
Tampaknya tidak mudah untuk berkeliling dimansion mewah yang sangat besar ini. Belum juga setengah lantai dasar dia jelajahi, tapi kedua kakinya sudah terasa sangat lelah.
Melihat Crystal kelelahan membuat Arnold memperlambat jalannyanya. Dia tidak ingin tunangannya itu sampai jatuh pingsan karena kelelahan.
“ Duduklah disini…”, perintah Arnold sambil mengandeng tangan Crystal menuju bangku kayu yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.
Setelah duduk, Crystal segera meluruskan dua kakinya sambil memukul – mukul pahanya dengan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa pegal dikedua kakinya.
“ Nenek ternyata sangat baik. Pada awalnya aku sangat takut jika beliau tak menyukaiku…”, guman Crystal sambil meregangkan bagian tubuhku yang lain.
“ Itu tidak akan mungkin terjadi…”, ucap Arnold sambil kembali mengenggam tangan kanan Crystal dengan erat.
Sebenarnya Crystal cukup tahu bahwa selain perilaku yang baik dan sopan, faktor utama dalam menentukan kesan baik nenek padanya adalah tergantung bagaimana Arnold memperlakukannya.
“ Kulihat nenek begitu menyayangimu…apa hal itu tidak menimbulkan rasa iri dari yang lain…”, tanyaku penasaran.
“ Sejak kecil aku sakit – sakitan, dan saat usiaku 9 tahun, mama meninggal dalam dekapanku setelah dibunuh musuh keluarga kami. Jadi semua orang dapat maklum jika nenek memberi perhatian lebih terhadapku…”, ucapnya sambil memainkan jemariku yang ada dalam genggamannya.
Aku sama sekali tidak menyangka jika Arnold pernah mengalami hal setragis itu. Bagaimana bisa dia melalui trauma akan tragedi buruk itu, belum lagi penyakit insomnia akut yang dideritanya, membuat Crystal diam – diam menaruh rasa iba terhadap tunangannya itu.
Saat sadar dari lamunannya, Crystal merasakan beban dipundaknya, dan tak lama kemudian terdengar suara dengkuran halus masuk kedalam gendang telinganya membuatnya spontan menoleh.
Crystal mendapati Arnold bersandar dibahunya dengan kedua mata tertutup dengan nafas panjang dan tenang. Seperti anak bayi yang tertidur lelap dalam dekapan ibunya, sangat tenang dan damai.
“ Dia tertidur rupanya…”, guman Crystal pelan.
Melihat Arnold tertidur sangat nyenyak membuat Crystal tidak berani menggerakkan badannya sedikitpun, takut gerakannya akan membangunkan laki – laki itu.
Namun, langit sudah berubah menjadi gelap dan udara juga sudah mulai dingin. Crystal khawatir jika dirinya tetap disini maka kemungkinan besar besok dia akan terserang flu.
Crystal yang merasa cemas tidak menyadari bahwa tidak terlalu jauh dari tempatnya duduk ada dua orang yang sedang berdiri disana, mengamati semua pergerakannya.
Mereka adalah Elisabeth dan James. Wanita tua itu cukup khawatir karena langit sebentar lagi berubah menjadi gelap, namun cucunya itu belum juga kelihatan batang hidungnya.
Bersama James, wanita tua itu memutuskan untuk mencari mereka. Dan keduanya terkejut saat mendapati dua sejoli tersebut sedang duduk dikursi kayu yang ada disamping taman, dan Arnold terlihat memejamkan kedua matanya sambil bersandar dibahu Crystal.
“ Ba…bagaimana bisa dia tertidur seperti itu…”, guman Elisabeth tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Bukan hanya Elisabeth yang sangat terkejut melihat hal tersebut, James bahkan tidak berkedip melihat tuan mudanya bisa tertidur lelap dalam kondisi seperti itu.
Tentunya semua orang sudah tahu jika Arnold mengidap insomnia akut yang bisa membuatnya tetap terjaga selama berhari – hari.
“ Nyonya besar….ini….”, ucap James masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari tuan mudanya yang sangat nyenyak tidur dibahu sang kekasih.
Dengan perasaan cemas, Elisabeth yang sedikit ragu, perlahan mulai berjalan mendekat kearah dua sejoli tersebut berada.
