
Tok tok tok….
Suara ketukan pintu yng cukup keras tentunya membuat Arnold terbangun dari tidurnya. Wajah muram dan gelap mulai terlihat, siapapun sangat tahu bahwa saat iblis tersebut tertidur, maka siapapun akan kehilangan nyawa jika berani mengusiknya.
“ Aku akan coba lihat siapa disana…”, ucap Crystal hendak bangun.
Namun tangannya ditahan hingga membuatnya kembali berbaring, sedetik kemudian Arnold kembali memeluknya dengan erat.
“ sayang…aku coba lihat dulu ya. ini tak akan lama….cup…”, ucapku sambil mengecup sekilas bibirnya.
Masih tidak ingin melepaskan pelukannya, akupun kembali mengecupnya berkali – kali. Bahkan kali ini aku menciumi seluruh wajahnya, hingga pelukan ditubuhkupun mulai mengendur.
Setelah dia melepaskan pelukan tersebut, aku segera menutup tubuhnya dengan selimut. Namun lagi – lagi dia membukanya dan kembali menatap tajam kearahku.
“ Please….sebentar saja ya sayang…”, cicitku dengan tatapan puppy eyes andalanku, dan itu berhasil. Akhirnya tubuh Arnoldpun tertutup oleh selimut.
Aku sedikit terkejut saat mendapati Adisty sudah berdiri didepan pintu kamarku. Sekilas aku melirik tempat tidur, dan ternyata aman. Arnold masih setia berada dibawah selimut, dan kuharap dia tidak akan muncul samapi sahabatku itu pergi.
“ Ada apa ?…”, tanyaku datar.
“ Kenapa kau tidak memakai riasan lagi, jika begini kamu selamanya tidak akan bisa kabur dari neraka ini…”, ucapnya sambil melangkah masuk dan duduk disofa tanpa dipersilahkan.
“ Tenang saja…Arnold tidak terlalu perduli bagaimanapun penampilanku…”, ucapku sambil duduk disebelahnya.
“ Bukan itu yang aku maksudkan, aku hanya mengingatkanmu untuk berhati – hati. Kamu sudah berkorban banyak selama enam bulan terakhir ini, jadi jangan menyerah sekarang. Kamu tahukan kalau tujuanku membuatmu jelek itu agar Arnold tidak menginginkanmu, sehingga bisa melepaskanmu begitu mudah. Namun sekarang apa, jika dia melihat kecantikan alamimu, maka kamu akan terkurung dalam neraka ini selamanya…”, ucap Adisty tidak menyerah untuk mempengaruhiku.
“ Dasar setan!!!…berani benar dia coba kembali mencuci otakku…”, batin Crystal geram.
“ Arnold tidak keberatan dengan apa yang kutampilkan, meski aku telah berdandan sejelek apapun. Mungkin dia sudah mencintaiku…”, ucapku mencoba memprovokasi.
“ Bagaimana mungkin !!!..dia adalah iblis tanpa emosi yang dapat dengan mudah membunuh siapa saja !!!...kau tahu kan kalau dia itu sangat suka sekali menyiksa wanita…benar – benar lelaki mesum !!!...kamu hanya beruntung dipilihnya untuk tinggal disini. Apa kamu lupa semua hal buruk yang telah dilakukannya terhadapmu selama ini !!!...apakah kau juga ingin mati ditangan iblis tak berperasaan itu !!!....”. ucap Adisty berapi – api.
“ kena kau…”, batin Crystal puas saat sahabatnya itu masuk kedalam perangkapnya.
Crystal tidak yakin bagaimana perlakuan Arnold terhadap Adisty setelah gadis itu mengucapkan kata – kata pedas untuknya.
Jika pada kehidupan sebelumnya, Arnold sangat percaya dengan semua ucapan Adisty dan meragukannya. Tapi sekarang, perlahan dia akan membuka topeng yang selalu dipakai Adisty saat berhadapan dengan Arnold, tanpa sahabatnya itu sadari.
Saat ini yang diinginkan Crystal adalah menghancurkan kepercayaan yang dimiliki Arnold untuk Adisty. Maka dari itu, malam ini dia ingin membongkar segala kebusukan sahabatnya itu, dihadapan Arnold.
Adisty terlihat sedikit gelisah waktu sahabatnya itu berkata demikian. Dia takut jika Crystal benar – benar mencintai Arnold, maka peluangnya untuk menjadi nyonya dirumah ini akan sangat kecil.
