Love Destiny

Love Destiny
KEDATANGAN MIKE



Didepan meja makan, Arnold menyesap kopinya dengan santai. Meskipun semalam dia sempat tertidur selama beberapa jam, namun hal tersebut  tidak membuat wajahnya kembali cerah.


Aura dingin yang selalu terpancar dari dirinya semakin menguat saat tatapan tajam bak seekor elang yang sedang mengintai mangsanya itu terlihat.


Karena kurang tidur, lingkaran hitam yang ada dibawah mata Arnold semakin terlihat jelas. Rambut hitam yang tidak disisir secara rapi, malah dibiarkan acak – acakan tak beraturan nyatanya tak melunturkan ketampanannya sedikitpun.


Wajahnya yang sempurna bak patung dewa yunani terlihat sangat menakutkan karena tidak adanya cahaya terang yang keluar dari tubuh Arnold, hanya kegelapan yang mendominasi.


Mike, kakak tiri Arnold  hanya tersenyum mengejek melihat penampilan saudaranya itu. Dia masih tidak habis pikir, kenapa banyak wanita yang tergila – gila dengan lelaki yang ada didepannya itu.


Padahal menurut Mike, untuk wajah dia tidak kalah tampan dengan adik tirinya itu. Ditambah memiliki kulit yang seputih susu karena mewarisi gen sang ibu, membuat laki – laki tersebut terlihat lebih menonjol saat mereka berdiri bersama.


Tapi kenapa, para wanita malah lebih tertarik dan takluk oleh pesona Arnold yang memiliki kulit sawo matang seperti sang papa.


Bentuk tubuh antara Mike dan Arnold, sebelas dua belas lah ya….mereka berdua sama - sama  memiliki tubuh tegap dengan dada bidang, serta roti sobek yang menghiasi perut mereka karena rajin berolah raga.


Dan untuk masalah penampilan, Mike merasa dirinya lebih fasionable  jika dibandingkan dengan  adiknya, Arnold yang hampir selalu memakai pakaian dengan model baju yang sama dengan dua warna yang mendominasi, yaitu hitam dan putih.


Seperti sekarang, Arnold hari ini menggunakan kemeja hitam polos dan celana panjang dengan warna senada. Membuat kesan dingin dan misterius semakin terpancar dalam dirinya.


Pesona itulah yang tidak dimiliki oleh Mike. Seperti sebuah kartu, Mike adalah orang yang mudah dibaca, melalu ekspresi wajah yang ditampilkannya, orang akan dengan mudah mengetahui jalan pemikirannya.


Hal tersebut berbanding terbalik dengan sang adik yang selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi. Bukan hanya orang lain, bahkan kedua orang tuanyapun tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan sang putra.


Sikap dominan dan possesif yang melekat pada diri Arnold juga merupakan nilai plus baginya. Karena dengan dua hal tersebut, maka setiap apa yang dia inginkan akan selalu didapatkannya.


Jika hal yang diinginkannya sudah berada dalam genggamannya, maka akan sulit untuk bisa terlepas dari cengkeramannya.


Seperti posisi Crystal saat ini, dimana hati Arnold sudah tergerak olehnya maka gadis itu tidak akan pernah bisa lari darinya.


Arnold mengerakkan roda bisnis dalam perusahannya dengan tangan baja dan hati dingin. Tidak ada kata ampun bagi siapa saja yang membuat kesalahan dalam pekerjaannya.


Kemampuannya yang seperti itulah yang akhirnya membuat sang papa mempercayakan perusahaan di tangan


Arnold.


Keputusan sang papa itulah yang membuat Mike mulai membenci Arnold. Sebagai anak tertua dalam keluarga Lincoln, seharusnya dialah yang memiliki hak untuk meneruskan perusahaan saat sang papa turun dari kekuasannya.


Tapi ini dengan mudahnya sang papa memberikannya kepada Arnold, putra bungsu mereka. Rasa iri terhadap kemudahan yang didapatkan sang adik membuat rasa benci dalam hati Mike mulai tumbuh secara perlahan.