“ Nenek…”, guman Crystal terkejut.
Ingin dia berdiri namun tidak bisa karena Arnold bersandar kepadanya. Elisabeth bertambah penasaran kenapa cucunya tampak tidak terganggu dengan kehadirannya.
Crystal saat ini merasa sangat dilema, dia sangat tahu bagaimana buruknya temperamen Arnold jika ada yang menganggu tidurnya.
Tapi dia juga tidak bisa membiarkan nenek tua itu terus berdiri didepannya menunggu laki – laki itu bangun. Akhirnya, dengan keberanian yang sudah dikumpulkannya, Crystal mulai menepuk pundak Arnold dengan lembut.
“ Sayang…bangun….ada nenek…. ”, ucap Crystal sambil menepuk pundak Arnold dengan lembut.
Dengan mata terpejam Arnold mengerutkan dahinya saat pundaknya disentuh lembut oleh Crystal. Ekspresi damai dan lembut yang semula terlihat diwajahnya menjadi suram dan gelap, pertanda dia tidak suka dengan semua gangguan yang ada.
“ Jangan bangunkan dia…biarkan Arnold tidur lebih lama lagi. Dia sudah berhari – hari tidak tidur…”, ucap Elisabeth sangat pelan, takut suaranya akan membangunkan cucunya yang sedang tertidur pulas.
Saat melihat wajah gelap Arnold, Crystal sudah merasa ketakutan. Namun setelah mendengar perkataan Elisabeth hatinya sedikit lega.
Crystalpun segera mengelus rambut Arnold dengan lembut, berusaha untuk membuatnya nyaman. Perlahan kerutan yang ada didahi tunangannya itu berangsur menghilang. Wajah damai dan tenang kembali hadir disana.
“ Bisakah anda mengambilkan selimut paman James, aku takut Arnold akan masuk angin jika tertidur seperti ini…”, ucap Crystal cemas.
“ Bisa nona…sebentar saya ambilkan…”, ucap James spontan segera berlari kedalam rumah untuk mengambil selimut.
“ Terimakasih paman James…”, ucap Crystal dan langsung menyelimuti tubuh Arnold agar hangat.
Elisabeth yang tidak ingin menganggu waktu istirahat cucunya, memberi isyarat kepada Crystal dengan matanya, kemudian pergi diam – diam dari sana dengan James.
Sebenarnya, Elisabeth tidak pergi terlalu jauh. Dia masih terus mengawasi dua sejoli itu, memperhatikan bagaimana cucunya tersebut tertidur dengan nyenyak.
“ James…cepat panggil dokter Philip dan dokter Robert sekarang juga…”, perintahnya.
James yang mendapat perintah dari nyonya besarnya segera pergi untuk menghubungi dokter Philip dan dokter Robert agar segera datang di rumah utama.
Setelah lima belas menit setelah James menghubungi keduanya, dokter Philip dan dokter Robert datang dan berlari kecil menghampiri Elisabeth yang masih setia menatap kearah cucunya yang sedang tertidur.
“ Bukannya kalian bilang jika kondisi Arnold semakin parah bahkan kegagalan hipnotis yang kalian lakukan cukup tinggi dan dia sudah tidak tidur selama berhari – hari…bukan begitu dokter Philip, dokter Robert…”, ucap Elisabeth tegas.
“ Betul nyonya….”, ucap mereka serempak.
“ Kalau begitu, beritahu aku…apa artinya itu…”, ucap Elisabeth sambil menunjuk kearah Arnold yang sedang tertidur pulas dibahu Crystal.
“ Bagaimana bisa tuan muda bisa tertidur tanpa hipnotis…”, tanya dokter Philip dengan raut wajah tak percaya.
“ Aku juga tidak tahu. Tadi aku hanya menyuruh Arnold untuk mengajak Crystal berkeliling, karena sudah hampir malam tapi mereka belum juga kembali maka aku menyusulnya. Dan saat ketemu aku lihat Arnold sudah tertidur pulas dibahu kekasihnya ”, ucap Elisabeth menjelaskan.
“ Bagaimana bisa begini ?...saya sudah lama merawat tuan muda dan ini baru pertama kalinya saya lihat tuan muda bisa tidur alami seperti ini…”, ucap dokter Philip kebingungan.