Maka dari itu dia mulai mengeluarkan kartu truf nya, Gerald. Berharap dengan menyebut nama laki – laki itu, Crystal akan kembali menuruti semua perkataannya.
“ Adisty, aku tahu kalau hatimu hancur saat meihatku sedih seperti ini. bahkan kamu juga telah berpikir sangat keras hingga akhirnya mempunyai ide untuk membuatku berpenampilan jelek dan mengerikan agar bisa menjauh dari Arnold. Kamu juga yang berusaha sangat keras untuk menghubungi Gerald dan membantuku melarikan diri…aku ucapkan banyak terimakasih…”, ucapku senduh.
“ Kupikir dia sudah berubah, ternyata masih bodoh seperti dulu…jadi aku tidak perlu khawatir…”, batin Adisty lega.
“ Crystal, kamu adalah sahabat baikku. JIka bukan aku, siapa lagi yang akan membantumu….Jadi, sekarang dengarkan aku. Maafkanlah Gerald, hanya dia yang benar – benar mencintaimu dengan tulus. Jika kamu masih bertahan disini, bagaimana kamu bisa mendapatkan Gerald dan membuatnya kembali ke sisimu lagi…”, ucap Adisty selembut mungkin.
Crystal tersenyum puas saat mendapati topeng yang Adisty kenakan perlahan mulai terbuka. Sekilas dia melirik kearah ranjang tempat dimana Arnold sedang berbaring.
“ Siapa bilang aku ingin kembali bersama dengan Gerald…”, ucap Crystal setenang mungkin.
“ Gerald jelas – jelas kekasihmu yang dicuri oleh Leony, dan tentu saja kamu harus mendapatkannya kembali !!!...bagaimana kamu bisa meyerah begitu mudah dengan cintamu dan membiarkan Leony berbahagia dengan Gerald !!!...”, ucap Adisty berapi – api.
Crystal tersenyum kecut melihat betapa cemasnya Adisty saat gagal meyakinkannya. Diapun kembali bersuara yang seketika membuat wajah Adisty pucat pasi.
“ menelan kembali ludah yang sudah dibuang ? Apakah itu perlu ? jika kakakku sudah bahagia bersama Gerald, maka,biarkanlah… ”, ucap Crystal santai.
Mata Adity terbuka lebar, dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sahabatnya itu akan berkata seperti itu.
Setau Adisty, Gerald adalah harta paling berharaga dalam diri Crystal. Cintanya begitu besar terhadap laki – laki itu hingga apapun bisa dia korbankan.
“ Bagaimana kamu bisa berkata begitu tentang Gerald ? Leony lah yang harus disalahkan atas semua nasib sial yang menimpamu saat ini…lalu, kenapa kamu bisa menjadi lembek seperti sekarang…”, ucap Adisty sambil menatap Crystal tajam.
“ Jangan bertingkah implusif…kamu sudah menjalin hubungan dengannya selama empat tahun lamanya. Dan perasaanmu kepadanya, begitu dalam…apakah sekarang kamu akan membuang semuanya…”, ucap Adisty berusaha kembali meyakinkan sahabatnya itu.
Tidak ingin membuat Arnold menunggunya lebih lama, Crystalpun mulai berusaha untuk mengusir Adisty dari dalam kamarnya.
“ Aku sudah lelah dan mau beristirahat. Kita lanjutkan obrolan kita lain kali saja ya…”, ucapku sambil menguap.
Melihat sahabatnya itu sudah masuk kedalam selimut membuat Adisty terpaksa harus keluar dari dalam kamar Crystal dengan raut wajah cemas yang mendominasi.
“ Kenapa aku merasa bahwa akhir – akhir ini Crystal berubah. Jika dulu dia selalu mengatakan semuanya tanpa dipikir, tapi sekarang…dia jauh lebih bisa mengontrol ucapannya, bahkan sikapnya semakin acuh tak acuh…”, batin Adisty semakin penasaran apa yang menyebabkan sahabatnya itu berubah.
Sementara itu, Crystal yang sudah masuk kedalam selimut sedikit gelisah, tapi setidaknya Arnold sudah mendengar semua percakapannya barusan.
Itu sudah lebih dari cukup bagi Crystal dalam memulai aksinya untuk membalas semua perbuatan Adisty kepadanya dimasa lampau.
“ Maaf, telah membuatmu lama menunggu…”, cicitku penuh rasa bersalah.
“ Kau harus dihukum karena membuatku menunggu…”, ucap Arnold dengan smirk devilnya.