Dan hal itu lambat laun, tanpa disadarinya sudah melekat dalam hatinya. Hingga sekarang yang ada dalam otaknya hanya bagaimana caranya agar semua hal yang didapatkan oleh Arnold bisa diambilnya.


Membuat Arnold mempercayainya sehingga secara perlahan dia akan mengambil semua yang seharusnya menjadi haknya, sebagai anak pertama dalam keluarga Lincoln.


Sikap cuek dan acuh terhadap sekitar tidak membuat nyali Mike ciut untuk mendekati sang adik. Bahkan, meski tidak pernah dihiraukan, Mike terus saja datang berkunjung kekediaman adik tirinya itu.


Seperti saat ini, cukup lama Mike duduk dihadapan Arnold. Bukan menyapa dan mengajaknya bercengkrama, adik tirinya itu malah sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya.


Mike yang sudah biasa mendapatkan perilaku seperti itu hanya diam. Cukup lama terdiam membuat Mike jengah, diapun mulai bersuara untuk memecah kesunyian yang ada.


“ Memiliki wajah tampan, tubuh bagus, dan status social yang tinggi tentunya kamu dapat dengan mudah mendapatkan wanita manapun yang kamu inginkan. Tapi kenapa kamu malah memilih bertunangan dengan putri Abraham yang jelek dan menjijikkan itu….”, ucap Mike bergidik ngeri saat membayangkan wajah Crystal dengan riasan yang tebal serta pakaian kurang bahan dengan warna mencolok yang begitu norak.


“ Standartmu benar – beanar sangat rendah…”, ucapnya lagi dengan senyum mengejek.


Arnold yang sudah terbiasa dengan omelan sang kakak cuma terdiam dan menganggap semua ucapan yang keluar dari mulut Mike adalah angin lalu.


Meski tidak mendapatkan respon, Mike terus saja berbicara sendiri. Dia sangat berharap jika adiknya itu mau mempertimbangkan kembali keputusannya untuk menikahi Crystal.


“ Aku tahu kalau kamu sangat penasaran karena hanya dia gadis yang berani menolakmu. Tapi ini… sudah enam bulan, dan gadis itu masih sama, menghindarimu. Seolah dia adalah gadis paling cantik sedunia….”, ucap Mike dengan nada meremehkan.


Arnold yang mendengar semua ucapan receh yang keluar dari mulut  sang kakak hanya diam tanpa berniat untuk membalasnya.


Moodnya yang sedikit membaik pagi ini membuat laki – laki itu mengabaikan semua perkataan kakaknya dan memilih menyesap kopi yang ada dihadapannya.


Saat Mike masih mengomel tidak jelas, Arnold tiba – tiba memiringkan kepalanya sedikit dan mengarahkan pandangannya keatas, dan sekian detik mata adik tirinya itu mulai berbinar.


Mike  yang penasaran dengan sikap Arnold mulai mengikuti arah pandangan mata sang adik. Seketika mata Mike berkilauan, takjub akan pemandangan indah yang ada dihadapannya itu.


Mereka bisa melihat seorang gadis cantik, memakai atasan biru yang sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih bersih berjalan menuruni anak tangga dengan sangat anggun.


Tubuhnya yang  langsing tercetak jelas dibalik baju yang dikenakannya, membuat siapa saja yang melihatnya akan menelan ludah beberapa kali untuk menghilangkan dahaga yang tiba – tiba menyerang.


Rambut coklat sepinggang yang dibiarkan terurai dengan jepit sederhana yang menhiasinya mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.


Senyum manis yang merekah pada bibir merahnya yang ranum seperti buah ceri, seakan menerbangkan angan – angan setiap laki – laki untuk merengkuh dan menikmati kelembutannya.


“ Benar – benar kecantikan alami yang luar biasa…”, batin keduanya.


Crystal yang mendapatkan tatapan aneh dari Arnold dan Mike hanya bisa mengerutkan dahinya.


“ Ada apa dengan mereka…”, batin Crystal heran.