“ Tidak…sebenarnya ini bukan pertama kali…”, ucap Emily yang tiba – tiba hadir diantara mereka.
“ Bukan yang pertama kali ? apa maksudmu?...”, tanya dokter Philip dan Elisabeth berbarengan.
“ saya ingat bahwa suatu malam, tuan muda juga pernah tertidur dalam kondisi yang sama…”, ucap Emily mencoba mengingat saat Arnold tertidur sambil memeluk Crystal diruang tamu.
“ Bisakah kamu menjelaskan lebih spesifik lagi…”, ucap dokter Philip penasaran.
“ saat itu, tuan muda juga bersama nona crystal, disofa ruang tamu. Tuan muda memeluk erat nona Crystal dan tidur sepanjang malam….”, ucap Emily berusaha menjelaskan dengan menghilangkan beberapa bagian cerita seperti Arnold yang berciuman dengan Crystal sebelum tertidur.
“ Sepanjang malam…”, ucap semua orang serempak dengan wajah sangat terkejut.
“ Itu benar. Saya sendiri juga sangat terkejut melihat hal itu, jadi saya selalu ingat. Tuan muda mulai tidur dari jam 10 malam dan bangun jam 6 pagi, total 8 jam tertidur…”, ucap Emily menjelaskan secara rinci.
“ Kenapa kau tidak memberitahukan kepadaku sejak awal….ini adalah hal yang sangat besar…”, ucap dokter Philip sambil mencubit area diatara alisnya berulangkali.
“ Tuan muda tidak tidur selama hampir satu minggu…jadi saya pikir karena terlalu kelelahan maka tuan muda bisa tertidur dengan lelap. Dan saya juga berpikir bahwa tuan muda sendiri yang akan memberitahu anda…”, ucap Emily polos.
“ Setelah itu, apa ada yang terjadi lagi…tolong jelaskan semuanya padaku…”, ucap dokter Philip menuntut.
“ Sepertinya ada satu lagi kejadian seperti itu, tapi aku tidak yakin…”, ucap Emily sedikit ragu.
“ Yaitu malam sebelum tuan muda datang kerumah utama untuk pemeriksaan dan menghadiri pertemuan rutin 4 bulanan,. Tuan muda baru keluar dari dalam kamar nona Crystal jam 2 pagi, padahal tuan muda masuk kedalam kamar nona Crystal sejak jam 8 malam…”, ucap Emily kembali mengingat.
“ Pagi itu saya melihat kondisi tuan muda lebih segar, seperti baru bangun dari tidur, tetapi saya tidak terlalu memperhatikan secara detail. Saya berpikir, selama 6 jam berada dalam kamar nona Crystal, kemungkinan tuan muda tidur dengan nona selama waktu itu…”, ucap Emily kembali menjelaskan.
Dokter Philip terlihat mengerutkan keningnya cukup dalam, pertanda dia sedang berpikir cukup keras. Begitu juga dengan dokter Robert yang ada disampingnya, terlihat jelas sedang berusaha untuk menganalisa setiap perkataan yang keluar dari bibir Emily.
“ Jika spekulasiku benar, tuan muda dapat tertidur secara alami saat nona Crystal berada didekatnya…”, ucap dokter Philip mengemukakan hasil pemikirannya.
“ Tampaknya seperti itu…”, ucap Emily membenarkan perkataan dokter Philip
“ Ini berarti, setiap kali Crystal berada didekatnya Arnold bisa tertidur. Ini hebat !!!…”, ucap Elisabeth senang.
“ Nyonya besar, tolong jangan terlalu bersemangat. Kita masih harus melakukan observasi yang lebih mendalam lagi, karena hal ini baru 3 kali terjadi…”, ucap dokter Philip menjelaskan.
Mendengar perkataan dokter Philip, raut cerah Elisabeth seketika berubah menjadi muram. Namun dirinya tak putus harapan melihat peluang yang ada dihadapannya.
“ Emily…kamu yang selalu berada disamping tuan muda, mulai sekarang perhatikan semuanya dan cari tahu lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi. Laporkan padaku setiap kali ada perkembangan !!!...”, perintah Elisabeth.
“ Baik nyonya…mengerti !!!...”, ucap Emily patuh.