungan kita dulu…”, ucap Brian berusaha merendah dan menekan egonya kuat – kuat agar tidak muncul ke permukaan.